Malam semakin larut tak terdengar lagi suara bising knalpot motor yang lalu lalang, hanya beberapa deru motor sesekali terdengar lewat. aku mencoba memejamkan mataku tapi sepertinya kantuk belum mau bersahabat denganku. Walaupun aku sudah siap dengan posisi rebahanku.
Dreeettt
"Apa kabar Bunda hari ini?" tanya ku pada si penelepon yang tak lain Bunda.
"Bunda baik Ryu, Oh ya bunda cuma mau mengingatkan kamu jadi pulang kan minggu depan." tanya Bunda.
"Maaf Bunda Ryu lupa, Pasti jadi apalagi udah Bunda ingatkan." jawabku sambil cengengesan.
"Kamu ini gak pernah berubah pikun nya persis seperti Ayah saja."
Deg
Tiba-tiba dadaku berdegup saat Bunda menyebut ayah
"Makasih ya Bunda, udah Bunda Ingatkan. Bunda istirahat ya, udah malam. Nggak baik buat kesehatan Bunda." kataku mengakhiri pembicaraan dengan Bunda.
Sebetulnya aku masih kangen berbicara panjang lebar atau hanya sekedar bercerita sama Bunda, tapi entah kenapa dadaku terasa tak nyaman saat kata ayah terucap dari mulut Bunda.
Aku bangun dari tiduran ku, sejenak aku duduk di pinggir tepi ranjang. Mataku mulai berkeliling ruang kos yang hanya berukuran 4X5. Manik mataku jatuh pada salah satu foto yang ku tempel di salah satu sisi tembok kamarku.
Kaki ku goyang ke kanan kiri dengan terampil mencari pasangan alas kaki yang berserakan tak beraturan dilantai keramik warna putih polos. Begitu selop coklat tersentuh ujung jari-jari kakiku, dengan lincah dan girang jari-jari itu menelusup masuk dengan nyaman dan tanpa panduan manik mataku, begitu juga sebaliknya dengan kaki sebelahku.
Tanpa kode badan ku beranjak turun dari ranjang berjalan mendekati dinding warna putih di mana foto keluarga ku yang terlihat tua seperti warna senja terkesan antik dan unik.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Untuk beberapa saat netral ku memandang foto di dinding lekat-lekat, tangan kekar ku meraih foto usang itu yang terlihat begitu indah dengan bingkai sederhana. Foto membuat ku selalu ingin memandang, mengusap bahkan ku peluk di dada hingga kantuk membawa ku terlelap tanpa melepaskan.
"Apa kabar Ayah?" gumam ku memandang wajah ganteng berkarakter milik Ayah.
Telapak tangan dan jari-jariku menari dengan sapuan lembut menyapu debu tipis yang menempel.
"Ayah," bisik ku pelan tapi bagai martil raksasa yang menghantam isi dadaku.
Entah mengapa setiap mengingat Ayah, hatiku merasakan sakit yang teramat sakit. Ku pejamkan mata ku, kubawa tubuh lelah ku karena aktivitas yang memburu duduk bersandar di dinding ranjang.
Aku lahir dari keluarga multi agama. Bunda seorang muslim sementara ayah Nasrani begitu juga dengan saudaraku mereka ada yang memeluk Islam dan juga mengikuti ayah menjadi seorang Nasrani.
Sementara aku?
Ku pejamkan mata, kenangan masa lalu menari di pikiranku menarik ku kembali mengingat sosok yang selalu special mengisi lembaran hidup ku sampai maut merenggut akan selalu ada.
"Ayah, maafkan Ryu," gumam ku menatap wajah ayah dengan kharisma yang tak luntur walaupun foto di tanganku sudah terlihat mulai memudar.
Ayah seorang Nasrani yang taat dia ingin anak lelaki di keluarga kami mengikuti beliau, tapi sosok bunda yang muslim secara tidak langsung mendidik kami untuk terbiasa dengan kebiasaan Islam.
Aku salah satu anak ayah yang sering mendebat beliau, hal ini bukan karena kenakalan ku tapi keinginantahuanku pada putusan ayah membuat ku berani berdebat, aku juga anak yang berani
menentang keinginan beliau.
Salah satu yang kuingat keberanian ku terhadap ayah adalah saat ayah jengkel dan marah kepada ku karena aku menolak minum obat hingga ayah mengambil tang untuk membuka mulut ku.
Terdengar ngeri mungkin jika mengingat kejadian saat itu. Dulu aku menganggap ayah tega dan jahat tapi kalau kini ku ingat kembali betapa sayangnya ayah terhadap ku, beliau tak ingin aku sakit atau terjadi hal yang buruk pada ku akibat sakit yang aku alami.
"Ayah, coba seandainya aku tahu maksud ayah saat itu pasti ayah tak perlu menakuti ku dengan tang itu." gumam ku tersenyum mengingat kejadian waktu itu.
"Aaahhh." aku menghela napas panjang.
Entah bagaimana kenangan ku bersama Ayah seperti klise yang berputar bergantian.
Pernah suatu ketika aku meminta barang yang aku inginkan
"Ayah, Ryu minta motor," kataku suatu hari pada ayah.
Aku sebenarnya tahu keluarga ku bukanlah keluarga mampu. Ayah yang seorang pedagang toko obat dan bunda pedagang sembako dengan tanggung jawab merawat 4 orang buah hati pasti bukanlah hal yang mudah dan ringan baik secara ekonomi ataupun waktu dan juga tenaga.
Tapi sepertinya waktu aku meminta dibelikan motor pertama kali, aku tidak mikir sampai ke sana dan dengan segala usaha, ayah mengumpulkan uang tabungan yang ayah punya untuk membelikan aku sebuah motor.
"Egois!" makiku dalam hati pada diri sendiri.
Konflik terbesar antara ayah dan aku adalah saat ayah marah besar karena aku tidak mau beribadah di gereja. Ayah ingin aku punya keyakinan yang pasti.
Entah mengapa sampai sekarang saat usia ku sudah dewasa berkepala 2 aku belum benar-benar menemukan mana yang harus ku ambil sebagai fondasi imanku. Aku tidak ke gereja dan juga ke masjid.
Pernikahan multi agama orang tua ku membuat ku belum bisa menetapkan mana kenyakinan yang harus pilih. Ayah banyak mengajarkan bagaimana aku harus berjuang untuk mencapai tujuan hidup ku sekeras apapun rintangan yang menghadang.
Sikap disiplin yang ayah terapkan pada ku dan ketiga saudara ku, benar-benar berguna saat kami dewasa. Kini tanpa Ayah kami bisa jadi orang yang kuat menghadapi kerasnya hidup.
Malam makin larut samar-samar aku mendengar suara jangkrik lama kelamaan tak ku dengar lagi, kini suara berganti dengan alunan merdu suara Tomy j pisha lewat tembang lawas kesukaan ayah yang yang berjudul disini dibatas kota ini.
mendengar alunan musik syahdu dengan suara merdu membuatku terbuai ke alam mimpiku.
***
Akhirnya waktu yang kutunggu datang juga seperti janjiku pada bunda bawa akhir pekan ini aku habis kan waktu bersama bunda di kampung halaman ku. Setelah menempuh perjalanan 1 jam dengan pesawat aku tiba di kampung halaman ku, dan dengan jasa tukang ojek dari bandara aku menuju rumah tapi entah kenapa aku menyuruh Abang ojek untuk belok ke tempat makam ayah.
"Ryu pulang Ayah,"bisikku saat memasuki gerbang pemakaman tempat di mana Ayah beristirahat.
kulangkahkan kakiku diantara barisan batu nisan aku berjalan untuk menuju dimana tempat ayah di makamkan, kakiku berhenti tepat di sebuah makam dengan tanda salib.
"Ayah Ryu datang, liat apa yang Ryu bawa." ucapku sambil mengangkat paper bag berisi sebuah sepatu pria warna hitam dengan ukuran kaki ayah.
Aku duduk berjongkok tepat di samping makam ayah, untuk beberapa saat aku terdiam. Ada sesak dan sakit yang menyusup relung hati ku, ku usap pusara ayah sambil tertunduk diam.
Hatiku bergemuruh ingin meledak menahan rindu pada Ayah, tak terasa mataku menetes. Yah air mata kerinduan akan Ayah.
"Ryu kangen banget Ayah." ucapku sambil menghapus air mata yang meluncur begitu saja.
Aku bicara sendiri di depan makam ayah, mungkin jika ada orang melihat akan memandang aneh padaku yang ngobrol dengan sebuah batu nisan.
"Ryu kapan datang?" suara yang sangat aku kenal.
Suara milik Om Rudi, beliau adalah sahabat ayah dari masa kecil sampai Ayah meninggal.
"Om, apa kabar? Dari kapan disini kok tadi pas Ryu datang nggak ngelihat Om." ucapku berdiri dan menyambut Om Rudi sambil menyalami nya.
"Baru saja Ryu, Ayah mu memang tidak pernah salah menilai dirimu Ryu." ucap Om Rudi membuatku mengerutkan dahi.
"Maksud Om?" tanyaku tak paham dengan apa yang Om Rudi bicarakan.
"Kata ayahmu kamu adalah putra kebanggaannya dan ayahmu sangat kagum pada dirimu. Jika melihat kamu sekarang, kamu memang putranya yang pantas untuk dibanggakan. Begitu datang belum sampai rumah tapi kamu langsung ke sini. Pasti Begitu berharga ayahmu di matamu dan juga pasti begitu besar rasa rindumu kepada ayahmu." ucap Om Rudi.
"Benarkah Ayah bicara seperti itu Om" tanyaku dengan mata berbinar.
"Iya Ryu, tetaplah jadi anak kebanggaan Ayah mu. walaupun kini dia tidak ada disampingmu," pesan Om Rudi kepadaku sambil menepuk lembut pundakku.
"Ayo kita pulang Ryu,"ajak Om Rudi.
kami berdua lalu pulang meninggalkan area pemakaman sebelum keluar dari gerbang aku masih sempat menoleh ke arah makam ayah
"I love you so much Ayah," satu kalimat yang ku ucap.