Suara ketukan pintu dari kamar kos membuatku terkejut. Aku melihat jam di dinding. Malam sudah sangat larut, siapa yang datang larut malam begini? Aku bimbang, antara ingin membukakan pintu atau kubiarkan saja.
Namun, suara ketukan itu makin kencang terdengar. Tidak ingin mengganggu para tetangga, aku memutuskan untuk membuka pintu. Dengan bekal sapu di tangan, kubuka pintu itu dengan perlahan.
Setelah kubuka dan bersiap menyodorkan gagang sapu, aku malah dibuat terkejut oleh seseorang yang berdiri di depan pintu dengan kepala menunduk serta mata terpejam. Bau yang sangat nenyengat membuatku spontan menutup hidung. Namun, bukan itu yang penting. Kini aku bertanya-tanya, kenapa pria ini datang ke kosku selarut ini?
"Dingin," gumamnya.
Aku tersadar mendengar gumamannya itu, segera kupersilakan masuk sosok itu ke dalam kosku. Semoga keputusanku ini tidak salah.
Membawa masuk seorang pria di malam yang sudah larut, jika ada tetangga yang melihat aku yakin akan menjadi bahan pergunjingan. Aku menuntun pria itu untuk duduk di sofa satu-satunya yang aku miliki. Demi keamanan dan berjaga-jaga, aku membuka sedikit pintu kos.
Aku berinisiatif untuk membuatkan minuman hangat untuknya. Beberapa saat aku kembali, berjongkok di depannya dan mengulurkan secangkir teh hangat. Pria itu menerima cangkir yang kusodorkan dan menyesap sedikit teh yang kubuat. Merasa heran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pria arogan ini. Mengapa kelihatannya dia sangat kacau? Apakah sesuatu terjadi padanya?
Kami masih saling membisu, tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan. Juga tidak ada penjelasan mengapa pria di depanku ini datang tiba-tiba. Apakah sesuatu yang umum seorang atasan datang ke rumah bawahan di malam hari seperti ini?
"Sandra, maafkan aku," gumamnya membuka suara.
Aku mematung mendengar gumaman yang keluar dari mulutnya. Siapa wanita yang disebut oleh pria yang masih hilang kesadaran itu? Apakah kekasihnya? Tapi aku bukan Sandra, bagaimana bisa dia datang kemari, sedangkan yang dicarinya seorang wanita bernama Sandra.
Namun, hal yang selanjutnya terjadi adalah pria itu membawaku ke dalam dekapannya. Aku sangat terkejut dan berusaha memberontak minta untuk dilepaskan. Bisa berbahaya jika dalam posisi seperti ini. Sebenarnya berapa banyak botol minuman keras yang diminumnya sehingga tidak sadar seperti ini?
"Pak, tolong lepaskan! Saya tidak mau ada yang salah paham," ucapku masih mencoba melepaskan diri.
Bukannya melepaskanku, pria itu malah memelukku makin erat hingga membuatku merasa sesak.
Aku terkejut saat merasakan bahuku basah dan bahu pria yang sedang memelukku bergetar. Hah? Apa dia menangis? Kuhembuskan napas lelahku, tanganku tanpa sadar menepuk-nepuk dengan pelan punggungnya. Mencoba untuk menenangkannya. Aku masih bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada pria dalam pelukanku ini?
Aku terdiam ketika fokus mataku beralih pada leher belakang pria itu. Ada sebuah tato di sana. Lagi-lagi tanpa sadar tanganku mampir ke lehernya. Mengusap leher itu. Entah mengapa aku merasa tertarik dengan tato itu, sebuah tato dengan gambar naga. Sepertinya aku pernah mendengar tentang tato naga, tapi aku lupa siapa yang berbicara kala itu.
Aku membulatkan mata saat mendengar suara aneh dari mulut pria ini. Sial, tanganku segera kusingkirkan dari lehernya. Ini tidak benar, aku harus melakukan sesuatu saat ini. Aku juga ingin cepat tidur saat ini, tubuhku sudah sangat lelah karena seharian ini banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Akhirnya aku memanggil taksi online untuk mengirim pria mabuk ini ke rumahnya. Lagipula bagaimana bisa dia mabuk hingga larut malam dan sama sekali tidak memikirkan anaknya? Benar, jika dia berada di sini, bagaimana dengan Kevan?
Taksi yang kupesan sudah tiba. Dengan bantuan sopir, tamu tak diundang ini berhasil masuk ke dalam taksi. Aku menyebutkan alamat rumah pria ini. Namun seketika aku sadar, lalu siapa yang akan membawanya masuk hingga ke unit apartemennya?
Di sinilah aku sekarang, duduk di sebelah sopir taksi yang sedang menuju apartemen pria di belakang sana. Aku memijit kepalaku yang terasa berdenyut. Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah apartemen mewah yang ada di kota ini. Susah payah aku membawanya naik, tidak kuhiraukan tatapan orang-orang di sana. Heran juga, kenapa sudah malam begini suasana di loby masih banyak orang.
Aku tidak percaya akan datang lagi kemari. Memang aku cukup sering datang kemari karena suatu hal. Pintu apartemen terbuka, kunyalakan lampu untuk menjadi penerangan. Aku mengentikan langkah saat mendengar suara tangis. Segera kucari sumber suara itu, sementara pria di sebelahku ini berlari menuju kamar mandi. Sepertinya dia merasa mual karena terlalu banyak minum.
Suara tangis itu masih terdengar jelas di pendengaranku. Kucari di segala ruangan dan aku terpaku melihat Kevan sedang menangis sambil memeluk lutut. Apakah sejak tadi bocah ini berada di rumah seorang diri? Mendadak ada sebuah emosi yang kurasakan. Ada perasaan marah. Bisa-bisanya dia meninggalkan anaknya sendiri di rumah. Beruntung tidak ada hal membahayakan yang terjadi.
Cukup lama aku menenangkan Kevan hingga akhirnya bocah itu tidur. Setelah melihat Kevan sudah tidur pulas, aku keluar dari kamar. Namun, betapa terkejutnya aku ketika berpapasan dengan pria menyebalkan ini.
Entah kemana kemeja yang tadi dipakainya, saat ini dia bertelanjang dada. Berjalan melewatiku, tanpa mempedulikanku sama sekali. Aku menatap punggung lebarnya. Kini tato itu terlihat sangat jelas. Aku kembali mematung saat sekelebat ingatan yang tiba-tiba muncul.
'Dia sangat tampan, tubuhnya juga bagus, dan punya tato di leher. Aku sangat suka tato naganya ....'
🍃🍃🍃