Di saat awal masuk SMA dan proses pembelajaran dimulai saya mengikuti semuanya dengan baik saya juga mengenal banyak teman-teman baru bahkan bisa dikatakan di kelas itu saya hanya sendiri yang berasal dari SMP swasta di kampung saya.
Saya dan teman-teman lainnya mengikuti proses pembelajaran dengan baik di SMA ini tetapi, setelah 1 bulan belajar di SMA ini ada seorang teman saya yang tiba-tiba berjualan di kelas dimana dia berjualan gorengan di kelas dan saat saya melihat dan memperhatikan bahwasanya banyak teman-teman yang senang dengan adanya teman yang berjualan makanan di kelas yaitu gorengan dan saya lihat juga gorengan atau jualan dia selalu habis dibeli bahkan saya termasuk yang membeli gorengannya.
Namun setelah beberapa bulan teman saya ini tidak lagi berjualan dikarenakan dia katakan bahwa dia hanya menolong bibinya untuk menjualkan gorengan yang telah dibuat bibinya, dan sekarang ini bibinya sedang tidak bisa membuat gorengan karena ada urusan keluarganya.
Pada akhirnya saya berpikir dan berinisiatif bahwasannya saya ingin berjualan gorengan juga bisa dikatakan menggantikan dia, setelah hari itu saya ketahui bahwa teman saya ini tidak lagi berjualan saya mengatakan kepada ibu saya dan kakak saya jika saya ingin berjualan gorengan dan mereka membolehkan saya untuk berjualan bahkan sangat senang jika saya mau berjualan tetapi ada bibi saya dan tetangga saya yang mendengar itu juga karena memang saat itu saya meminta izin atau pendapat ibu dan kakak saya di depan mereka.
Saat mengobrol di teras bibi saya mengatakan bahwasanya " yakin mau jualan di sekolah jualan gorengan lagi enggak malu yun " dan tetangga saya juga mengatakan hal yang sama " iya tuh masa mau jualan gorengan di sekolah enggak malu sama teman-temannya atau malah nanti jadi ngerepotin kamu belajar udah sekolah aja dulu gak usab jualan gorengan " ucap tetanggaku.
Mendengar ucapan mereka tentu membuat mental saya menjadi lemah atau saya tidak percaya diri setelah apa yang saya dengar tentang pendapat mereka mungkin itu ada benarnya juga.
Tetapi saya lihat teman saya yang berjualan tadi dia tidak apa-apa dan sangat senang malahan karena mendapatkan uang dari hasil jualan. Maka dari itu saya berpikir jika saya berjualan gorengan juga maka saya bisa mendapatkan uang dan bisa menolong orang tua saya untuk tambah-tambah pembayaran sekolah.
Karena saya tidak jadi menghiraukan ucapan mereka tadi saya tetap ingin mencoba berjualan gorengan seperti teman saya kemaren. Dan pada akhirnya saya dan ibu sayang memutuskan untuk berjalan gorengan, saat awal berjualan saya memang sedikit malu karena setelah teman saya tadi tidak berjualan saya yang jadi berjualan tetapi setelah teman-teman saya tahu mereka malah senang karena ada yang berjualan lagi.
Hari-hari yang saya lewati yaitu cukup menyenangkan karena bisa berjualan di kelas serta jualan saya cukup laris namun tentu di dalam berjualan ada untung dan ada ruginya. Untungnya yaitu ketika semua jualan habis dan dibeli oleh teman-teman saya, tapi ruginya ketika gorengan ini tidak laku disitulah saya merasa sedih dan sangat sedih apabila harus mengatakan kepada ibu saya yang telah membantu saya dalam berjualan ini karena dagangannya tidak laku.
Bahkan jualan saya pernah tidak laku satupun karena saat saya sampai di sekolah ternyata saat itu guru-guru mengadakan rapat dadakan maka dari itu semua siswa di persilahkan pulang. Padahal itu masih pagi memang rapat yang akan dilakukan sangatlah penting jadi karena rapat dadakan ini gorengan saya tidak dibeli satupun oleh teman saya karena pada kenyataannya jika mendengar kata libur atau pulang semua siswa akan senang dan gembira merekapun berhamburan pergi meninggalkan sekolah.
Jadi dagangan saya pada saat itu tidak laku sama sekali saya sangat sedih tapi itulah suka duka di dalam berjualan tidak selalu laris tidak selalu laku tapi saya tetap berjualan bahkan saya berjualan gorengan sampai saya kelas 2 SMA pada semester 1. Karena setelah itu seperti yang kita rasakan ya kita mengalami pandemi covid 19 melanda negeri indonesia sehingga menjadikan banyak perubahan di dalam kehidupan terutama sistem pendidikan di mana di berlangsungkannya sistem sekolah online atau daring yaitu dalam jaringan melalui kecanggihan teknologi termasuk handphone.
Maka karena pandemi tersebut saya tidak lagi berjualan lagi, tetapi setelah melewati sekolah dengan sistem online ini kemudian kasus pandemi sedikit menurun walaupun sampai sekarang kita rasakan memang belum hilang total tetapi saat itu sudah diberlakukan sistem sekolah pershit atau jumlah siswa dibagi untuk mengikuti sekolah seperti biasa.
Yaitu separuh bertatap muka, separuh lagi menggunakan sistem sekolah online jadi di saat itu saya sudah di kelas 3 SMA dimana pada awal sekolah tatap muka setelah diberlakukan sekolah online ini teman-teman saya sempat menyuruh saya untuk berjualan lagi tetapi karena hanya separuh yang sekolah bahkan jam sekolah pun di kurangi untuk menghambat penyebaran covid-19 lebih kecil. Bahkan dari 2 jam pelajaran seharusnya dijadikan satu jam pelajaran saja maka dari itu saya memutuskan tidak berjualan gorengan karena itu akan hanya sedikit yang laku jadi saya memilih untuk tidak berjualan lagi.
Kembali lagi saya katakan bahwasanya dari beberapa tahun di SMA saya berjualan ini ada berbagai pendapat orang-orang mengenai perjuangan saya dalam berjualan di sekolah ini dan yang paling menyakitkan hati dari ucapan mereka, menurut saya ada omongan dari saudara Ibu saya dimana dia berkata bahwasanya " Yuni mau jualan di sekolah ya di kelasnya enggak malu ya tapi kenapa dia bisa jualan di kelas di zamannya Vina ( anak saudara Ibu saya ) tidak boleh berjualan di kelas atau disekolah dia jika itu dilakukan maka akan dimarahi oleh gurunya ".
Ibu saya disini bercerita kepada orang-orang merasa bangga bahwasanya anaknya bisa membantu dia mendapatkan uang walaupun memang tidak seberapa dari hasil berjualan gorengan tetapi setidaknya bisa membantu sedikit biaya sekolah saya dengan cara ditabung sedikit-sedikit. Dan saya rasa anak dari sauadara ibu saya ini tidak berjualan karena malu atau gengsi tapi ya sudahlah itu pendapat dan kehidupan dia itu yang dia inginkan dan semua itu tidak bisa disamakan dengan saya.
Ada juga saudara sepupu sayang memberikan pendapatnya mengenai saya yang berjualan gorengan dari cerita yang disampaikan Ibu saya juga kepadanya. Bahwasannya berjualan gorengan ke sekolah pada ucapan dia ini mungkin dia ingin memberikan semangat kepada saya tetapi entah mengapa kalimat dari ucapan yang dia sampaikan malah membuat perasaan saya menjadi sakit dan sempat meneteskan air mata.
Saudara sepupu saya mengatakan " Kakak bangga dengan kamu karena kamu mau berjualan di sekolah yaitu di kelas kamu, kak juga rasa jika kamu mau berjualan gorengan ke sekolah berarti kamu tidak malu dengan teman-teman kamu.
Bahkan kamu berjualan gorengan ke sekolah sepertinya itu tidak pernah dilakukan orang-orang atau tidak pernah kakak temui sebelumnya ada seorang siswa yang mau berjualan di sekolah karena memang tidak pernah kakak temui dan lihat langsung kecuali di dalam film dan sinetron di tv. Tapi Kakak bangga dengan kamu dan kemauan kamu tapi kakak juga sedih melihat kamu harus berjuang berjualan gorengan untuk mendapatkan uang menambah biaya sekolah kamu.
Dimana saat sekarang ini memang sulit mencari siswa atau anak yang mau berjualan gorengan ke sekolah, mereka akan malu mereka akan gengsi mereka takut tidak ada yang mau berteman dengannya atau jika mereka berjualan ke sekolah akan menurunkan harga diri mereka.
Apalagi kamu perempuan apa kamu benar-benar tidak malu jika dihina oleh temanmu atau mungkin direndahkan karena berjualan gorengan ke sekolah apakah kamu benar-benar yakin tidak malu ? " ucap saudaraku.
Pada kalimat inilah air mata saya sempat menetes saya ingin seperti mereka, saya ingin seperti teman-teman yang lainnya yang memiliki fasilitas yang cukup untuk menempuh pendidikan dan bahkan tanpa harus membantu orang tua mereka karena orang tua mereka mempunyai materi yang cukup dan seperti kakak sampaikan tadi bahwasanya saya belum pernah menemukan ada ada siswa atau anak sekolah yang mau berjualan ke sekolahnya bahkan berjualan di kelas tapi saya rasa berjualan gorengan ini adalah suatu hal yang baik dan tidak buruk bahkan Alhamdulillah teman-teman saya tidak pernah mengejek atau menghina saya karena berjualan gorengan di kelas.
Bahkan mereka sangat senang jika ada teman yang berjualan di kelas sehingga mereka lebih mudah membeli gorengan kepada saya daripada harus ke kantin dan keluar kelas.
Walaupun ada rasa ingin seperti mereka yang punya fasilitas lengkap, punya materi yang cukup tidak harus berjualan ke sekolah, tidak harus memakai motor butut ke sekolah memiliki penampilan yang baik, punya barang-barang yang bagus. Saya juga menginginkan itu juga tetapi saya kembali sadar bahwasanya dari beberapa pengalaman yang telah saya alami ini mengajarkan saya bahwasanya kita tidak bisa memaksakan kehendak kita dan keinginan kita.
Kita harus berusaha sabar dan terus berusaha melakukan suatu upaya atau usaha agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, karena kita bukan dari keluarga yang berada.
Dari pengalaman-pengalaman yang saya alami di SMA inilah yang mengajarkan kepada saya arti penting kehidupan, mengajarkan saya untuk lebih bersikap dewasa dan memahami lagi kehidupan dan orang-orang yang terkadang memang berbicara tidak sepantasnya dan tidak memikirkan apakah ucapan mereka akan menyakiti hati kita atau seseorang.
Tapi pada dasarnya semua hal atau pengalaman pahit dalam hidup memiliki makna tersendiri dan menjadikan suatu kekuatan kita untuk menjadi orang yang lebih baik dan orang yang lebih sabar lagi dalam menghadapi kehidupan.
Jika memang orang tidak bisa menghargai kita maka cukup kita yang menghargai mereka, dan teruslah lakukan yang terbaik walaupun terkadang kita juga ingin seperti mereka tapi takdir kita berbeda dengan mereka cukup jalani dengan baik kehidupan ini karena pada akhirnya akan ada saat yang sangat membahagiakan menghampiri kita.