Pria berambut cokelat pendek itu kebingungan untuk pertama kali dalam hidupnya. Berlari tanpa arah dan tujuan dengan lelahnya, tidak sedikit pun ia memperlambat setiap langkah, melewati setiap halangan di depan dan terus maju hingga di nafas terakhirnya.
Itu bermula sekitar satu minggu yang lalu. Ia berlari keluar dari sebuah gedung, kemudian tertawa sekuat-kuatnya. Terlihat begitu sangat bahagia. "Menyenangkan sekali--"
Esoknya di sebuah bangunan kosong yang tidak terpakai. Begitu tua dan tidak terurus, itulah rumah baginya. Ia kembali ke kota untuk mencari target baru, berjalan menyusuri kerumunan dari keramaian orang-orang di kota, ia menemukan seseorang yang ia rasa kenal. Di buntuti diam-diam olehnya pria tua yang saat ini ia targetkan, hingga sampailah ia di sebuah bangunan yang merupakan rumah bagi targetnya.
Mulai dari hari itu ia mulai memantau pria tua tersebut secara diam-diam di atas atap sebuah gedung, tepat berseberangan dengan rumah targetnya.
Dan kemudian, tiga jam sebelum kejadiannya terjadi. Mata coklat yang pandangannya sangat dingin itu menatap jauh di kejauhan, menargetkan salah satu rumah di hadapannya saat ia tengah berdiri tepat di depan atas gedung kediaman tersebut.
Tubuh kurus penuh luka tersebut selalu di baluti olehnya dengan banyak perban dan juga lapisan pakaian yang ia kenakan. Seakan-akan ia terlihat seperti mumi hidup, di hadapan banyak orang. Ia mengenakan sweater di musim panas membuatkan tubuhnya berkeringat meninggalkan kesan basah pada perban dan pakaiannya.
"Hari ini dia juga pergi." Mata pria remaja itu kini melihat ke arah seorang pria tua yang tengah berjalan santai di kerumunan orang-orang lainnya. Di atas gedung itu ia mengikuti pria tersebut berjalan setapak demi setapak, melewati belokan yang sama dengannya, dan akhirnya kembali lagi ke rumah yang ia targetkan sebelumnya.
Waktu kini telah berlalu. Merasa cukup ia menunggu momen-momen yang selalu ia nantikan, dan malam pun kini telah tiba. Satu jam sebelum kejadian, di gedung yang ia targetkan, jam 19:00.
"Ini bukanlah pertama kalinya bagi ku untuk membunuh seseorang, tidak ada yang harus aku takutkan. Justru harusnya pria itu yang harus merasa takut pada takdirnya saat ini." Ia tersenyum jahat, mata yang terlihat dingin itu kini memiliki hasrat untuk membunuh, pandangannya sangat tajam pada sebuah pintu di depannya. Tampak bayangan pada dirinya di lantai sangat menyeramkan layaknya seekor hewan buas.
Di putarnya ganggang engsel pada pintu, membuatkannya terbuka sangat lebar seperti siap menerimanya masuk hari itu. "Hanya orang bodoh yang tidak mengunci pintu di malam hari." Ia melangkahkan kakinya, menutup kembali pintu tersebut dan kini menguncinya dari dalam. Tidak meninggalkan kesan suara saat ia menapaki lantai pada ruangan tersebut. Penjahat ini bisa di bilang sangat cerdas untuk ukuran seorang pembunuh.
Kembali ia buka pintu sebuah ruangan, itu adalah kamar dari pria tua yang sebelumnya ia ikuti. Apa yang ia ingin lakukan? Sekarang dia tidak peduli dengan suara bising yang akan ia timbulkan di dalam sana. "Persetan dengan mu." Di samping tempat tidur itu, ia mengangkat tangannya yang sedari tadi telah menggenggam pisau yang sangat tajam. Ia membelinya dari swalayan terdekat tanpa membuat orang lain merasa curiga kepadanya.
Pisau tersebut di genggamnya dengan dua tangan, ia mulai menghitung mundur dari angka tiga dan begitu angka yang di hitungnya telah habis, tanpa pikir panjang dia tancapkan pisau tersebut tepat ke jantung pria tua yang tertidur pulas di hadapannya.
Tidak ada satu pun suara yang di dengarnya, pria tua itu langsung mati di tempat setelah menerima tusukan pada jantungnya. Sangat brutal, tapi juga sangat elegan. Tanpa meninggalkan kesan apapun, ia mengakhiri kehidupan seseorang dalam diam tanpa di ketahui orang-orang. Dia tidaklah mungkin seorang pemula, bukan? Tidak ada yang tahu itu.
Dan kini ia kembali ke jalannya. Begitu meninggalkan gedung dan berjalan menuruni tangga, ia berpapasan dengan seorang wanita tua. Wanita tersebut menyapanya sekilas, namun begitu ceroboh ia membuatkan wanita tua tersebut melihat sedikit sisa bercak darah pada sweater putih yang ia kenakan. Wanita itu awalnya hanya menghiraukannya, akan tetapi siapa menyangka tujuan wanita tua tersebut adalah pria tua yang baru saja ia bunuh beberapa menit yang lalu.
Wanita tersebut kini mengerti dengan keadaannya yang baru saja terjadi. Tanpa pikir panjang ia kemudian menghubungi kantor polisi begitu tenang dari paniknya. Ia menjelaskan ciri-ciri pria remaja yang baru saja berpapasan dengannya, dan akhirnya di telusuri lebih lanjut oleh para polisi yang ia hubungi.
Remaja itu tidak merasa cemas, ia tahu polisi tidak bisa menemukannya tanpa bukti. Ia menelusuri jalanan kota kecil itu dengan santai, padahal saat ini yang dirinya sendiri sedang di buru oleh para polisi di sekitarnya.
"Kami menemukannya. Ciri-cirinya sangat persis dengan apa yang di katakan oleh saksi mata." Di dalam sebuah mobil, seorang polisi menemukan remaja tersebut. Polisi itu meminta instruksi lebih lanjut dari kepala kepolisian yang kini sedang terhubung dengannya.
"Kumpulkan semua polisi yang ada di sana dan tangkap dia. Jangan biarkan dia lolos."
"Baik." Mengikuti perintah yang di berikan kepadanya, polisi tersebut menghubungi teman-temannya yang lain dan segera berkumpul. Mereka menyusun sebuah rencana dan membagi tugas ke masing-masing orang untuk di kerjakan.
Pria remaja itu dapat mendengarnya, sebuah sirine mobil polisi terdengar di telinga, yang datang semakin dekat dengannya. Refleks, ia pun mulai berlari di jalanan yang mulai sepi. Terus melihat ke belakangnya, memastikan sesuatu. Benar saja dugaannya, ia telah telah di incar. Keberadaannya telah di ketahui oleh para polisi itu.
Jika berlari ia yakin akan kalah dari kecepatan mobil polisi yang mengikutinya, jadi dengan cerdasnya ia melewati setiap sela-sela gedung yang hampir berdempetan. Kesempitan dan berusaha untuk di lewatinya, hingga ia pun berhasil ke gang kecil belakang gedung tersebut. "Untuk sementara mereka akan kesulitan." Ia menyeka keringat di wajahnya tampak kelelahan, tiba-tiba turun hujan deras hampir membasahi seluruh pakaiannya.
"Jika aku tidak berteduh suhu tubuh ku bisa down lagi. Sebaiknya aku segera keluar." Tubuhnya sangat buruk dalam keadaan sakit dan ia tidak menginginkan itu. Ia mendengar sebuah suara selain hujan, menghampiri menjadi lebih dekat dan semakin mendekat. "Mereka mengejar. Aku harus pergi sekarang." Ia pun pergi dari tempat tersebut.
"Dia tidak ada di sini."
"Semua berpencar dan cari dia! Anak itu pasti belum jauh dari ini."
"Apa ini sudah cukup jauh?" Jantungnya berdetak sangat cepat. "Kenapa? Tidak biasanya seperti ini." Ia merasakan marabahaya untuk pertama kalinya.
Ia terhenti di sebuah toko yang telah tutup. "Perasaan ini..." Semakin cepat ia rasakan detak pada jantungnya. "Apa mungkin aku akan mati sekarang?" Sambil menyentuh dadanya yang terhalangi oleh pakaian, ia mulai sedikit panik dan gelisah.
"Aku tidak ingin mati. Aku masih ingin hidup." Kini kembali terlihat sebuah perubahan pada matanya, mata yang dingin itu kini terlihat hidup dan merasakan kegelisahan. Sebuah langkah kaki banyak orang kembali terdengar olehnya. "Itu dia!"
"Gawat, aku harus pergi sekarang." Dia berlari lebih cepat dari sebelumnya. Ini akan menjadi ajal baginya ataukah bukan? Mungkin saja inilah akhirnya dari kehidupannya.
Mereka kini bermain kejar-kejaran, tanpa henti terus menerobos hujan yang deras dan dinginnya angin malam. Suhu tubuh pria remaja itu kini menurun. Ia kelelahan, namun ia tidak bisa berhenti berlari sekarang. Tubuhnya menjadi semakin dingin.
Polisi terus-menerus memintanya untuk berhenti berlari, akan tetapi ia tidak menghentikan langkahnya sama sekali, walaupun ia tahu ia sudah mencapai batasnya.
Para polisi itu pun tidak bisa lagi berdiam diri dan hanya mengejarnya saja terus-menerus. "Berhenti berlari atau akan kami tembak!" Sebuah peringatan pun datang dari mereka. Namun tetap saja ia keras kepala dan terus berlari.
Target terkunci pada bidikan, hanya menunggu waktu yang pas untuk menembak.
Dor!
Satu kaki telah terkena tembakan. "Sial, aku tidak boleh berhenti." Nafasnya menjadi sangat berat dna tidak teratur. Walau merasakan sakit, darah pun terus keluar dari kaki bagian kanannya, ia tetap meneruskan langkahnya.
"Ini peringatan terakhir. Berhenti sekarang!"
Tidak di dengar olehnya peringatan tersebut, dan polisi itu akhirnya melancarkan satu tembakan lagi ke kaki bagian kirinya agar ia berhenti. Namun semua tidak berjalan sesuai ekspektasi. Sebelum tembakan itu di lancarkan ia telah terhuyung jatuh mendaratkan lututnya ke atas tanah, tembakan yang tidak di sengaja itu pun mengenai jantungnya, menembus melalui punggungnya.
Tubuhnya kini terjatuh ke atas tanah di depannya. Para polisi menghampiri dan melihat keadaannya. Suhu tubuhnya sangatlah dingin, pendarahan pada kakinya telah berkurang, jantungnya kini mengalirkan lebih banyak darah hingga membuat pakaian putihnya memerah. Ia masih sadar karena tembakan tersebut tidak terlalu mengenai jantungnya, akan tetapi ia dalam keadaan kritis saat ini.
Di saat-saat terakhir ia membatin. "Aku tidak menyesal mati seperti ini. Selama pria tua bangka itu mati, itu sudah cukup bagi-- ku." Dalam keadaan itu, akhirnya kehidupan pria remaja itu pun telah berakhir. Di bawah derasnya hujan malam, warna merah akhirnya menjadi simbol dari kematiannya.
BERSAMBUNG