Xiaonian, wanita berusia 24 tahun yang berprofesi sebagai komikus. Hari-harinya dia isi dengan berkarya, tepatnya menggambar.
Hari ini, hari Minggu. Meskipun begitu, Xiaonian tidak mengganggap hari Minggu sebagai hari libur. Dia masih duduk manis di meja khususnya, sembari menggerakkan jari-jarinya yang memegang pensil di atas lembaran kertas.
Tidak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka, yang menyebabkan perhatian Xiaonian teralihkan.
"Xiaonian! Selamat pagi!" sapa seorang laki-laki dari ambang pintu.
"Selamat pagi, Gong Ou." balas Xiaonian singkat sembari lanjut menggambar. Gong Ou yang merasa diacuhkan pun langsung mendekat ke arah Xiaonian.
"Hey, jangan mengacuhkan aku! Apa kamu lebih mementingkan komikmu daripada aku?" tanya Gong Ou berdiri di depan meja Xiaonian. Xiaonian menatapnya bingung.
"Hah? Tidak kok,"
"Bohong! Nyatanya kau tadi menjawabnya dengan singkat dan langsung mengalihkan pandangan.." gerutunya sembari melipat tangannya.
"Haaah.. Kuharap paranoid-nya segera sembuh." batin Xiaonian sembari menghela nafasnya pelan. Kemudian berdiri dan menatap Gong Ou.
Cup!
Xiaonian mengambil jalan ninja untuk meredam kemarahan Gong Ou dengan memberinya morning kiss. Sontak, ekspresi Gong Ou langsung berubah. Bibirnya yang tadi melengkung ke atas, sekarang jadi melengkung ke bawah.
"Apa.. kau masih marah? Mau ku buatkan es krim?" tanya Xiaonian. Sebenarnya dia sudah hafal sifatnya Gong Ou. Kalau sudah diseperti itukan, Gong Ou pasti luluh pada Xiaonian.
"Tidak, nanti saja es krimnya. Ehm.. Komikmu yang waktu itu masih belum selesai?" tanya Gong Ou mengalihkan topik. Dia melihat ke atas meja kerja Xiaonian yang penuh dengan kertas dan coretan.
"Ini sudah yang season keempat. Yang dulu jelas sudah selesai." jawab Xiaonian sembari mulai menggambar lagi.
"Hey Xiaonian," sembari memegang ujung meja Xiaonian, Gong Ou berucap.
"Iya, kenapa?" tanyanya sembari berhenti sebentar dan mendongakkan kepalanya.
"Apa kau keberatan kalau kau mengajariku menggambar?"
Pertanyaan Gong Ou barusan membuat Xiaonian tiba-tiba menjatuhkan pensilnya. Dia menatap Gong Ou dengan tatapan bertanya.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin belajar menggambar?" tanya Xiaonian sambil meraih pensilnya yang terjatuh tadi.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin menggambar saja kok." balas Gong Ou. Padahal dia punya maksud tersembunyi, yakni supaya bisa dekat-dekat dengan Xiaonian.
"Boleh," Gong Ou memasang senyuman percaya diri mendengar jawaban dari Xiaonian. Dia sudah menduga kalau Xiaonian pasti tidak akan menolak.
----------
"Jadi, apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu?" bersemangat Gong Ou untuk belajar menggambar. Dia sudah duduk tepat di samping Xiaonian. Memegang pensil dengan tangan kanannya dan sudah menyiapkan kertas HVS yang masih bagus.
"Pertama, kau harus menentukan temanya dulu. Misalnya kau mau menggambar apa?" ucap Xiaonian bertanya pada Gong Ou sebelum memberi tau langkah-langkahnya.
"Hmm menggunakan orang sepertinya bagus. Orang yang seperti dalam komikmu." ujar Gong Ou setelah mengingat-ingat kalau dirinya sering melihat-lihat komik buatan Xiaonian. Dia merasa akan mudah menggambarnya kalau sudah terbiasa melihat.
"Seperti anime?"
"Iya. Itu maksudku."
"Kau mau menggambar bagian apanya? Wajah? Tangan? Atau-" belum sempat Xiaonian menyelesaikan kata-katanya, Gong Ou sudah menyahut lebih dulu.
"Full body."
"Full body? Kalau full body agak sulit untuk pemula." gumam Xiaonian yang masih dapat terdengar oleh Gong Ou.
"Maksudmu, aku masih pemula, begitu?" ekspresi Gong Ou berubah seketika setelah mendengar gumaman Xiaonian yang tidak percaya dengan kemampuan menggambarnya.
"Kalau kau sudah tidak pemula, kenapa kau memintaku mengajarimu?" Xiaonian balik bertanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Gong Ou, dia kehabisan kata-kata untuk menjawab. Pernyataan Xiaonian memang ada benarnya. Gong Ou selalu mudah terbawa emosi.
"Tidak apa-apa siih.." balas Xiaonian mengalah. Kalau Gong Ou sudah marah, maka akan panjang masalahnya. Bisa-bisa dia dikurung satu ruangan dengannya selama puluhan jam, atau bahkan dibuang ke hutan seperti dulu.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan pertama-tama?"
"Membuat kerangka. Kau akan membuat full body laki-laki atau perempuan?"
"Hmm perempuan."
"Kau sudah menentukan gayanya? Dia akan bergaya seperti apa?"
"Dia sedang duduk sambil menyangga dagunya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang pensil." jelas Gong Ou. Dia mempunyai niat tersembunyi untuk menggambar Xiaonian yang sedang menggambar. Tapi, Xiaonian sama sekali tidak menyadarinya.
Karena dia sudah sering melihat Xiaonian menggambar, jadi dia sudah tau bagaimana caranya menggambar karakter full body. Dia mulai menggores kertas itu dengan ujung pensilnya.
Membuat lingkaran sebagai kepalanya, serta garis-garis yang nantinya akan menjadi sketsa. Dan sketsa akan disempurnakan menjadi gambar utuh.
Mereka saling diam, Gong Ou sibuk dengan gambarannya. Sedangkan Xiaonian masih sibuk menyelesaikan komiknya.
"Xiaonian. Sudah jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Gong Ou sambil menyodorkan kertasnya yang terdapat hasil karyanya.
"Heeee? Gambar apa ini? Tadi kan kau bilang mau menggambar seseorang yang sedang duduk. Tapi kenapa kau malah menggambar ini?" Xiaonian bertanya setelah melihat gambar karya Gong Ou yang tidak sesuai rencana.
Jika sebelumnya dia ingin menggambar seseorang yang sedang menggambar, maka kali ini tidak. Gong Ou malah menggambar dua orang, laki-laki dan perempuan yang wajahnya sangat berdekatan, mereka juga saling merangkul.
"Memangnya kenapa? Bagus kan? Ini adalah kita. Ini kau dan ini aku." dengan percaya diri, Gong Ou berucap. Xiaonian memasang wajah datar, tak percaya kalau Gong Ou lebih tertarik menggambar seperti itu.
-Tamat-
-----------
Terima kasih sudah membaca cerpen Nino. Mohon maaf kalo cerita fanficnya nggak jelas. Kalau suka, boleh kasih like dan komen nya ya!