Semua orang tahu bahwa hallowen akan segera tiba. Tepat pada tanggal 31 oktober, hari penyambutan itu segera dirayakan oleh banyak orang.
Permen, Labu, serta pernak-pernik bertemakan hantu atau sesuatu yang menyeramkan mulai terpasang dilingkungan sekitar. Baik itu rumah, ataupun tempat-tempat umum.
Di hari hallowen ini juga dapat ditemukan orang-orang yang menghampiri setiap rumah dengan sebuah keranjang yang berisikan permen disertai dengan trik menakut-nakuti tuan rumah.
Akan tetapi lain ceritanya dikota tempat Befa berada. Perempuan muda itu hidup disebuah tempat dimana Hallowen dirayakan dengan ketakutan yang sesungguhnya dan terjadi selama satu hari penuh.
Befa sudah tinggal dikota kecil ini sejak beberapa tahun silam. Akan tetapi ia masih merasa ketakutan bila hari hallowen terjadi, khususnya tempat ia berada. Pergantian malam menjadi penentu dimulainya perayaan tersebut. Hallowen serasa menekan batinnya.
Tanggal 30 oktober malam, Befa sedang berada dikamar sembari memandang keluar jendela melihat suasana yang ada didepan rumah. Tampak masih ada orang-orang yang lalu lalang beserta kendaraannya. Befa memandang cukup lama, sampai pada suatu masa seorang tetangga dari Befa pulang kerumahnya. Dia adalah orang baru dikota ini. Befa tidak dekat dengannya dan hanya menjadikan mereka tetangga yang tak saling kenal satu sama lain.
Sang tetangga sudah masuk ke dalam rumah. Namun Befa merasa tidak enak hati dengan tetangganya yang masih baru itu. Lantaran dia belum mengetahui soal hallowen ditempat ini.
"Aku bingung antara memberitahu atau tidak. Apalagi aku ini tidak pernah berkomunikasi dengan dia sebelumnya." Pikir Befa.
Jarum jam bergerak hingga sudah menunjukkan pukul 11 malam. Befa masih pada posisi yang sama, memandang keluar jendela sembari memantau situasi disekitar rumahnya. Jalanan sudah sepi, dan malam larut itu sudah mendekati waktu pergantian hari dan tanggal.
Befa memandang ke arah rumah tetangganya untuk beberapa saat, sebelum pada akhirnya ia segera menutup gorden jendela dan bersiap melewati pergantian waktu tengah malam.
Befa duduk ditepian tempat tidur sembari memikirkan hari hallowen. Kedua tangannya mengepal kuat diatas sandaran kedua kakinya.
"Hari Hallowen akan segera tiba."
Jarum jam tak terasa sudah menunjukkan pukul 12 malam. Kini sudah menjadi tanda bahwa hari hallowen resmi dimulai. Ruangan kamar Befa tampak dalam keadaan gelap. Seluruh lampu yang ada dirumah sudah dimatikan. Dan perempuan itu berbaring didalam bentangan selimut.
"Saat seperti ini, seluruh lampu harus dimatikan."
Hanya bisa mendengar detak jarum jam, Befa tidak bisa tidur malam itu. Hari perayaan ini begitu menekannya. Dan ini akan berlangsung selama seharian.
Saat Befa sedang sibuk memikirkan tentang hari hallowen, tiba-tiba ia mendengar sesuatu. Suara itu berasal dari luar. Befa pun gemetar dalam ketakutan. Perlahan suara itu mulai memudar. Tapi tak lama berselang terdengar suara ketukan pintu. Befa jelas mendengarnya dan itu bukan ketukan pintu rumahnya. Befa penasaran pintu mana yang diketuk oleh seseorang di jam segini.
Rasa penasarannya begitu besar, dan membuatnya mulai memberanikan diri untuk mencari tahu. Perempuan itu melangkah dengan pelan dan mulai mengintip dari jendela kamarnya.
"Oh tidak!"
Kata Befa dalam hati.
Pintu yang diketuk itu ternyata adalah rumah dari tetangga Befa yang ada disebelah. Terlihat seseorang yang memakai topeng itu tengah mengetuk pintu beberapa kali. Yang membuat Befa ketakutan seiring ngeri adalah orang asing itu membawa sebuah senjata ditangannya. Sebuah kapak besar berada dalam genggaman.
Befa ketakutan dan bergerak mundur hingga terduduk ditempat tidurnya. Tubuhnya gemetar dan mengingat orang asing itu. Ia merasa takut dan juga risau. Sebab rumah yang dikunjungi adalah rumah dari tetangga baru yang tidak tahu apa-apa mengenai peristiwa dihari satu ini.
"Bahaya! Orang asing itu sudah tiba didepan rumahnya! Aku harus bagaimana?!"
Befa kemudian memikirkan cara agar ia bisa membantu tetangga barunya itu. Meskipun ia tidak begitu mengenalnya secara dekat, kejadian saat ini membuatnya terdorong untuk mulai memberi perhatian dengan tetangganya tersebut.
"Dia menyalakan lampu saat hallowen, ini sangat dilarang dikota ini. Aku harus membantu sebisaku!"
gumam Befa.
Perempuan itu mencari cara untuk membantu si tetangga dari tamu yang sangat berbahaya tersebut. Setelah itu Befa mulai bergerak.
Perempuan itu pergi melalui halaman belakang dengan mengendap-ngendap. Lalu berusaha masuk melalui jendela belakang rumah dari tetangganya tersebut.
Befa berhasil masuk setelah membobol jendela. Kemudian dia bergegas mencari si tetangga. Saat tengah mencari, tiba-tiba dia menemukan seseorang sudah berada didepan pintu. Yang dilihat Befa adalah si tetangga baru. Dia ingin membuka pintu depan tersebut. Melihat itu, Befa langsung menghampiri dan menahan pergerakan tangan si tetangga.
"Jangan dibuka!"
Befa menarik lengan tetangganya dan menjauh dari pintu depan. Kemudian Befa mematikan lampu yang sebelumnya menyala.
"Kamu jangan membuka pintu itu. Sangat berbahaya!"
ujar Befa pada si tetangga baru.
"Apa maksudmu?! Dan kamu ini siapa? Dari mana kamu masuk? Kamu maling ya, hah?!"
Marah si tetangga pada Befa.
"Jangan asal menuduh!"
Seketika ketukan pintu semakin keras.
Befa ketakutan dan ia langsung bergerak makin jauh dari pintu depan sekaligus menarik lengan dari tetangganya.
"Kenapa kamu menarik-narik aku?!" tanya si tetangga.
"Kecilkan suaramu. Aku akan beritahu apa yang terjadi. Sekarang kamu diam saja dan aku akan kasih tau nanti."
Befa terduduk diam bersama dengan tetangganya di ruangan belakang seraya menunggu ketukan pintu itu selesai.
Namun apa yang diharapkan ternyata tidak terjadi. Setelah ketukan pintu yang sangat lama, tiba-tiba saja pintu depan itu didobrak dan mulai terbuka.
"Gawat! Kita harus pergi dari sini."
Ajak Befa pada tetangganya.
Mereka berusaha keluar dari jendela yang baru saja dibobol oleh Befa. Saat ingin keluar, orang asing yang berbahaya itu sudah menujukkan dirinya didepan mata mereka berdua. Befa mendorong tetangganya itu keluar, kemudian ia menyusul setelahnya. Saat ingin lanjut bergerak, seketika sebuah kapak terlempar dan hampir mengenai diri Befa.
"Hati-hati!" ucap tetangga Befa.
Sang tetangga berhasil menyelamatkan Befa.
Lalu keduanya bergerak menyelamatkan diri.
Perempuan muda tersebut membawa si tetangga ke tempat kediamannya. Dan mereka berdua pun berlindung disana sampai merasa situasi aman.
Tengah malam yang mencekam itu telah dirasakan oleh Befa dan tetangga barunya. Keduanya bersembunyi dalam gelapnya ruangan. Duduk bersebelahan dengan bahu saling bersentuhan sembari was-was akan keadaan. Waktu terus berjalan, hingga malam yang gelap berganti menjadi pagi yang cerah. Befa berdiri dan memandang ke luar jendela.
"Situasi sudah aman. Lebih baik kita bertahan disini selama satu hari ini." kata Befa pada tetangga barunya itu.
"Bisakah kamu jelaskan mengenai ini semua?" tanya si tetangga dengan rasa ingin tahu.
"Baiklah. Aku akan memberitahumu mengenai hal satu ini. Peristiwa yang disebut dengan HELLowen."
Befa menjelaskan apa yang dia ketahui mengenai perayaan hallowen dikota ini. Sementara si tetangga menyimak apa yang disampaikan oleh Befa.
"Yang jelas ini adalah peristiwa rutin. Lalu jangan sampai lupa dengan aturan yang aku sebutkan tadi seperti mematikan lampu, memasang pernak pernik bertema hallowen, dan lainnya." jelasnya.
"Jadi ini peristiwa rutin? Apakah tidak ada cara untuk menyelesaikannya?" tanya si tetangga baru.
"Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Dan merasa takut bila berhadapan langsung dengan orang yang menyeramkan itu." ungkap Befa.
Kemudian perempuan muda itu lanjut berbicara. Kali ini dia berbagi kisah mengenai riwayat kejadian yang pernah terjadi selama hallowen dikota ini.
Cerita yang sangat panjang didengar oleh tetangga baru tersebut. Waktu pun tidak terasa berlalu karena cerita yang terus disampaikan oleh Befa sedari tadi.
Sampai hari sudah mulai memasuki sore. Befa dan si tetangga sudah berkomunikasi cukup lama semenjak penyelamatan malam itu. Keduanya pun sudah berbagi cerita juga dan terasa seperti tetangga yang sudah dekat. Kini mereka hanya menunggu waktu pergantian hari agar bisa terbebas dari perayaan HELLowen tersebut.
Segala kegiatan dilakukan secara bersama didalam rumah Befa. Dan keduanya tidak berjauhan selama hari perayaan itu berlangsung.
Matahari perlahan mulai tenggelam sampai tidak terlihat lagi. Langit malam sudah tiba. Kawasan sekitar rumah Befa pun sudah dalam balutan kegelapan. Befa dan si tetangga duduk ditepian ranjang. Mereka berdua hanya menunggu hari perayaan hallowen itu selesai.
Befa sudah mengenal si tetangga baru. Dia orang yang tidak banyak bicara seperti dirinya. Lalu berucap seadanya tanpa panjang lebar. Dan menurut Befa sendiri, tetangga barunya itu aslinya adalah orang yang baik dan juga ramah. Sekarang Befa tidak merasa asing lagi dengan si tetangga baru. Mereka sudah saling kenal dan menjadi tetangga baik.
Hari hallowen hampir selesai. Tersisa lima menit lagi untuk pergantian hari. Befa menantikan momen ini dengan harap agar cepat selesai. Jarum jam terus bergerak, tidak ada tanda aneh apapun.
"Mari berpegangan tangan, kita rayakan momen ini secara bersama-sama." ucap si tetangga yang berada disebelah Befa.
"Iya. Mari kita rayakan bersama-sama akan momen ini." balasnya.
Detak jarum jam terdengar. Beberapa rumah mulai menyalakan lampu. Ini pertanda hari hallowen sudah selesai.
Dan dirumah Befa sendiri, si tetangga memegang erat tangan perempuan muda itu sembari tersenyum.
"Akhirnya selesai. Momen yang dinantikan sudah tiba ya, Befa."
Lantai sudah bernoda, tempat tidur berantakan, dan hawa dingin menyertai. Genggaman tangan dilepaskan oleh si tetangga.
"Permainan selesai. Terima kasih atas waktunya, Befa."
Si tetangga kemudian pergi dengan memakai sebuah topeng yang disimpan dibalik sakunya.
Kini perempuan muda bernama Befa itu sudah terbujur kaku diatas tempat tidurnya dengan cairan merah yang mengalir dari sebuah luka yang cukup dalam. Malam hallowen menjadi petaka bagi seorang Befa yang sedari awal sudah merasa was-was dengan hal itu. Inilah korban dari HELLowen yang terbaru, yaitu Befa.
Malam yang ibarat neraka satu hari itu pun resmi berakhir.
-----SELESAI-----