“Arghh! Kak Cassandra kalian semua ada dimana sih?" Calista setengah berteriak tanpa memedulikan fakta bahwa dirinya ada di Hiroshima, sebuah kota yang cukup terkenal di Jepang.
Di Jepang berteriak di depan umum adalah hal tabuh. Akan tetapi Calista tak peduli karena sekarang ia lebih mengutamakan keselamatan dirinya dibanding etika atau pun sopan santun.
Ia ‘nyasar’ dari sepupu-sepupunya yang memang merencanakan tour kali ini ke Jepang.
Mereka tengah mengunjungi Monumen Perdamaian yang ada di kota Hiroshima. Monumen itu tak utuh karena dulunya ikut menjadi sasaran bom Hiroshima. Tak hanya monumen ada juga makam para guru-guru SD yang gugur dalam tragedi bom Hiroshima waktu itu.
Karena kelelahan mencari rombongan sepupunya Calista memutuskan untuk duduk sebentar di bawah pohon, mengumpulkan tenaganya lagi. Untung saja bahasa Jepangnya tak terlalu buruk. Ia mengeluarkan sekotak kecil kue dan susu kotak coklat. Ia menyantapnya sembari membolak-balikkan halaman novel misteri favoritnya.
Ia menatap monumen perdamaian itu. Terlihat mengerikan di siang hari. Ia mengeluh di bawah teriknya matahari di kota Hiroshima.
“Jakarta tak sepanas ini huh,” keluh nya lagi.
Cukup lama Calista rasa ia membaca novel tersebut, ia menutup novelnya dan menyadari seorang gadis sebayanya dengan pakaian seragam khas Jepang yang terlihat usang memperhatikannya sejak tadi.
Calista risih.
Gadis itu berdiri di pinggir jalan yang tak terlalu jauh darinya.
“Hei, ano, kamu tidak kepanasan berdiri terus-terusan di sana? Lebih baik duduk di sini saja.” panggil Calista.
Gadis itu terperanjat kaget dan menghampirinya.
“Konnichiwa (selamat siang),” sapa Calista mencoba ramah.
“Juga.”
“Kamu kenapa memperhatikan aku sejak tadi? Apa ada yang salah denganku?” tanya Calista terus terang.
Gadis itu terdiam sebentar.
“Tidak ada. Aku sedang jalan-jalan di sekitar sini dan aku berhenti saat melihatmu asyik makan sambil membaca buku. Kelihatannya sangat seru makan sambil membaca.”
Calista terdiam. Apakah gadis itu tidak pernah menemukan hal seperti itu selain pada dirinya?
“Dulu sekali aku selalu membaca buku. Itu hobiku. Hahaha tapi sekarang aku hampir tak pernah menyentuh buku.”
“Karena apa?”
“Karena memang aku tak bisa lagi. Kondisi ku tak memungkinkan untuk beraktivitas seperti manusia lagi.”
“Hey hahaha memangnya kamu ini alien?”
“Kamu tak paham ya? Ah sudahlah."
“Lupakan. Ngomong-ngomong kita lupa memperkenalkan diri masing-masing. Namaku Calista Anggraini. Aku berasal dari Jakarta, Indonesia. Aku kemari sedang liburan. Kamu sendiri?”
“Namaku Shiori Tokoyama. Asalku dari sekolah."
“Sekolah? Hahah dari tadi kamu berbicara hal aneh. Tapi tak apa aku suka menebak kepribadian orang misterius sepertimu.”
“Ano… Calista boleh kah aku mengetahui kue jenis apa ini?” tanya Shiori sambil tersenyum manis.
“Oh ini kue ape.”
Shiori mengernyitkan keningnya. Tampaknya ia benar-benar tak terlalu mengerti dunia luar kini.
“Duh panas banget. Siang-siang gini enaknya makan eskrim. Kamu mau?"
“Eskrim? Itu makanan yang enak tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
“Biar aku belikan juga untukmu, ayo ke supermarket."
Shiori mengangguk.
***
Di sebuah supermarket terdekat, Calista dan Shiori langsung mendekati mesin eskrim. Keduanya menyentuh kaca permukaan mesin eskrim yang dingin.
“Adem banget.”
“Adem itu apa?” kata Shiori.
“Adem itu bagi orang Indonesia artinya merasa lega. Kamu mau eskrim yang mana? Pilih saja.”
Shiori menatap semua jenis eskrim di dalam mesin tersebut sampai akhirnya dia menemukan sebuah eskrim dengan warna bungkus yang mencolok diantara yang lainnya.
Mata sipitnya meniti tulisan di kemasan tersebut.
“Rasa strawberry mix coklat.”
“Kamu mau yang itu? Biar aku ambilkan.”
“Iya. Tentu saja.”
Calista tersenyum dan mengambil eskrim keinginan Shiori. Tak lupa dia mengambil eskrim favoritnya juga. Kemudian mengajak Shiori pergi ke kasir.
“Semuanya 256 yen.”
Calista menyerahkan sejumlah uang yen dan menerima kembalian dari sang kasir.
“Ayo cepat sebelum meleleh!”
Keduanya segera berlari ke bawah pohon tadi dan membuka kantongan plastik berisi es tadi.
“Meleleh." kata Shiori sedikit kecewa.
“Iya sayang banget huhu!”
Keduanya masih kecewa sebelum akhirnya Calista mendapatkan ide cemerlang.
“Bagaimana kalau kita makan eskrim meleleh ini dengan kue ape? Pasti rasanya tak kalah lezat."
“Benar juga.”
Shiori kembali tersenyum. Keduanya pun mulai membolongi kue ape tersebut dan mengisinya dengan eskrim meleleh tadi.
“Ah sugoi (hebat), oichi (lezat)!" Shiori berseru heboh. Baru kali ini dia memakan makanan seenak itu.
“Ya kan? Beneran enak!”
Calista kembali memakan miliknya dan diam-diam Shiori menatapnya lagi. Ia terharu. Setidaknya ia bahagia sekarang walau hanya sebentar.
“Shiori-chan, apakah kamu ingin bermain petak umpet?"
“Ayo!” Shiori menerima tawaran tersebut dengan senang hati.
***
Lama mereka bermain petak umpet sampai kini. Kali ini giliran Calista yang mencari keberadaan Shiori.
Sementara itu Shiori ternyata sedang bersembunyi di balik sebuah pohon lebar.
“Haaa kamu ketahuan! Disini kamu rupanya hahaha!”
“Calista-chan, kamu benar-benar sangat baik. Terimakasih sudah menemani aku hari ini. Kebaikanmu tak akan pernah kulupakan," kata Shiori tersenyum lebar. Ia menitikkan airmatanya.
Shiori sudah selesai sekarang. Sementara Calista yang tadinya merasa senang kini terdiam melihat Shiori menangis. Ada apa dengannya?
“Sudah waktunya aku pergi. Aku tak punya waktu banyak. Ini untukmu sebagai kenang-kenangan. Jangan pernah lupakan kalau kita pernah bertemu walaupun hanya sesaat. Arigatou gozaimasu (terimakasih banyak)." kata Shiori sambil menyerahkan sebuah penanda keberuntungan sakura dan sebuah amplop merah jambu.
“Kamu akan pergi kemana?"
“Aku akan pulang ke rumahku yang sesungguhnya. Maaf kalau aku memiliki kesalahan. Semoga di kehidupan lain kita bertemu lagi.” kata Shiori tersenyum sementara Calista menangis sejadi-jadinya saat melihat sebuah cahaya menyilaukan dari atas seperti ‘membawa’ tubuh Shiori begitu saja tanpa tersisa dan akhirnya benar-benar menghilang.
“Tidak mungkin!” Calista shock saat menyadari apa yang terjadi barusan. Sangking shock nya, ia pingsan di tempat.
***
Calista POV
Dua bulan setelah kejadian itu aku diberitahu kak Cassandra bahwa aku benar-benar bertemu dan bersama dengan Shiori Tokoyama yang memiliki kehidupan kedua walau hanya sebentar.
Amplop itu berisi surat yang sempat ia tulis. Surat itu berisi harapannya dan doanya tentang aku. Ia juga menuliskan bahwa dia benar-benar beruntung bertemu denganku. Lalu penanda keberuntungan sakura itu. Semuanya terasa nyata seperti hadirnya.
Berdasarkan cerita dan sejarah yang tertera, Shiori Tokoyama dulunya adalah seorang murid kelas 1 SMP yang juga menjadi korban tragedi bom Hiroshima. Ia meninggal karena terkena bom yang menghujani bangunan sekolahnya dulu. Oleh karena itu saat ia meninggal ditemukan tubuhnya bersimbah darah dan luka bakar yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Wajahnya hancur.
Shiori Tokoyama, sahabatku yang pernah ada walau hanya sesaat. Aku berharap semoga kamu tenang di surga. Aku mendoakanmu dari sini.
Aku berharap kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.