Ini adalah kisah antara dua pasang anak Adam yang tidak pernah akur di mana pun mereka berada. Kisah antara Lo Thek dan Rhu Jak, seorang anak SMA yang duduk di kelas 12 dan sedang menikmati masa-masa setelah ujian selesai. Biasanya selesai ujian kelas 12 akan bebas dari pembelajaran sampai pengumuman kelulusan tiba.
Jika bebas pelajaran seperti ini biasanya Lo Thek akan menghabiskan waktunya di perpustakaan atau pinggir lapangan basket sembari membaca novel. Novel itu biasanya hasil meminjam dari perpustakaan atau terkadang miliknya sendiri. Sementara itu, berbeda dengan Rhu Jak yang lebih senang menghabiskan waktu di lapangan basket bersama teman-temannya.
Ya, Lo Thek dan Rhu Jak merupakan teman sekelas dari kelas 11 hingga 12 ini. Sebelumnya mereka juga berada di kelas yang sama saat SMP. Maka dari itu, sebenarnya mereka sudah saling mengenal. Namun, hubungan mereka tidak bisa disebut sebagai teman juga.
DUK!
Bunyi nyaring itu tepat mengenaik kepala Lo Thek yang sedang asyik membaca. Gadis itu menatap bola yang bergulir di dekat kakinya. Lalu menatap pada seseorang yang berlari dari arah lapangan menuju ke arahnya. Lo Thek menatap datar pada orang itu, dia pun bangkit dari duduknya.
"Sorry, gue sengaja," ucap Rhu Jak tersenyum meledek.
Lo Thek menghentikan langkahnya, tapi hanya sebentar. Dia kembali melanjutkan jalannya pergi dari sana.
"Lo mau ke mana?" tanya Rhu Jak yang berhasil menghentikan langkah Lo Thek lagi.
"Ke UKS, kepala gue sakit."
Rhu Jak tertawa, mentertawakan Lo Thek yang menurutnya lucu. Namun, hanya sebentar. Wajahnya berubah datar ketika Lo Thek sudah tak terlihat lagi oleh matanya.
"Lanjut lagi, Jak!" teriak teman-temannya dari arah lapangan.
Lo Thek tiba di UKS untuk meminta kompres pada dokter jaga. Dia sudah sering mendapat perlakuan seperti ini dan akan terima-terima saja diperlakukan seperti ini. Setelah perawatan selesai, Lo Thek memilih untuk tiduran di dalam UKS. Ingatannya masa-masa sekolah kembali berputar, bagaimana Rhu Jak yang sering menjahilinya hingga seseorang yang mulai mendekatinya.
Lo Thek sudah tidak kaget dengan kejahilan Rhu Jak yang sampai lewat batas. Pernah saat itu Rhu Jak melempar sepatunya hingga ke atas genteng, hingga menempelkan permen karet pada bangkunya, atau saat laki-laki itu sengaja menyerempetnya saat perjalanan pulang.
Suara ketukan pintu UKS membuat Lo Thek menoleh ke arah pintu. Pintu itu terbuka dan menampakkan anak laki-laki yang dikenal oleh Lo Thek. Anak laki-laki itu adalah penghuni kelas sebelah yang kebetulan mengenal Lo Thek.
"Lo sakit?" tanyanya terlihat terkejut.
"Ah iya, tadi kena bola. Kepala gue sedikit pusing. Lo kenapa ke sini?"
"Gue mau ambil obat buat temen."
Namanya Pe Chel, anak laki-laki yang cukup populer di sekolah. Lo Thek benar-benar tidak menyangka jika bisa berteman dekat dengan laki-laki itu.
Pe Chel berjalan mendekati Lo Thek dan melihat keadaannya, hal yang dilakukan laki-laki itu membuat Lo Thek merasa sedikit tidak nyaman. Dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya, terlebih dari lawan jenis.
"Kenapa lo bisa kena bola?"
"Hmm, tadi ada yang nggak sengaja lempar bola terus kena gue."
"Pasti Rhu Jak, ya? Dia bener-bener udah kelewatan. Pasti lo diam aja, kenapa lo nggak pernah lawan dia sih?"
Lo Thek tertawa. "Mana bisa menang gue lawan dia? Yang ada badan gue langsung mental ketendang badan besarnya."
"Ah iya, tapi maksud gue jangan terlalu pasrah gitu aja."
"Lagipula sebentar lagi kelulusan dan nggak akan ketemu lagi."
"Ah, bener kata lo," jawab Pe Chel, ekspresinya terlihat sedih.
BRAK!
Pintu yang menjeblak terbuka mengalihkan pandangan Pe Chel dan Lo Thek. Diambang pintu Rhu Jak berdiri dengan seluruh kaosnya basah oleh keringat. Namun, yang membuat mereka heran ekspresi laki-laki itu terlihat marah. Entah marah kepada siapa.
"Lo ditunggu Budi," ucap Rhu Jak.
Pe Chel terlihat terkejut mendengar ucapan Rhu Jak. Laki-laki itu segera pamit pada Lo Thek dan mencomot minyak angin sebelum keluar dari UKS. Kebetulan dokter jaga tadi sedang keluar.
Kini hanya ada Lo Thek dan Rhu Jak di sini. Heran juga dengan kedatangan Rhu Jak. Suasana mendadak hening. Lo Thek memejamkan matanya, sepertinya dia akan tidur dulu sebelum nanti pulang. Namun, suara langkah kaki yang mendekat membuat Lo Thek terjaga.
"Kenapa lo selalu pura-pura nggak tau?" tanya Rhu Jak dengan ekspresi kesalnya.
Lo Thek membuka matanya dan menatap wajah Rhu Jak. Menatap dengan penuh tanda tanya, tidak paham dengan arah pembicaraan laki-laki didepannya.
"Lo suka sama anak tadi?"
Lo Thek menghembuskan napas kesalnya, mengapa Rhu Jak sangat suka berbicara sembarangan dan sesukanya? Dia pun berencana pergi dari sini. Lebih baik pulang sekarang dan istirahat di rumah. Namun, Rhu Jak menahannya.
"Mau kemana? Gue masih mau bicara sama lo," kata Rhu Jak.
Akhirnya Lo Thek diam pada posisinya dan mencoba mendengarkan apa yang akan Rhu Jak bicarakan. Jika itu sesuatu yang tidak penting, Lo Thek akan benar-benar marah sekarang.
"Lo bener-bener nggak peka, ya? Lo nggak bisa artiin kenapa gue cari masalah mulu sama lo?"
Lo Thek diam memikirkan ucapan Rhu Jak. Memangnya ada arti lain Rhu Jak berbuat jahil padanya? Bukankah sudah jelas kalau laki-laki ini kesal dengannya dan melampiaskannya dengan berbuat jahil seperti itu.
Lo Thek membulatkan matanya melihat wajah Rhu Jak yang tiba-tiba mendekat. Spontan Lo Thek memundurkan kepalanya, tapi tangan Rhu Jak menahan kepala Lo Thek agar tidak membentur dinding.
"Entah sejak kapan perasaan ini muncul, tapi gue jatuh cinta sama lo. Jadi setelah lulus jangan berharap bisa menghindar dari gue," bisik Rhu Jak tepat di telinga Lo Thek.
Lo Thek membulatkan matanya menatap laki-laki yang juga sedang menatapnya, tidak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh Rhu Jak tadi.
💓💓💓