Masa kecil memang menjadi masa dimana kita banyak bermain dan mencari teman sebanyak-banyaknya, namun tidak dengan Lita. Sejak kecil Lita sudah dituntut untuk pintar agar bisa melanjutkan perusahaan milik keluarganya. Awalnya Lita bahagia karna mendapatkan dukungan belajar dari orang tuanya, tapi semua itu berubah ketika rumah disebelah mereka yang kosong dihuni oleh keluarga yang memiliki anak lebih pintar dari Lita.
Lita yang dulu hanya memiliki 2 jadwal les kini bertambah menjadi 5 jadwal les, ditambah lagi ada 2 jadwal les privat dihari yang kosong. Anak pintar dari keluarga pindahan itu bernama Tio. Lita dan Tio bersekolah disekolah yang sama dan menjadi teman sekelas. Lita khawatir bila tidak mendapat peringkat pertama akan dimarahi oleh orang tuanya.
Benar saja, sejak Tio satu sekolah dengan Lita, Tio selalu mendapat peringkat pertama disekolah dan Lita lah peringkat keduanya. Tio ingin sekali berteman dengan Lita tapi Lita hanya menganggap Tio sebagai rival.
Sore itu diteras rumah Lita sedang membaca buku sambil menunggu guru les privat nya datang.
"Hai Lita" Sapa Tio dari balik gerbang rumah Lita
"Tio?" Lita memalingkan wajahnya dari buku bacaannya.
"Hehe iya, kamu lagi baca apa?" Tanya Tio penasaran
"Oh bukan apa-apa" Jawab Lita ketus
"Novel ya?"
"Bukan, sana pergi nanti guru privat ku mau dateng" Usir Lita
"Iya habis ini aku mau pergi, semangat belajarnya Lita!! Kapan-kapan bisa kan kita belajar bersama?" Ajak Tio semangat
"Ga bisa, aku tiap hari ada les" Tolak Lita mentah-mentah
"Loh iya? padahal aku pengen banget belajar sama kamu" jawab Tio kecewa
"Sayang sekali ya, udah sana pergi" Usir Lita untuk kedua kalinya
"Iya aku pergi, babayee"
Tio meninggalkan Lita dan tak lama setelah itu guru privat Lita datang.
4 tahun berlalu, begitu banyak penderitaan yang Lita hadapi karna selama 4 tabun itu ia tidak bisa mengalahkan Tio, padahal Lita sudah menambah jam belajarnya, sedangkan Tio terlihat lebih sering bermain dari pada belajar. Sungguh tidak adil
Meski Lita dan Tio sudah SMA, mereka sama sekali tidak pernah bermain bersama, alasannya simpel saja karna Lita tidak diperbolehkan bermain dengan orang tua nya. Lita di SMA juga hanya berteman dengan anak-anak yang pintar saja karna pergaulan Lita juga diawasi oleh orang tua nya.
Setelah lulus SMA, Lita lanjut kuliah di Universitas Indonesia sedangkan Tio di Universitas Gajah Mada. Lita bingung padahal Tio sudah mendapat undangan dari Universitas Indonesia tetapi kenapa ia malah memilih kuliah di Universitas Gajah Mada, melalui jalur snmptn pula.
Karna sebentar lagi kuliah akan dimulai, Tio bersiap untuk pergi menuju kostnya yang berada di Jogja. Lita memandang dari teras rumah mobil yang dinaiki Tio perlahan menjauh dari pandangannya.
"Semangat" Batin Lita
Lita benar-benar disibukkan dengan tugas kuliahnya, maklum lah anak UI. Hampir tiap hari ia memandangi layar laptop dan sering melewatkan sarapan.
Dihalaman kampus, ia bersama teman-temannya duduk melingkar sambil menyantap makanan masing-masing yang mereka beli dikantin kampus.
"Pacarku kemarin katanya mau lamar aku setelah lulus kuliah" Kata Julia dengan bahagia
"Oh ya? selamat kalau gitu!" Ucap Layla ikut bahagia
"Kamu juga bentar lagi mau nikah kan?" Tanya Julia
"Nikah apanya? aku masih lamaran sama dia, nikah nya mungkin besok setelah lulus" Jawab Layla merendah "eh Lita gimana? apa udah ada calon?" Sambung Layla
"Aku? aku ga ada calon si mau fokus belajar dulu"
"Loh ga ada? kita semester depan udah buat skripsi loh, dari maba kamu juga ga punya pacar kan?" Ucap Julia dengan nada sedikit mengejek
"Aku ga dibolehin pacaran sama ortu ku jul"
"Oh gitu? yaudah semangat belajarnya ya"
Lita hanya mengangguk dan meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun. Memang ya sangat sulit baginya untuk mendapatkan teman yang tepat jika dulu selalu diatur dalam hal pertemanan.
Tak terasa hari ini hari kelulusan Lita. Ia datang bersama ibu nya karna ayahnya sedang dirawat dirumah sakit. Meski ayah nya keras terhadapnya, Lita sangat menyayangi ayah nya. Lita tidak hanya mendapatkan IPK tertinggi di jurusan nya melainkan satu angkatannya. Ibu nya menangis ditempat sedangkan Lita berusaha menenangkan ibu nya.
Lita mulai melanjutkan perusahaan milik keluarganya yang bergerak didunia game. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Lita jadi tidak memikirkan pendamping hidup atau bahkan melirik lelaki saja ia tidak pernah.
Suatu hari karna mobil ban Lita bocor, ia terpaksa menaiki bus dimalam hari setelah pulang dari reuni SMP nya. Saat menunggu dengan diam, seorang pria datang dengan membawa payung ditangannya menatap Lita lembut.
"Akhirnya ketemu juga" Ucap nya
"Siapa?" Tanya Lita
"Kamu lupa? Aku Tio tetangga sebelah kamu dulu"
"Tio? hah? serius Tio?" Lita terkejut karna dulu Tio memiliki badan yang bagus dan tinggi, sekarang ia terlihat berisi.
"Iya hehe, kaget ya?"
"Iyalah kaget, kenapa kamu ga balik waktu liburan?"
"Ngga, soalnya aku ga mau kamu lihat aku waktu belum jadi orang sukses"
"Maksud kamu?"
"Aku suka kamu Lita" Ucap Tio secara tiba-tiba dan membuat wajah Lita menjadi merah
"Kok diam?" Tanya Tio
"I-tu a-nu kok mendadak banget?" Tanya Lita nervous
"Aku emang dari dulu udah suka kamu kok" Jelas Tio
"K-kapan?"
"Sejak pertama kali kita ketemu. Kamu cantik, pinter, mana judes. Gimana aku ga suka?" Jawab Tio jujur yang membuat hati Lita campur aduk
"Emang kamu sekarang udah sukses? kok berani muncul dihadapanku?" Tanya Lita sok berani
"Jelas udah dong, aku sekarang jadi dokter bedah tau"
"Hah? Jadi cita-cita mu pengen jadi dokter ya?" Lita terkejut
"Iya betul banget"
Lita tak percaya ternyata Tio yang dulu terlihat tidak pernah belajar tapi selalu mendapat peringat pertama ternyata bercita-cita menjadi dokter.
"Kenapa kok diem? Jadi gimana?" Tanya Tio
"Gimana apanya?"
"Tadi pernyataan cinta aku, diterima apa enggak?"
"Oh tadi? Gimana ya aku belum siap nik-" Ucapan Lita terpotong karna ibu nya tiba-tiba datang bersama dengan supir pribadi Lita
"Kata siapa kamu ga siap menikah? Kalau bisa lusa juga kalian udah lamaran"
"Eh ibu kenapa?"
"Tadi Tio dateng ke rumah dan bilang ingin ngelamar kamu tapi kamu nya ga ada dirumah jadi dia nyari kamu dulu" Jelas ibu Lita
"Sampai sejauh ini?" tanya Lita kaget
Tio hanya mengangguk
"Udah yok pulang! kita bahas dirumah aja" Ajak ibu Lita
Dirumah keluarga Lita, mereka membahas acara lamaran yang benar-benar akan diadakan lusa. Dalam hati kecil Lita juga sebenarnya punya perasaan pada Tio, tapi dia malu untuk mengakuinya, ditambah lagi Tio juga tidak pernah pulang kerumah meski itu hari besar sekalipun.
Tio dan Lita menikah secara resmi setelah 2 bulan lamaran dan dikaruniai anak kembar perempuan. Meski sudah berkeluarga, Lita tetap melanjutkan perusahaan keluarganya dan menitipkan sikembar pada pengasuh.
TAMAT