Dia terus menatap gaun indah yang melekat indah di patung manekin tanpa berkedip.
"Sungguh indah gaun itu, seandainya saja ...." Gadis itu menepis semua pemikirannya. "Ah! Apa yang sudah kamu pikirkan?" makinya pada dirinya sendiri.
Namun tingkahnya tak lepas dari perhatian pemuda tampan yang sedang mencoba toxedo berwarna gading, dia terlihat semakin tampan dengan balutan kain yang senada dengan gaun itu.
"Hei, Ki." Tepukan di bahu Rezki mengalihkan perhatiannya dari patung manekin, tidak, lebih tepatnya gaun indah yang penuh dengan payet itu.
"Em, lo udah selesai?"
"Hmm." Hans memutar bola matanya jengah, dia sudah berulang kali memanggil Rezki, tetapi tidak juga ada jawaban. "Gimana? Gue keren gak?" tanyanya.
Rezki menatap tampilan Hans dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang pantas menjadi idola kampus, dengan tinggi 178 cm, alis tebal dan hidung mancung serta bola mata berwarna biru kehijauan itu membuat semua kaum hawa memujanya. Jangan lupakan statusnya sebagai putra tunggal dari pemilik kampus, lengkap sudah kesempurnaan seorang Hans Wiraguna.
"Hei, ditanya malah bengong." Hans melambaikan tangannya di depan wajah Rezki.
"I... Iya, ganteng," ujar Rezki tanpa sadar memuji Hans.
"Apa lo bilang? Gue gak dengar."
"Hah, cakep, bajunya bagus." Rezki mengalihkan wajahnya ke arah lain. Mengutuki kebodohannya yang tanpa sadar telah memuji ketampanan Hans.
"Haha... Pastilah, siapa dulu yang pakai, Hans," ucapnya membanggakan diri.
"Ck, sombong."
"Hei, gue pantas sombong, hal apa yang gak gue punya, jadi pantas kalau gue sedikit menyombongkan diri."
"Narsis," cibir Rezki.
"Ki, lo pengin gaun itu?" ucap Hans mengalihkan pembicaraan. Yah, sesekali Rezki melirik gaun yang melekat di manekin.
Jantung Rezki berdegup lebih cepat, jangan sampai Hans menyadari identitasnya yang sebenarnya. "Haha... Gak, mana mungkin gue pakai gaun," elak Rezki memaksakan senyumnya.
"Gue juga gak serius kali, mana ada cowok pakai gaun. Tapi kayaknya perlu dicoba, lagian Ayu juga gak bisa datang hari ini."
Tanpa menunggu persetujuan Rezki, Hans meminta pegawai butik untuk membawa Hans menckba gaun itu.
"Hans, lo sengaja mau buat gue malu?" Rezki meronta, tetapi tenaganya tak cukup kuat melawan Hans.
"Please, kali ini lo harus bantu gue," rengek Hans.
"Lo gila, gue cowok gak mungkin pakai gaun, lo yang bilang barusan."
"Oke, gue berubah pikiran. Kalau gue pikir, ukuran tubuh lo sama Ayu gak beda jauh. Ya, kali ini aja."
"Ogah."
"Gue kasih apa pun yang lo mau."
"Gue gak butuh."
"Ki, mau ya. Kali ini aja, selama ini gue gak pernah minta imbalan...." Hans selalu punya cara untuk meluluhkan hati Rezki, dia selalu mengungkit kebaikannya sehingga Rezki tak mampu berkutik.
"Terserah, gue masih ada urusan." Rezki meninggalkan butik dengan wajah marah. Hans selalu mengancamnya, kali ini dia tidak boleh luluh. Terlebih membongkar identitasnya.
Hari berlalu sejak hari itu. Namun, setiap pulang dari kampus Rezki selalu melewati butik. Ia berhenti sejenak, berharap gaun itu belum bertuan. Tetapi identitasnya saat ini tak memungkinkan untuk mencoba gaun itu.
"Ini salah, gak boleh, lo harus sadar siapa lo sekarang, Ki."
Hans sendiri sibuk mengurus acara pertunangannya dengan anak pengusaha batu bara. Mereka jarang bertemu, apalagi saat ini Rezki sedang sibuk mempersiapkan sidang skripsi.
"Ada apa ini? Seharusnya lo bahagia, Ki. Akhirnya Hans bisa berenti jahil," ucapnya dalam hati.
Anehnya, Rezki justru merasa ada yang hilang dari hidupnya. Kehadiran Hans telah memberi warna pada hidup yang kelam, kejahilan Hans yang tak memandang tempat telah melukis kenangan bagi Rezki.
Membayangkan Hans akan bersanding dengan gadis lain membuatnya semakin merasa aneh. Ada rasa tidak nyaman, untuk itulah Rezki lebih memilih menghindar. Atau penyakit jantungnya akan kambuh jika ia terus berdekatan dengan Hans.
Seorang yatim piatu yang hanya membantu saudaranya berjualan di kantin kampus tempat Hans menimba ilmu.
Kisah mereka berawal saat Hans si cowok narsis dikejar para fans, dia bersembunyi di dapur kantin. Rezki tengah termenung sendirian, tatapannya kosong, wajan berisi minyak dengan kompor yang dibiarkan menyala hampir menghanguskan bangunan kantin.
"Hei, lo mau bakar kantin, hah?" sentak Hans.
Benda cekung berisi minyak panas itu mengepulkan asap tebal, tetapi Rezki tak kunjung menyadari sikapnya. Dia hanya melirik sekilas dan kembali mematung dengan tubuh bergetar.
Hans segera mematikan kompor, menyeret Rezki menjauh dan menghempaskannya ke lantai.
"Aw, sakit." Rezki memegangi lengan tangan yang terlihat memerah. Kepulan asap dari arah dapur membuatnya benar-benar ketakutan.
Ingatannya kembali pada sepuluh tahun silam, dimana kedua orang tua Rezki terbakar bersama rumah mereka. Rezki kecil sedang menginap di rumah saudara yang kini berjualan di kantin.
Dia menekuk lutut dengan napas tak beraturan, butiran keringat menyerupai biji jagung bertebaran di keningnya. "Apa yang udah gue lakuin," gumam Rezki.
Hans mensejajarkan diri dengan Rezki, dia duduk di samping pemuda itu. "Lo takut?" Rezki hanya menelengkan wajah tanpa berkata apa pun.
Butiran bening membasahi wajah Rezki, menambah keyakinan Hans bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan pemuda di sebelahnya.
"Lo cowok tapi penakut!" ejek Hans.
"Gue bukan penakut!" Rezki tak terima, apalagi Hans menganggapnya seorang pria sama seperti dirinya. "Dan gue bukan...."
"Bukan apa? Maksud lo banci? Penampilan aja keren, tapi mental krupuk."
"Cukup, lo gak berhak menilai siapa gue." Rezki sangat marah mendengar ucapan Hans yang begitu menusuk. Terlebih mengatakan bahwa dirinya banci.
"Kalau marah berarti ucapan gue benar." Hans segera berdiri, melenggang tanpa dosa meninggalkan Rezki dalam kemarahan.
Rezki melihat pantulan dirinya di pintu kaca, celana jeans dan kaos oblong serta potongan rambutnya memang ciri khasnya. Ditambah suaranya yang ngebass, Rezki terlihat semakin maco.
Bukan tanpa alasan Rezki lebih nyaman berpenampilan seperti ini, keadaan yang mendesaknya melakukan hal ini.
"Itu lebih baik."
Pertemuan demi pertemuan selalu di warnai keributan dan adu mulut. Namun semakin mendekatkan keduanya, Hans maupun Rezki mulai membuka diri. Hingga Rezki bisa mendapatkan beasiswa di kampus, semua tak lepas dari campur tangan Hans.
***
"Lo masih marah?" suara yang sangat familiar terdengar lembut di telinga Rezki. Yah, dia adalah Hans. Pemuda menyebalkan yang beberapa hari ini mengusik ketenangan Rezki.
"Gue gak marah."
"Kalau gak marah kenapa menghindar?"
"Gue sibuk."
"Ini bukan lo yang biasanya," batin Hans.
"Gue cuma mau kasih undangan ini. Sebagai teman baik, gue harap lo datang ke acara pertungan gue sama Ayu."
"Sorry, Hans. Kayaknya gue gak bisa datang, sidang skripsi gue dimajuin." Rezki kembali melajukan kenndaraan roda dua yang selalu setia menemaninya.
Hans merasa ada sesuatu yang Rezki sembunyikan, dia selalu menghindar saat Hans mendekatinya. Pesan tak dibalas, apalagi panggilan telepon, Rezki selalu mengabaikannya.
Tak hanya Rezki, Hans merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Bukankah seharusnya dia bahagia tak lama lagi dia akan bersanding dengan gadis pilihannya?
***
Besok adalah hari pertunangan Hans dengan Ayu, malam ini Hans gelisah, matanya tak kunjung terpejam. Bayangan Rezki selalu menghantui saat dirinya memejamkan mata.
"Hans, ini pasti salah," maki Hans pada dirinya sendiri.
Satu minggu berlalu sejak terakhir kali dia bertemu Rezki, sejak saat itu juga Rezki seolah ditelan bumi, tak diketahui keberadaaan atau pun kabarnya.
"Lo kemana, Ki?" Hans mengusap pigura yang terdapat potret dirinya dan Hans. Mereka tampak serasi, apalagi tinggi Rezki yang hanya sebahunya. Sebagai seorang cowok, Hans memang terlihat lebih pendek dari yang lainnya.
Hans berusaha menepis perasaannya pada Rezki, dia tak mungkin berbelok arah, bukan? Selama ini dia berkencan dengan banyak wanita, tetapi mengapa rasa nyaman dan berdebar itu dia rasakan saat bersama Rezki?
Hans sengaja menjalin hubungan dengan Ayu, supaya dia bisa memastikan bahwa perasaannya pada Rezki adalah sebuah kesalahan. Mana mungkin dia jatuh cinta pada satu spesies seperti Rezki?
Namun semakin Hans mencoba, perasaan aneh itu semakin membuatnya tidak nyaman. Menjauh dari Rezki bukanlah pilihan yang tepat baginya, tetapi bagaimana dengan Ayu?
Hans dihadapkan pada pilihan yang sulit dan menjebak, keputusannya justru membawanya pada jalan buntu dan kebimbangan.
"Arrgghhh.... Ada apa denganku? Mungkinkah aku memang sudah berbelok arah?" Hans mengacak rambutnya kasar. Ia begitu frustasi saat ini.
Di tempat lain, Rezki tengah bersimpuh di depan dua gundukan tanah yang bertabur bunga. Air matanya hampir mengering, satu jam sudah Rezki tak juga beranjak dari tempatnya. Ia menatap nisan secara bergantian, mengapa hatinya begitu hampa berjauhan dengan Hans?
Sadar diri siapa dirinya, Rezki tak mungkin bersama dengan Hans, dunia akan menolak mereka bersama. "Ini yang terbaik untuk kita semua."
"Ki, kamu di sini," ucap wanita paruh baya yang menjadi ibu asuh setelah kepergian kedua orang tuanya. Dia adalah adik dari mendiang ayahnya.
"Ibu," lirih Rezki dengan suara serak.
Wanita paruh baya itu menatap iba Rezki, gadis yang menemani kesehariannya semenjak sang suami berpulang. Yah, dirinya juga sebatang kara, sama seperti Rezki.
"Sebentar lagi malam, kita pulang sekarang." Rezki hanya memgangguk, mengikuti langkah wanita itu.
Sunyi, hanya suara langkah mereka berdua yang bergantian menapak bumi. Bukan tidak tahu, tetapi Sri lebih memilih diam. Ia hanya ingin Rezki terbuka padanya, tanpa ada paksaan yang akan membuatnya tidak nyaman.
"Gantilah pakaianmu, Ibu hangatkan dulu makanannya."
"Bu, apakah ini pantas?" Pertanyaan Rezki membuat langkah Sri terhenti, mengapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu? Terlebih selembar kain selendang kini menutupi kepalanya.
"Huu... Huu...." Sri menghambur pada Rezki, dia memeluknya sangat erat dibarengi isakan kecil.
Sudah sekian tahun Sri menantikan hal ini, hatinya begitu bahagia melihat Rezki yang pernah dia kenal sepuluh tahun sebelumnya kembali.
***
Rezki belum siap mengungkapkan siapa dirinya yanga sebenarnya. Sidang skripsi berjalan lancar meski harus ia lewati dengan penuh ketegangan dan jantung berdegup.
Akhirnya Rezki dapat bernapas lega, usahanya tidak akan sia-sia. Sudah bosan rasanya ia merevisi hasil kerjanya, lagi dan lagi. Dosen pembimbing yang super perfect dan cuek begitu menyiksanya. Tetapi saat dinyatakan lulus pada hari ini, Rezki begitu bahagia.
"Kayaknya ada yang lagi bahagia."
Otot tubuhnya terasa menegang, Rezki mengentikan langkah kakinya tanpa berani menoleh ke asal suara.
"Gue kasih selamat buat lo." Orang itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Rezki. "Selamat Regina Arzety Kinasih," lanjut orang itu.
Rezki benar-benar tak berkutik, sebuah pukulan telak baginya. Selama ini tak ada satu orang pun yang mengetahui nama panjangnya. Benar adanya, Rezki hanya nama panggilan, singkatan dari Regina Arzety Kinasih. Nama kesayangan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
"Kenapa diam? Gak bisa jawab?" Kini pemuda itu berdiri tepat di hadapan Rezki, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. "Kaget? Gak nyangka gue bakal tau?"
"Permisi, anda menghalangi jalan," ujar Rezki setelah kesadarannya kembali. Ia tak bisa menghadapi Hans sekarang, belum siap lahir maupun batin.
Cekalan di lengan Rezki menghentikan langkahnya. "Buat apa lo ke sini? Bukankah seharusnya lo sedang menikmati...."
Ucapan Rezki berhenti saat telunjuk Hans menempel di bibirnya. Jantung keduanya kembali berdegup, tatapan mereka saling mengunci untuk sesaat.
"Lepas, apa yang mau lo lakuin?" Rezki sangat marah mendapat perlakuan seenaknya dari Hans.
Hans menyeret Rezki masuk ke dalam mobil, mengabaikan tatapan mahasiswa lain yang berbisik ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pintu mobil di tutup kasar, Hans tak melepaskan cekalan di lengan Rezki.
"Sshhh...."
"Sebenarnya apa yang lo mau?" Rezki buka suara, mobil telah melaju, membelah hamparan aspal di Kota Surabaya.
Rezki ketakukan melihat raut wajah Hans yang terlihat dingin dan menyeramkan. Ia lebih baik berhadapan dengan Hans yang licik dan menyebalkan seperti biasanya.
Mobil berhenti di sebuah tempat, dimana Hans memaksanya mencoba gaun. "Buat apa ke sini?" Hans tetap bungkam. Ia berjalan memutar dan mebukakan pintu untuk Rezki.
"Mau turun sendiri atau kugendong?" Rezki semakin heran, ada apa dengan orang ini? Apakah semalam salah minum obat?
Tak sabar menunggu, Hans menggendong Rezki di bahu seperti karung beras. "Lepas, dasar gila! Apa yang mau lo lakuin, hah?"
Rezki terus memberontak memukul punggung Hans dengan sekuat tenaga.
"Lakukan tugas kalian."
Tiga orang pegawai langsung mendekat, seolah mereka sudah mengerti tugas mereka tanpa diberitahu sebelumnya.
"Hei, kalian mau apa?"
"Diam, lo mau terjadi sesuatu dengan ibu?"
"Apa yang udah lo lakuin sama ibu gue?" Rezki berlari, mencengkeram kerah baju Hans.
"Lo akan tahu setelah ini," ujar Hasn dengan tatapan tak kalah sengit.
"Brengsek. Beraninya lo ancam gue."
"Yah, itu gue. Nasib itu berada dalam genggaman dan semua itu tergantung bagaimana lo bersikap hari ini."
Rezki tidak memiliki pilihan lain selain menurut, ia tidak boleh membiarkan wanita yang telah merawatnya terjadi sesuatu hal yang buruk.
30 menit telah berlalu, Rezki tak habis pikir mengapa Hans membawanya ke tempat ini. Terlebih kini ia telah disulap layaknya seorang putri dengan gaun indah berwarna biru dengan manik-manik yang menghiasi.
"Jadi lo udah tau."
Rezki menatap pantulan dirinya dengan mata nanar, dia tak menyangka bahwa Hans telah mengetahui identitasnya.
"Gue cuma gak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya." Suara bariton seorang pemuda yang kini berdiri di belakangnya mengenakan setelah tuxedo yang senada dengan gaun yang melekat di tubuhnya.
"Lo jahat."
Rezki tak mampu lagi menahan genangan di kedua sudut matanya, ia memukul dada bidang Hans yang kini mendekapnya.
"Maafkan ibu, Ki." Tangis Rezki semakin pecah saat memyadari kehadiran Ibu Sri dengan balutan kebaya yang berwarna lebih gelap darinya.
"Kenapa ibu lakuin ini sama Kiki?" Gadis itu menjauhkan diri dari Hans, menatap Ibu Sri dengan penuh amarah.
"Kalau kamu mau menyalahkan, salahkan ibu. Seharusnya dari dulu ibu melakukan ini. Tak seharusnya ibu membiarkanmu hidup dibalik topeng untuk menutupi kesedihanmu."
Mereka berdua menangis berjamaah, ibu dan anak yang saling melengkapi. Hans tak kuasa menahan haru, tetapi ia segera menepisnya dengan kasar.
"Baiklah, ayo kita berangkat."
"Kemana?"
"Suatu tempat."
Hans membawa dua wanita itu menuju suatu tempat yang ia janjikan. Keluarga Hans sudah menunggu, begitupula keluarga Ayu yang juga keluarga Hans yang sekarang.
Ayu adalah adik kandungnya yang telah lama hilang, itulah sebabnya mengapa Hans merasa dejavu saat pertama kali berjumpa dengan gadis itu.
Hans berlutut dihadapan semua orang dengan kotak beludru berwarna merah. "Maukah Kau menikah denganku?"
Rezki tak kuasa menahan haru, butiran bening itu kembali menetes, membasahi wajah cantiknya. Rambut Rezki disanggul, dan beberapa helai dibiarkan terurai menghias wajahnya. Yah, selama ini Rezki memakai wig untuk menutupi rambut aslinya yang panjang dan lebat.
Rezki terlalu bahagia, tetapi pandangannya semakin lama semakin kabur dan semuanya gelap. Hans menopang tubuh gadis yang dicintainya, ia begitu terkesiap dengan reaksi Rezki.
"Ki, bangun. Ini gak lucu, lo jangan buat gue takut."