Di sebuah sekolah, Ramadhan Syahreza atau yang biasa dipanggil Rama masuk ke areal parkiran SMA Tegar Bhakti lalu ia memarkirkan motornya.
"Akhirnya sampai juga, saatnya ke kelas dan melanjutkan pekerjaan rumah." gumamnya sambil berjalan menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Rama duduk di bangku paling depan. kemudian ia melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum sempat selesai.
"Aduh pak Ketu, masih aja mengerjakan tugas di sekolah. kan namanya pekerjaan rumah itu dikerjakannya di rumah bukan disini." ejek Anandita, sahabatnya.
Rama mendengus sebal, "Diam kamu, mending kalau mau bantuin." batin Rama.
"Iya maaf, silakan lanjutkan saja pekerjaannya." jawab Anandita.
Rama segera menyelesaikan sisa tugasnya sebelum bu Siska datang, "Ahh selesai juga, bodo amat salah juga. yang penting ada usaha sedikit."
Bu Siska masuk ke dalam kelas yang sebenarnya hanya ada enam orang murid itu, "Assalamualaikum, selamat pagi murid murid."
"Waalaikumsallam, pagi bu..." jawab Anandita dan Rama.
Bu Siska duduk di mejanya, "Coba kumpulkan tugasnya, Anandita coba kumpulkan semua tugas teman temannya."
"Nih Ram, punya saya dan Jaka." ucap Andre.
Rama menjawab, "Oke.."
Rama mengumpulkan tugasnya dan kawan kawannya ke meja bu Siska, begitu juga dengan Anandita.
"Oke terimakasih, biar ibu cek ya!!" jelas bu Siska.
Bu Siska mengecek tugas milik siswanya itu, namun setelah mengecek berulang ulang ada kesamaan antara tugas Rama dan Anandita.
"Rama, kamu mencontek ke si Anan bukan??" tanya bu Siska.
Rama menjawab, "Tidak bu, justru itu kalau kata saya bisa dibilang asal isi tapi agak mikir dikit."
"Dari segi gaya tulisan, letak salah, dan jumlah benarnya juga sama. apa kalian memiliki hubungan adik dan kakak?? atau istilahnya kembar begitu??" tanya Bu Siska.
Rama menjawab, "Kalau dilihat dari sejarah, seharusnya saya ada saudara kembar perempuan."
"Kalau saya sebaliknya bu.." jawab Anandita.
Bu Siska semakin keheranan, "Kayaknya iya deh kalian adik kakak, coba nanti kamu tes DNA."
"Iya juga, dari wajah, warna kulit, sikap dan prestasi memang sama. apa mungkin Rama adalah kakak yang aku cari selama ini??" tanya Anandita.
Rama pun sebaliknya, "Anandita, kok kayak yang pernah dengar nama itu sebelumnya?? persis seperti nama adikku yang hilang sepuluh tahun lalu." gumam Rama.
Saat jam istirahat, Rama bersama Andre dan jordi sedang makan bersama di kantin yang sudah kosong tak terpakai. mereka membicarakan tentang rencana mengungkap sekolah mereka mendadak batal disita hingga membuat beberapa siswa yang sudah pindah sekolah tak sempat kembali.
"Sebenarnya waktu itu sekolah kita ada masalah apa sih??" tanya Rama.
Andre menjawab, "Yang saya dengar kala itu sekolah kita sempat mengalami masalah finansial pada beberapa tahun yang lalu. sejak ada proyek pembuatan jalan di areal belakang sekolah."
"Jadi sekolah kita sempat tutup??" tanya Rama.
Andre menjawab, "Iya, tepatnya pada sepuluh tahun yang lalu. nah ini kali kedua sekolah kita mengalami nasib hampir ditutup tapi tidak jadi, ini yang menjadi misteri."
"Tapi saya melihat ada hal yang janggal dengan keluarganya Anandita, karena apa?? pada malam minggu lalu. saya sempat antar makanan via COD kesana, nah mereka seperti sedang membahas sesuatu dimana disana ada Anandita juga seorang pria berkemeja hitam, kayaknya dia pengusaha sukses yang akan menikah dengan Anandita." ucap Jordi.
Andre meminum es seduh yang ia beli di luar sekolah, "Letak kecurigaannya dimana Jor??" tanya Andre.
"Saya tahu, mungkin tujuan pria itu menikahi Anandita karena untuk menguasai aset tanah yang kita pijak ini." tegas Rama.
Andre berpikir sejenak, "Hmm... benar juga, sepuluh tahun lalu dan sebulan yang lalu penyebab masalah sekolah ini batal ditutup ya tetap sama, yaitu ada pengusaha yang ingin membangun sesuatu disini dan tidak lama kemudian perusahaannya tutup."
"Apa kita selidiki kasus ini??" tanya Jordi.
Rama menjawab, "Boleh juga, seru tuh kayaknya."
"Nanti malam kita ke rumah Anandita. tapi lewat kebun dan hutan di belakang rumahnya." seru Rama.
"Gasskeun.." jawab Jordi dan Andre.
Di tengah gelapnya malam, dan cuaca yang hujan gerimis. Rama, Andre dan Jordi berjalan mengendap endap di belakang rumah Anandita.
"Ini kita mau mengungkap misteri apa mau maling sih?? kok jalannya mengendap endap begini??" tanya Rama.
Andre menjawab, "Emang ada sesuatu yang disembunyikan di salah satu ruangan dalam gedung sekolah ini, makanya kita tetap mengungkap kasus ini."
"Emang yakin??" tanya Rama.
Andre menjawab, "Ikut aja lah, jangan banyak bicara."
"Oke.." jawab Rama.
Saat Rama dan Jordi akan masuk ke dalam areal sekolah, Andre menarik tubuh kedua temannya itu karena ada seseorang yang sudah mendahului mereka.
"Ada apa Dre??" tanya Rama.
Andre menjawab, "Ada seseorang yang mendahului kita,"
Seseorang yang nampak sempoyongan itu membuang sesuatu seperti puntung rokok yang langsung membakar beberapa dokumen dan kobaran api pun menyambar seluruh areal gedung sekolah.
"Ini yang saya takutkan, terbakar." batin Andre.
Karena panik, ketiganya langsung berlari kearah kiri dimana disana adalah jalur menuju depan rumah Anandita.
"Bugg!!!"
"Ampun bang!!" teriak seorang lelaki yang dipukuli sekelompok orang menggunakan balok kayu.
Karena salah perhitungan dan minimnya komunikasi, Rama dan kawan kawannya langsung menyerang sekelompok orang itu.
"Buggg!!!"
"Bugg!!!"
"Bug!!!!"
Dalam waktu enam menit, tiga puluhan orang yang terdiri dari tamu besanan dan pengawal seorang pengusaha ternama berhasil ditangani oleh Rama CS.
"Kamu enggak apa apa??" tanya Rama.
"Rama??? terimakasih!! aku tidak apa apa kok.." ucap Deni.
Rama mengangguk, "Ya sudah, ayo semuanya mundur.."
"Baik Ram.." jawab Andre dan Jordi.
"Ada kebakaran!!" teriak beberapa anggota keluarga besar dari Anandita.
Semua orang pun sibuk memadamkan api, tanpa mementingkan lamaran ketiga yang seharusnya dilaksanakan malam ini antara Anandita dan Hendrawan, pengusaha kaya berusia 29 tahun.
Setelah kejadian itu, Rama dan kawan kawannya pergi ke luar kota. sementara itu, Anandita hanya menangis sedih menahan malu karena insiden semalam.
"Aku harus pergi kemana lagi?? di kampungku sudah tidak lagi mau menerima keberadaan aku.." tanya Anandita yang berjalan seorang diri.
Deni yang kebetulan melintas, menemui Anandita yang sedang berjalan sendirian di pinggir jalan.
"Anan??? kamu kenapa??" tanya Deni.
Anandita berusaha menghindari Deni, karena ia masih trauma.
"Kamu jangan temui aku dulu, aku sedang ingin sendiri dulu." gumam Anan.
Deni tersenyum, "Kamu pasti mau ketemu kakak kamu kan?? dan bisa pulang ke rumah dan berkumpul bersama lagi??"
Anan menatap Deni, "Maksud kamu??"
Deni menepuk tangannya, tak lama Rama datang sambil memberikan senyuman.
"Rama??" tanya Anandita.
Deni tersenyum, "Dia bukan sekedar Rama, tapi dia adalah kakak kandung kamu??" jelas Deni pada Anandita.
"Hah?? kakak??" tanya Anandita.
Rama menjawab, "Iya.."
Anandita meluapkan semua emosi dan air matanya, lalu ia memeluk Rama dengan erat.
"Kakak!!! akhirnya aku bisa ketemu lagi, sekarang bagaimana kabarnya??" tanya Anandita.
Rama menjawab, "Saya selalu ada kok, yuk sekarang kamu pulang ke rumah yang sesungguhnya."
"Baik kak.." jawab Anandita.
Deni tersenyum, lalu membawakan tas ransel besar milik Anandita.
"Rumah kita besar bukan kak??" tanya Riani.
"Iya.." jawab Rama.
"Terimakasih kak.." ucap Anandita.
"Sama sama.." jawab Rama.
**
*************