Topeng Misterius
“Hei siapa kamu!“ teriak Lidya. Saat itu dia tengah sumpek. Dalam kamar terus. Hanya main HP saja, ternyata membosankan. Makanya dia mencoba keluar ruangan. Guna menghilangkan penat, serta mencari udara segar. Dia ke ruang belakang. Disitu pada bagian dekat dapur, dia melihat satu keanehan. Ada yang nampak terlihat. Hingga sesaat lamanya, dia menajamkan penglihatannya. Apakah memang orang, atau cuma halusinasinya saja? Atau, mungkin justru hantu yang berkeliaran hendak melakukan tugasnya menakut-nakuti orang. Segalanya menjadi jelas, setelah beberapa saat dia menajamkan penglihatannya.
Orang itu lari dengan tergesa-gesa, begitu mendengar teriakan Lidya. Takut orang-orang berdatangan lalu menangkapnya.
Dia kemudian melompat dinding. Lumayan tinggi memang. Jadi perlu tenaga kuat untuk mengatasinya.
Dan topeng jatuh.
Pecah.
Ah, Si Lidia marah.
Semakin membenci pencuri itu, dia. Lalu mengejarnya dan berusaha meangkap. Sayang sekali orang itu sudah menghilang di pekat nya malam.
###
“Siapa Mang kira-kira?“ ujar Lidya pada pagi harinya. Saat pembantunya ikut membantu membersihkan topeng itu.
“Entahlah. Kayaknya Topong. Dia sering terlihat.“
Mereka terus membersihkan tempat itu. Hampir tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Selain topeng yang pecah itu. Dari sidik jari juga tak nampak. Juga dari pijakan tanah serta dinding, tak ada yang tersisa.
###
“Kau rupanya?“ ujar Lidya mendatangi yang di maksud.
“Ya bukan lah. Orang aku jalan-jalan doang,“ ujar Topong.
“Tapi kau mencuri topeng itu dan jatuh. Lalu pecah kan. Bohong kau!"
“Buat apa mencuri topeng. Mencuri hatimu baru mau aku.”
“Huh. Tetap saja aku tak percaya padamu. “
###
“Ini topengku.“
“Hus, enak saja.“
Nampak berebut si Toto dan Pepeng.
“Kenapa kalian?“ tanya Lidya.
“Dia ambil topeng ku. “
“Enak saja, ini topengku yang baru saja aku beli. “
“Kau sudah punya banyak, kenapa masih memerlukan ini. “
“Itu untuk tambahan koleksiku. Aku kolektor topeng dan banyak yang dimiliki . Kau jangan sembarangan. “
“Ini satu-satunya yang aku beli dari Palinfong. Kau tak berhak memilikinya. “
“Sudah… sudah… Aku jadi curiga. Kalian satu-satunya yang masuk rumahku dan memecahkan topeng kesayanganku itu kan? “ tunjuk Lidya yang merasa yakin kalau kedua orang itu yang salah satunya pelaku. Atau justru ke dua-duanya. Sebab mereka menyukai topeng. Dan itu menjadi dasar untuk menuduh mereka.
“Enak saja mana mungkin,“ ujar Toto berkilah.
“Siapa tahu.“
“Aku tak punya topeng. Hanya ini kenangan ku saat pergi ke kota itu, lalu membelinya. Sehingga tak ingin benda itu jatuh ke tangan orang lain. Apalagi dia yang sudah punya banyak topeng. Lalu untuk apa semua itu kalau sudah memiliki banyak. Dia tuh yang punya banyak topeng. Kali saja buat koleksi nya. Sehingga mencuri, lalu berkilah. Sudah tangkap saja. “
“Enak saja!“
“Kau punya banyak topeng? Boleh ku lihat?“ ujar Lidya penasaran akan koleksi milik Pepeng yang katanya banyak itu. Siapa tahu ada yang mirip dengan punya nya lalu nanti bisa di jadikan ganti. Soalnya dia masih sayang sekali dengan topeng yang pecah itu.
“Ayo kalau nggak percaya bahwa aku bukan pelakunya. “
“Lihat ini topeng kematian.“
“Kematian siapa.“
“Ya orang lah. Aku hanya membeli dari seseorang di Puchialung.“
“Jauh amat.“
“Iya dong. “
“Nah di bawahnya ada topeng dewa kematian. “ Nampak sebuah topeng mengerikan dengan warna dominan merah. Dengan sorot mata putih tajam. Dan ada tanduk runcing di kepala itu.
“Langsung dari tempatnya sana.”
“Iya.”
“Jangan-jangan itu yang membawa petaka.”
“Bisa jadi, soalnya menurut cerita. Banyak yang memiliki topeng ini semuanya mati. Aku orang ketiga yang mendapatkannya.”
“Jangan-jangan kau akan mati“
“Sembarangan. Ya tidak lah sudah aku usir dengan ritual yang lengkap. Jadi kutukan itu sudah hilang.“
“Bagaimana itu?”
“Waktu itu, setelah selesai topeng ini dibuat, langsung banyak yang ingin memilikinya. Karena keindahan pembuatannya. Dan dia mengucapkan beberapa permohonan. Salah satunya ingin menjadi terkenal. Dan benar saja. Dia langsung mendapat kontrak, kemudian dapat bayaran tinggi untuk beberapa episode lakon yang mesti dia perankan. Lalu dia bisa membeli mobil, rumah dan usaha lain yang mapan. Tapi beberapa saat berikutnya, mobil yang baru dibeli itu langsung kecelakaan dengan dahsyat yang membuat dia tewas meskipun air bagnya bisa mengembang. Yang ternyata tak cukup untuk melindunginya.”
“Begitu.”
“Yah. Yang kedua tentang pemiliknya yang miskin, karena melihat topeng itu tak terurus saat banyak orang yang mengetahui kalau dia membawa petaka. Segera dia merawatnya, mencucinya hingga bersih. Lalu mengecat ulang hingga mengkilap. Dan berujar ingin kaya. Tentu saja langsung terkabul. Dengan menjadi foto di rokok. Yang dekil itu. Tahu tidak berikutnya dia melayang karena kebanyakan merokok.”
“Lalu yang terakhir….“
“Jadi empat dong?“
“Iya yah. Ya pokoknya begitulah. Aku menjadi pemegang ke selajutnya. “
“Terus. “
“Dia juga mati. Akibat meminum racun oplosan yang tak biasa dia minum.“
“Seram yah kasihmu. Seseram topeng dan wajahmu.”
“Jangan bawa-bawa wajah dong. Ini sudah dari sana nya.”
Lidya terus melihat-lihat topeng di ruang yang seperti museum topeng itu.
“Itu topeng wayang.“ Topeng itu hanya beberapa saja yang menggambarkan karakter-karakter dalam pementasan wayang. Jadi orang-orang itu memakai topeng saat melakonkan kisah tersebut.
“Itu topeng kayu.“
“Dan yang ini topeng Firaun.“ Pepeng menunjukkan satu topeng aneh. Bentuknya sangat bersih. Kekuningan. Sebuah warna emas yang indah. Berbaur dengan warna kehitaman.
“Ih kau punya juga?“
“Iyalah. Tapi hanya replika nya saja. Ini aslinya di museum Mesir. Terbuat dari emas asli yang nilai jualnya tiada tara.”
###
“Lo Mas Koro, kau dari mana?“ tanya Lidya saat hendak memasuki rumahnya, melihat satu sosok yang begitu di kenalnya itu.
“Biasa neng habis dari kebun.“
Tapi tak kelihatan orang itu dari tempat yang di maksud. Begitubersih keadaannya. Dia kelihatannya dari luar rumah yang membutuhkan pakaian tak kotor.
“Kok bersih. Kau bohong. Wah aku curiga kau yang berbuat itu. Memang di lokasi kejadian taka da petunjuk. Tapi aku yakin kali ini kalau kau yang berbuat.“
“Maaf neng.“ Dia hanya tertunduk.
###
Mas Koro sendiri yang berbuat itu. Dia yang Nampak lugu dan pendiam. Rupanya ada yang tersembunyi di baliknya. Nampak mukanya yang tak bertopeng itu ternyata merupakan suatu topeng yang mengerikan. Topeng untuk menutupi perbuatannya. Dan kini usai sudah apa yang pernah dia perbuat.
“Kenapa Mas?“ tanya Lidya.
Tak ada jawaban,. Tak ada pengakuan. Dia diam saja. Namun yang hadir di situ sudah memahami secara pasti. Jawabannya hanya masalah,
“Ekonomi? “
Itu yang pasti sebab tak ada yang lain. Selain dia hanya ingin mengambil beberapa saja milik majikannya itu. Kemudian akan dia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, keluarga dan anak istrinya. Segalanya hanya demi itu. Tak lain. Uang lagi susah. Masa pandemic dan penuh penyakit ini semakin mempersulit kehidupannya. Dan andai dia bisa memiki beberapa barng berharga di rumah itu, tentu akan bisa menyambung hidup keluarganya. Hanya mengandalkan gaji tentu saja tak bisa. Hutangnya yang terus menumpuk, dan penghasilan lain tak ada, maka itu jalan satu-satunya. Tapi sebelum sempat dia mendapat apa yang di incar, sudah keburu ketahuan. Makanya sebisa mungkin dia menyambar topeng hanya demi tak terlihat wajahnya. Tapi apa daya saat melompat pagar dinding itu, pegangan topeng terlepas. Hingga jatuh dan hancur.
Melihat itu semua tak bisa banyak berkomentar. Tapi juga enggan mempersalahkan lebih lanjut. Memang kehidupan ini begitu banyak kendala. Salah satunya apa yang dialami pembantu itu. Sudah miskin, meski menanggung banyak beban. Hingga mesti melakukan hal buruk. Mugkin yang bisa dilakukan kemudian hanyalah supaya dia bisa kembali ke kehdupan normalnya. Dan tak melakukan kegiatan tak baik lagi.
###