"Wanita seperti dialah yang aku inginkan" ucap Faris dalam hati, saat melihat seorang perempuan berjilbab ungu muda yang tengah berjalan dengan membawa sebuah buku-buku tebal, dialah Syifa.
Sosok yang lembut nan anggun, berjilbab layaknya wanita muslimah. Lelaki mana yang tak ingin memiliki bidadari cantik nan sholehah tak bersayap seperti Syifa.
Syifa merupakan mahasiswi semester akhir, merantau di kota untuk meneruskan pendidikan yang jauh lebih tinggi. Sosoknya terlihat sederhana, namun entah mengapa ia terlihat begitu anggun. Mungkin paras ayunya telah menunjang akan sosok dirinya atau akhlaknya yang begitu baik telah memancar dalam dirinya. Entah mengapa jika memandangnya akan terasa meneduhkan.
Beberapa waktu kemudian, ujian skripsi telah membelenggu para mahasiswa di universitas yang cukup ternama di kota Surakarta itu. Di dalam perpustakaan, Syifa yang nampak serius dengan buku-buku dan sebuah laptop, tanpa sadar Syifa telah menjatuhkan sebuah buku yang ada di sisinya.
"Astaghfirullah..." Guman Syifa, dengan segera ia mengambil buku yang jatuh itu, namun betapa kagetnya Syifa saat melihat ada sebuah tangan yang lebih dulu mengambil buku itu.
"Ah, ini" ucap seorang pria, yang tak lain ialah Faris.
"I,iya. Terimaksih" ucap Syifa yang terdengar sedikit canggung.
Ya, karena sebenarnya diam-diam Syifa menaruh hati kepada Faris, pemuda Rohis yang terkenal akan kesalehannya. Cukup tampan, nampak berwibawa dan tak sedikit para mahasiswi yang mendambakannya.
Pertemuan yang selalu saja singkat membuat Syifa terganggu, ingin sekali selalu bertemu dan selalu bertemu kembali.
"Astaghfirullah... Apa yang aku pikirkan" ucap Syifa dalam hati yang baru menyadari jika dirinya melamun setelah beberapa saat kejadian itu.
Brukk...
"Yasalam... Key, kamu ini ngagetin aja" ucap Syifa dengan suara pelan, lantaran kaget saat Keyla tiba-tiba datang tanpa ada pergerakan sama sekali.
"Hehe... Pisss, soalnya lagi bahagia nih, lagian siapa suruh melamun" ucap Keyla cengengesan.
"Tahu gak, Fa. Kalau aku... Mau di lamar sama pujaan hatiku, kyaaa" imbuh Keyla yang sudah lepas kontrol itu, lantaran saking bahagianya.
"Key..." Syifa memperingatkan dengan nada pelan tapi penuh dengan penekanan.
"Ehem. Kalau mau ngobrol di luar ya, ini perpustakaan bukan tempat para sosialita berkumpul" ucap penjaga perpus yang terdengar cukup garang.
"Apaan sih, baru lamaran gitu aja dah kayak pasar" sura netizen.
"Tahu tuh, sini yang sudah nikah biasa aja tuh" suara netizen.
"Ehem" tanda peringatan dari penjaga perpustakaan untuk diam.
"Haduhh..." Keluh Syifa, dengan segera ia mengemasi buku-buku dan menutup laptopnya, setelah selesai ia langsung menarik tangan Keyla agar mereka segera keluar dari perpustakaan dan tidak mengganggu yang lain.
"Key, aku ikut seneng dengarnya. Tapi mbok ya kamu jangan lepas kontrol begitu" ucap Syifa saat mereka sudah berada di luar dengan wajah sedikit memelas.
"Biarin. Aku tak peduli, lagian mereka mana tahu rasanya setelah penantian cukup lama, akhirnya finish juga" ucap Keyla dengan girangnya.
"Terserah kamu lah, kita ke warungnya bu Ning kamu ceritanya di sana aja ya, aku juga penasaran bagaimana bisa tiba-tiba begitu" ucap Syifa.
"Ayok" ucap keyla dengan semangatnya.
Mereka berdua pun bergegas ke warung bu Ning yang tak jauh dari kampusnya. Disanalah Keyla bercerita dengan suka cita, jika Azam akan mempersunting dirinya setelah wisuda. Keyla yang selama ini anggap Azam tidak begitu peka rupanya memberi dirinya sebuah kejutan, lusa Keyla akan di lamar dan beberapa bulan lagi setelah wisuda adalah pernikahannya.
Syifa yang mendengar cerita itu pun ikut merasa senang, jika penantian sahabatnya kini telah membuahkan hasil. Namun ada rasa kesedihan di dalam diri Syifa, rupanya ia juga ingin segera menikah. Jika ia ingat kembali saat di kampung halaman para terangga selalu membuatnya terluka dengan perkataan yang menyakitkan. Padahal usia Syifa tergolong masih muda, ia baru menginjak usia dua puluh empat tahun tapi cemoohan itu sangatlah menyakitkan bagi seorang perempuan yang juga ingin segera menikah.
Syifa tak ambil pusing, ia tetap fokus dengan ujian skripsinya. Ia harus menata semua impiannya, ia pasrah akan jodoh dan juga akan perasaanya kepada Faris anak rohis di kampusnya.
Beberapa bulan kemudian, acara wisuda pun di gelar. Syifa telah berhasil menyandang gelar seorang sarjana dengan hasil yang membanggakan, saat Syifa hendak foto bersama dengan keluarganya tiba-tiba Faris datang menghampirinya, dengan membawa bunga buket berisi bunga mawar merah.
"Selamat ya" ucap Faris, sembari menyerahkan bunga buket yang cukup besar itu.
"Iya, terimakasih. Kamu juga selamat" ucap Syifa yang tiba-tiba merasa canggung tapi juga sedikit malu.
"Dan..." Tiba-tiba Faris berlutut di hadapan Syifa dengan membuka sebuah kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin, sontak adegan itu membuat sebagian orang baper dan menyoraki.
"Kyaaa... Syifa..." Seru Keyla yang merasa senang saat melihat Faris yang sudah pasti akan melamar seorang gadis.
"Syifa, aku sudah menyukaimu sejak lama. Maukah kamu menerima lamaran ku hari ini?" Ucap Faris dengan percaya diri.
"Allahu Akbar, mimpi apa aku semalam. Rupanya Faris juga menyukaiku" ucap Syifa dalam hati, ia pun tertunduk malu lantaran banyak orang yang memandang dirinya. Namun, Syifa harus cepat mengambil keputusan agar adegan itu tak berlangsung lama.
"Iya, aku menerima lamaranmu Faris" ucap Syifa terdengar lembut dan nampak tersipu.
"Apa? Syifa... Alhamdulillah ya Allah" ucap Faris dalam hati.
Prok prok prok, suasana itu terasa meriah dan sorak sorai, meskipun adegan lamaran dalam acara wisuda itu pasti akan terjadi tak hanya satu orang saja tapi lebih. Tapi hari yang membanggakan itu juga merupakan hari kebahagiaan seorang gadis yang telah lama memendam rasa itu.
Setelah hari itu, Syifa resmi menjadi tunangan Faris. Dan hari ini juga merupakan hari pernikahan sahabatnya itu, Keyla. Bahagia yang berlipat-lipat tiada tara membuat senyum merekah indah di wajah dua gadis itu.
"Hehe, sudah tak terasa hampir setahun ya Key" ucap Syifa saat memandang foto kenangan di hari pernikahan Keyla.
"Fa, Syifa..." Terdengar suara panggilan seorang ibu di balik pintu kamar Syifa.
"Iya buk e, sebentar" sahut Syifa dengan nada santun.
"Ada apa buk e?" Ucap Syifa setelah membuka pintu kamar.
"Itu, bapak kamu" bisik sang ibunda.
"Iya buk e" ucap Syifa, ia sudah menduga pasti akan membicarakan soal hubungan dirinya dengan Faris.
"Pak? Ada apa?" Ucap Syifa dengan lembut.
"Ndug, Faris itu serius apa ndak sama kamu? Ini sudah hampir setahun, janji Faris secepatnya lha ini apa?" Ucap ayah Syifa.
"Pak, kan bapak sudah tahu. Mas Faris belum siap dan..."
"Belum siap gimana sih ndug, dia itu sudah menali kamu. Bagaimana bisa tidak siap? Kamu lihat, teman-teman kamu itu itu sudah pada punya anak" sela ayah Syifa.
"Pak, maafkan Syifa" ucap Syifa mengalah ia lebih memilih di persalahkan daripada hal itu akan menjadi sebuah perdebatan.
"Alah ndug, bapak itu sudah kecewa sama Faris, di kira nahan anak orang itu bisa seenaknya" ucap ayah Syifa yang langsung berdiri meninggalkan Syifa di ruang tamu seorang diri.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan" ucap Syifa dalam hati, ia pun merasa terpukul.
"Ndug, hapemu itu lho bunyi" ucap ibu Syifa.
"Iya buk e" ucap Syifa dan bergegas pergi.
"Kamu ini gimana to pak e, urusan jodo, mati dan rejeki itu sudah ada yang ngatur. Kasihan Syifa to pak" ucap ibu Syifa saat mendekati ayah Syifa di halaman depan rumah yang tengah mengganti pakan burung perkutut.
"Aku juga sedih, anak gadis kita itu kok ndak nikah nikah. Aku juga kecewa sama Faris, aku juga maunya ngomong sama Faris langsung buk e, tapi Faris kesini hanya beberapa kali kan? Itu pun tidak ada pembicaraan penting sama sekali, dia itu sudah membuat anak gadis kita menunggu lama lho" ucap ayah syifa.
"Wis to pak e" ucap ibu Syifa menenangkan.
Kejadian yang tak mengenakkan hati Syifa seperti halnya tentang hubungan, ia juga bimbang, janji yang Faris berikan tak akan ada satu tahun lamanya dia akan mempercepat hari pernikahannya. Setelah merantau ke Jakarta untuk mencari modal, tapi entah kenapa lambat laun Faris semakin sulit untuk di hubungi, jika Syifa mempertanyakan tentang pernikahan, Faris sering marah. Syifa pun tak percaya, Faris yang di kenal lembut berubah menjadi mudah marah kepada dirinya, dimana Faris yang dulu yang begitu lembut dengan dirinya, syifa hanya mampu menangis dan menahannya seorang diri.
"Arghhh... Aku ke jakarta banting tulang buat cari modal, bapaknya selalu saja ikut campur. Dikira cari uang itu gampang apa" gerutu Faris saat berada di kontrakan.
"Hah... Lebih baik aku cari udara segar saja lah" ucap Faris yang langsung beranjak pergi.
Hal seperi itu hampir selalu terjadi, tetangga yang suka usil dengan mulutnya, bahkan saudara pun mengejeknya si wanita yang telat nikah, padahal umur Syifa masih dua puluh lima tahun. Tapi karena hidup di kampung memang seperti itu keadaannya Syifa harus menguatkan diri meskipun tiap malam Syifa selalu menangis lantaran terlalu sesak untuk di pikirkan.
"Ya Allah, Engkau yang Maha Tahu akan segala kebaikan. Berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapinya, berikanlah hamba ketegaran, hamba tak ingin lemah karena cinta dunia" ucap syifa dalam tangis setelah melaksanakan sholat malam.
Ting... Sebuah notifikasi di ponsel Syifa, saat Syifa selesai dengan ritual sepertiga malamnya, ia mengecek ponselnya, ia baru menyadari ada sebuah notifikasi dari salah satu akun media sosial milik Faris, ada seorang wanita mengirim sebuah pesan kepada Faris, di dalam pesan itu berisi tentang ucapan terimakasih. Tentu hal itu membuat Syifa penasaran, Syifa pun mulai mencari tahu tentang siapa perempuan itu, karena jarang sekali Faris memiliki teman perempuan.
Dan ternyata wanita itu merupakan mantan Faris waktu SMA dulu, saat fakta yang Syifa lihat ada sebuah foto terbaru yang di upload oleh mantan Faris, yang artinya mereka sedang bersama beberapa jam yang lalu. Betapa hancur perasaan Syifa, ia pun memaksa diri untuk mencoba tetap tenang. Tetapi pikiran itu membuat Syifa tak karuan. Terpaksa ia menelfon faris, dalam telfon itu Faris mengaku jika mereka hanya kebetulan bertemu saja.
Ting... Sebuah pesan masuk di ponsel Syifa.
"Keyla?" Gumam Syifa dengan mata sembabnya.
"Fa, lusa ikut aku ke Jakarta ya. Gak boleh nolak" ucap Syifa saat membaca isi pesan itu.
"Anak ini kalau ada maunya, selalu saja memaksa yang pastinya juga suka mendadak" gumam Syifa dengan senyumannya. Ia baru menyadari jika dirinya tengah membutuhkan seorang teman.
Setibanya hari dimana Syifa akan ke Jakarta, ia tak kuasa menolak lantaran Keyla sudah susah payah menjemput dirinya dan sudah meminta izin kepada kedua orang tua Syifa. Keyla mengaku jika ada sebuah pekerjaan yang lebih bagus di sana daripada di kampung halaman Syifa yang hanya di sebuah pabrik terdekat dan juga ia merasa berat meninggalkan kedua orang tuanya.
Setibanya di Jakarta, memang ucapan Keyla itu bukan sebuah candaan tetapi kenyataan. Di sana Keyla mengajak sahabatnya itu bekerja di sebuah perusahaan yang jauh lebih baik dan lebih bersih, dan Keyla melakukan itu karena ia tahu betul rasanya di ganggu dengan perkataan yang hanya seorang wanita rasakan. Namun, di sisi lain Syifa juga memanfaatkan keadaan itu untuk memastikan Faris yang sebenarnya apa yang telah terjadi.
Dua bulan kemudian, Syifa mulai merasa ringan dengan hidup di perantauan. Ia jauh merasa nyaman di sana lantaran tak ada gangguan dari ucapan-ucapan yang menyiksa batinnya.
Malam itu Syifa tengah mencari makan di sebuah mall ternama di kota Jakarta sekalian mencari buku untuk ia baca di kontrakannya. Syifa yang tetap cantik dan anggun, kini terlihat sedikit lebih kurus karena tekanan batin yang tak kunjung usai. Tapi parasnya selalu memancar, dengan gaya busana layaknya seorang wanita muslimah. Saat ia tengah mencari buku tanpa sengaja ia tertabrak oleh seseorang dari belakang.
"Aduh..." Keluh Syifa.
"Suara ini..." Batin pria itu.
"Lho? Mas Faris?" Syifa terbelalak kaget, rupanya kekasihnya itu semakin tampan dan menawan setelah sekian lamanya tak bertemu. Bahkan busana yang Faris kenakan terbilang modis.
"Syifa? Ka, kamu kok ada di sini?" Ucap Faris.
"Kamu kenapa terlihat lebih kurus? Ayo kita cari makan" ucap Faris dan langsung menarik tangan Syifa.
"Mas Faris, aku sudah makan. Tolong lepaskan tanganku, tidak enak di lihat orang lain" pinta Syifa.
"Tidak. Kamu hutang penjelasan padaku" ucap Faris dan mencari sebuah kedai yang tak jauh dari lokasi.
Setalah mereka duduk, Syifa hanya menunduk diam sedangkan Faris begitu subuk dengan makanan juga ponselnya. Syifa pun menghela nafas.
"Oh ya, kamu kesini sama siapa?" Ucap Faris yang baru tersadar.
"Ini sudah malam, aku mau pulang" ucap Syifa.
"Baiklah aku akan mengantarmu"
"Baik"
Saat tiba si sebuah parkiran, betapa kagetnya Syifa saat ada sebuah mobil yang cukup mewah yang di kendarai oleh Faris.
"Mas Faris? Boleh Syifa bertanya?" Ucap Syifa saat mereka dalam perjalanan.
"Tanyakan saja, aku akan menjawab" ucap Faris dengan senyumannya.
"Mas sepertinya sudah sukses di sini"
"Iya, alhamdulilah. Berkat do'amu" ucap Faris dengan bangga dan hendak mau mencubit hidung Syifa dengan cepat Syifa menghindar.
"Ah, maaf" ucap Faris, ia lupa jika Syifa sangat menjaga kesuciannya.
"Lalu kenapa mas Faris tidak..."
"Sudah deh, jangan bikin masalah lagi. Aku belum siap, ya" ucap Faris dengan entengnya namun penuh dengan penekanan, seketika membuat hati Syifa terasa sakit.
"Bisa turunkan aku di sini?" Pinta Syifa yang terdengar ketus.
"Kamu kenapa sih Fa?" Ucap Faris saat ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Harusnya kamu yang kenapa. Maaf, aku ingin sendiri" ucap Syifa yang tengah menahan air mata.
"Terserah" ucap Faris
Syifa pun turun, sedangkan Faris langsung pergi begitu saja. Syifa pun tak dapat menahan tangisannya, ia menyadari ada perubahan besar dalam diri Faris, Syifa merasa Faris telah berubah. Bahkan janji untuk menikah secepatnya pun terasa tak ada harapan lagi.
"Syifa???" Panggil Keyla yang kebetulan melihat Syifa tengah berjalan seorang diri.
"Keyla?" Ucap Syifa yang terdengar menyedihkan.
"Fa? Kamu kenapa?" Ucap Keyla.
Syifa pun bercerita dengan apa yang ia rasakan dan telah terjadi, sekian lama menunggu dan menanti ia kira Faris masih kesusahan dalam mencari modal, bahkan Syifa juga mau berkerja keras untuk membantu mencari modal. Tetapi apa yang ia lihat secara gamblang dan nyata saat ini, Faris sudah sukses dengan waktu yang cukup singkat bahkan perubahan yang begitu nyata membuat Syifa terpukul.
Hari demi hari Syifa lalui, tanpa terasa bulan telah berganti bulan. Faris juga sudah memberi kepastian dalam tiga bulan lagi ia akan menikahi Syifa perasaan senang pun terasa sudah terbayar. Namun ujian setiap orang yang akan menikah pasti bermacam rupanya, saat Syifa hendak pergi ke kontrakan Faris untuk membicarakan pernikahannya ia tanpa sengaja mendengar perbincangan Faris dengan seorang perempuan yang terdengar manja.
"Faris... Aku tak menyangka kamu..." batin Syifa yang mencoba mengitip di kaca jendela melihat Faris tengah duduk dan berpelukan dengan seoang wanita yang pernah ia lihat sebelumnya yaitu mantan Faris saat SMA.
Brakkk... Syifa tanpa sengaka menjatuhkan helm yang ada di meja luar, sontak membuat Faris terperanjat untuk melihat. Saat Faris keluar untuk melihat betapa kagetnya ia melihat Syifa tengah berlari menjauh darinya.
"Sial!" Umpat Faris, ia pun segera mengejar Syifa.
Syifa terus berlari dengan linangan air mata, lelaki yang ia dambakan selama ini kini telah berubah. Syifa yang mendengar teriakan Faris ia hiraukan, tiba-tiba ada seseorang yang menarik Shifa dengan paksa dan langsung menyembunyikan Sifa ke sebuah lorong.
Brukkk... Tanpa sengaja Syifa yang spontan untuk membela diri membuat Syifa terkunci di sebuah tembok dengan seorang pria asing yang mungkin tengah menolongnya. Mata mereka pun saling berpandangan bahkan tanpa sadar mereka terlalu dekat.
"Astaghfirullah" ucap pria muda itu dalam hati, yang langsung saja melepaskan Syifa, sedangkan Syifa hanya tertunduk lantaran ia menyadari akan wajah sembabnya.
"Ah, kamu tidak apa-apa kan?" Ucap pria itu.
"Suara ini..." Batin Syifa, ia merasa tak asing dengan pemilik suara yang khas ini.
Setelah beberapa hari kejadian itu, Syifa pulang kampung untuk merundingkan masalah pernikahan, Faris pun melepaskan Syifa sebagai tunangannya lantaran keluarga Faris sudah terlanjur malu akan sikap Faris bahkan kabarnya Faris telah berbuat zina dengan mantanya dan sudah mengandung dua bulan inilah yang membuat Syifa menolak keras untuk meneruskan pernikahan, apalagi keluarga Faris merupakan keluarga cukup terpandang tentunya itu merupakan aib terbesar.
Selang beberapa hari kemudian kehidupan Syifa memang terasa berat, usinya kini pun sudah menginjak dua puluh enam tahun, meskipun impian pernikahannya kandas ia tetap sabar menghadapinya. Tiba-tiba lamunan Syifa terbuyarkan ketika mendengar ada beberapa mobil datang kerumahnya.
"Siapa ndug?" Ucap ibu Syifa saat mendengar deruan mobil dan langsung mengintip dari ruang tamu untuk melihat, begitu juga ayah Syifa.
"Keyla mungkin buk e, soalnya memang sudah waktunya Syifa harus kembali ke Jakarta. Kebetulan keluarga Keyla ada yang tinggal..."
"Assalamu'alaikum..." Ucap seorang pria terdengar ramah..
"Suara ini???" Batin Syifa, ia pun langsung menoleh ke arah pria itu yang sudah berada di ambang pintu dan benar saja pria itu merupakan pria yang pernah menolongnya saat dari kejaran Faris.
"Kamu???" Syifa terbelalak akan pria itu apalagi datang dengan rombongan, bahkan Keyla pun juga ada di antara rombongan itu.
Saat itu pula Syifa pun teringat akan kejadian beberapa tahun silam saat dirinya pertama kali menginjak kota Surakarta, Syifa mendapati musibah saat dirinya kehilangan dompetnya. Dan seorang pria datang menolongnya, tak terpungkiri Syifa telah jatuh hati dalam pandangan pertama karena sosok pria yang seperti itu mampu membuat hati Syifa bergetar hebat. Namun pertemuan itu hanya sekali dan keadaan Syifa terbiasa dengan sosok Faris dan melupakan pria itu.
"Kamu..." Ucap Syifa dan menatap lekat pria itu, terlihat tampan dan meneduhkan hati. Tanpa sadar membuat hati Syifa kembali bergetar sama seperti awal pertemuan dulu.
"Iya, ini aku Syifa, calon suami mu" ucap pria itu.
"Aaa... Cieee...." Seru Keyla yang memang paling rame sendiri.
Dengan tertunduk malu, Syifa tak mampu menatap pria itu lagi. Ia sadar memang hanya dia yang mampu menggetarkan hati Syifa. Syifa menyukai Faris lantaran Faris terasa sedikit mirip dengan seoranh pria yang pernah menolongnya itu, tapi perasaan Syifa kepada Faris tak sekuat dengan pria itu yang hanya dalam satu kali pandangan mampu menggetarkan hati bahkan saat ini pun getarannya masih terasa.
"Awalnya aku ingin mengeluh tentang kesedihanku waktu itu, tapi aku tak percaya akan keindahan pertemuan waktu itu juga. Hari ini terbayar dengan sangat indah, alhamdulilah ya Allah Engkau telah mempertemukan ku dengan mas Faruq dengan cara yang sangat indah pula" ucap Syifa dalam hati, air matanya pun menetes saat dirinya mendengar kata sah dari para saksi.
~~~~~~sekian~~~~~~