Kisah cinta antara Orihime dan Hikoboshi yang terpisah sepanjang galaksi, yang hanya bisa bertemu sekali dalam setahun untuk menghabiskan malam bersama, pada hari ke - 7 bulan ke - 7, kisah cinta mereka ini begitu dipercaya oleh para penduduk Jepang.
Tanabata (七夕) atau Festival Bintang merupakan salah satu tradisi kebudayaan Jepang yang diselenggarakan setiap tanggal 7 Juli, legenda Tanabata berkaitan dengan kisah cinta antara gadis penenun dan sang penggembala sapi atau kisah cinta Orihime dan Hikoboshi.
Masalahnya disini Vega bukanlah orang Jepang, yang mempercayai hal itu, dia menganggap itu hanya sebuah mitos atau legenda saja mungkin hanya adat dinegara sakura itu sendri, untuk mempercayai bahwa semua itu nyata tentu sulit untuknya.
Namun setelah malam itu Vega seakan dibuat untuk percaya jika kisah cinta antara Orihime dan Hikoboshi itu ternyata pernah terjadi. Bukan tentu saja bukan karena dia melihat sendiri bagaimana pertemuan antara gadis penenun dan sang penggembala sapi itu terjadi.
Melainkan Vega seperti tengah mengalami kisah cinta Orihime dan Hikoboshi itu sendiri, malam itu seingatnya dia sedang tidur dikasur empuknya tentu saja, namun pada saat terbangun dia malah entah berada dibelahan bumi mana, dia sendiripun tak mengerti mengapa dia terbangun sudah berada dipadang rumput yang luas.
"Ahhhh... apa ini mimpi ya?" gumam Vega, saking tak percayanya Vega dengan apa yang dilihatnya akhirnya Vega mencubit tangannya sendiri, rasanya sakit.
"Itu artinya ini bukan mimpi" ucapnya
"Lantas mengapa aku ada disini? bukannya tadi aku sedang tidur" pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut mungilnya, Vega benar - benar tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi ini, rambut sebahunya bergerak - gerak tertiup angin petang itu, membuat wajah imutnya sedikit tertutupi karna tarian dari rambutnya sendri.
Vega berdiri diantara ilalang liar yang ikut menari tertiup angin kala itu, suasana sunyi yang terkesan tenang dan damai ditemani tempat yang indah membuat Vega terlena, tanpa memperdulikan sekitarnya Vega menikmati sore yang indah itu menurutnya, tanpa Vega sadari sejak 20 menit yang lalu tepatnya seja Vega baru saja tersadar dari tidurnya itu sepasang mata terus memperhatikannya.
Setelah puas barulah Vega sadar bagai mana cara dia pulang, panik sudah Vega memikirkan hal itu, "Bagai mana aku pulang?" tanya Vega.
"Aduh ini gimana? sampai sini saja aku tidak tahu caranya bagai mana? lalu memikirkan untuk pulang bagai manalah ini?" dumelan Vega ternyata membuat sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya, tertawa lepas.
Mendengar suara tawa selepas itu Vega menoleh kesumbernya, alangkah terkejut dirinya mendapati seorang pria tengah menertawakannya. "ya Tuhan tampan" gumam Vega tanpa sadar membuat tawa itu menghilang begitu saja, digantikan dengan semu kemarahan dipipi pria itu.
"Oh maafkan aku" ucap Vega setelah sadar jika dirinya kelepasan berucap memuji mahluk tuhan dihadapannya ini.
"Tak masalah, sepertinya kau bukan dari sini." Ungkap pria misterius itu menurut Vega
"Iya kau benar, aku bukan berasal dari sini" jawab Vega.
"Lantas mengapa bisa sampai kesini?" tanya pria itu.
"Entahlah aku pun tak mengerti" jawab Vega.
"Itu aneh" ucap pria itu.
"Yap itu aneh, tapi itulah kenyataannya dan sekarang aku tengah bingung bagai mana caranya aku pulang" keluh Vega.
"begitu ya"
"Apa kamu bisa membantuku?" Tanya Vega.
"Sayangnya aku tidak bisa, karena aku pun sama seperti mu, bukan berasal dari sini" jawab si pria membuat Vega melotot.
"Bagai mana bisa?" tanya Vega.
"Entahlah" jawab sipria itu.
"Lantas bagai mana kita akan pulang?" tanya Vega
"Itupun yang sedang ku pikirkan" jawab sipria itu.
"Ngomong - ngomong nama mu siapa?" tanya sipria.
"Ah iya sampai lupa, nama ku Vega, nama mu?" tanya Vega.
...
...
...
"Loh.. ini kamar ku, lantas yang barusan apa?" tanya Vega bingung.
"Itu benar mimpi ternyata, tapi mengapa begitu nyata, dan pria yang ku temuipun hanya pria impian saja begitu" lanjutnya.
"Ahhh, ini aneh mengapa senyata itu jika memang mimpi dan siapa tadi namanya, aku belum sempat mendengar namanya tadi" keluh Vega tanpa sadar.
"Pria yang tampan ya walau hanya dalam mimpi" ucapnya sambil menyibak selimutnya, lantas berjalan kearah kamar mandi.
Vega sudah tak mempermasalahkan mimpinya semalam yang menurutnya aneh, dia kembali kerutinitasnya sebagai seorang mahasiswi, bergelut dengan tugas dan berbaur dengan teman - temannya serta pekerjaan paruh waktunya, tak ada waktu untuk memikirkan mimpi anehnya itu.
***
Namun mimpi itu terus terulang sebulan lamanya sehingga Vega menelantarkan kehidupan nyatanya, dia terlalu asik dengan dunia mimpinya, bahkan berharap dia tak pernah terbangun di dunia nyatanya karna terlalu membosankan dan melelahkan, tidak seperti dunia mimpi, setiap pagi menjelang Vega sudah berharap malam segera tiba agar dia bisa segera tidur dan bertemu dengan Arata.
ya pemuda tampan yang setiap malam ditemuinya itu adalah Arata, dan karena pemuda itu pulalah yang membuat Vega memilih dunia mimpi dibandingkan dunianyatanya.
"Malam nanti katanya warga sini akan mengadakan festival, apa kamu mau ikut melihatnya?" tanya Arata pada Vega.
Vega yang semula sibuk dengan pekerjaannya merangkai bunga menolehkan kepalanya kearah pria itu, kali ini Vega terbangun sudah berada di ladang bunga bersama dengan Arata.
"Festival apa? dan sejak kapan kamu tahu?" tanya Vega.
"Aku tidak sepertimu yang tiba - tiba saja menghilang" ketus Arata.
"Ya maaf saja, mana aku tahu kapan tubuhku didunia nyata itu terbangun" tak kalah ketus Vega menjawab.
"Ya baiklah akan ku maklumi" - Arata
"Katakan pada ku festival apa yang akan diadakan warga sini?" tanya Vega.
"Tanabata" jawab Arata.
"Tanabata" gumam Vega yang diangguki Arata.
"Bukankah Ta-"
..…
...
....
"Ahhh .. kebiasaan sekali sih, kenapa terbangun selalu disaat yang tidak tepat" kesal Vega bersungut - sungut.
*****
"Tanabata" gumam Vega
"Sepertinya pernah mendengar tapi dimana ya?" bertanya - tanya Vega.
"Jangan kaya orang gila Ve" seruan itu menyadarkan Vega, ternyata dia sedang makan siang bersama Tika sahabatnya.
"Sorry Tik" jawab Vega.
"Loe akhir - akhir ini aneh" keluh Tika, yang hanya ditanggapi cengengesan dari Vega.
Mungkin benar apa yang dikatakan sahabatnya itu jika dirinya akhir - akhir ini aneh, ya mau bagai mana lagi, dia sering melamun atau bergumam sendiri seperti tadi, itu semua karna dia masih terbawa suasana dalam mimpinya, membuatnya tanpa sadar menggabungkan dunia mimpi dan dunia nyata.
"Ahhh.. iya loe tahu sesuatu tentang Tanabata?" Mengalihkan pembicaraan adalah satu - satunya cara agar sahabatnya tidak menanyakan kenapa dirinya berubah akhir - akhir ini, akan sulit untuk Vega menjelaskan tentang mimpinya, Tika tentu tak akan percaya, jika mimpi yang dialaminya seperti hidup, dia seperti bukan tengah bermimpi tapi tengah menjalani kehidupan lain debelahan bumi lainnya.
"Tanabata bukannya nama festival ya?" Tika malah balik nanya.
"Iya maksud gue loe tahu festival apa?" tanya Vega memperjelas ucapannya.
"Yang gue tahu Tanabata itu sebuah festival yang setiap tahun diadakan diJepang" jawab Tika
"festival apa?" pertanyaan yang sama.
"Gue cuman tahu namanya, ga tahu yang lainnya, buat apa ada mbah google?" sindir Tika
"Ah.. iya" Vega langsung membuka ponsel pintarnya dan membaca sekilas tentang festival Tanabata, Tanabata yang berkaitan dengan kisah cinta Orihime dan Hikoboshi, Vega masih membaca kisah cinta itu.
"Itu gila, mana ada terpisah sepanjang galaksi, hanya bisa bertemu satu tahun sekali itu ga mungkin" gumam Vega, membuat Tika mengerenyitkan dahinya.
"Loe semakin aneh tau ga sih Ve" kesal Tika lantas meninggalkan Vega yang melongo melihat sahabatnya pergi begitu saja.
****
"Apa benar kisah itu pernah terjadi, dan festival itu berkaitan dengan kisah itu?" ternyata Vega masih penasaran dengan kisah cinta yang sangat terkenal di Jepang itu.
Festival yang dibicarakan oleh Arata ternyata sangat meriah dan menyenangkan untuk mereka, kini mereka berdua tengah menikmati permen apel yang mereka beli difestival tadi, sambil menikmati kembang api yang diluncurkan.
"Kalau tahun depan ada lagi kita mari lagi" ajak Vega yang diangguki oleh Arata.
"Tentu itu akan menyenangkan" ucap Arata.
Dan semenjak malam itu mimpi itu tak lagi dialami Vega, festival pertamanya dengan Arata seakan menutup perjumpaan mereka, selama satu tahun Vega memikirkan mengapa dia tak lagi bisa bermimpi bertemu dengan Arata kembali.
"Padahal malam itu jika saja gue tak terbangun lebih dulu, gue mau bilang suka sama dia" gumam Vega lirih.
"Sudahlah Ve, itu hanya sebuah mimpi, ingat mimpi hanya bunga tidur" peringat Tika, Vega akhirnya menceritakan mimpinya pada sang sahabat awalnya Tika tak mempercayainya, namun saat Vega menunjukan ukiran bertuliskan Orihime diatas sebuah batu granit dengan tulisan Jepang barulah Tika percaya.
Karna Tika tahu betul jika Vega tidak pernah menyukai negara itu entah mengapa? jangankan untuk memiliki barang - barang yang bersangkutan dengan negara itu, sekilas orang - orang disekitarnya menyebut negara itu dan membicarakannya dia akan pindah haluan untuk tidak mengobrol masalah itu.
****
Setelah dua tahun menunggu akhirnya Vega mengalami mimpi itu, dimalam festival Tanabata berlangsung, dia terbangun ditengah keramaian festival itu, hampir saja dia berteriak saking kagetnya karna dirinya berada ditengah keramaian, jika saja tangan kekar itu tak membekap mulutnya.
"Jika kamu berteriak, kamu akan menjadi pusat perhatian" bisik seseorang ditelinganya, sura yang selama dua tahun ini dirindukannya.
"Arata" panggil Vega.
"Iya ini aku" jawab Arata.
"Kemana saja?" tanya Vega, Arata hanya tersenyum saja, lantas menarik Vega agar ikut bersamanya.
"Jangan tanyakan itu, lebih baik kita nikmati festivalnya" ucap Arata, dan malam itu Vega kembali merasakan kebersamaan dengan Arata, malam yang begitu indah untuknya, mengikuti festival itu hingga akhir.
Bahkan kali ini Vega dan Arata mengikuti tradisi para warga sekitar menuliskan harapan mereka pada Tanzaku lantas menggantungnya dibatang pohon bambu orang sekitar memberinya nama 'Sasa'.
"Aku menyukai mu" tiba - tiba saja Arata berucap demikian membuat Vega, membeku ditempatnya, apa ini pernyataan yang ingin diucapkannya namun kenapa malah Arata terlebih dahulu yang menyatakannya.
"Aku juga" tanpa pikir panjang lagi Vega berucap demikian.
"Tapi mulai dari sekarang, pertemuan kita akan sulit Ve" ucap Arata, membuat Vega tak mengerti.
"Maksud mu bagai mana?" tanya Vega.
.....
....
....
"Akhkkkk kebiasaan, selalu seperti ini" kesal Vega pada saat dirinya terbangun tanpa sebuah jawaban atas pertanyaannya.
"Pertemuan semakin sulit" gumam Vega
"Apa maksudnya?" tanya vega
****
Ternyata apa yang diucapkan Arata benar - benar terjadi Vega tak lagi bermimpi tentang Arata sejak pertemuan pertama mereka setelah dua tahu, Vega tak mengerti akan semua itu, namun Vega tetap menunggu pertemuan mereka.
tanggal 7 Juli 2014 Vega kembali bertemu dengan Arata, kembali disaat festival Tanabata itu berlangsung, mereka kembali mengukir kisah mereka malam itu ditengah - tengah festival.
Dan setelah festival berakhir, berakhir pula pertemuan Vega dengan Arata, setelahnya Vega harus menunggu kembali, hal itu berlangsung hampir selama 4 tahun lamanya, ditahun ketiga mereka bertemu Vega ingin bertanya mengapa seperti itu? .
Maksudnya mengapa bisa sampai terjadi pertemuan satu tahun sekali itu, tapi dia tak pernah sempat untuk menanyakannya, hingga tahun kembali berlalu Vega masih tak bisa menanyakannya.
Hari itu adalah tahun kelima bagi Vega bertemu dengan Arata, tahun lalu Arata bilang jika tahun tahun ini akan ada komet, dan Arata mengajaknya untuk melihat komet itu, Vega sudah berdandan secantik mungkin saat hendak pergi tidur, memakai baju yang menurutnya paling terbaik yang pernah dia punya.
Lucu bukan orang akan berdandan cantik dan berpakaian sebagus mungkin manakala mereka akan bepergian bukan untuk tidur, tapi berbeda dengan Vega, apapun yang dikenakannya itu juga yang akan dipakainya pada saat didalam mimpinya.
Apa yang dikatakan Arata tahun lalu dilakukan oleh mereka tahun ini, malam itu mereka tidak mengikuti festival Tanabata sampai selesai, karna mereka ingin melihat komet yang dikatakan oleh Arata, Arata sudah membawa teropong untuk melihat meteor.
Tapi dugaan Arata ternyata salah itu bukan sebuah komet, melainkan meteor, meteor yang terbelah - belah diangkasa meluncur begitu saja entah kemana, menjadikannya hujan dilangit angkasa.
"Ini luar biasa, aku baru kali ini melihat hujan meteor secara langsung" girang Vega, Arata tersenyum melihat kekasihnya yang hanya bisa ditemuinya setiap satu tahun sekali itu.
Malam itu begitu indah nan romantis untuk pasangan itu, tapi sayang keindahan itu harus musnah karena ternyata beberapa meteor terjatuh disana, membuat semua yang ada disana berhamburan saling menyelamatkan diri, begitu pula dengan Arata dan Vega, hingga akhirnya mereka terpisah.
Ada beberapa luka yang didapatnya bahkan setelah bangun luka itu tercetak manis ditubuhnya, membuat Vega mengerenyit heran baru kali ini dia membawa apa yang terjadi dimimpinya, setelah festival pertamanya dengan Arata, Vega tak pernah lagi membawa apapun dalam mimpinya, tapi sekarang.
"Semoga saja bukan pertanda buruk, bagai mana keadaan Arata ya? jika aku saja terluka seperti ini" tanya Vega.
Ternyata kehawatiran Vega menjadi nyata, setelah hujan meteor itu Vega tak lagi pernah bertemu dengan Arata, hingga saampai detik ini.
Hujan meteor itu seperti pertanda jika mereka bertemu hanya sampai disana. "Seandainya aku tahu itu pertemuan terakhir kami, aku akan ucapkan selamat tinggal" gumam Vega.
"Ternyata kisah cinta Orihime dan Hikoboshi itu pernah terjadi" lanjutnya.