Jika ditanya aku tukang selingkuh? Bukan. Tapi jika kau bertanya suka di dekat orang banyak? Iya.
Aku suka keramaian. Tak mungkin terus bersama pasangan. Aku butuh pendapat orang lain yang luas. Dan mungkin itu yang menyebabkan hubunganku dengannya kandas. Tanpa angin tanpa hujan, tanpa alasan jelas. Kami dengan sadar memutuskannya pada sore ini di kafe kopi langganan kami.
Para pekerja pun nampak heran ketika kami berdua dengan lantang mengumumkan putusnya hubungan kami yang berjalan 4 tahun lamanya. Kafe kopi tempat kami sering berkencan dan bertemu untuk saling bertukar pendapat.
Aku penulis dan ia penyiar, sudah cocok bukan? Yang satu suka mengekspresikan diri dalam tulisannya dan pasangannya yang akan menjadi pembicara. Namun memang itu keputusan kami berdua.
Tadi pukul 4 sore, aku dan dia duduk saling berhadapan, awalnya aku berbincang padanya tentang sebuah project kerja yang aku sendiri bingung harus memulai tulisan darimana. Pengalaman asmaraku tak luas, pacaran pun hanya dengan sosok di hadapanku, Raga. Sosok pria tampan dan pengertian yang selalu ku rasa cukup karena perhatiannya padaku. Tak ada yang kuinginkan lebih. Namun seolah semua hilang, aku ingin dia menyakitiku agar tulisanku lebih terasa menyayat ke pembaca.
"Aku bingung harus memulainya darimana? Aku tak pernah patah hati." kataku padanya, mengungkap segala keresahan hati jika aku tak akan bisa mendalami karakter yang ku tulis disana seperti karya-karyaku sebelumnya. Yang lebih banyak membicarakan tentang perempuan kuat, kekasih yang sayang serta persahabatan.
"Bayangkan jika diriku selingkuh." ungkapnya sederhana. Menyeruput kopi arabica-nya cepat tanpa merasa pahit. Dasar lidahnya.
Tidak, aku tak akan pernah cemburu. Dulu saja, saat di awal kami berpacaran ia berselingkuh dengan kakak angkatan kami. Aku biasa saja. Tanpa rasa cemburu. Tanpa rasa sakit hati. Hanya cukup diam beberapa minggu maka ia yang mencariku sendiri.
Lalu bagaimana rasanya? Aku belum bisa menemukan bagaimana rasanya patah hati atau sekedar rasa cemburu di hubungan. Bahkan dalam pertemanan dan persaudaraan bagiku rasa sayang itu di bagi dengan rata. Jika saat kecil aku mendapat kasih sayang besar, maka ketika aku besar dan memiliki adik maka kasih sayang akan terbagi dengan rata sama seperti saat kau kecil. Dan bagiku, hubungan 2 manusia seperti kami. Tak perlu terlalu dalam perasaannya sebab jika kau ditinggalkan, takut jadi gila.
Atau ketika pertemanan, tak mungkin temanmu melupakanmu. Kecuali, mereka yang memang berteman tanpa ketulusan. Dan jika temanku menyingkir dariku, cukup aku diam hingga ia mencariku.
"Kau tahu sendiri, itu tak berhasil." kataku sambil terus mengetik di layar laptop depanku.
Ia terus memandangiku seksama. "Bagaimana jika kita putus?" katanya dengan semangat.
"Kau menginginkannya?" tebakku langsung padanya.
"Ya, tidak bagaimana jika itu berhasil. Kita putus lalu aku punya pacar baru yang ku pamerkan."
"Apakah itu akan berhasil?"
"Kurasa, lalu aku punya kekasih baru yang dari orang kau kenal."
"Ha? Kurasa itu akan sama dengan kau selingkuh." kataku tenang. Mustahil baginya memperoleh kekasih baru, mengingat ia tak pernah mempunyai teman perempuan selama 3 tahun ini. Mungkin hanya rekan kerja dan itupun mereka tak berkomunikasi.
"Coba saja." bujuknya padaku.
Aku melihat matanya, itu tak berbohong. Ia benar tengah memberiku pendapat gila tersebut.
"Baiklah. Lalu? Bagaimana kau akan memperoleh kekasih?" tanyaku langsung.
"Kita ungkapkan putusnya status kita." katanya.
Dan kejadian sedikit memalukan itu terjadi, teriakan dari bibirnya menggema keras di kafe.
"Kami putus!"
Tentunya para karyawan kafe akan memandangi kami dengan heran. Siapa yang tak heran? Ada lelaki agak gila yang mengumumkan putusnya di sebuah tempat yang cukup ramai. Apa selega itu? Kuamati raut wajahnya seksama, ia bahagia.
Senyum menyungging lebar, teriakan semangat, tanpa raut sedih. Tidak, karakterku akan gagal.
***
Beberapa hari ini, setelah aku memutuskan hubungan kami. Ia tak sibuk mengubungiku. Biasanya ia yang paling berisik. Beberapa orang juga menghubungiku perihal putusnya kami, terutama kedua orang tuaku yang terus saja menanyakan kenapa dan ada apa.
"ADA APA NAK?" kira-kira isi pesannya seperti itu. Dengan capslock yang rata seolah membentakku.
Lalu beberapa pesan lainnya juga masuk dari teman-temanku ada yang mendukung dimana kami putus ada pula yang menyayangkan.
Namun aku, tetap tak merasakan apapun. Tangis pun tidak. Sedih pun tidak. Mungkin, karena tahu jika hubungan kami putus hanya untuk membantuku.
Bunyi dering ponsel menggugahku, nama yang tertera disana sahabat sekaligus partner menulisku, Rangga.
"Iya, ada apa?" tanyaku langsung padanya. Ia tak suka bertele-tele.
"Hai, sabar. Aku hanya ingin bertemu denganmu." ajaknya dari seberang.
"Di kafe tempatku merenung."
"Baiklah."
Mungkin memang lebih baik aku bertemu dengannya, berharap bisa membantuku di jalan buntu karakter patah hati yang tengah mencari hidupnya.
***
Pukul 4 Sore di kafe kopi tempatku biasa bertemu orang-orang, Rangga duduk bersebarangan. Tak sedikit pelayan kafe memandangiku. Mungkin dalam pemikirannya aku adalah perempuan yang suka bermain atau selingkuh. Kemarin putus disini dan hari ini seolah berkencan dengan orang berbeda.
"Jadi ada apa?" tanyaku padanya. Sungguh malas untuk bertele-tele dengan prang di depanku.
"Hanya ingin menyerahkan ini." Ia memberikanku sebuah buku catatan kecil dengan tulisan judul di halaman mukanya 'Patahku Yang Indah'
"Apa ini?" tanyaku padanya. Ia tersenyum lebar.
"Kau tak perlu putus hanya untuk mendalaminya, aku ini partnermu. Patah hati sudah jadi hal yang ku hafal bagaimana rasanya. Itu catatanku tentang patah hati." jelasnya padaku.
Wow, hanya kata itu yang ku deskripsikan padanya. Ia menulis rasa sakit hatinya dalam buku catatan dengan judul seperti itu. "Kau memang aneh."
"Sebaiknya kau baca."
Segera ku buka catatan itu, halaman pertama yang kubaca adalah nama dan biodatanya. Oh Tuhan, aku sudah tahu apapun tentang dia. Kami berteman selama 3 tahun ini. Membuat buku bersama hingga merilisnya bersama. Partner yang akan sukarela mengedit jika ku perlukan.
"Aku sudah tahu tentangmu." Ku lanjutkan membaca di halaman selanjutnya. Hanya sebuah catatan hatinya, terlalu biasa. Ia mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang istimewa dengan kata, "Ia cantik, tapi tak bisa ku raih. Aku menyukainya."
"Terlalu sederhana, kau menyukai gadis itu?" tanyaku sarkas padanya. Namun hanya senyuman kecil ku dapat. Ia meminum latte kesukaannya dengan pandangan terlalu datar.
"Baca saja. Ku tunggu sambil melihat para pelayan."
Ku lanjutkan di halaman-halaman selanjutnya. Masih sama, pengungkapan rasa dan puisi yang kuanggap ia terlalu menjadi bucin, budak cinta gadis yang ia sukai. Hingga aku sampai di salah satu halaman tengah. Bertuliskan judul yang lain, pendeskripsian yang lain.
"10 Hal Yang Perlu Diperhatikan Ketika Jatuh Cinta" Itu menarik minatku. Ciri-ciri itu ada disana. Bertuliskan pena merah, seolah amat penting.
1. Rasakan detak jantungmu ketika di dekatnya.
2. Rasakan bagaimana caramu memandangnya.
3. Rasakan betapa gugupnya dirimu di dekatnya.
4. Rasakan bagaimana ia melihatmu temukan sinar harapanmu.
5. Rasakan betapa kau mengaguminya.
6. Tanyakan pada hatimu bagaimana kau menyukainya.
7. Tanyakan pada hatimu betapa kau mengaguminya.
8. Tanyakan mengapa kau menyukainya.
9. Tanyakan apakah dirimu menginginkan ia memiliki hati yang sama dengan yang kau rasakan.
10. Tanyakan pada dirimu apakah ini cinta atau sekedar gairah berbeda gender.
Dia menulisnya detail, apakah perlu kutanyakan pada diriku untuk perasaanku pada Raga. Jawabannya semakin ku bertanya pada hatiku tak ada. Aku tidak merasakan semua. Aku hanya tahu bahwa aku butuh dia karena ia yang mampu melindungiku dan memberi rasa nyaman ketika membantuku. Bahkan gairah? Aku seolah tak memilikinya. Meski ia pernah menciumku, aku tak merasakan apa-apa. Hambar!
"Raga." Nama itu terlantun pelan, aku tak yakin jika aku pernah jatuh cinta padanya. Aku menerimanya karena takut akan melukai egonya. Ia yang mempertaruhkan rasa malu mengungkap perasaannya di kantin kampus. Namun lambat laun kami tetap bertahan di hubungan tersebut.
Ku buka halaman selanjutnya, masih tentang sebuah pernyataan dan ciri terpatri disana. Judul kali ini mungkin harus kuingat agar aku paham arti menyayat hati dengan patah hati.
5 Tanda Kau Sakit Hati
1. Kau terluka tanpa ada darah.
2. Kau merasa sesak dalam dada.
3. Kau merasa harapanmu pupus.
4. Kau merasa ada sesuatu yang membuatmu harus menangis karena sesak.
5. Kau merasa pikiranmu seolah tak jernih melawan emosi yang bersinggungan.
Sebab, kau melihatnya bahagia bukan denganmu.
"Kau memang berpengalaman?" tanyaku padanya pelan. Ya bagaimana, ia bisa menulisnya dengan baik seolah merasakannya begitu lama dengan orang yang sama. Bukan seperti sosoknya yang sering berganti kekasih. Bahkan jika ku hitung lebih dari 30 gadis pernah berkencan dengannya dalam 3 tahun ini setiap bulan ia berganti kekasih.
"Karena aku juga merasakannya. Bukan hanya 1 bulan bahkan bertahun lamanya."
"Sungguh?"
"Ya, aku punya seseorang yang ku suka lama. Gadis-gadis yang ku pacari itu hanya ingin menarik perhatiannya."
"Kau gila?" tanyaku langsung padanya. Tanpa ingin menghujat, tapi bagaimana bisa ia menggunakan orang lain untuk menarik perhatian orang.
"Bisa jadi, tapi malah dia menganggapku suka bermain perempuan bahakn selingkuh."
"Ya, bagaimana lagi? Kau itu memang seperti itu. Aku yang temanmu saja akan menganggapmu seperti itu terus."
"Sungguh? Tak akan ku ulangi agar citraku di matamu bisa berubah."
"Ku rasa tidak bisa, kau selalu penuh aura menyenangkan dengan wajah tampanmu." kataku memutuskan komunikasi. Yang kudengar hanya helaan nafasnya. Aku kembali asyik membaca buku itu.
Halaman selanjutnya masih tentang puisi yang menggambarkan sosok yang ia suka dan patah yang ia rasakan, berlebihan. Hanya itu yang ku rasakan. Kata-katanya memang menegaskan betapa ia menyukai gadis cantik itu tapi menurutku terlalu berlebihan karena banyak kata "Ia seperti tong kosong, tak merasakan apapun. Tak peduli sakit apapun. Apakah bisa aku memberinya luka yang sama?"
Sebenarnya seperti apa perempuan itu, sampai ia menyebutnya tong kosong dan ingin melukainya. Apakah lelaki di hadapanku ini adalah psikopat hingga ingin orang lain merasakan sakit hati yang sama?
"Kau ingin ia merasakan sakitmu juga?" tanyaku padanya.
"Dulu ingin sekali, tapi sekarang aku paham. Aku ingin ia bahagia."
"Naif!"
Aku hanya mendengar kekehan ringannya. Ku buka halaman selanjutnya. Sebuah judul seperti tadi bedanya sekarang adalah sebuah pesan yang seolah ingin ia sampaikan. 7 Pesanku untuk mereka yang jatuh cinta lalu patah.
Judul yang aneh.
1. Jangan menyerah, tetaplah jadi orang baik. Meski kasihmu tak sampai semoga doamu tetap sampai untuknya.
2. Jangan mencoba memendamnya sendiri, ceritakan pada orang terdekatmu. Coba percaya padanya bahwa ini akan membantu. Layaknya rasa ingin buang air yang kau tahan, ketika kau mengeluarkannya semua akan terasa lega. Seperti itu pula rasa sakit hatimu, jika kau mengungkapkannya akan terasa sedikit lega. Setidaknya ada seseorang yang mau mendengarmu.
3. Cobalah untuk tetap tersenyum padanya meski sakit hati. Kau hanya perlu menunjukkan sisi baik-baik saja ini. Agar ia tetap mau di sebelahmu.
4. Jadilah temannya. Temani dia agar bahagia. Buatlah sebuah prinsip. Jika ia bahagia dengan orang lain, aku juga akan bahagia dengan orang lain nantinya.
5. Buatlah dirimu bahagia, jangan hanya mencarinya. Sebab bahagia itu kita bentuk sendiri dari keyakinan kita untuk baik. Seperti Aku bahagia dengan apa yang kumiki sekarang, bersyukurlah.
6. Ekplorasi dirimu ke hal yang kau sukai. Buatlah dirimu sibuk membahagiakan dirimu sendiri.
7. Ungkapkan perasaanmu, bisa jadi itu solusi terbaik. Meski kau tahu akan ditolak. Bisa jadi, itu membuatmu lega.
Selesai membacanya aku menatapnya. "Memang kau pernah mengungkapkannya?"
"Akan ku coba nanti."
"Sok menasihati, padahal dirinya saja tidak."
Ku buka lembar terakhirnya, kali ini sebuah puisi dengan judul yang sama dengan catatan ini.
Patahku yang Indah
Jika aku mengenalmu lebih dulu, maukah kau bersamaku
Dengan segala yang ku punya
Jika aku bersamamu lebih dulu, maukah kau berlama-lama denganku
Seperti kau bersamanya
Jika aku menyatakan lebih dulu, maukah kamu menerimaku
Seperti kau menerimanya
Namun tidak, kurasa itu tidak mungkin.
Kau memilihnya.
Kau bersamanya.
Kau menerimanya.
Jika kau bahagia maka aku juga bisa bahagia dengan melihatmu.
Memang naif sayang, tapi aku menyukainya.
Kau patahku yang indah.
Tuhan memberiku dirimu untuk mendewasakanku.
Kau patahku yang indah.
Karenamu aku jatuh lalu bangkit.
Kau patahku yang indah.
Cantik nan mempesona
Namun selalu ingin ku hormati tanpa ingin merusakmu
Kau patahku yang indah
Akan ku hembuskan namamu untuk terakhir kalinya.
Arifah, kau patahku yang indah.
Di bait terakhirnya, aku bergetar. Jantungku berdegub. Namaku, ia menyebut namaku. Aku perempuan tong kosong yang ia maksudkan selama ini?
"Arifah, aku pernah menyukaimu." Hanya kata itu meluncur dari bibirnya. Lolos tanpa beban. Air mataku meluncur tanpa sebab dadaku terasa sesak entah bahagia atau sedih atau marah, semakin menggenang menutup netraku dan menggelapnya penglihatanku.
Syok! Selama ini aku tong kosong yang sering dibicarakannya. Kesadaranku terenggut, gelap dan semakin meluruh tubuhku. Lemas.
"Hei, Arifah ada apa?" suaranya yang terakhir ku dengar sebelum tubuhku melorot. Kesadaranku terenggut.
"Rangga."
****
Aku tersadar penuh, rasanya ada sesuatu yang menyakitiku lebih dalam ketika ku lihat sekitar tak ada dia. Rangga tak ada, mungkin ia mengantarku sampai kos setelah tadi sore pingsan.
Ah, aku baru ingat tentang pingsan, setelah mendengar pernyataannya aku bergetar dan berdegub. "Kau sudah bangun rupanya?" suara Raga menyapaku lebih dulu membuyarkan diriku dari lamunan. Ia berdiri di dekat pintu membawa nampan makanan.
"Kau kenapa disini?" tanyaku pada mantan kekasihku itu.
"Rangga memintaku untuk menjagamu hingga urusannya selesai." katanya menjelaskan.
"Oh."
"Makanlah lebih dulu, ku tau kau butuh tenaga sekarang." Raga masih sama ia perhatian yang ku butuhkan. Namun jika menyangkut tulisan Rangga tadi. Ku rasa ia bukan orang yang ku cintai, ciri itu tak ada. Bahkan ketika kami putus 5 tanda itu tak ada.
Ya, seperti tong kosong yang ketika dipukul berbunyi keras namun tak mengeluarkan suatu benda tanpa perasaan rela dan tetap berbunyi tak menghasilkan hal lain. Tetap terima di pukul, tanpa perasaan. Kosong hanya berbunyi ketika di pukul. Ia masih sama, namun rasaku juga. Tanpa getar dan getir rasa sakit maupun cinta seperti di catatan tadi.
Bunyi pesan masuk dari ponselku, segera ku buka pesan yang masuk dan Rangga diurutan pertama mengirim sebuah foto.
Kuamati jelas, foto yang berisi dua orang saling memamerkan cincin dengan background bunga serta lampu warna emas. Rangga bertunangan, setelah mengungkapkan perasaan yang dikuburnya padaku.
Aku bergemuruh. Degub sakit terasa. Rasanya sesak ingin menangis. 5 tanda sakit hati itu kini ada padaku. Air mataku menggenang. Apakah aku bahagia atau sedih? Ia bertunangan dengan seseorang yang amat kukenal, sepupuku sendiri.
Raga menghampiriku dan berbisik, "Wah, Rangga sudah berani sekali melamar gadis. Bukannya dia Anya sepupumu itu?" Dia memberiku pelukan dari belakang. Mungkin mengamati pesan dari Rangga.
"Ah, iya." ucapku getir. Aku Tong Kosong kenapa harus merasakan hal getir ini. Kupeluk Raga dengan erat, ya dia kekasihku yang selalu ada untukku. Meski hubungan kami telah putus tanpa alasan seperti yang lainnya. Dan Rangga sahabatku, pembagian rasanya rata. Aku ini Tong Kosong yang hanya bersuara ketika dipukul padahal tak merasakan apapun.
***