“Oke … selesai ya untuk latihan soal hari ini. Kita lanjutkan lagi besok, jangan lupa nanti tetep dipelajari soal-soal yang ibuk berikan.” Kata Bu Soraya.
“Oke buk…”Kataku sambil menganggukkan kepala.
Aku menutup buku dan langsung memasukkannya dalam tas ranselku. Keluar kelas dengan senang karena selesai mengikuti ekstra kelas untuk olimpiade matematika. Saat akan mengambil sepeda di parkiran, hujan tiba-tiba turun. Aku pun berdiri hanya memandang sepeda-sepeda yang belum diambil pemiliknya, hanya tinggal beberapa.
“Baru pulang …..” Tiba-tiba terdengar suara dari samping kananku.
Ternyata suara itu adalah suara Bayu, sang ketua OSIS. Aku hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Kalau kalian membaca nametag-ku pasti kalian tahu siapa namaku. Yaaa, namaku Naura Febiola. Cukup singkat dan gampang untuk diingat.
“Aku bawa jas hujan, bawa aja ….” Kata Bayu sambil menyodorkan jas hujan miliknya.
“Ehhhh …. Makasih, tapi nggak usah aja. Kamu pakai aja... aku nunggu hujan reda aja.” Kataku mencoba menolaknya ramah.
Bayu memang mencoba mendekatiku hampir 6 bulan ini, tapi dia belum menyatakan perasaannya padaku. Mungkin karena aku masih terlalu cuek untuknya, hal itu karena aku memang tidak ada perasaan sama sekali dengannya. Aku nggak mau kasih harapan apapun untuknya. Aku nggak mau orang terluka karena aku.
“Oke …aku temenin kalau gitu.” Katanya.
“Aku nggak apa-apa kok. Duluan aja nggak apa-apa..” kataku.
“Enggak apa-apa, santai aja Ra… lagian masih hujan juga. Oya … gimana persiapan kamu buat olimpiade?” tanyanya.
“Mmmm … udah 90% sih..” jawabku.
“Aku yakin pasti menang … semangat ya.” Katanya.
Aku mengangguk dan sedikit tersenyum.
“Ra ….” Panggilnya.
“Iya…..” jawabku.
“Mmmm…gini,..kamu … kamu cantik hari ini.” Ucapnya seperti dia sedang gugup.
“Hah ….ohhhh…. terima kasih.” Aku jadi salah tingkah sendiri dipuji seperti itu.
“Kalau kamu sudah nggak sibuk, boleh aku main ke rumah?” tanyanya.
“Boleh …” kataku sambil mengangguk.
Nggak tahu kenapa suasana menjadi sangat canggung seperti ini. Aku tahu sebenarnya dia memendam sesuatu yang ingin ditanyakan padaku. Tapi, dia berusaha untuk menahannya. Mungkin agar tidak membebaniku dan mungkin juga dia tidak ingin membuat konsentrasiku tentang olimpiade buyar.
Hujan mulai reda, aku pun pamit pulang duluan. Dia masih berdiri menatapku mengayuh sepeda. Aku tak ada perasaan sedikitpun padanya. Tapi, aku merasa dia selalu berusaha untuk mendekatiku. Sementara saat ini, aku sedang dekat dengan salah satu siswa SMA Bintang Angkasa. Musuh terberatku saat olimpiade nanti. Namanya Bryan Pamungkas. Ya ….aku sering bertemu dengannya ketika perlombaan. Dan itu membuat kami saling bertukar nomor dan saling mengenal satu sama lain. Tapi, dalam hal lomba kami tidak mau ada yang mengalah. Kami sama-sama ingin membuktikan kemampuan kami.
Akhirnya aku sampai di rumah, aku bisa rebahan di kasur kesayanganku. Aku membuka hp, ternyata Bryan ngechat aku.
Udah pulang belum Ra?
Ra…. kamu lagi ngapain?
Naura ….
Aku baru sempat membuka hp-ku. Ingin membalas chatnya, tapi dia malah menelponku.
Hallo ….- aku
Kamu dimana? - Bryan
Aku di rumah, kenapa? - aku
Aku di bawah – Bryan
Aku langsung berlari ke arah jendela dan melihat ke bawah. Ternyata bener, dia di bawah. Ini anak suka banget tiba-tiba muncul. Mana lagi hujan lagi. Aku lalu menutup telponku langsung lari ke bawah.
“Ngapain sih hujan-hujanan gitu, nanti sakit gimana?” kataku sembari membuka gerbang rumah.
Bryan langsung masuk, dan kami sama-sama berdiri di teras.
“Dari kapan dateng?” tanyaku.
“Baru kok.” Jawabnya santai sambil merapikan rambutnya yang sedikit basah.
Oh Tuhan, dia terlihat sangat keren ketika lagi benerin rambut gitu. Aura ketampanannya terlihat jelas. Gimana cewek-cewek nggak klepek-klepek ngeliat dia yang begitu tampan dan keren kayak gini.
“Heh … malah bengong.” Katanya membuatku sadar.
“Ohhhh enggak….kamu ngapain kesini?” tanyaku.
“Kamu di chat nggak dibales-bales, ditelfon nggak diangkat. Aku khawatir …” katanya membuatku deg-degan.
“Khawatir kenapa?” tanyaku.
“Ya khawatir aja….takut ada apa-apa sama kamu.” Katanya.
Aku diam, nggak bisa ngomong lagi. Mulutku terasa kaku, suaraku seperti tertahan di tenggorokan. Entahlah ada apa denganku saat ini. Lagian, kenapa Bryan peduli banget padaku.
“Ra ….aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?” tanyanya.
“Boleh …. Ngomong aja.”
“Aku sayang sama kamu Ra, aku cinta sama kamu ….aku nyaman deket kamu. Aku khawatir kalau kamu nggak balas chat dariku, nggak angkat telfon dariku. Aku ingin jagain kamu Ra. Meskipun kita Rival, tapi aku nggak bisa bohongin hatiku Ra.” Katanya hingga membuatku terdiam menatapnya.
“Aku nggak peduli kamu mau nerima aku atau nggak, yang pasti sejak kenal kamu, aku jadi lebih bersemangat untuk belajar, lebih semangat untuk meraih impianku. Apalagi rivalnya kamu, aku jadi tertantang, dan jadi lebih bersemangat biar aku bisa unggul dari kamu.” Katanya. Dan ternyata apa yang dia rasakan, sama dengan yang aku rasakan.
“Ra… aku pengen wujudin mimpiku sama kamu. Tapi, kalau memang kita nggak bisa bersama sekarang. Aku bakal nunggu kamu, sampai ada ruang di hatimu buat aku.” Katanya.
“Jujur…, saat ini ada dua orang yang mendekatiku. Yang pertama kamu, yang kedua Bayu… ketua OSIS di sekolahku. Kalian sama-sama baik dan care sama aku. Tapi …. aku nggak bisa bohongin hatiku sendiri. Jujur, dari pertemuan kita pertama waktu olimpiade waktu SMP aku udah tertarik sama kamu. Semakin ke sini kita semakin deket malah semakin nyaman. Aku pun juga nggak mau ngalah sama kamu untuk olimpiade. Tapi, kalau masalah hati, aku nggak bisa bilang tidak….” Kataku yang amburadul bingung mau ngomong apa soalnya.
“Artinya …?” tanyanya.
“Iya … aku mau.” Jawabku tegas.
“Serius?” tanyanya, dan aku menganggukkan kepala. Bryan tersenyum senang, dia seperti ingin memelukku tapi dia berusaha menahannya, dan aku tersenyum salah tingkah melihat tingkahnya.
“Terus si ketua OSIS?” Tanyanya.
“Dia mencoba mendekatiku, dia belum bilang kalau dia suka sama aku. Cuma aku ngerasa gitu aja… .” Kataku dengan PD banget.
“Terus, kalau dia nembak kamu, kamu mau jawab apa?” tanyanya.
“Ya aku terimalah ….” Jawabku mencoba menggodanya.
“Hah ….kamu mau duain aku?” tanyanya mulai terpancing.
“Ya enggaklah, ya udah aku bilang aja. Aku udah ada yang punya.” Kataku sambil tersenyum.
“Punya siapa?” tanyanya mencoba memancingku mengatakan punya dia.
“Tau ahhhh….” Jawabku.
“Punya siapa? Hmmm….” Bryan mencoba memancingku lagi.
“Punya mama papa …” kataku hingga membuat Bryam terdiam.
“Hmmmm…. Ya kalau itu mah bener. Aku kan pengen denger kamu bilang aku punya kamu Bryan sayang…coba ngomong gitu.” Katanya mencoba menggodaku.
“Ihhhh ….lebay. Nggak ah ….” Jawabku tersipu malu.
“Cuma bilang gitu doang, ayolah….” Bryan mencoba membujukku.
“Udah ah… sana pulang, udah malem ini.” Aku mencoba mengusir halus Bryan hahahaha.
“Yahhhh …. Malah diusir, kasian amat ya idup gue. Baru jadian, udah diusir gitu… dicium kek apa dipeluk gitu ini malah diusir.” Jawabnya sok manja.
“Idihh …. udah sana pulang.” Jawabku.
“Ya udah …. tapi besok pulang sekolah aku jemput ya…?” pintanya.
“Aku kan bawa sepeda…” Kataku.
“Ya nggak usah bawa sepeda, kan aku jemput.” Katanya merajuk.
“Ya udah ….oke.” jawabku.
Akhirnya Bryan pamit pulang, dia pulang setelah hujan reda. Auranya terlihat sangat senang, aku pun juga merasa seperti itu.
Aku menutup pintu kamar dengan senyum-senyum sendiri. Berjalan perlahan, lalu naik ke kasur. Lompat-lompat bahagia karena akhirnya rasa yang kupendam selama ini terbalaskan juga. Aku bahagia banget, tapi aku nggak mau kalah dari dia pada olimpiade nanti. Meskipun kita pacaran, tapi kita juga rival.
Keesokan harinya, saat sarapan ada yang mengetuk pintu rumah. Mama yang membukakan pintu, dan ternyata dia adalah Bryan. Bryan ternyata tepat waktu juga ya mau jemput aku. Mama pun menawarkan Bryan untuk gabung ikut sarapan, tapi Bryan bilang dia sudah sarapan di rumah.
“Mah, pah… Naura berangkat dulu ya. Assalamualaikum..” kataku setelah berpamitan pada mama dan papa.
Mama dan papa pun saling bertatapan kemudian mereka tersenyum “Anak kita udah gedhe” kata mereka bersamaan.
“Nanti kamu pulang jam berapa?” Tanya Bryan.
“Mmmm…pulang sekolah masih ada private class, kayaknya jam 3 deh aku baru pulang.” Jawabku.
“Ya udah sama berarti, nanti aku jemput kamu jam segitu ya…” katanya dan aku mengangguk.
“Oyaa… nanti ketua OSIS cemburu nggak aku nganterin kamu?” Bryan mencoba menggodaku.
“Apaan sih …. Kan aku udah bilang, misal dia nembak aku, aku tinggal bilang udah ada yang punya.” Jawabku.
“Punya siapa? Jangan bilang punya mama papa…” katanya membuatku tersenyum.
“Ya emang punya mama papa, itu mah udah paten.” Jawabku sengaja membuatnya ngambek.
“Gengsi banget sih bilang punyanya Bryan…” jawabnya yang membuatku semakin tertawa.
“Hahahaha … iya…iya punyanya Bryan…..” kataku sambil tersenyum.
Bryan pun tersenyum ketika mendengar aku mengucapkan itu. Hari ini adalah awal kami memulai semuanya. Aku yang sangat senang bisa boncengan motor bareng Bryan. Bryan yang begitu perhatian dan begitu mengerti tentang aku.
Sesampainya di sekolahku, aku pun turun di depan gerbang sekolah.
“Makasih ya … aku masuk dulu.” Kataku.
“Tunggu … cium tangan dulu dong, main masuk aja.” Katanya sambil memberikan tangannya.
“Idih kayak sama papah aja ….” Jawabku.
“Namanya juga latihan, nanti kalau aku jadi suami kamu, harus terbiasa ….” Katanya membuatku berdebar. Ini gila, dia udah berpikir sampai sejauh itu. Tanpa pikir panjang dan memperpanjang perdebatan, akhirnya aku mencium tangannya. Setelah itu, Bryan mengusap ujung kepalaku dengan lembut “belajar yang bener ya, jaga diri, jaga hati”. Katanya yang semakin membuatku hampir salah tingkah dan aku hanya bisa menganggukkan kepala.
“Aku masuk ya ….dah….” kataku sambil berlari masuk ke sekolah karena nggak ingin Bryan melihat pipiku yang merah seperti pakai blush on.
Aku berjalan dengan senyum sendiri bagaikan orang lagi kasmaran. Ehhh … tapi emang benar aku kan emang lagi kasmaran. Sebelum sampai kelas, anak seseorang yang tiba-tiba memberiku sekotak sandwich di dalamnya. Dan ternyata orang itu Bayu.
“Buat sarapan ya ….” Katanya.
“Hah? Tapi aku udah sarapan….” Jawabku.
Dia langsung meraih tanganku dan meletakkan kotak roti itu di tanganku,”Kalau gitu buat makan siang nanti ya …..” katanya langsung pergi.
“Ehhhh …..” aku tak bisa berkata lagi karena dia sudah pergi begitu saja. Aku rasa Bayu semakin ingin menunjukkan kalau dia memang menyukaiku. Aku berjalan malas ke kelas dan kemudian duduk. Ku taruh kotak roti itu di meja.
“Tumber Ra… lemes gitu.” Tanya Farah teman semejaku.
“Enggak kok…. Oya, kamu udah sarapan?” tanyaku.
“Udah sih, tapi kalau kamu mau nraktik aku makan sok hayukkkkk….” Katanya begitu bersemangat.
“Mmmm … ini buat kamu aja.” Kataku sambil menyerahkan kotak roti yang diberikan Bayu tadi.
“Hah, serius? Terus kamu gimana?” tanyanya.
“Aku udah sarapan …..” jawabku.
“Bentar deh…. Ini sebenernya dari siapa Ra?” Tanya Farah.
“Itu … itu dari Bayu.” Jawabku.
“What? Bayu ketua OSIS?” Kara Farah kaget dan sedikit berteriak hingga aku menyuruhnya memelankan suaranya.
“Nggak usah teriak-teriak gitu kali Far…” kataku.
“Aku rasa Bayu suka deh sama kamu.” Katanya.
“Nggak tahu…padahal tadi aku udah bilang kalau aku udah sarapan.” Kataku.
“Kamu mah nggak peka … dia emang suka sama kamu Ra, keliatan banget tuh. Emangnya kamu nggak suka gitu sama ketua OSIS yang keren itu. Dia itu keren lho Ra, bayangin aja banyak cewek-cewek di sekolah ini yang deketin dia. Tapi, kamu yang dideketin malah biasa aja.” Jawabnya mencoba mendeskripsikan tentang Bayu.
“Apaan sih … aku emang nggak ada rasa sedikitpun sama dia Far, kalau kamu suka ya udah buat kamu aja hahahaha….” Kataku menggoda Farah.
“Duhhh…. Kalau Bayunya mau, aku mah hayukkkkk….” Jawabnya sok manja.
“Emangnya kamu udah punya cowok?” tanya Farah.
“Udah.” Jawabku singkat dan percaya diri.
“siapa?” tanyanya.
“Nanti pulang sekolah dia jemput aku, kamu bakal tahu siapa dia.” Jawabku penuh percaya diri.
“Wuihhhhh pacar baru nih, bukan anak sini lagi. Aku jadi penasaran….” Kata Farah sambil tersenyum menggodaku.
Aku tak menghiraukannya lagi, aku langsung membuka tasku dan mengeluarkan buku yang akan aku pelajari nanti. Memperhatikan guru yang sedang mengajar. Tiba-tiba masuklah Bayu ke kelasku, aku tak kaget karena dia ketua OSIS. Tapi, Farah yang seperti gemes sendiri menyenggol-nyenggol tanganku.
“Anak-anak ada pengumuman dari OSIS …silakan nak Bayu.” Kata Bu Lidya selaku guru matematika.
“Baik, selamat pagi semua …. Temen-temen minggu depan sekolah kita akan mengadakan bazar, jadi setiap kelas diwajibkan membuat stand sendiri-sendiri. Untuk apa aja yang mau dijual bebas… jadi, minggu depan kita akan membuka untuk umum juga. Misal temen-temen mau ngajak keluarga, saudara, atau teman boleh kok. Oya… 2 hari sebelum bazar, teman kita Naura akan mewakili sekolah kita di olimpiade nanti, kita berdoa dan kita kasih semangat untuk Naura agar dia bisa memberikan yang terbaik untuk sekolah ini.” Kata Bayu dengan tenang dan kemudian seperti tersenyum padaku.
“Cieeee….” Farah mencoba menggodaku lagi.
“Apaan sih ….” Aku mencoba menolaknya.
Akhirnya jam istirahat pun tiba, semua siswa berhamburan keluar untuk menuju kantin. Aku membuka hp-ku, ternyata Bryan chat aku menanyakan makan siangku hari ini. Aku tersenyum membaca chatnya karena dia membubuhkan kata sayangku di belakang kalimat yang dikirimkan untukku.
“Cieee…. Dari pacar ya, sampai senyum-senyum sendiri. Oya, jadinya ini beneran aku makan ya?” tanyanya dan aku pun mengangguk. Bayu datang lagi ke kelasku dengan memberikanku jus strawberry. Dia melihat Farah memegang kotak roti yang diberikan padaku tadi pagi.
Aku hanya diam, karena dia tak menanyakan apa pun. Tapi Farah, si bawel ini malah ember banget.
“Bay…makasih ya sandwichnya, enak banget. Ehhhh …. Mmmm… tadi katanya Naura nggak abis. Ya udah aku abisin. Nggak apa-apa kan?” tanyanya.
“Nggak apa-apa kok..” kata Bayu.
“Bayu … boleh ngomong sebentar?” tanyaku.
“Boleh …” jawabnya sambil tersenyum.
Aku memberi kode Farah agar dia keluar dulu, karena aku nggak ingin Bayu tak nyaman dengan pembicaraan ini. Setelah Farah keluar, Bayu pun duduk di depanku menghadapku siap untuk mendengarkan apa yang akan aku bicarakan.
“Sebelumnya aku minta maaf ya Bay, .. gini, aku nggak enak kamu ngasih sesuatu ke aku. Aku nggak enak sama pacar kamu, aku takut nanti dia salah paham.” Kataku, tapi Bayu malah tersenyum lebar dan malah membuatku seperti sulit untuk menghindarinya.
“Kamu tenang aja Ra, aku nggak punya pacar…” jawabnya.
“Ohhhh … kalau gitu, cewek-cewek yang tegrila-gila sama kamu, banyak kan di sekolah ini?” tanyaku.
“Mereka cuma mengagumiku, … mmm kenapa kamu tiba-tiba nanyain itu?” tanyanya.
“Hah? Enggak … Cuma aku nggak enak aja …” aku berusaha menjelaskan.
“Kalau boleh aku jujur… aku suka sama kamu Ra…” yah… akhirnya dia mengakui perasaannya, dan mungkin saat ini adalah saat yang tepat buatku untuk mengakui kalau aku ada pacar.
“Aku suka kamu dari awal kita masuk sekolah ini, kamu keren, kamu cerdas, kamu cantik, dan kamu sangat baik. Aku menyukaimu, saat pertama kali kamu menyapaku di parkiran. Aku seperti …. Yaahhhh jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, aku nggak berani untuk mengatakan itu sama kamu. Aku takut kamu menjauh, karena aku lihat kamu tipe cewek yang susah untuk didekati. Tapi, sekarang aku mulai berani mendekatimu dengan caraku. Aku sayang sama kamu Ra..” Penjelasannya panjang lebar.
“Bayu …” Belum sempet aku ngomong Bayu sudah memotongnya.
“Tapi, kamu tenang aja. Kamu nggak perlu jawab sekarang. Kamu bisa memikirkan itu. Okey … aku pergi dulu ya.” Kata Bayu.
“Tapi Bay….” Belum sempat aku meneruskan kata-kataku dia sudah tak terlihat lagi.
“Aku sudah punya pacar Bay …” aku seperti ngomong sendiri.
Tepat jam 3 aku keluar dari private class untuk olimpiade. Aku senang karena Bryan akan menjemputku. Aku melihat Bayu sepertinya sedang sibuk di depan ruang OSIS.
“Bayu ….” Aku berusaha menyapanya.
“Heiii… baru keluar?” tanyanya dan aku menganggukkan kepala.
“Maaf Ra, aku harus rapat dulu buat acara minggu depan.” Katanya pamit dan aku kembali mengangguk. Aku kemudian keluar sekolah dan aku melihat Bryan sudah menungguku di sana. Dia pun melambaikan tangan padaku.
“Hai Raraku … gimana hari ini?” tanyanya ketika aku sudah ada di depannya.
“Apaan sih… biasa aja, nggak usah lebay gitu.” Kataku.
Aku langsung naik ke motornya, dan dia kembali menggodaku.
“Pegangan … ntar jatuh nangis.” Katanya sambil melihat ke spion.
“Udah jalan aja… nggak usah modus.” Kataku.
Dia malah menarik tanganku untu berpegangan padanya. Aku pun mencubit pinggangnya dan dia meringis kesakitan. Kami pun berjalan-jalan dulu sebelum pulang ke rumah. Dia mengajakku singgah sebentar ke cafe milik keluarganya.
“Kamu sering kesini?” tanyaku dan dia menganggukkan kepalanya.
“Ayo masuk …” katanya.
Aku pun menurut padanya, dan dia memilih mengajakku duduk di ruang VIP. Aku merasa berlebihan, bukannya sebaiknya duduk di tempat biasa saja. Kemudian, tiba-tiba ada seorang wanita datang ke tempat kami duduk. Dan betapa kagetnya aku, Bryan memanggilnya mama. Betapa gugupnya aku bertemu dengan mamanya.
“Mah.. kenalin, pacara Bryan.” Kata Bryan mengenalkanku pada mamanya, dan dia sangat terbuka mengatakan aku sebagai pacarnya. Rasanya malu banget dan bener-bener gugup. Aku pun mencium tangan mamanya. Beliau sangat baik dan sangat ramah.
“Akhirnya … tante ketemu juga sama kamu Ra. Bryan setiap hari selalu menceritakan kamu ke tante. Dari awal kalian ketemu sampai Bryan nembak kamu, Bryan cerita sama tante.” Kata mama Bryan membuatku tersipu malu. Ternyata sedekat ini Bryan dan mamanya, aku senang dia sangat sayang pada mamanya.
Kami banyak bercerita dan sampai akhirnya bryan pun mengantarkan aku pulang. Senang sekali hari ini bisa ketemu sama mamanya. Sesampainya di depan rumah, aku memintanya untuk mampir sebentar. Karena aku ingin cerita banyak padanya.
“Aku mau cerita sama kamu…” kataku.
“Cerita aja …” Bryan bersiap mendengarkan ceritaku.
“Tadi pagi waktu aku datang, Bayu nyamperin aku terus dia ngasih aku kotak bekal. Aku berusaha menolaknya, tapi dia terlanjur pergi. Sampai di kelas kotak bekalnya aku kasihkan ke Farah.” Kataku.
“Terus?” katanya.
“Siang tadi, waktu istirahat dia nembak aku.” Aku mengatakan jujur.
“Terus?” Bryan mencoba membuatku terus bercerita.
“Aku mau bilang, aku udah punya pacar. Tapi lagi-lagi dia keburu pergi… berteriakpun rasanya dia nggak akan dengar.” Jawabku.
Bryan terdiam, terus menatapku tajam. Aku jadi merinding jika dia menatapku seperti itu. Apa dia marah karena Bayu nggak tau kalau aku udah punya pacar.
“Jangan gitu dong liatinnya, kamu marah?” tanyaku. Dia tetap diam dan hanya menggelengkan kepala saja. Posisi masih sama tetap melihat dengan tatapannya itu.
“Ngomong dong, tau gitu aku nggak cerita tadi.” Kataku sedikit menyesal sudah menceritakan itu pada Bryan.
Dia tersenyum kemudian menggenggam tanganku.”Aku makin sayang sama kamu, aku bangga banget bisa ada di sampingku seperti ini.”
Aku malah bingung dia ngomong kayak gitu.
“Kamu tahu, kejujuranmu itu yang membuatku makin sayang sama kamu. Aku nggak marah, kalau cemburu, sedikit …karena kamu dikejar-kejar cowok yang super duper keren di sekolahmu. Sedangkan aku nggak ada di sana untuk menjagamu.” Kata Bryan membuatku salah tingkah.
“Beneran kamu nggak apa-apa?” tanyaku.
Bryan mengusap kepalaku lembut,”Aku percaya sama kamu.” Katanya.”Sekarang kita fokus aja ke olimpiade. Mmmm gimana kalau kita taruhan, siapa yang menang olimpiade nanti bakal traktir makan enak di cafe yang enak.” Katanya.
“Siapa takut….tapi, kenapa yang menang yang traktir, bukannya yang kalah?” tanyaku.
“Kasian dong, udah kalah suruh traktir… dua kali rapuh ntar.” Katanya mencoba menggodaku.
“Yakin banget aku bakal kalah dari kamu, inget tahun lalu aku yang menang.” Kataku menyombongkan diri.
“Aduuhhhh aduhhhhh …. Sombong sekali pacarku ini, tahun lalu boleh menang, tahun ini aku yang bakal menang.” Katanya dengan percaya diri.
Dua hari sebelum pertandingan aku dan Bryan memutuskan untuk tidak bertemu. Kami harus fokus pada pertandingan. Kami pun juga tidak melakukan komunikasi sama sekali, dan inilah cara kami untuk menjadi profesional. Meskipun kamu berhubungan tapi kami tidak lupa dengan takdir kami menjadi rival.
Akhirnya kami bisa bertemu di olimpiade, teman-temanku menyemangati di tribun. Teman-teman Bryan pun juga sama. Aku melihat Bayu Bayu di antara teman-temanku. Saat olimpiade aku berusaha rileks, sebisa mungkin aku percaya diri dengan kemampuanku. Dan akhirnya, aku memenangkan olimpiade kali ini. Maafkan aku Bryan, aku harus mengalahkanmu lagi kali ini.
Setelah pertandingan, Bayu menghampiriku dan memberikanku seikat bunga dan memberikan selamat. Bryan pun juga datang menghampiriku,”Selamat ya … kali ini aku kalah lagi.” Ucapnya membuatku tersenyum.
“Makanya belajar yang bener, jangan pacaran mulu ….” Kataku membuat Bryan salah tingkah.
Bayu yang melihatku begitu akrab dengan Bryan seperti tidak ingin aku dekat dengannya. Teman-temanku yang mengagumi Bryan pun mencoba mendekati Bryan, mereka menganggap Bryan sangat keren katanya.
Bryan kemudian menggandeng tanganku dan mengajakku pulang bersamanya. Mungkin inilah caranya memperlihatkan pada orang-orang kalau aku adalah miliknya. Bayu yang mengetahui itu begitu kaget, Farah pun juga kaget kalau pacarku ternyata Rivalku sendiri. Tapi Farah sangat senang, kami terlihat cocok katanya.
“Berani sekali kamu menggandengku di depan teman-temanku?” kataku padanya saat akan menaiki motornya.
“Apa aku harus diem aja kalau pacarku berusaha diambil cowok lain?” katanya dan membuatku tersenyum bangga karena dia begitu keren.
“Hari minggu ada bazar di sekolahku, mau datang?” tanyaku.
“Asalkan sama kamu, aku bakal datang.” Katanya lalu menancapkan gasnya untuk mengantarkanku pulang.
“Gombal ….” Kataku sambil menepuk punggungnya.
Hari Minggu itu tiba, acara bazar di sekolah pun dimulai pukul 7 pagi. Aku bersama teman-temanku sudah bersiap di stand kelas kami yang menjual sembako murah. Saat menjaga stand dan menikmati musik akustik yang dimainkan teman kami di atas panggung, Bayu datang menghampiriku.Dia mengajakku untuk ngobrol berdua.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanyanya dan aku menganggukkan kepala.
“Apa kamu punya hubungan spesial dengan Bryan anak SMA Harapan?” tanyanya.
Aku mengangguk, dan dia terlihat kaget lalu dia membalikkan badan memunggungiku. Aku jadi bingung sendiri harus bagaimana.
“Maaf Bay … waktu itu kamu nyatain perasaan kamu, aku udah mau jawab kalau aku udah pacaran sama orang lain, tapi kamu keburu pergi, dan waktu di depan ruang OSIS aku juga mau bilang tapi kamu buru-buru mau rapat.” Jawabku.
Bayu pun akhirnya membalikkan badan lagi menghadapku, dia mengangguk berusaha menerima semuanya.”Tapi, masih bolehkah aku berteman denganmu?” tanyanya.
Aku tersenyum dan mengangguk. Kemudian terdengar suara memanggilku, dan ternyata adalah Bryan. Dia berjalan menghampiriku and Bayu. Lalu aku mengenalkannya pada Bayu kalau Bryan adalah pacarku. Bayu pun pasti dengan setengah hati menerimanya, aku tahu itu. Tapi, inilah kenyataannya.
Bryan menemaniku di acara bazar kali ini, Farah begitu senang bertemu dengan Bryan. Dan semua orang sekarang tahu kalau Bryan adalah pacarku sekaligus Rivalku.