Kisah ini berawal dari pengalaman pribadi ku, bukan bermaksud untuk menakut-nakuti untuk para readers yang ingin ke tempat yang aku kunjungi tersebut , hanya satu pesan. Berhati-hatilah jika ingin berpergian kemana pun itu. Tidak mengurangi rasa trauma ku, tapi aku hanya ingin sedikit berbagi cerita
Author POV
Delapan tahun silam aku bersama delapan orang sepupu ku pergi liburan ke suatu tempat yang cukup menarik dan indah di pandang mata.
Kami pergi dengan tidak berencana sama sekali . Delapan orang itu sudah termasuk dengan aku. Karena pada awalnya aku sama sekali tidak di ajak.
Kakak ku keduanya laki-laki bernama Firman dan Yogi. Mereka selalu usil dan kerap kali mengerjaiku jika ada kesempatan.
Personal sepupuku itu lengkap, Si supir bernama Ucup. Sedang empat sepupu ku yang lain bernama. Jemmi, Raskal, Asper (Asep Permana) dan Asmul (Asep Mulyawan).
Aku duduk di tepi kursi saat mereka berpamitan kepada mamah dan bapak, ya untuk sekedar meminta doa dan restu agar selamat sampai tujuan.
Sebetulnya aku sedikit tertarik mendengar destinasi yang mereka tuju sekarang adalah laut. Tapi apa daya mereka tidak mengajak ku sama sekali, apalagi kakak ku yang bernama Firman, sedikit ketus jika berhadapan dengan ku.
Berbeda dengan kakak yang bernama Yogi, ia selalu baik dan mengerti kemauan adik perempuan satu-satunya ini.
Mereka sudah pergi meninggalkan rumah, Aku masih duduk di tepi kursi teras rumah ku. Tapi sesaat aku dengar suara A'Yogi memanggil ku. "De, Hayu atuh ikut!! Kasian mukanya melas begitu" Ujar nya menghampiri ku.
Aku melongo tidak percaya"Serius A'?" Tanya ku memastikan A'Firman tidak masalah aku ikut. A'Yogi tersenyum. Faham dengan pertanyaan ku ia segera meminta izin ke Mamah, agar si anak bungsu ikut.
"Mah, Dede boleh ikutkan?" Tanya A'Yogi sambil mengguncang tangan Mamah. Aku memasang wajah yang memelas. Sampai akhirnya Mamah mengangguk setuju.
"Inget,De. Kamu harus hati-hati. Nih keresek bisi muntah" Mamah bikin malu aja pake di omongin segala sukak muntah. Tapi Guys memang aku orang nya suka mabuk perjalan mau kamana pun itu, yang sama kaya aku angkat tangan nya biar ada temen hehe.
Dengan perlengkapan seadanya karena tidak di persiapkan sejak awal Aku pergi setelah sebelum nya aku memeluk Mamah dan Bapak. Sebetulnya aku tipikal orang yang cuek, tapi entah kenapa kepergian ku kali ini terasa berat, tapi aku juga ingin ikut kepantai sejak kecil aku tidak pernah menginjakkan kaki ku di pasir pantai. Dan ini First one aku akan menginjak kan kaki ku di pantai dan bermain air di kolam asin.
Aku berjalan menuju parkiran mobil yang sedikit jauh dari posisi rumahku, maklum di kampung susah untuk parkir.
Aku melihat wajah Kakak ku,Firman. Sedikit berubah. Entah apa faktor pemicu nya dia benci sekali padaku.
"Awas kamu kalau bikin ribet di sana!!" Sarkasnya. Matanya menatap ku dengan sorot kebencian terlihat jelas. A'Yogi mendorong nya agar duduk di depan bersebelahan dengan supir.
Aku duduk di kursi tengah dan di apit oleh Kakak ku A'Yogi di sebelah kiri dan di sebelah kanan tepat di belakang supir adalah Asper sepupuku yang paling tua. Di belakang ada Jemmi, Raskal, dan Asmul. Terbayang ya tata letak tempat duduk kami. Di mobil Avanza rental .
Setelah di pimpin Do'a oleh Ucup, Kami semua memilih jalur Cileunyi-Garut-Pamengpeuk. Kalian mungkin orang sana sudah tau pantai mana yang akan kami tuju, tapi sekali lagi aku mohon maaf bukan bermaksud menakut-nakuti atau apa pun itu yang berkonotasi negatif, tapi aku hanya ingin membagi pengalaman ku, itu saja tidak lebih.
Jam menunjukkan di angka sebelas, kami mampir di sebuah mini market indomerit di Jalan Cikadut ya untuk sekedar membeli cemilan. Setelah membeli cukup banyak cemilan kami langsung melajukan kendaraan cukup kencang. Karena jalanan cukup lengang malam ini.
A'Yogi sudah memberi usul saat kita sudah sampai di Nagreg, untuk kita bermalam saja dulu di rumah Nenek ku yang berada di daerah Kadungora. Tapi Asper menolak, malu katanya kita mampir hampir tengah malam dan tidak membawa makanan apa apa.
Padahal perjalan ke Laut tersebut tidak seperti perjalanan ke pantai Pangandaran yang memakan waktu sampai 8 jam perjalanan. Mungkin maksudnya A'Yogi biar berangkat subuh dari Rumah Nenek, tapi Asper Kekeuh ingin langsung pergi ke tempat tujuan.
Karena Supir setuju, keputusan Finalnya kita langsung Gas ke Pantai Tersebut. Aku melirik jam Di Ponsel BB milik ku, sudah menunjukan pukul 12 malam kita sudah sampai di garut Kota. Heran satu jam Bandung - Garut, setelah di ingat Ucup membawa mobil seperti kesetanan.
Memasuki Area Cikajang,Garut. Hawa dingin nya menyelusup sampai tulang, saking dingin nya sampai-sampai mengeluarkan asap dari dalam mulut masing-masing.
Di Pom bensin Cikajang kami sempat beristirahat, mungkin akan pergi kesana menjelang subuh. Tapi dasar si pengaruh Buruk, Asper. Ingin sesegera mungkin sampai di tempat tujuan, dan lagi-lagi kami setuju hanya setengah jam kami duduk di dalam mobil dan merasakan tidur sedikit nyaman. Sekarang malah langsung cabut lagi .
Aku kembali melirik jam di ponselku masih setengah satu malam, huffhh Dingin nya. Karena jendela aku buka full, aku anaknya gak bisa kalau ga AG (Angin Gelebug) karena jalanan cukup berliku, perutku terasa ingin mengeluarkan isinya. "A Kresek.. kresek..." Pinta ku, A'Yogi memberi ku kresek yang cukup besar dan berminyak. "Ihh Bau, hoekkk " aku malah ingin tambah muntah.
A'Yogi mencoba mencium kresek tersebut"Bau ikan Asin!!" Cetusnya sambil tertawa dan si ikuti para sepupuku yang lain. Aku kesal dan memilih memuntahkan di kresek yang aku keluar kan sendiri.
Melihat ekspresi ku yang marah, akhirnya mereka diam dan hening. Kita sudah memasuki kawasan Batu Tumpang, Jalanan berleter S kadang lurus tiba-tiba belok ke kanan, ada juga belok kanan langsung banting stir ke kiri habis.
Kabut pekat menyelimuti kaca mobil kami, Aku pribadi masih santai dengan kejadian tersebut. Alami kan di cuaca dingin seperti ini kabut turun.
Aku mencoba melihat keluar jendela yang kacanya sudah di tutup rapat. Banyak patok-patok jalan berwarna hitam dan kuning, Aku melirik ke jendela di sebelah Asper. Ada setumpukan pasir di pinggir jalan. Maju lagi aku melihat ada warung berwarna hijau dari bambu dan nampak nya sudah tutup dan hanya di hiasi lampu temaram.
Semua orang yang berada di dalam mobil tiba-tiba diam seribu bahasa, Ucup si supir terkenal cerewet dan kocak tapi kali ini dia mendadak pendiam.
Apalagi group kursi belakang hanya diam memandang arah depan, aku juga ikut diam . Melihat ke arah kanan bertemu dengan tumpukan pasir dan warung berwarna hijau.
Sinyal Ponsel BB ku mendadak hilang menjadi SOS, tiba-tiba ada mobil truk bermuat pasir menyalip mobil kami, dan mobil kami persis di belakangnya.
Aku fikir tenang ada teman satu perjalanan. Tapi saat kita sampai di tikungan mobil itu menghilang tiba-tiba. Aku sempat berfikir jangan-jangan.... Ah tidak, mungkin truk bermuatan pasir tersebut masuk ke proyek pembangunan perumahan di daerah tersebut.
Tak lama ada sebuah mobil APV menyalip tepat di depan mobil ku, aku fikir mereka juga sama akan menuju pantai yang sama dengan ku.
Jarak mobil kami hanya sekita 3 meter dari mobil tersebut, entah karena kabut yang semakin tebal. Kami kehilangan jejak mobil APV tersebut saat kami hendak belok ke tikungan sebelah Kanan.
Aku merasakan mobil kini menuruni jalalan, ada patok kuning hitam, pasir dan warung berwarna hijau. Setelah itu menaiki tanjakan , jalanan yang cukup rusak , lalu kembali ke turunan. Ada patok kuning hitam, tumpukan pasir, warung hijau. Dan seperti itu seterusnya. Aku baru sadar kalau sedari tadi rombongan ku melalui jalanan yang sama.
Sekarang aku faham kenapa yang lain diam seribu bahasa, karena mereka juga merasakan hal yang sama dengan ku. Kita di buat linglung di jalan itu, semakin kita ingin menerobos jalanan tersebut selalu kembali ke ,patok, tumpukan pasir dan warung berwarna hijau.
Aku putus asa, bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran yang bahkan kita tidak tahu ujung nya dimana.
Aku kembali melirik ke arah jendela sebelah kanan. Aku melihat sosok perempuan berbaju putih sedang mengendarai sepeda motor fikirku. Karena setengah tubuhnya satu jajar dengan kami yang berada di dalam mobil . Rambutnya tertiup angin, aku jadi kasihan. Memang jam segini mau kemana coba tengah malam dini hari, motor-motor gak pake jaket. Ucap ku dalam hati.
Motor yang ia kendarai menyalip mobil kami , entah yang lain lihat atau tidak. Tapi aku sangat jelas melihat itu. Aku menutup mulutku saat menyadari kalau wanita tadi bukan menaiki motor, melainkan berjalan tapi melayang dan kakinya menembus jalan aspal yang keras.
Yallah apa ini ada hubungannya dengan makhluk halus? Aku takut YAALLAH.
Suasana semakin mencekam saat aku melihat kembali sosok wanita menyebrangi jalan dan malah menembus mobil kamu.
Kejadian apa ini? Kami tidak menunjukan kepanikan di wajah masing-masing. Karena takut memicu kecelakaan karena terlalu panik tanpa sebab.
Aku lelah, keringat bercucuran mengingat untuk bicara saja susah. Aku hanya bisa terisak tanpa mengeluarkan suara. Do'a sudah kami panjatkan sebisa kami, tapi kami belum bisa ke luar juga dari lingkaran setan yang entah di buat siapa.
'YA ALLAH, JIKA AKU DAN PARA SAUDARA KU HARUS MATI DENGAN JALAN SEPERTI INI AKU IKHLAS YALLAH' itu kata yang aku ucapkan sebelum akhirnya aku bertemu lagi dengan si patok kuning hitam, si tumpukan tanah dan warung hijau.
Dan apa yang terjadi? Kami merasakan jalanan menanjak dan sedikit rusak lalu lurus. Aku selalu menggenggam ponselku, untuk menghubungi keluarga di rumah tapi hasilnya nihil seperti yang aku jabar kan di atas sinyalnya SOS.
Seperti keluar dari dimensi lain baterai ponsel ku yang semula 89% tiba-tiba berubah menjadi 2%. Kami tidak menemukan lagi si patok dan pasir dan warung. Dan masuk kawasan Gunung gelap.
Beruntung nya kami bertemu seorang pria yang sedang berjaga malam karena sedang ada perbaikan jembatan yang roboh.
"Pak punteun bade naros.. pami ka pantai ******* sabaraha lami deui?" (Pak Maaf mau tanya.. kalau ke pantai *******)
"Sameudap deui a , teras we lurus" (Sebentar lagi a, terus saja lurus) kami bernafas lega. Akhirnya kami menemukan orang-orang yang tengah membetulkan jembatan tersebut.
Tak berapa kami sampai di pantai tersebut dan memarkirkan mobil di depan mesjid. Kami membersihkan diri untuk sekedar menyegarkan badan. Aku ,Jemmy dan Asmul tidur di teras depan Masjid. Tapi Raskal membangunkan ku.
"Bangun!! Mau pada sholat tuh" ujarnya. Aku mengusap sudut mata ku, memang ada beberapa Bapak-bapak yang masuk kedalam Masjid.
Aku membolakan mata ku saat melihat jam justru menunjukan pukul setengah empat subuh dan ini Adzan awal. Padahal aku dan semua penghuni mobil, merasa perjalanan kali ini benar-benar jauh dan melelahkan. Perkiraan kami itu pasti akan sampai sekitar pukul lima subuh, tapi nyatanya kita sampai sebelum jam lima.
Aku termenung sendiri di dalam mobil, sulit di artikan logika. Jika ini menyangkut Gaib, pasti ada sebab nya. Justru itu yang kami tidak tahu.
Setelah sarapan aku dan bersama ke tujuh sepupu ku bermain air dan mengambil spot foto yang cukup bagus. Menurut ku pantai ini cukup indah karena masih jarang pengunjung paling hanya warga sekitar yang lalu lalang menangkap ikan.
Selesai mandi aku dan para sepupu ku pulang sekitar pukul 10 pagi, lagi-lagi aku ingin memastikan berapa kali aku melewati patok kuning hitam , tumpukan pasir, dan warung hijau.
Aku masih santai dalam perjalanan pulang kali ini, karena posisi pulang masih terang benderang. Kami melewati tanjakan pengantin dan melihat banyak rumah warga di sebelah kiri , sumpah tadi malem aku gak lihat rumah satu pun disini.
Aku dan Ucup turun hanya sekedar ingin update FB dan di ikuti oleh yang lain. Ada satu pos kamling terbuat dari bambu bilik, kulihat ada pedagang baso cuanki kami semua makan dengan lahap karena tergiur harganya yang murah. Satu bakso ia hargai hanya 250 perak saja.
Saat asik memakan sambil bercanda dengan yang lain, aku melihat sosok nenek yang bongkok nya seperti Rukuk saat sholat. Tapi saktinya beliau berjalan tanpa bantuan tongkat sedikit pun.
Beliau menghampiri kami dan meminta uang 5000 rupiah, aku memberikan uang dan satu mangkuk bakso cuanki. Nenek tersebut makan dengan lahap, setelah selesai beliau membuka pembicaraan, menanyakan apa semalam terjadi sesuatu terhadap kami.
Aku saling pandang dengan kedua kakak ku, serta semua sepupu ku. Tapi untuk menetralkan suasana yang canggung, aku bilang tidak .
Tapi Nenek itu menunjuk satu pohon yang jauh dari tempat kami berdiri, Pohon itu berwarna abu-abu seperti sudah rapih namun ia yang paling besar di antara pohon lain.
"Disana tempat tinggalnya" aku menyerngit kan dahi. Apa maksudnya.
"Siapa?" Aku tanya.
"Dia.. ular Besar yang menanti kalian untuk di makan"
Aku menelan Saliva susah payah. Ular besar?.
"Kalian tahu kalau Orang Bandung punya Pantangan untuk tidak berpergian di malam Sabtu?" Tanya Si Nenek, aku menggeleng. Karena memang aku tidak tahu.
"Untung cucu-cucu ku selamat. Dulu,, orang Bandung di larang berpergian di malam sabtu atau hari sabtu itu artinya mapag Ca'ah atau menjemput banjir di sungai. Begitu kata orang tua dulu" Nenek itu pergi tanpa memberikan penjelasan lebih mendetail dan malah terkesan menggantung. Kami semua melajukan mobil kembali, tujuan kamu sekarang adalah rumah Nenek yang berada di Kadungora.
Semua diam termasuk aku, aku ingin memastikan saat aku merasa kalau jalan yang kami lalui itu-itu saja berapa kali yang kami lewati.
Kita melalu jalanan pegunungan yang naik dan naik terus ke atas. Urutan nya adalah Warung jadi sebelah kiri dan tepukan pasir, lalu patok-patok berwarna hitam dan kuning.
Ternyata patok-patok itu memang aku temukan sebelum mendekati warung. Saat aku melihat warung berwarna hijau lalu pasir dan patok selanjutnya. Seketika lutut ku lemas. Kami hanya satu kali melewati nya lalu semalam?
Aku melewati ai terjun di pinggir jalan yang cukup besar. Aku termenung mungkinkah kami masuk ke dimensi lain? Dimensi gaib? Entahlah.
Aku kembali berfikir keras, kalau aku di kelilingi hutan kiri dan kanan. Lalu mobil-mobil truk dan APV yang menyalip kami dan hilang di tikungan kemana perginya? Apa mobil tersebut masuk ke jurang? Yaallah aku ingin menangis untuk melawan rasa takutku.
***
Kami sampai di Bandung sekitar pukul delapan malam karena aku dan para sepupu cukup lama beristirahat di rumah nenek.
Liburan kali ini sungguh mencekam, wajah kami murah dan justru aku tidak sadar kalau sekarang aku sedang berjalan menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah, Mamah memeluk erat. Begitu juga bapak, ia memeluk A'Yogi dan A'Firman . Mereka menangis saat melihat aku dan kakak-kakak kembali.
"A.. aa' baik-baik saja kan? Dede baik-baik aja kan?" Tanya Mama.
"Iyaaa.. kenapa ma?" Jawan ku.
"Semalem Mama mimpi, mobil yang kalian tumpangi dimakan ular besar." Aku menutup mulut ku saat Mamah juga bercerita kalau orang tua Jemmi, Raskal, Asper, dan Asmul bermimpi sama seperti Mama.
Mereka melakukan panggilan telepon kepada anaknya masing-masing tapi hasilnya nihil. Saat aku tanya mereka mimpi di pukul berapa, mama menjawab pukul 2 dini hari, aku berfikir lagi. Astagfirullah itu jam-jam saat kami memutari jalan yang sama.
Akan kan ini sebuah pertanda buruk ? Entah lah tapi aku sangat bersyukur sampai detik ini aku masih hidup dan di beri umur panjang oleh Allah SWT.
Aku juga tidak tahu mitos atau fakta di daerah tersebut, tapi yang aku alami di atas adalah sebagai teguran agar tidak pergi malam-malam . Dan sebaiknya jika ada para readers mau berlibur ke tempat yang aku maksud, menjelang pagi lah Kalian pergi. Selepas Dzuhur kalian harus sudah keluar dari kawasan Batu Tumpang dan Gunung gelap.
Jika kalian memiliki pengalaman mistis seperti aku, kalian bisa tulis di komen ya, atau kalian tahu mitos-mitos di daerah sana tolong komen aku benar-benar penasaran apa penyebabnya .