Jeffrey Kusuma atau yang biasa dipanggil Papa Jeff adalah seorang laki-laki dengan 3 anak dan 1 istri. Terlahir sebagai putra sulung keluarga Kusuma yang otomatis membuatnya menjadi pewaris tahta Kusuma Jaya Grup.
Dulu Kusuma Jaya Grup belum sebesar sekarang. Perusahaan jasa yang didirikan ayahnya itu hanyalah sebuah apotek pada awalnya. 10 tahun pertama Kusuma Medica mengalami kemajuan pesat hingga mendapatkan tawaran menjadi salah satu investor dalam pembangunan lab kesehatan. Kusuma Medica akhirnya banting stir. Bukan hanya distributor obat tapi juga mulai berkembang menjadi badan usaha.
15 tahun kemudian, Kusuma Medica berubah nama menjadi CV. Kusuma Jaya. Selain sebagai distributor obat serta alat kesehatan dan investor lab kesehatan juga.
Sejak kecil Jeff sudah memiliki kehidupan yang berbeda. Di saat teman-temannya kebanyakan hanya bersekolah hingga tamat SD atau SMP, Jeff bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Jeff sebenarnya bukanlah anak nakal. Justru banyak yang bilang jika Jeff adalah otak IPA yang nyasar ke IPS saking pintarnya dia.
Jeff juga sering diikutkan kompetisi debat dan olimpiade. Tapi satu yang paling dia suka adalah debat yang membahas tentang sosial politik. Jeff suka memperhatikan kondisi sosial dan ssmpat berkeinginan untuk menjadi seorang sosiolog atau apapun yang berhubungan dengan banyak orang. Tapi dia tidak memiliki daya. Jelas dia harus mengubur dalam-dalam mimpinya itu demi menjadi anak berbakti untuk orang tuanya.
Jeff itu hanya memiliki seorang adik perempuan, Hera namanya. Makanya Ayahnya sudah mempersiapkan Jeff sejak jauh hari hanya untuk meneruskan usahanya. Jeff sudah menyerah. Dia memilih untuk mengiyakan semua permintaan ayahnya. Jeff dengan segala pemberontakannya selama kuliah dia akhirnya membalaskan dendam. Jeff merasa takdir terlalu sadis memperlakukannya. Kenapa dia bisa berpikir demikian tidak lain karena sebulan setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru adik bungsunya lahir. Bayi laki-laki itu dinamakan Haryanto Kusuma.
Jeff pernah sekali lagi bernegosiasi dengan kedua orang tuanya tentang bagaimana dia benar-benar menginginkan mimpinya itu bisa menjadi nyata. Sayang ayah berkata adiknya masih terlalu kecil sedangkan ayah sudah mulai tua, ayah takut tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu si bungsu tumbuh besar dan bisa mengajarinya semua hal tentang Kusuma Grup. Jadi sekali lagi Jeff kalah dalam negosiasi itu.
Saking dendamnya dengan sang ayah yang dia rasa terlalu dikte menenyukan hidupnya, Jeff akhirnya lebih memilih untuk sibuk dlaam organisasi dan melupakan kuliahnya. Ketika teman-teman seangkatannya sudah habis diwisuda, hanya tinggal Jeff seorang diri tinggal di kampus dan berjuang menyelesaikan skripsinya. 2 tahun lamanya dia mengerjakan skripsi bahkan tanpa semangat sama sekali.
"Jeff kamu mau sampai kapan begini terus huh?! Bikin malu saja."
Kalimat ayah membuatnya murka. Jeff memilih untuk pergi menemui teman-temannya untuk nongkrong di salah satu angkringan langganan dekat kampus. Sambil menggalau dan genjrengan Jeff dan 2 orang temannya hampir semalaman berada di sana.
Jeff ingat betul bahkan sampai sekarang bahwa malam itu adalah malam yang merubah drastis pandangannya terhadap dunia. Sekitar pukul 1 dini hari, ada dua orang gadis berjalan mendekati angkringan dimana Jeff masih asik bercanda bersama temannya. Dua gadis itu satu berkerudung dan yang satu tidak.
Ada dua orang gadis cantik, malam-malam begini datang ke angkringan jelas dong Jeff tidak melepaskan kesempatan itu begitu saja. Digodalah dua orang gadis itu dengan lagu dan petikan gitarnya yang tiba-tiba berubah jadi romantis.
"Malam-malam gini keluar nggak takut neng?" tanya teman Jeff.
"Memangnya salah kalau anak gadis keluar malam? Lagian saya keluar cuma untuk beli nasi kucing sama susu jahe bukan untuk macam-macam," jawab yang tidak berkerudung.
Diluar dugaan. Jeff pikir gadis itu akan seperti gadis kebanyakan yang sering dia kencani. Ternyata dia berbeda. Dia seperti tidak ada takutnya pada Jeff dan teman-temannya yang mungkin dianggap sebagai preman karena dandanan mereka.
"Berani benar. Mbak namamu siapa?" tanya Jeff tanpa pikir panjang.
"Tiwi. Kenapa? Mau nyelakain saya? Silahkan, saya tidak takut. Saya masih punya Tuhan yang melindungi saya," katanya.
"Saya juga tidak punya niat mencelakai kok. Buat apa, tidak ada untungnya. Mbak juga uangnya pas-pasan kan? Rugi saya merampok mbak berdua," jawab Jeff kali ini dengan nada yang cuek.
"Ehh lemes banget mulutmu itu. Dasar kurang ajar."
Jeff akhirnya hanya diam dan kembali fokus dengan es tehnya. Sudah tidak ada niat lagi untuknya menggoda gadis itu. Padahal tadi dia sempat terpukau ketika gadis tidak berkerudung itu memberanikan diri menjawab hanya agar temannya yang ketakutan di belakangnya tidak semakin takut.
Beberapa bulan kemudian Jeff akhirnya diwisuda dan langsung ditarik untuk membantu pekerjaan ayahnya di Kusuma Jaya. Jeff semakin nakal saja mengencani sembarang gadis dan terus gonta ganti pacar. Bermodal wajah tampan dan uang banyak dengan mudah dia bisa menggaet banyak gadis entah baik atau tidak. Jeff tidak peduli, dia hanya ingin melepaskan dendamnya terhadap keluarga.
Perbedaannya hanya sekarang ada Tiwi yang menjadi tuas pengaman. Gadis itu tidak segan-segan memarahi Jeff jika sudah mulai terlewat batas. Jeff pernah berkata padanya untuk jangan pernah melepaskan tangannya apapun yang terjadi tapi ya begitulah. Gadis bernama Tiwi ini harus puas hanya dengan menjadi "sahabat" saja.
3 tahun kemudian, Ayah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Jeff kembali terjatuh. Dia merasa bersalah pada ayahnya dan merasa jika dia terlalu termakan egonya sendiri hingga lupa jika sosok hebat itu begitu mencintainya.
Jeff yang terpuruk dalam jurang kehancuran hampir saja menjadi hancur dalam artian sesungguhnya karena dia dibohongi oleh seorang gadis jalang. Gadis itu memberinya obat tidur dan menjebaknya seolah-olah Jeff hendak memperkosanya. Gadis itu membawanya kepada Jeff dan meminta uang tutup mulut dan menandatangani surat alih kepemilikan Kusuma Jaya.
Jika bukan karena Tiwi yang diam-diam melihat dan merekam apa yang sebenarnya direncanakan oleh gadis itu Jeff mungkin sudah tidak memiliki apapun sekarang.
"Wi jangan pergi," kata Jeff.
"Cukup Jeff aku capek selalu menyelesaikan perkaramu yang konyol itu."
"Maaf aku selalu bikin kamu kesulitan tapi aku butuh kamu Tiwi. Kalau nggak ada kamu aku nggak akan bisa hidup," kata Jeff.
"Jeff jawab pertanyaanku ini dengan jujur. Sebenarnya kamu anggap aku apa?"
"Kamu segalanya. Setelah semua yang aku lakukan, setelah semua dosa yang aku perbuat di masa lalu cuma kamu yang bisa mencegah aku untuk melakukan dosa yang lebih besar lagi. Cuma kamu yang bisa bawa aku buat nebus semua kesalahan yang pernah kulakukan."
"Wahh manis banget ya, pantes cewek-cewek itu pada mau sama kamu. Gombalanmu manis banget Jeff, tapi maaf aku kebal sama yang begituan. Aku nggak akan mengubah keputusanku. Aku pergi," kata Tiwi berusaha menahan air matanya. Jujur Tiwi menyukai Jeff. Walaupun laki-laki brengsek ini sudah berkali-kali menjatuhkan dirinya dan membuat hidupnya tidak nyaman tapi dia menyayanginya. Dia mencintainya dan tidak ingin melepaskannya.
"Kalau gitu kita nikah saja. Aku buktikan kalau aku bukan cuma sekedar gombal. Aku beneran butuh kamu Wi," kata Jeff lagi.
"Jeff kamu gila ya?"
"Emang. Aku gila. Aku gila karena aku sudah memilih kamu yang bahkan lebih galak daripada dosen pembimbingku semasa kuliah."
"Jeff...,"
"Ayo nikah Wi. Besok aku akan dateng ke rumahmu buat melamar kamu. Boleh kan?" Jeff mulai bicara dengan senyum dan mata yang berbinar karena Tiwi sudah menurunkan nada bicaranya.
"Wong edan. Heh kalo mau mengumpamakan tuh mbok ya yang agak bagus dikit. Aku kamu samain smaa dosbimmu itu. Nyebelin banget jadi orang. Musnah aja sana," Tiwi mulai memprotes Jeff dengan memukuli lengan dan punggungnya sebagai bentuk pertahannya agar butiran air matanya tidak jatuh begitu saja.
"Hoy udah Wi. Tiwi udah. Mak lampir jangan mukulin bisa nggak sih iso matek tenan aku. Woy."
Pada akhirnya Tiwi menerima lamaran Jeff dan mereka mulai menata hidup sebagai pasangan suami istri. Jeff pindah dari rumah orang tuanya dan membangun satu rumah kecil dekat dengan tempat Tiwi bekerja. Tiwi adalah seorang dokter umum yang sedang mengikuti PPDS di sebuah universitas di kota itu.
Tiwi berhasil lulus dan dinyatakan sebagai dokter spesialis 7 tahun setelah pernikahan mereka. Di acara wisuda Tiwi, Jeff datang bersama si kembar Jovan-Jevan dan si kecil Junius. Alih-alih membawa bucket bunga atau bingkisan seperti yang lainnya, Jeff memberikan sebuah map pada Tiwi sebagai kado wisudanya. Map itu berisi akta pendirian rumah sakit yang diatasnamakan Tiwi dan akan menjadi tempat di mana Tiwi bekerja nanti.
"Ya Tuhan aku punya dosa apa sih bisa punya suami edan kaya gini. Mas kalau mau kasih hadiah mbok ya sing agak manusiawi gitu lho bunga kek cincin kek atau makan malam mewah wis. Nggak malah kaya gini. Gendheng. Nekat banget sih heran."
"Yap. Ibu negara dengan segala cerewetnya. Terima nggak? Kalau nggak siniin," kata Jeff mencoba mengambil lagi map itu dari tangan Tiwi.
"Eits, maaf. Yang sudah dikasih nggak bisa ditarik lagi. Hehe makasih ya Papanya Triple J. Kamu yang terbaik," kata Tiwi.
"Nah kan sudah kuduga. Istriku juga sama anehnya."
"Berdoa saja, triple J kita nggak gila kaya Mama Papanya ya," kata Tiwi sambil menggoda Junius yang mulai tertawa dalam gendongannya.
"Mama..., selamat yaa. Kita nggak bawa hadiah tapi kita nemu ulat nih cantik banget kaya Mama," kata Jovan dan Jevan yang sedang menggenggam seekor ulat bulu.
"Astaghfirullah Jovan-Jevan, buang nak nanti tanganmu gatel....!!!" panik Tiwi tanpa sengaja berteriak membuat Junius di gendongannya menangis karena kaget. Begitupun Jeff yang langsung membuang ulat itu dari tangan kedua anak kembarnya yang akhirnya ikut menangis juga.