Namaku Diana Suci, panggil saja Cici. Hidupnya layak Puteri yang polos. Nama belakang Suci, membuatku seluruh hidupku berjalan tanpa cermin. Aku tidak ingin mengaca. Aku takut dengan apa yang telah aku perbuat selama ini. Nama Suci terdengar bagai kertas putih yang tidak bernoda. Namun, nama itu pula membuat seluruh punggungku harus menanggung beratnya kehidupan polos dalam kepuraan milikku. Cintaku tidak semulus yang di pikir orang. Sebut saja warna cinta itu hitam.
Cintaku terus berjalan kandas. Aku hanya menghambur uang dan tidur bersama acak dengan pria yang mampu membuatku bahagia dengan isi dompetnya. Karena, setiap pria yang ku temui, akan mencampakkanku pada akhirnya.
Menyedihkan! Jika, ada yang setia. 90 persen, dia bukan orang kaya. Setiap orang kaya, akan hanya memilihku menjadi cadangan, dan menyebut diriku adalah adik di depan publik. Sekretaris di depan karyawan. Pembantu di hadapan istrinya.
Konyol! Aku rela mengambil status itu semua. Karena, aku telah ketergantungan dengan yang di sebut uang cepat dan tidak perlu kerja keras.
Namun, akupun rindu sebuah tempat yang akan menyebut diriku sebagai Nyonya dalam rumah. Ratu dalam istana. Aku menginginkannya. Aku merengek memohon pada Kennedy, agar menjadikanku istri sah. Namun, gagal.
Namun, pria itu terlihat bak timbangan. Timbangan kiri mengingat album lama dengan istrinya. Sedangkan, timbangan kanan adalah hasratnya padaku.
Ketika, dia berhadapan denganku. Timbangan itu akan berat padaku. Dia akan berkata, memilihku sebagai wanita terakhirnya. Namun, kala dia bertemu istrinya. Timbanganku naik ke atas. Sangat ringan. Lalu, aku akan mendengarkan setiap kata kehancuran di telingaku. Kennedy berkata jika dia akan melepaskanku.
"Dasar pria kastok. Hanya, pandai menggantung!"
Aku menghela napas. Aku tidak ingin di nobatkan sebagai kupu-kupu yang terus tercampakkan. Aku lebih menyukai menjadi burung Nuri yang di sangkar emas. Biar hanya burung liar. Namun, tetap tidak akan mengalami sakit jerih payah mencari cacing sebagai makananku. Namun, aku ingin mengetahui akhir kisah cintaku.
Karena, rasa penasaranku. Aku ingin mengetahui apa yang terjadi dengan cintaku selanjutnya? Apalagi, saat ini aku sedang menjadi wanita kedua bagi seorang pengusaha muda yang memiliki istri. Oleh itu, aku pergi ke pameran dan menembakkan diriku pada salah satu tenda ramal.
Aku ingin tahu akhir cintaku.
Ada ranjang dengan ornamen tengkorak, dan topi ranjang itu, bergambar seorang wanita yang memiliki tiga mata dengan setiap kuku yang terlihat runcing. Menyeramkan.
Akhirnya tiba giliranku. Setelah membayar administrasi pada seorang petugas tiket tenda ramal.
Gelap terlihat menguasai seluruh semesta pikiranku. Aku telah tertidur lelap di sebuah ranjang yang di sebut ranjang mimpi. Ranjang ini di sedikan khusus oleh setiap orang yang ingin melihat masa depannya. Menurut beberapa komentar positif yang begitu banyak memberi respon. Jika, mimpi berkaitan dengan kenyataan kelak.
Aku terlelap dengan sengaja. Sebelum mencapai tempat ini. Aku telah bergadang sepanjang malam. Hanya agar mudah cepat terlelap masuk ke dalam dimensi. Karena, waktu untuk melihat masa depan itu sangat singkat.
Kegelapan pekat menguasai seluruh semestaku. Setelah, kepalaku lunglai jatuh pada bantal empuk. Perlahan, jiwaku seakan pergi ke sebuah ruangan, dengan seribu pintu.
Setiap adegan dalam mimpiku terlihat seperti gambar hitam putih. Sepasang mataku beredar. Banyak sekali pintu. Yang mana aku pilih? Aku berkeliling seraya membaca setiap nama pada pintu.
Cinta milikmu.
Aku berhenti pada satu pintu tersebut. Aku sangat tertarik mengetahui apa yang akan terjadi. Apakah cintaku akan kandas?
Krek!
Aku membuka pintu. Ada satu meja dengan kursi yang saling berhadapan. Aku bingung sebentar.
"Apakah mimpiku hanya seperti ini? Ruang kosong seperti ini."
Aku menarik kursi dan duduk. Tidak lama, aku di kejutkan dengan kursi di seberangku yang bergerak mundur. Lalu, sosok gaun putih dengan raga yang membelakangiku. Rambutnya tergerai berantakan.
Aku kehilangan setiap kataku akan sosok itu. Dia membuatku bergindik takut. Aku berdiri dan menuju pintu. Meninggalkan mimpi seram ini. Ingin mengetahui cinta? Malah bertemu hantu.
Blam!
Daun pintu terbanting keras. Menyatu terkunci. Tidak mengijinkan ku keluar.
"Duduk kembali, temanku."
Suara seorang wanita memintaku kembali duduk.
Suara itu terdengar tidak asing. Kelopak mataku berkedut. Bulu mataku bergetar melambai-lambai takut.
"Cici, tolong duduk."
Ragaku bergetar. Berpaling menolehpun, enggan. Karena, aku sangat takut berjumpa kembali dengan arwah itu.
Namun, siapa sangka bagai sedotan hisap yang datang menarik seluruh ragaku untuk duduk berhadapan dengannya.
Bokongku terhempas,kembali duduk ke kursi.
"Apa kabarmu?"
Aku mematung. Bibir merahku mendadak pucat dan kehilangan darahnya.
"Apakah aku menyeramkan?" pertanyaan itu bagai anak panah menancap pada jantungku. Aku menatap pada Anyelir, sahabatku yang telah tiada.
"Aku datang kembali padamu."
Ingin rasanya aku melompat bangun dari mimpiku. Namun, aku telah terjebak dalam jam pasir. Selama, jam pasir itu belum habis. Aku tidak akan mampu bangun.
"Kau ingin mengetahui cintamu?"
Aku menelan ludahku. Sepasang mataku turun tunduk.
"Cici, menataplah padaku. Aku dan kau adalah teman sepermainan. Teman satu petak. Aku datang hanya untuk menjawab keingintahuan tentang cintamu."
Aku kosong. Aku ketakutan. Aku tidak berani sejengkal-pun menatap Anyelir. Aku hanya terus menunduk. Tangisku isak memburu.
Namun, tiba-tiba satu kekuatan datang mengangkat daguku. Sepasang mataku berair terlihat oleh Anyelir
Dia tersenyum ironis. Lalu, dia mengedipkan sepasang matanya, dan memerintah.
"Keluarkan seluruh pertanyaan yang ingin kau ketahui."
Aku mengunci bibirku. Aku tidak ingin mengeluarkan satu katapun. Namun, lidah dan bibirku tiba-tiba kehilangan kendalinya. Satu pertanyaan keluar kemudian.
"Apa yang akan terjadi antara aku dan Ken?"
"Di campakkan. Seperti dia telah mencampakkanku."
Aku berkedip. Namun, apa yang ada dalam benakku, terlontar kembali di luar kendaliku.
"Mengapa?"
"Karma by Cokelat."
Anyelir tertawa, dan bersenandung kemudian.
Sekian lama kita bersama
Ternyata kau juga sama saja
Kau kira kupercaya semua
Segala tipu daya
Oh percuma
Kau buat sempurna
Awalnya berakhir bencana
Selamat tinggal, sayang
Bila umurku panjang
Kelak 'ku 'kan datang 'tuk buktikan
Satu balas 'kan kau jelang
Jangan menangis, sayang
Kuingin kau rasakan
Pahitnya terbuang sia-sia
Memang kau pantas dapatkan
"Sampaikan lagu itu untuk Ken. Dia akan terbuang sia-sia. Dia tidak akan pernah mendapatkan wanita yang paling dia cintai."
Sontak aku merasa besar diri.
"Aku adalah wanita yang paling di cintai."
"Menurutmu. Menurut dia. Kau bukan yang terbaik! Dia hanya mencintai dirinya sendiri. Hanya karma dia dapatkan ketika dia menemukan sosok terbaik."
"Kami tidak akan saling membuang. Kami saling mencintai."
"Karma! Cokelat! Sanggup bayar!!"
Anyelir berdiri. Dia mengelus perutnya rata. Tidak lama, perut itu membesar dan membuncit seperti orang hamil.
"Kau kan dapatkan itu juga Cici, terbuang sia-sia. Merasakan apa yang aku rasakan."
Anyelir terbahak keras.
"Mengapa kau mengutukku?" Aku marah dan ingin meledak.
Anyelir melotot padaku, "Kau lupa padaku. Kita adalah wanita untuk pria yang kita sebut sebagai lelaki cadangan. Ternyata, aku dan kau-lah wanita cadangan itu. Konyol kan! Bermain dengan buaya, kita malah tercebur menjadi mangsanya."
"Anyelir, Ken sangat mencintaiku."
"Jangan lupa. Dia juga berkata begitu padaku. Apa kau lupa apa yang terjadi padaku? Kau sangat tau motif di balik kematianku."
Aku tercekat.
"Motif?" Aku ingin mengelak dan melumpuhkan seluruh ingatanku, "Dia tidak sengaja."
"Perselingkuhan yang berjalan sempurna. Aku mengandung anak Ken. Di saat itu, kalian hanya menentang dan berkata ini bukan milik Ken. Karena, hubungan melingkar yang menjerat kita adalah hubungan di belakang layar. Tidak ingin ada yang mengaku, untuk menyelamatkan nama. Bahkan, kau sebagai temanku melingkar padanya, hanya untuk menjadi alibi. Jika, kau dan dia adalah sepasang kekasih. Sejak itu aku tau aku telah terbuang sia-sia. Karma itu aku dapatkan pertama kali. Lalu, aku ingin berbagi hal sama."
Aku mengigit bibir. Aku melihat bagaimana Anyelir berurai air mata, dan berbisik, "Aku mohon bantu-lah aku. Biarkan Ken mengakuiku sebagai wanitanya. Agar aku bisa pergi dengan tenang. Aku hanya ingin anak ini memiliki kejelasan. Aku tidak ingin cerita kita memakan kehidupan orang lain. Memfitnah orang lain."
"Bukan Ken yang menghamilimu!" elakku tidak percaya.
"Dia itu dia! Kau tau persis cerita ini. Aku berselingkuh dengan Ken. Aku berhubungan dengannya. Kau tau kisah itu semua?"
Aku bergetar. Aku memukul kepalaku ingin pecah. Aku tidak ingin mempercayai hal ini.
"Itu bukan anak, Ken!" teriakku.
"Sampai kapan kalian tidak mengakuinya? Apakah kalian lupa bagaimana diriku menjadi mawar yang terbakar. Satu-pun dari kalian, tidak berani menangkap tangkai mawar berapi itu."
Anyelir tersenyum dengan bola api membara.
"Jika tidak terus mengakuiku. Maka, untuk memadamkan api, aku akan meminta awan menjadi hitam. Hujan setiap hari. Menjatuhkan, air mata kalian. Hingga air mata itu membasahi kebencianku. Walau, kekuatanku hanya sementara. Namun, gores pedang kebencianku bagai angin yang mampu melukai kalian."
Aku tidak kuasa menahan tangisku.
"Kalian akan terus berdiri di bawah hujan."
"Kau tidak boleh menghakimi!"
"Apakah kalian lupa? siapa yang lebih dulu menghakimiku!"
Aku mengigit bibirku. Ingin menurunkan harga diriku , aku jatuhkan dan memohon ampun.
"Aku meminta maaf."
"Namun, aku tau semua hal milik semesta. Kebencianku akan pupus. Kala, aku telah lelah menghukum kalian. Di saat hujan itu berhenti. Kalian, hanya aku ijinkan melihat abuku. Mengenangku sepanjang akhir hidup kalian."
"Kau sudah mati. Pergilah dengan tenang."
"Tentu aku akan tenang. Ketika, segala sesuatu terlihat jelas. Aku hanya ingin ceritaku di lupakan. Setelah itu, aku biarkan diriku menjadi abu. Lalu, aku meminta angin meniupku pergi sejauh mungkin. Aku biarkan angin membawa abu luka ini, menghapus jejak-ku sejauh mungkin. Aku ingin setiap orang melupakan ceritaku. Biar angin dan awan membasuh lukaku."
Aku terhenyak. Ingin rasanya aku membunuh diriku. Menatap perut besar itu. Namun, aku menatap perutku pula. Walau, masih terlihat rata. Aku telah mengandung anak Ken.
"Mungkin aku akan terlupakan. Aku akan berterimakasih pada angin yang menghapus jejak-ku dan awan yang menurunkan hujan untukku. Cintaku akhirnya pupus. Namun, bertahanlah atas hukuman. Bukan karena aku yang meminta, biarkanlah orang-orang yang mencintaiku, melepas kebenciannya. Aku bahkan tidak tahu cara menenangkan setiap orang. Sesungguhnya, merekalah yang menahanku pergi. Air mata milik mereka."
Aku menyeka air mataku.
"Kau menyalahkanku? Hukum saja aku. Aku bersalah. Hukum saja aku."
Teng! Teng!
Suara gong membisingkan telingaku. Aku terjaga.
"Aku telah mengakhiri mimpiku."
"Iya," jawab sang peramal itu.
Aku segera turun dari ranjang, menyampaikan apa yang terjadi dalam mimpiku.
"Terima saja hukuman. Jika, mampu berdiri di bawah badai. Mati dan hidup adalah akhir dari tanggung jawab masing-masing. Setelah, itu cerita ini akan di lupakan."
"Apakah aku akan terbuang sia-sia?"
"Segala sesuatu itu kembali pada semesta. Karena, keputuasan itu lah yang menjadi petaka setiap orang. Apa yang di tabur, itu yang harus di tuai."
***