Aneelis, gadis cantik bak bunga sakura itu termasuk siswi populer yang digemari banyak lelaki di sekolahnya.
Tapi sayang, Aneelis yang merupakan wanita pendiam jarang bersosialisasi dengan orang-orang terutama temannya.
Siang ini, saat Aneelis tengah berjalan menuju kantin, didapatinya kedua insan yang sedang berduaan walau tidak bersentuhan. Hati Aneelis seperti remuk, tidak tahu kenapa, melihat mereka bahagia ia malah merasa sedih.
Aneelis dengan cepat berlari ke kantin, ia tidak ingin melihat pria dan wanita tersebut.
Sang pria yang melihat Aneelis, ingin mengejarnya. Tapi, sepertinya ada yang memanggilnya saat itu.
"Hoshh hoshh" lirih Aneelis ngos-ngosan.
"Ke..kenapa dadaku sakit setiap melihatnya dengan orang lain?" gumam Aneelis dengan sedikit air mata yang menetes.
Cinta dalam diam, itulah yang dirasakan Aneelis. Tapi, ia selalu mengira hal itu tidaklah mungkin. Setiap hatinya berkata suka, tapi mulut dan pikirannya menolak hal tersebut.
Aneelis pernah sekelas dengan pria tadi saat TK dan kelas 1 SMP. Sejak pandangan pertama, ia sudah menaruh hati pada pria tersebut. Saat acara kelulusan SMP, sang pria pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan nya. Tapi meski begitu, dalam hati Aneelis masih ada dirinya.
Tidak tahu ini takdir atau bukan, mereka dipertemukan kembali saat kelas 3 SMA. Jantung Aneelis kembali berdetak kencang, ia tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Ditambah, tatapan tulus yang melekat pada sang pria saat bertatapan pada Aneelis membuatnya tidak bisa berpaling dari pria itu.
Saat hati dan mulutnya ingin mengungkapkan kalimat cinta, seorang gadis cantik datang dan mendekati pria itu. Karena Aneelis berpikir bahwa ia tidak ingin mengganggu orang yang sudah berpasangan, ia jadi selalu menolak hatinya untuk mencintai sang pujaan.
Dua bulan lagi, Aneelis akan lulus SMA dan pergi kuliah di perguruan tinggi.
Dengan berat hati, Aneelis memutuskan mengungkapkan perasaanya. Ia tidak mau dirinya menyesal di kemudian hari dan terus memendam perasaan yang tidak terbalaskan itu. Tapi mungkin, untuk saat ini ia masih belum sanggup mengungkapkan hal tersebut.
Setelah ujian akhir semester berlalu, libur panjang tiba.. seminggu sebelum bulan berikutnya, dan semua murid akan benar-benar lulus SMA, Aneelis mengajak Zero, pria yang ia cintai untuk bertemu di taman bunga, hal itu pun disetujui oleh Zero.
"Apa kabar, Anee?" tanya Zero.
"Ka-kamu masih ingat panggilanku?" tanya Aneelis gugup.
"Tentu saja, enam tahun lalu, saat kita masih SMP, aku mengingat sekali nama itu, karena teman-teman juga suka mengejek nama mu dengan panggilan 'Aneeeee'. Ya kan? Hahahah" tawa Zero mengingat masa lampau.
Aneelis yang melihat tawa bahagia dari Zero membuat dirinya menangis entah kenapa.
"Anee, kok nangis?" tanya Zero dengan raut wajah khawatir.
"A-aku gak papa kok, Zer" ucap Aneelis menyangkal.
"Oh ya, ngomong-ngomong pas banget kamu ajak aku kesini, sebenarnya..aku juga mau ngomong sesuatu sih" imbuh Zero menggaruk kepalanya.
"Ehmm..jadi sebenarnya--" belum selesai berbicara, omongannya dipotong oleh Aneelis.
"Tunggu, aku dulu!" sela Aneelis.
"Ah iya, ada apa?" kaget Zero.
"Eumm, Zer, apa kamu sudah ada orang yang disuka? Dan... Apa kamu udah punya pacar atau pasangan?" tanya Aneelis.
Zero membuka mulutnya ingin menjawab, tapi jari telunjuk Aneelis menghentikan itu.
"Jangan..jangan jawab dulu!" Ucap Aneelis.
"Se.. sebenarnya.. aku menyuka...akhh" Aneelis tak sanggup berkata-kata lagi. Ia memalingkan wajahnya dan ingin segera pulang ke rumah. Air matanya pun tanpa sadar menetes begitu saja.
Zero menghampiri Aneelis. Ia mengeluarkan tisu dan memberikannya.
"Kenapa nangis? Ini tisu, hapus air matamu dulunya!" Ucap Zero lembut.
"Zer...kenapa? Kenapa kamu harus bersikap seperti ini padaku?" Aneelis menatap Zero, ia kembali menangis.
Zero menggendong Aneelis secara tiba-tiba, dan menaruh Aneelis di kursi dengan hati-hati.
"Kalau mau duduk tuh di kursi, jangan di tanah! Nanti bajunya bisa kotor tau!" Nasehat Zero dan disahut dengan anggukan Aneelis.
"Zer..aku mau ngomong!" Ucap Aneelis mantap.
"Kalau aku duluan boleh?" tanya Zero.
"Gak!" tegas Aneelis.
"Zer...se.. sepertinya.. aku.. aku jatuh cinta padamu!" ucap Aneelis dengan muka yang merah merona itu.
Zero menepuk jidatnya, ia tertawa.
"Kenapa? Apa kamu menganggap ini bercanda? Aku..aku serius kok!" ucap Aneelis.
"Bukan begitu, tapi aku sedang senang!" Ucap Zero.
"Hah? Senang?" Tanya Aneelis sambil menghapus air matanya.
Zero menghampiri Aneelis, ia membisikan sesuatu yang membuat wajah Aneelis merona merah.
"Sepertinya....aku juga jatuh cinta padamu" bisik Zero.
"Ja..jadi?" Aneelis kaget.
"Ya! Aku mencintai mu!" Ucap Zero.
"Ta..tapi, aku gak akan mau jadi orang ketiga!" tegas Aneelis.
"Ha? Maksdumu? Aku bahkan tidak punya pasangan Anee!" ucap Zero menjelaskan.
Aneelis bangkit dari duduknya, "jangan berbohong! Jelas-jelas..kau dan perempuan itu.."
Zero menutup mulut Aneelis dengan tangannya. Ia mengeluarkan ponsel dan memberi Aneelis sebuah foto.
Di bawah foto itu bertuliskan..
"Dek Zeri cantik"
"Dek Zeri?"
"Ya, Zeri adalah adikku. Selisih usia kami sekitar 4 tahun" jelas Zero tersenyum.
"Apa kamu lupa? Saat acara wisuda di TK, aku membawa perempuan yang merupakan adikku?" tambah Zero yang membuat Aneelis malu.
"Ma-maaf, aku lupa!"
Zero membelai lembut kepala Aneelis.
"Apa kamu menerimaku?" Tanya Zero.
Aneelis mengangguk, sebagai tanda mengiyakan.
END...