Pernahkah kamu mengalami rasa takut? Walau dalam keadaan ramai sekalipun?.
Jawaban ku adalah pernah, beberapa kali dalam hidupku, aku pernah mengalami rasa takut dalam keramaian, entah itu ditempat umum atau tengah berkumpul dengan orang - orang terdekat ku.
Kali ini bukan tentang aku, melainkan tentang gadis remaja yang baru saja menginjak usia ke 17nya, Syafira Anjani kami sering memanggilnya Fira, gadis yang malang mungkin untuk sebagian orang yang tak mengenalnya.
Bukan hanya karna anak broken home saja tapi dia berbeda dari yang lain, tidak bukan cacat fisik hanya saja penglihatannya yang bermasalah. Bukan sama sekali bukan rabun apa lagi katarak, ahhhh pemilihan kata yang salah jika mengatakan penglihatannya bermasalah apa lagi dibilang berbeda, itu sungguh menyakitkan bukan.
Tapi ya namanya juga manusia tidak bisa melihat yang aneh akan dianggap berbeda dari yang lazimnya, dan aku pun termasuk kedalamnya, tapi menurutku Fira bukan berbeda dia sepesial apa lagi dengan penglihatannya, tapi karna itu pulalah banyak teman - teman menjauhinya, entah mengapa mereka selalu merasa takut berdekatan dengan Fira.
padahal kupikir semua orang punya sisi sepesial mereka masing - masing, lantas mengapa mereka menjauhi Fira hanya karna Fira anak indigo, why dengan itu semua?, bukankah apa yang dialami Fira itu sepesial, ahhh aku tak mengerti mengapa mereka selalu merasa takut berdekatan dengan Fira.
Sampai suatu hari aku merasakan ketakutan yang sama yang dirasakan oleh teman - teman ku yang lain saat berada bersama dengan Fira dalam suatu ruangan, hari itu begitu cerah kupikir tidak akan hujan makanya aku pergi ke sekolah tanpa membawa payungku padahal ibu sudah mewanti - wanti aku agar membawa payung.
Kata ibu cuaca sedang berubah - ubah tidak bisa diprediksi, kapan hujan atau panasnya, membuat semua penduduk bumi terkena dampaknya, hari itu kupikir akan cerah sampai sore jadilah aku berangkat tanpa membawa payung ku.
Hari memang nampak cerah dipagi dan siang harinya tapi menjelang pulang sekolah tetes - tetes air mulai turun berjatuhan membasahi bumi, awalnya ku pikir hujan tak akan lama turun, hingga ku putuskan untuk sedikit lebih lama dikelas, walau aku pecinta hujan, tapi aku tak mau sakit hanya karna hujan - hujanan itu konyol namanya.
Sekolah masih nampak ramai walau bel pulang sudah sejak 25 menit lalu berbunyi dikarenakan hujan turun semakin deras, membuat teman - teman yang lain juga terpaksa menetap lebih lama disekolah, berhubung aku tidak terlalu menyukai keramaian aku lebih memilih duduk diam dikelas sambil mendengarkan musik ditelpon genggam ku.
Saat ku pikir aku sendirian saja didalam kelas aku memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan teman yang lain yang masih menunggu hujan reda, jujur saja cuaca yang sedikit gelap dan hujan yang terus turun mengguyur membuat bulu kuduk ku tiba - tiba saja meremang, dan itu membuat desir halus rasa takut ku bergelayut begitu saja.
Saat tas sudah ku sampirkan dipundak, aku menoleh kearah depan, ternyata masih ada seorang siswi juga berada dikelas, dari rambutnya yang digerai dan dari tempatnya duduk aku bisa menebak jika itu Fira.
"Fira belum pulang juga?" tanya ku menghampiri Fira, Fira mendongak kearah ku, dia hanya mengangguk atas pertanyaan ku.
Aku berfikir jika dia sedang tak ingin diganggu, maklum lah anak pendiam seperti Fira sukanya keadaan sunyi. Fira anak yang bisa dibilang susah untuk bergaul, itu pula lah yang membuat Fira kurang dikenal teman - teman dikelas, bukan hanya karna kelakuannya yang aneh saja menurut teman - teman, karna Fira juga susah bergaul.
Inginnya aku mengobrol dengannya sambil menunggu hujan reda, sejujurnya aku malas untuk turun kebawah bukankah sudah ku katakan tadi jika aku tak suka keramaian, dan pasti dibawah ramai dengan siwa yang sedang menunggu hujan reda tidak sedikit dibawah karna masih terdengar suara teriakan beberapa siswi yang mungkin saja diganggu siswa lainnya.
Tapi melihat respon dari Fira membuatku mengurungkan niat ku untuk mengobrol dengannya, saat aku hendak melangkah kan kaki ku kembali, aku merasa ada yang aneh dengan Fira, dia seperti tengah bergumam yang entah apa, hanya sekilas ditelinga ku.
"Fir kamu bicara sesuatu?" tanyaku Fira mendongak lagi, Fira menggelengkan kepalanya lantas kembali menundukkan kepalanya bergelut dengan catatannya yang entah sedang menulis apa kupikir itu bukan sebuah tugas.
Karena rasa penasaran yang menggelayuti pikiranku, ku putuskan untuk duduk disampingnya, ya mudah - mudahan saja dia tidak menolak atau bahkan mengusir ku, Fira hanya memperbaiki duduknya setelah itu tak ada gerakan lainnya, sunyi merayapi kami, jujur saja aku tidak suka ini karna ruangan ini semakin terkesan mencekam jika hanya sunyi yang melanda, hanya sesekali suara guntur terdengar beberapa kali blits dari kamera alam memancar membuat suasana kelas yang sunyi semakin mencekam jiwa.
oh andai kalian tau bagai mana rasanya jadi aku saat ini, mungkin kalian akan menggigil bukan karna kedinginan tapi karna tingkah Fira yang sungguh sangat aneh untuk orang normal, pantas saja Restu dan Sima selalu berbicara jika Fira itu aneh, baru hari ini aku melihat keanehan dalam diri anak ini.
"Ku mohon berhentilah", tiba - tiba saja Fira berbicara demikian, aku menoleh kearahnya, sungguh aku begitu terkejut setelah melihat wajah Fira yang seperti tidak dialiri oleh darah.
"Ya Tuhan Fira, ada apa?" tanya ku sambil mengguncangnya mencoba membuat Fira sadar, bukannya sadar Fira malah semakin keras menjambak rambutnya sesekali menutup kedua telinganya, seperti tidak ingin mendengar suara.
tapi disini tidak ada orang lain selain kami dan aku sedari tadi hanya diam dan menghela nafas saja, mana mungkin itu mengganggunya, atau Fira takut dengan petir.
"Fira tenanglah, petirnya sudah tidak ada" ucapku masih berusaha menyadarkan Fira, aku mencoba memegang tangannya yang menjambak rambut, mencoba meredam termor yang saat ini dirasakan Fira, namun nihil Fira malah menepis tanganku kuat - kuat.
"Ada apa Fira? ini aku El" ujar ku.
"Hentikan ku mohon hentikan" Fira semakin histeris, aku mulai takut, takut terjadi sesuatu padanya, saat aku hendak beranjak untuk beranjak mencari bantuan, tiba - tiba saja sebuah tangan menahan ku.
Aku menoleh kearah lengan yang menahan ku, ternyata Fira yang menahan ku, entah mengapa terlintas dalam pikiran ku jika itu bukan tangan Fira, namun setelah aku yakin itu tangan Fira aku menghembuskan nafas lega ku.
"Ada apa Fir? Aku hanya cari bantuan" ucapku
"Tidak! jangan!" tegasnya diiringi isakan, aku semakin merasa aneh.
"Kenapa?" kali ini aku berusaha melembutkan suaraku, aku kembali duduk dikursi yang ku duduki tadi, mungkin Fira tak ingin masalahnya diketahui orang lain, atau mungkin Fira tak mau menyusahkan teman - teman, entah lah aku tak tahu.
"Sebenarnya kamu kenapa?" lanjutku bertanya
"Dia tidak akan suka" jawabnya lirih, sungguh jika aku tidak berada sedekat ini dengan Fira mungkin perkataannya tak bisa ku dengar dengan jelas.
'Dia tidak akan suka' batinku
"Si- siapa?" tanya ku, aku mencoba menyakinkan diriku jika pendengaran ku memang sedang bermasalah, 'Ku semoga saja aku salah dengar' batin ku.
Fira menunjuk kearah depan, aku mengikuti arah telunjuknya, didepan sana hanya ada sebuah papan tulis saja, selain itu tidak ada apa - apa lagi.
"Fir disini tidak ada siapapun selain kita" jawab ku, mencoba untuk membuat Fira sadar jika disini hanya ada aku dan dia saja.
"Tidak! Di- dia di-disana" sedikit terbata Fira berbicara, dua detik kemudian badan ku menegang mendengar perkataannya, 'Ohh.. sungguhkah? Aku paling tidak suka hal - hal seperti ini' gumam batin ku.
"Si-siapa?" Walau gemetar ku beranikan diriku bertanya pada Fira.
"Se-seorang siswi se-sekolah kita, ga-gadis yang manis, tapi sayang dia harus berakhir tragis" walau diawal suaranya terpotong - potong karna isakan, namun diakhir kalimat Fira lancar sekali mengucapkannya seperti jalan tol yang tak pernah macet kecuali libur hari raya. Ahhh si Fira berhasil membuatku tak akan bisa tidur malam ini.
"A-apa ma-ma-maksud kamu dengan se-seorang siswi?" tanya ku tergagap, sungguh ini pengalaman pertama ku menghadapi hal seperti ini, jujur saja aku seorang penakut, aku tak pernah berani walau hanya menonton filmnya saja, apa lagi ini mengalami secara langsung.
"Siswi itu" Fira kembali menunjuk kearah papan tulis, 'Astaga Fira' keluh ku membatin.
"Fir sebaiknya kita pergi dari kelas sekarang" ajak ku pada Fira.
"Tidak bisa" ucap Fira
"Kenapa?" jujur aku bingung sekarang, mengapa Fira bilang tidak bisa pergi dari kelas ini.
"Karna mereka tidak memperbolehkannya" jawab Fira.
"Mereka" sungguh kali ini siapa lagi yang Fira sebut. mereka, sumpah disini hanya ada aku dan Fira tidak ada yang lain lagi.
"Fir siapa yang kamu sebut mereka? Disini hanya ada kita berdua dan tak ada orang lain lagi selain kita, pleach Fir, lebih baik kita pergi dari sini" pinta ku memohon.
"Tidak bisa, jika memaksa kita akan celaka" jawab Fira, mendengar hal itu aku menelan saliva ku kasar, sungguh ini pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, entah aku bisa keluar dari sini hidup - hidup atau malah tinggal nama aku tak tahu, yang jelas ini benar - benar membuat jiwaku menegang.
"Apa maksudmu dengan celaka? Sudahlah Fir ayo kita pergi" ajak ku memaksa Fira yang mulai bangkit dari duduknya.
satu langkah lagi hanya satu langkah lagi saja kami berdua kepintu keluar, tapi sayang pintu itu tertutup dengan kerasnya hingga menimbulkan suara.
Brakkkkkk....
Suara pintu yang tertutup 'Oh Tuhan ada apa lagi ini?' batin ku.
Belum usai kekagetan ku, aku kembali merasa terkejut akan apa yang tengah terjadi, sumpah semua ini sudah diluar batas nalar manusia biasa macan aku ini.
Akhhhhhhkkkkkkkk...
Akkkkkkhkkkkkk
Teriak kami berdua berbarengan mana kala meja dan kursi melayang begitu saja bahkan beberapa ada yang dibanting, membuat suara semakin gaduh saja dikelas yang sepi penghuni itu karna hanya kita berdua saja.
"Sumpah ini ga masuk akal, kenapa kursi dan meja itu bisa terbang" setengah berteriak aku bertanya pada Fira, rasa takut, tegang, dan juga kesal bercampur menjadi satu dalam diri ku saat ini.
Taku jika semua ini akan membahayakan ku, tegang karna ini kali pertama aku melihat hal yang seaneh ini, dan kesal karna aku mengalami hal yang tidak masuk diakal ini, "Ini semua karna mereka tidak terima, sudah ku katakan kita tidak bisa pergi dari sini" tak kalah berteriak Fira menjawab ucapan ku bukan tanpa alasan Fira berteriak, karna tiba - tiba saja angin berhembus begitu kencang diruangan ini, sedangkan diluar bahkan hujan sudah reda, aku sudah sejak lima menit lalu tidak mendengar kebisingan anak - anak dilantai bawa tepatnya diarea koridor.
"Ya Tuhan, aku tak ingin percaya, tapi ini nyata" keluh ku.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya ku pada Fira, ya disaat seperti ini jangan kalah dengan rasa takut, aku harus bisa keluar dari sini bagai manapun caranya.
"Mereka hanya ingin didengarkan" jawab Fira.
"Didengarkan apa?" Tanyaku.
"Cerita, mereka hanya ingin bercerita, setelah itu mereka akan pergi mereka menjanjikan hal itu pada ku" jawab Fira kembali.
"Bagai mana bisa mendengar mereka, jika melihat saja aku tak bisa Fira" keluh ku, ya aku hanya bisa melihat benda yang melayang - layang saja tanpa melihat mereka, bagai manalah aku bisa mendengarkan cerita mereka. Sungguh kejadian yang saat ini ku alami bak seperti aku sedang bermain film horor, yang berjudul kelas kosong tak berpenghuni.
"Ah... ini sungguh mencekam Fira" keluh ku pada Fira.
"Aku tak pernah meminta mu untuk duduk disampingku tadi bukan? Karna hal ini teman - teman menjauhi aku, tapi kenapa kamu malah mendekat?" tanya Fira heran
"Fir, tolong jangan tanyakan hal itu dulu, berpikirlah bagai mana cara kita keluar dari sini" tegas ku
"hanya satu, dengarkan cerita mereka" ungkap Fira
"Bagai mana bisa kita mendengarkan mereka elhhh salah.. aku bagai mana bisa seorang seperti aku mendengar mereka jika aku tak bisa melihat mereka, jangankan melihat merasakan kehadiran mereka saja aku tidak bisa, bagai mana mau mendengarkan cerita mereka?" panjang kali lebar kali tinggi pertanyaan itu terucap dari mulutku.
Fira berfikir sejenak "Maafkan aku, tapi mereka hanya ingin didengarkan, jika tidak mereka tidak akan membukakan jalan bagi kita, dan bisa saja kita akan terkurung disini sampai besok, dan aku tidak bisa menjamin kau akan kuat" ungkap Fika, mendengar hal itu membuatku semakin mengkerut saja.
***
Pada akhirnya kami berdua mendengarkan satu persatu kisah mereka, walau aku mendengar hal itu hanya dari Fika, karna jujur saja aku tak bisa melihat dan mendengar mereka, bersyukur saja aku tidak bisa melihat mereka dan merasakan keberadaan mereka, jika tidak mungkin aku akan pingsan saat ini juga.
Aku mendengar beberapa kejadian dari Fira yang dialami para mahluk yang belum mendapatkan ketenangan dalam tidur panjangnya itu, berbagai macam kejadian yang merenggut nyawa mereka, salah satunya membuatku merasa sedih dan kasihan. ada juga yang membuat ku mengerenyitkan dahiku pertanda aku merasa seram sendiri mendengarnya, dan ada juga yang bikin aku gelebg - geleng kepala, malah ada yang sampai membuat emosi ku meningkat.
Setelah semua usai mereka ceritakan pada Fira, akhirnya mereka menghentikan benda - benda yang beterbangan mengelilingi kami, mereka kembalikan kebentuk sediakala, mereka juga membukakan pintu untuk kami agar bisa pulang.
Tanpa menyia - nyiakan hal itu, aku langsung menarik Fira keluar dari tempat yang membuat ku merasa terancam, "Sumpah aku bener - bener ngerasa tadi kita ga bakal bisa pulang" keluh ku, Fira hanya melirik sekilas.
"Kita masih beruntung mereka hanya minta didengarkan ceritanya, pernah dulu aku sampai celaka hanya karna tidak menuruti keinginan yang tak masuk akal, itu sebabnya aku menutup diri kepada orang lain, karna aku ga mau mereka ada yang celaka hanya karna berdekatan dengan ku yang seorang anak indigo, yang tak pernah diharapkan diharapkan kehadirannya pula" terjawab sudah mengapa Fira menutup dirinya.
"Ini memang terdengar konyol, walau menyeramkan, menakutkan dan tak ingin mengulanginya kembali, tapi itu pengalaman yang ga akan pernah aku lupa", jujurku, yang hanya dibalas anggukan oleh Fira dan segaris senyum terukir manis.
"Maafkan aku karna ikut menyeret mu dalam masalah ku" tulus Fira.
"Tidak, seperti katamu tadi, kamu tidak menyuruhku untuk duduk disebelah mu, tapi aku malah tanpa izin duduk disebelah mu, jadi ini semua bukan salah mu" jelas ku.
"Terimakasih"
****
Sampai saat ini hari itu tak pernah aku lupakan karna itu pengalaman pertama ku dengan berbau hal yang diluar nalar manusia.