Lebih baik ku pergi dari pada harus melihat mereka, sungguh aku sangat benci pemandangan itu, Di detik yang tidak tepat ku tinggalkan mereka dengan ekonomi yang tidak yakin mereka akan bisa tahan.
Aku saja tidak tahan melihatnya, sebagai anak paling terbesar ku pasrahkan mereka padamu ya Allah, aku titipkan kedua orang tuaku dan kedua adikku padamu, aku muak melihat nya.
Meski di detik, menit dan hari yang salah, aku benar-benar sudah bulat dengan pikiran ku, aku akan meninggalkan mereka semua, dan meski langkah kaki ini berat untuk di angkat kan, namun ku coba pancarkan wajah keikhlasan dan senyuman, ku coba melirik satu persatu wajah yang akan ku tinggalkan itu.
Raut wajah mereka sangat menyedihkan dan membuatku semakin berat meninggalkan, namun harus bagaimana lagi, tidak mungkin aku harus duduk santai melihat mereka kelaparan, tidak mungkin aku diam saja melihat mereka kehausan.
Ku kuatkan rasa ini dan segera berjalan mencari potongan kertas berwarna, dan sangat berharga sekali bagi kami rakyat yang sangat kehausan dan kelaparan, aku tidak menginginkan uang tumpukan banyak yang ku ingin, aku bisa melihat mereka bahagia hanya dengan lembaran kertas saja.
..
Sampai di tempat yang di tuju aku sudah berbeda jalan dengan mereka, aku pergi bekerja, dan meninggalkan mereka tanpa aku bekali sedikitpun, di sini aku merasa sedih jika mengingat kejadian itu, aku meninggalkan mereka dengan waktu yang sangat tidak tepat.
Di sini aku makan enak dan lezat, belum tentu mereka makan lezat dan enak juga, di sini aku makan dengan ayam, belum tahu mereka makan dengan ayam, mungkin bisa jadi mereka makan hanya dengan telur yang di bagi 4, di sini aku senang-senang belum tentu di sana mereka bergembira.
Sungguh hati ini tidak bisa di kontrol, ku ingin sekali melihat langsung raut wajah mereka, bagaimana keadaannya, ku coba ambil sebuah handphone dan melakukan panggilan video, terlihat di sana ibu sangat bahagia dan terus melintangkan bibirnya di lensa kamera itu.
Rasa khawatir pun redup saat melihatnya, namun aku merasa ragu apakah itu senyuman asli atau palsu, ku tahu bagaimana seorang ibu menutupi lukanya sangat rapat dan tidak bisa ku bedakan.
Ibu cukup kau tutup luka itu aku ingin melihat yang aslinya seperti apa, agar aku bisa merasakan juga, biar kau tidak sendirian, aku sangat ingin sekali memeluk mu namun aku malu, ingin sekali aku melihat senyuman asli di wajahmu dan tidak mengandung kebohongan, jadi jangan salahkan aku jika aku berbohong juga.
.
.
.
Hari yang cerah bagiku, ku siap beraktivitas dengan semangat di jiwa, hari-hari demi hari ku lewati dengan ceria, tidak ada beban yang terpancar di wajahku, hanya keceriaan dan juga kebahagiaan.
Namun kebahagiaan dan keceriaan itu pernah terbuka saat aku bersama keluarga, melihat dengan jelas kebiasaannya, hari-harinya seperti apa, perasan apa yang di rasakan seorang ibu, bisa ku rasakan.
Demi sesuap nasi ibu rela cape-capean ke sana ke sini mencari sebuah kertas yang berangka, dan sangat berharga bagi keluarga, tentu aku sebagai anak paling besar melihatnya sedih, namun aku harus tabah dan tidak putus asa untuk membantunya.
mencari nafkah emang tugas seorang suami, tapi bapak sudah tidak bisa bekerja lagi, dia mempunyai penyakit yang sudah parah, dan tidak boleh bekerja yang berat-berat.
Jujur saat ekonomi rumah kita sangat anjlok, ku melihat wajah sedih terdapat di sela mata ibu yang mencoba ia tegar kan, namun hati seorang anak tidak bisa di bohongi, aku bisa melihat rasa apa yang sedang di rasakan seorang ibu, apalagi aku sebagi anak paling terbesar sangat merasakan bagaimana pahitnya kehidupan.
Ku coba pura-pura tidak melihat rasa itu, mencoba menjadi penyemangat bagi keluarga meski tahu hati ini ikut tersayat melihatnya, demi mereka bahagia ku kuatkan rasa sakit di hati ini, ku tabahkan jiwa demi mereka.
Aku anak dari 3 bersaudara, adikku ke satu masih duduk di bangku SMP kelas 1, adik kedua masih umur 3½, waktu itu pas hari kelulusan ku, dan tepat bersamaan dengan adikku yang pertama, Rasa segera ingin membantu sudah sangat siap di tubuhku, namun belum ada jalannya untuk bekerja.
Selesai lulus aku tidak bisa melanjutkan sekolah, meski rasa ingin meneruskan ada di hati tapi ku coba kubur dalam-dalam dan berpokus untuk mencari kerja di umurku yang baru 17 tahun.
Tidak mungkin aku akan mengeluh atau putus asa begitu saja, Aku terlahir dari seorang malaikat tak bersayap yang mampu membesarkan ku dengan kesabaran nya yang melebihi lautan samudera, perempuan kuat, tabah, dan tangguh, tidak mungkin aku akan lemah melihat semua itu, tidak ada turunan seperti itu di keluarga ku, tentu aku harus kuat dan bisa menjadi penyemangat bagi mereka.
.
.
.
Hari demi hari, ekonomi keluarga semakin tidak bisa terdeteksi, keperluan rumah semakin banyak, sungguh sangat bingung sekali saat di posisi itu, rasa sedih kembali mengelilingi pikiran dan hatiku, mencoba menahan tetesan air mata itu sangat susah, sepertinya aku ingin sekali mengeluarkan air mata ini dan segera keluar dari dekapan dunia kelam ini.
Seorang ibu tentu ingin melihat anak-anaknya bahagia, sampai dirinya berbohong, ia terus pancarkan wajah bahagianya dan benar-benar sangat jago sekali seorang ibu menutupi lukanya itu.
Namun itu tidak dengan ku, aku masih merasakan putus asa di dalam hati seorang ibu, ku coba mencari lowongan pekerjaan namun tidak ada yang membutuhkan, ku tunggu sampai waktunya datang, sampai beberapa bulan ku lihat raut wajah kebohongan ibuku, ada pemberitahuan loker, ku coba tanya-tanya dan ku coba pergi meninggalkan kedua orang tuaku.
.
.
.
Sebuah topeng wajah yang membuat diriku tidak bisa membedakan nya yang seperti apa kesedihan dan seperti apa kebahagiaan, Aku mampu menutup luka dengan topeng bahagia, dan aku juga mampu bersandiwara dan jauh dari fakta.
Maafkan aku ibu jika aku belum bisa membahagiakan mu, aku janji aku akan menjadi orang yang sukses, do'a kan selalu aku di sini, aku juga sering mendo'akan mu di sini, aku ingin melihat wajah aslimu Bu, dan semoga saja saat nanti pulang kau buka topeng penyamaran itu.