Aku berumur 10 tahun saat ibuku menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya raya. Ayah kandungku pergi bekerja dan tak pernah kembali lagi sejak 4 tahun yang lalu.
Di mataku, ayah adalah sosok super hero, sosok panutan dan sangat kusayangi. Posisinya tak akan tergantikan.
Kuakui ayah baruku adalah orang yang baik meski jarang tersenyum dan sangat kaku. Namun menurutku, dia baik hanya karena sedang bersandiwara di depan ibu dan eyang.
Sejak awal aku tak menyetujui hubungan mereka. Namun karena usiaku, aku hanya mampu melihat pernikahan itu berlangsung. Aku jadi benci ibu karena mengkhianati ayah, aku benci om itu karena merayu ibu.
Kini usiaku telah menginjak 16 tahun. Tak ada perubahan dalam keluarga kami. Aku masih tetap memanggil suami kedua ibu dengan sebutan om. Aku pun jarang berkomunikasi dengan mereka. Anehnya, 6 tahun membina rumah tangga, ibu belum juga hamil.
========
Aku sedang berjalan pulang dari sekolah saat sosok yang sangat aku rindukan muncul di depanku.
"Ayah!" aku berlari menuju ayah yang sedang merentangkan kedua tangannya dan menghambur masuk ke dalam pelukan ayahku. "Aku rindu ayah."
"Ayah juga, maaf baru bisa menemuimu."
Aku mengangguk penuh semangat. Dan mulai dari situ ayah intens menemuiku. Ia membelikan banyak hadiah entah itu makanan, pakaian atau gadget terbaru.
Kedekatanku dengan ayah mendapat tentangan dari eyang, ibu dan om. Mereka tidak suka aku sering bertemu ayah. Namun aku tak menggubris semua ucapan mereka.
========
Pagi yang cerah, aku mengoles roti dengan selai kacang yang diberi oleh ayah. Saat hendak menggigitnya, tiba-tiba om menyambar roti yang akan kumakan beserta wadah selai kacang dan langsung membuangnya.
"Om!!! Kenapa membuang pemberian ayahku?!!"
"Desta, kam..."
"Om keterlaluan! Aku semakin benci sama Om."
Kemudian aku pergi begitu saja berangkat sekolah tanpa sarapan.
Pulang sekolah aku dan ayah kembali bertemu. Dan saat mengantarku pulang, beliau memberikan seekor kucing yang masih berada di dalam kandangnya.
Kucing berwarna orange itu terlihat lucu. Seingatku dulu aku pun memelihara kucing, namun om membuangnya.
Malam harinya, setelah belajar aku berniat mengeluarkan kucing itu dari kandangnya dan bermain. Namun saat aku mencari ke seluruh penjuru rumah, aku tak menemukannya.
"Aku sudah membuangnya." aku terhenyak mendengar penuturan om.
"OM!!! Kenapa om kejam sekali padaku? Apa salahku sampai Om tega membuang pemberian-pemberian ayahku?!"
"Karena....."
"Berhenti bicara omong kosong!"
"Desta!!! Dimana sopan santunmu?!!" hardik ibu.
"Aku tak peduli! Ibu hanya mementingkan diri ibu sendiri. Ibu berkhianat pada ayah! Ibu tidak peduli perasaanku. Aku benci ibu, aku benci kalian!!!"
Dengan emosi meluap-luap aku pergi meninggalkan rumah. Baru berjalan tak jauh dari rumah, sebuah mobil yang sudah kukenal berhenti.
"Ayah!" seruku girang melihat wajahnya yang duduk di balik kemudi. Namun wajah ayah terlihat tegang.
"Masuklah!"
Ayah mengemudi dengan sangat cepat saat aku sudah masuk.
"Kita mau kemana yah?"
"Rumah sakit."
"Hah! Siapa yang sakit? Apa parah?"
"Ya, sangat parah."
Melihat ayah yang tegang, aku jadi tak ingin bertanya lagi. Setibanya di halaman Rumah Sakit, kami tak langsung turun. Ayah menatap wajahku lekat-lekat.
"Desta, aku adalah ayahmu. Kau wajib menuruti semua perkataanku." aku mengangguk tanpa mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Ayah minta satu ginjalmu untuk didonorkan pada putri ayah."
Bagai disambar petir, aku tertegun mendengar permintaan ayahku.
"Putri?"
"Ya, usianya 14 tahun. Ayah tak bisa melihatnya hanya memiliki 1 ginjal di usia semuda itu."
Aku semakin lemas, jika usia putri ayah 14 tahun, artinya saat usiaku 2 tahun, ayah........
"Desta! Ayo turun."
"Tapi jika ayah mengambil ginjalku, bagaimana denganku?"
"Kau kan masih punya 1 ginjal lagi."
"Tapi usiaku juga kan masih muda, ayah tega membiarkanku hidup dengan 1 ginjal?"
"Putriku Tania lebih berharga!!! Aku susah payah kembali mencarimu, memberikan banyak hadiah, kau pikir demi apa?" wajah Ayah memerah karena marah. "Semua demi Tania."
Aku terpukul mendengar kalimat itu, air mataku mengalir dengan deras. Saat masih sibuk mencerna perkataan ayah, tiba-tiba pintu di sisiku sudah terbuka. Ayah menyeretku agar segera turun.
"Ayo, kondisi Tania sudah kritis. Ginjalmu pasti cocok karena kau juga putriku."
"Tidak ayah, jangan lakukan ini padaku." aku mengiba, memohon, namun ayah tetap menarikku.
"Hentikan!!!" suara seorang pria membuat ayahku berhenti dan menoleh.
"Om." pertama kalinya setelah mengenal dia, aku merasa senang melihat kemunculannya.
"Jangan ikut campur."
"Dia adalah putriku, jadi aku wajib ikut campur."
"Huh! Memangnya kau bisa apa? Mertuaku lebih berkuasa."
"Aku baru saja membeli perusahaan milik mertuamu itu. Jadi jika tak ingin aku pecat, lepaskan anakku."
Aku melihat ayah pucat pasi. "Tapi putriku Tania memerlukan donor ginjal."
"Carilah di tempat lain, jangan ambil milik putriku." suara Om terdengar menakutkan. Cengkraman ayah melemah, aku segera meronta dan berlari pada Om.
Tanpa berkata apa-apa lagi, om membawaku pulang. Aku pun tak menoleh sama sekali pada ayahku.
Setibanya di rumah, aku segera mengajukan banyak sekali pertanyaan tentang ayah.
Menurut penuturan ibu dan eyang, dulu ayah dan ibu saling mencintai. Mereka menikah dan lahirlah aku. Namun saat aku lahir, seorang gadis kaya muncul dan merayu ayah.
Karena faktor ekonomi dan wajah gadis itu lebih cantik, ayah tergoda. Ayah masih bertahan hingga usiaku 6 tahun, karena saat itu eyang kakung masih hidup. Setelah beliau meninggal dunia, ayah pun segera meninggalkan kami.
Mengenai selai kacang yang dibuang, aku baru tahu jika aku memiliki alergi terhadap selai kacang. Juga alergi bulu kucing. Itu sebabnya setelah pernikahan ibu dan om, mereka membuang kucing milik ayah setelah sebelumnya membawaku ke dokter untuk tes alergi.
========
Kalian tahu betapa hancurnya perasaanku. Ayah yang selalu kurindukan, selalu kupuja, tiba-tiba muncul bukan karena merindukanku. Namun karena hanya perlu ginjalku.
Wajah ayah yang ramah, murah senyum, berbanding terbalik dengan om.
Om yang dingin, kaku terkesan cuek, dia lebih peduli dan tahu mana yang baik untukku dibandingkan ayah kandungku yang terlihat ramah itu. Om bahkan bisa menerima ibuku apa adanya, menyayangiku walau aku bukan darah dagingnya.
Sungguh, penampilan bisa menipu. Orang yang kita pikir paling mengerti, kadang merekalah yang paling dalam melukai.
========
Aku sedikit terlambat bangun pagi. Oleh sebab itu kedua orang tuaku dan eyang telah lebih dulu sarapan. Aku tiba di ruang makan dengan wajah berseri-seri.
"Selamat pagi eyang, ibu." aku mengecup pipi kedua wanita itu, seperti biasanya. "Selamat pagi, Papa."
Semua orang menghentikan aktifitas mereka dan menatapku lekat-lekat. Aku tak peduli, aku menatap suami kedua ibuku itu dengan senyuman tulus.
"Terima kasih, Papa."
***