Ini kehidupan gue, seru, ramai and always happy tentunya. Dan gue selalu dapetin apa yang gue mau, salah satunya adalah Glen, pacar gue. Hahaha! Gue tau, gue tau, semua orang pasti menginginkan kehidupan seperti ini bukan?+
Menurut sahabat-sahabat gue, gue itu adalah satu-satunya perempuan paling beruntung karena bisa dapetin Glen. Kenapa? Karena selain Glen itu ganteng dan tajir, dia itu baik, lembut, bertanggung jawab dan romantis.
Gue akui semua itu benar. Hampir semua orang merasa iri dengan keromantisan gue dan Glen. Nggak heran sih kalau kita dijuluki pasangan paling romantis oleh orang-orang.
Terlebih lagi, perlakuan Glen yang terkadang memancing kaum hawa untuk berhalusinasi memiliki pasangan seperti Glen.
Sayangnya, mereka semua cuma tahu gue bukan benar-benar mengenal gue. So, apa yang mereka lihat hanya sebagian bukan keseluruhan.
Ibarat kata nih ya, mereka hanya melihat gue dari luarnya aja, cuma kulitnya doang yang mereka lihat dan mereka nggak tahu buah itu seperti apa di dalamnya. Bagus seperti kulitnya? Atau malah busuk? Hahaha! Sebagian besar orang memang seperti itu.
Tapi itu ngebuat gue bersyukur, kenapa? Karena gue nggak mau, kehidupan gue yang sebenarnya diketahui banyak orang.
Terlalu menyedihkan!
"ZAHRA!" Teriak Lia yang tak dihiraukan Zahra.
"ZAHRA! WOY ZAHRA! Ish! Budek banget sih tuh anak" geram Lia yang tak kunjung direspon Zahra.
"Ya lagian lo bego! Udah tau tempatnya berisik, jelaslah dia gak bakal denger. Gimana sih lo" ujar Niken merutuki kebodohan Lia-sahabatnya.
"Udah, udah, biar gue aja yang nyamperin dia" Glen bangkit dari duduknya.
Berjalan, mendekati Zahra yang tengah berjoget riang dengan yang lainnya.
"Sayang" Glen berbisik dengan lembut.
Kepala Zahra bergerak mengikuti sumber suara. Dilihatnya seorang Glen yang sedang berdiri di sampingnya.
"Glen, ada apa?" Tanya Zahra tak kalah lembut.
"Dari tadi hp kamu getar terus, kayaknya itu dari Ayah kamu deh, angkat dulu gih" ucap Glen yang hanya dijawab anggukan kecil oleh Zahra.
Zahra berjalan menuju mejanya, di sana sudah ada Lia dan sahabat-sahabatnya yang sedang duduk sambil minum-minum.
Zahra mengambil ponselnya, menempelkannya di daun telinganya.
"ZAHRA! PULANG SEKARANG! ATAU AYAH SENDIRI YANG AKAN MENYERET KAMU DARI TEMPAT SIALAN ITU!" Teriak Ayahnya dari seberang telepon.
Zahra menjauhkan hpnya dari telinganya, teriakan Ayahnya hampir membuat gendang telinganya pecah.
"Iya Yah, Zahra pulang sekarang. Ayah nggak perlu dateng ke sini" ucap Zahra selembut mungkin.
"Cepat Zahra! Jangan coba-coba untuk membohongi Ayah!"
"Iya Ayah, Zahra pulang sekarang. Daahh"
Setelahnya Zahra langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Ia kembali menghampiri sahabat-sahabatnya.
"Siapa? Bokap lo Ra?" Tanya Lia sembari menyesap Vape yang dipegangnya.
Zahra mengangguk "Iya, Bokap nyuruh gue cepet-cepet pulang nih, sorry banget ya guys, gue harus balik duluan" kata Zahra sambil meraih tasnya.
"It's okay Ra, Sorry nih kita nggak bisa nganterin lo balik. Bokap lo serem kalo udah marah" ujar Niken apa adanya.
Zahra hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Niken.
"Sayang, kamu anterin aku pulang ya" pinta Zahra pada Glen.
Glen mematikan rokoknya yang sudah setengah. Meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja "Gue anterin pacar gue dulu ya, kalian jangan kemana-mana. Nanti gue balik lagi. Oke"
Yang lain hanya memberi isyarat mengiyakan ucapan Glen.
"Ayo sayang!" Seru Glen sembari merangkul kekasihnya.
Selama perjalanan pulang, Zahra hanya diam. Sebenarnya Zahra sangat takut pada Ayahnya, ia takut kalau-kalau Ayahnya akan memarahinya dan juga Glen.
Glen yang menyadari perubahan kekasihnya itu langsung meraih tangan Zahra, menggenggamnya lembut.
Zahra seakan mendapatkan ketenangan setelah Glen menggenggam tangannya.
"Tenang ya, nanti biar aku yang ngomong sama Ayah kamu" ujar Glen dengan pandangan lurus ke depan.
Zahra tersenyum tipis "Iya"
Tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Sampai mobil mereka berhenti di salah satu rumah bergaya minimalis.
Sempat saat Glen ingin turun dari mobilnya, Zahra mencekal pergelangan tangan Glen. Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Glen tersenyum ke arah Zahra, meraih tangannya bermaksud melepaskan cekalan tangan Zahra.
"Nggak perlu takut ya, ada aku" ucap Glen lalu turun membukakan pintu mobil untuk Zahra.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Wajah Zahra yang pucat pasi karena takut akan kemarahan Ayahnya itu tertangkap jelas oleh kedua mata Glen.
Kini mereka sudah berdiri di depan pintu, saat tangan Glen ingin mengetuk pintu, pintu sudah lebih dulu terbuka.
Arman yang mendapati anaknya di sentuh oleh laki-laki lain langsung menarik Zahra paksa.
"Berani sekali kamu menyentuh putri saya!" Bentaknya tepat di hadapan Glen.
Bukannya sapaan yang didapat malah amarah yang didapatkan oleh Glen. Awalnya Glen sudah bisa menduga akan berakhir seperti ini. Tapi, dia adalah laki-laki dan jelas, dia tidak akan membiarkan kekasihnya pulang sendirian malam-malam.
Glen mengulurkan tangannya, bermaksud mengenalkan dirinya "Saya-"
"Tidak perlu! Saya tidak ingin tahu siapa kamu!" Ujarnya sebelum Glen meyelesaikan ucapannya.
"Yah! Ayah nggak boleh bersikap seperti itu sama Glen. Dia itu pacar Zahra Yah" tutur Zahra memberanikan diri.
Arman menatap tajam ke arah putri semata wayangnya itu.
"Pacar, kamu bilang? Yang seperti ini kamu jadikan pacar? Mau jadi apa masa depan kamu Zahra? Laki-laki seperti dia hanya akan merusak masa depan kamu!" Jelasnya menatap Zahra dan Glen bergantian.
"Yah! Glen bukan laki-laki seperti itu. Glen itu laki-laki baik"
"Zahra, dengarkan Ayah. Laki-laki baik tidak akan membiarkan wanitanya pulang selarut ini, terlebih lagi membawanya ke tempat HARAM! Itu yang kamu maksud baik? Hah?!"
Ucapan Arman membuat hati Glen tertohok, begitupun dengan Zahra yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Ayah-"
"Maaf Om, saya tahu saya salah. Saya minta maaf, seharusnya saya-"
"Seharusnya kamu tidak usah berhubungan lagi dengan putri saya! Pergi kamu! Dan jangan coba-coba untuk menemui putri saya lagi. Terlebih lagi, kalau sampai kamu berani menginjakkan kaki ke rumah ini, saya tidak akan segan terhadap kamu" tegasnya, menatap Glen tajam.
Glen menatap Zahra yang sudah menangis, seulas senyum yang dipaksakannya membuat hati Zahra semakin sakit melihatnya.
"Ngapain kamu masih berdiri di sini? Cepat pergi! Atau perlu satpam saya yang akan menarik kamu keluar?" Sentak Arman penuh emosi.
"Tidak perlu Om, saya akan pergi sekarang juga. Sekali lagi saya minta maaf. Zahra, Om, saya permisi"
Glen membalikkan badannya, berjalan pergi meninggalkan Zahra yang berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Ayahnya sendiri.
"Lepasin Zahra Yah! Zahra mohon" pinta Zahra memohon.
"Tidak! Ayah tidak akan membiarkan kamu mengejar laki-laki seperti dia"
"Ayah nggak ngerti. Ayah belum tahu siapa Glen, Glen itu baik Yah, dia gak seperti apa yang Ayah tuduhkan"
"Kamu itu sudah dibutakan oleh cinta Zahra. Sekarang cepat masuk!"
Arman menarik putrinya masuk ke dalam rumahnya.
Dilihatnya punggung Glen yang sudah berjalan menjauh darinya.
"Ayo Zahra! Masih banyak laki-laki yang baik daripada bocah berandalan itu"+
Sekuat apapun Zahra berontak, pada dasarnya dia hanyalah seorang wanita dan seorang anak yang mau tidak mau, suka tidak suka harus menuruti perkataan orang tuanya.
Arman melepaskan tangan Zahra. Sesampainya di dalam rumah.
"AYAH JAHAT! AYAH NGGAK PERNAH NGERTIIN ZAHRA! ZAHRA KECEWA PUNYA AYAH SEPERTI AYAH!" Teriak nya di depan Arman.
Sakit. Anak yang selama ini ia rawat dari kecil tega berkata seperti itu di hadapannya. Seandainya saja semua anak di dunia ini tahu apa maksud sikap keras orang tua terhadap anaknya pasti anak-anak itu akan berterima kasih. Sayangnya, tidak semua anak paham apa maksud sikap orang tua kepada mereka.
Zahra lari menaiki anak tangga yang membawanya ke dalam kamarnya. Menutup pintunya kuat-kuat hingga menimbulkan dentuman.
Zahra membanting tubuhnya ke atas tempat tidur berukuran queen size miliknya. Menangis tersedu-sedu, mengingat perkataan kasar Ayahnya terhadap Glen.
Pasti setelah kejadian itu Glen enggan bertemu lagi dengannya, atau bahkan Glen akan benar-benar memutuskan dirinya.
Zahra tahu, pasti hati Glen sangat sakit dan kecewa dengan perkataan Ayahnya.
Beberapa kali Zahra mencoba menghubungi Glen, namun laki-laki itu tak kunjung mengangkat panggilan dari Zahra.
Sampai pada akhirnya, Zahra memutuskan untuk mengirimi Glen pesan singkat tentang permintaan maaf atas perlakuan Ayahnya.
Setelahnya, Zahra menaruh hpnya, matanya beralih menatap bingkai foto yang memperlihatkan seorang wanita mengenakan hijab merah muda dan seorang anak berumur sekitar 17 tahun yang duduk di sampingnya.
Zahra mengubah posisinya menjadi duduk. Mengambil foto itu, mengusapnya lembut.
"Bunda ... Seandainya saja bunda masih ada, mungkin Ayah nggak akan bersikap sekasar itu sama Glen. Zahra kangen Bunda ... Hiks!"
Butiran demi butiran air mata membasahi bingkai foto miliknya.
Zahra membawa foto itu ke dalam pelukannya. Menangis tersedu-sedu sembari mengeratkan bingkai foto yang dipegangnya.
Sudah hampir beberapa bulan Glen menghilang seperti ditelan bumi. Semenjak kejadian malam itu Glen benar-benar tidak menghubunginya lagi.
Karenanya, Zahra menjadi pribadi yang suka melamun di kelasnya. Bahkan dirinya juga tidak mengerti kenapa teman-temannya mejauhinya tanpa alasan.
Zahra semakin malas kuliah. Dan lebih banyak berdiam diri di rumah. Ayahnya yang khawatir melihat keadaan putrinya itu, mengajak Zahra pergi berlibur di salah satu rumah yang ia miliki di pedesaan.
"Tempat ini sama sekali belum ada yang berubah ya, sejak kamu berusia tujuh tahun" ucap sang ayah sembari meletakkan barang bawaanya.
Zahra diam. Ia memilih keluar melihat keadaan sekitar. Menuju danau yang selalu menjadi tempat favoritenya. Dulu, Zahra memang suka berlama-lama di sini hanya untuk melihat matahari terbenam.
Kalian pasti tahu kan, bagaimana rasanya ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya. Menyakitkan. Ingin marah juga tidak bisa. Hanya bisa diam dan termenung. Miris bukan?
"Sebentar lagi hari mulai gelap. kalau kamu tidak cepat-cepat pulang bisa tersesat" ucap seseorang yang berdiri di belakang Zahra.
"Siapa?" Tanya Zahra tanpa menoleh.
"Seseorang yang akan mengantarkan kamu pulang" katanya dengan tegas.
"Gue gamau pulang. Lo pulang aja sendiri"
"Bukan gue, tapi saya. Bukan lo, tapi kamu"
Zahra diam.
"Kalau Saya duduk di samping kamu, apa boleh?"
"Terserah"
"Saya anggap itu iya" pemuda itu menghampiri Zahra yang bahkan tak bergerak sedikit pun.
Sesaat Zahra melirik pemuda yang duduk di sampingnya. Pemuda itu tampak mengenakan sarung, dan membawa sesuatu di tangannya.
"Abis ngaji?" Tanya Zahra pada akhirnya.
Pemuda itu tersenyum. "Nggak"
"Terus kenapa pake sarung?"
"Emang pake sarung kudu abis ngaji?"
"Nggak juga, terus ditangan kamu, itu apa?"
"Ooh... Ini buku biasa kok"
"Ooo..."
"Kamu dari kota ya? Baru pindah ke sini?"
"Gue emang dari kota. Tapi, gue udah di sini semenjak umur gue tujuh tahun, terus pindah ke kota." Jelasnya.
Pemuda itu membalasnya dengan anggukan.
"Udara di sini semakin dingin. Kamu bisa sakit kalau kelamaan di sini. Saya akan mengantar kamu pulang kalau diijinkan."
Zahra menggelang. "Gue masih pengen di sini"
"Apa boleh buat. Saya tidak bisa memaksa kamu bukan? Saya cuma mau memberi tahu, ini pedesaan bukan perkotaan, kalau sudah jam segini di sini itu sepi. Ya sudah, saya permisi" pemuda itu bangkit lalu berjalan meninggalkan Zahra.
Zahra tampak celingukan menatap sekitar, dirinya mulai bergidik ngeri. Ia tak mendapati pemuda tadi, pada akhirnya Zahra memutuskan pulang dengan perasaan takut.
"Katanya masih ingin di sini, kenapa pulang?" ucap pemuda itu yang muncul dari balik pohon.
"Lo? Belum pulang?"
"Saya kan sudah bilang. Saya adalah seseorang yang akan mengantarkan kamu pulang"
Zahra berhenti. Menyodorkan tangan kanannya dan mulai memperkenalkan diri.
"Zahra!"
Pemuda itu tak membalas uluran tangan Zahra. Ia hanya membalasnya dengan seulas senyum yang anehnya itu dapat menenangkan hati Zahra.
"Muhammad Al-Ghifari. Kamu bisa memanggil saya Al"
"Oke"
2 Tahun kemudian***
Siapa sangka pertemuan tak sengaja malam itu membawa kedekatan antara Zahra dan Al. Banyak hal yang telah mereka lalui bersama. Zahra yang sudah mulai menaruh hati kepada Al. Tapi, ia tak yakin perasaannya akan terbalaskan.
Bagi Zahra, tidak masalah jika kita kembali percaya karena rasa sakit yang di sebabkan oleh patah hati akan sembuh dengan jatuh hati.
"Jadi, Al, kenapa kamu suka datang ke danau ini?"
"Karena di tempat ini pertama kali kita bertemu"
"Allll! Aku serius!"
"Saya juga serius"
"Apa?"
"Ingin membahagiankanmu"
Blush***
Pipi Zahra merah merona. Ia memegangi pipinya yang kini mulai terasa panas.
"Saya suka tempat ini karena di sini, saya bisa dengan mudah menulis puisi. Mungkin karena suasananya yang tenang"
"Kamu bisa bikin puisi? Boleh aku liat?"
"Boleh. Tapi nggak sekarang"
"Kenapa?"
"Kepo!" Ledek Al yang langsung dihadiahi pukulan oleh Zahra.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Al, kamu nggak papa?"
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Al, kamu baik-baik aja? Pukulan aku terlaku keras ya?"
Al bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan Zahra yang menatapnya dengan cemas.
Ia memegangi pohon yang berdiri kokoh di sampingnya. Napasnya sesak, batuknya pun belum berhenti.
Zahra menghampiri Al yang berdiri membelakanginya.
"Al, kamu kenapa?" Tanya Zahra mulai khawatir.
Al segera menyembunyikan telapak tangannya yang sudah berlumur darah. Tersenyum ke arah Zahra, tak ingin gadis itu mengkhawatirkannya.
"Saya nggak papa kok. Tenaga kamu lumayan juga ya untuk ukuran seorang perempuan, hahaha..."
"Kamu aja yang lebay! Aku pukulnya juga nggak keras kok"
"Pulang yuk!"
Zahra mengangguk.
Al mengantarkan Zahra sampai di depan rumahnya.
"Cepet masuk"
lagi, Zahra menuruti ucapan Al.
"Al, besok, aku tunggu kamu di danau"
"Ah! Ra!" Al tak melanjutkannya, karena Zahra sudah lebih dulu masuk ke dalam.
Keesokan harinya***
"Udah hampir empat jam aku nunggu di sini. Apa mungkin Al nggak dateng? Tapi kenapa? Sejak kapan dia nolak permintaan aku?" Ucap Zahra sambil melempar-lempar batu ke danau.
"Zahra ya?"
"Al! Eh, kamu siapa?"
"Maaf, tapi Al nggak bisa ke sini, dia nyuruh aku buat kasih surat ini sama kamu" pemuda itu menyodorkan surat yang langsung di terima Zahra.
"Terima kasih"
"Kalau begitu saya permisi dulu"
"Iya"
Zahra kembali duduk, membuka surat itu. Tulisan yang bagus dan rapih, itu yang terlintas pertama kali di kepala Zahra.
Zahra mulai membaca surat itu.
'Hai Ra! Maaf, tadinya saya mau bilang kalau tidak bisa datang. Tapi, kamu keburu masuk ke dalam rumah. Ra, saya benar-benar minta maaf, untuk beberapa hari ke depan mungkin saya tidak akan pernah datang ke danau lagi, dikarenakan satu hal. Saya harap kamu jangan sampai larut di situ, nanti siapa yang mengantarkan kamu pulang? Saya tidak yakin kamu berani pulang sendirian hahahaha.... Setelah kamu menerima surat ini langsung pulang ya. Jangan lagi menunggu untuk hal-hal yang tabu.
Ra, satu hal yang harus kamu ingat. Ada atau tanpa saya di samping kamu, jangan lupa untuk selalu hidup dengan bahagia. Karena kebahagiaan kamu adalah yang utama. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Muhammad Al-Ghifari'
Zahra melipat kertas itu. Ada perasaan aneh di dalam dirinya. Surat macam apa yang Al tulis untuknya. Ini seakan-akan adalah surat perpisahan. Atau Al sengaja menyuruh Zahra untuk menjauh?
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. September sudah beranjak pergi. Begitu juga Al yang menghilang dari kehidupan Zahra.
Lagi, Zahra kembali di hantam. Kehadiran Al yang awalnya tak akan pernah meninggalkan dirinya ternyata sama saja seperti cinta pertamanya.
Zahra duduk di danau itu. Menatap iba pada dirinya sendiri yang seperti tak layak mendapatkan cinta seseorang.
"Permisi"
"Kamu? Al mana?"
"Kamu akan tahu ketika kamu membaca surat ini"
Zahra menerimanya dengan segera.
'Teruntuk Zahra, pelangiku.
Jika kamu sudah menerima surat ini, itu artinya saya sudah pergi jauh ke suatu tempat yang tidak bisa kamu capai.
Saya berterima kasih pada September yang sudah mempertemukan kita, dan danau itu menjadi satu-satunya tempat terindah yang saya singgahi.
Zahra, saya menyukai semua yang ada di dalam diri kamu. Saya bahagia di sisa hidup saya bisa bersama dengan kamu. Ingatlah satu hal, bahwa kamu akan selalu memiliki tempat istimewa di hidup saya. Kamulah perempuan pertama dan terakhir yang pernah mampir di hati saya. Atas nama cinta saya ikhlaskan kamu bahagia selain dengan saya. Saya ikhlaskan kamu seutuhnya menjadi milik orang lain.
Zahra. Hanya raga saya yang telah tiada. Tapi tidak dengan jiwa saya yang selalu berada di samping kamu.
Apa kamu masih ingat saat kamu bilang ingin melihat puisi saya? Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk memberikan buku itu pada kamu. Buku yang berisi puisi-puisi tentang makhluk Tuhan paling indah yang pernah tercipta. Yaitu kamu Zahra.
Buka buku itu dari kanan, dan di lembar ke tiga kamu akan menemukan puisi yang saya buat khusus untuk kamu.
Zahra, pada aliran darah menuju kristal, aku mulai sakau menyebut nama mu'
Zahra meremas kertas itu. Cairan bening sudah membasahi wajahnya. Travis-teman Al, hanya bisa menatap gadis itu tanpa bergeming.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Zahra dengan suara paraunya.
"Maaf, tapi Al yang menyuruh aku untuk merahasiakan ini semua dari kamu. Dia nggak mau buat seseorang yang dia sayang mengkhawatirkannya"
"Ini buku milik Al, kamu jaga baik-baik ya buku ini, jangan sampe hilang"
Langsung saja Zahra mengambilnya dan membuka buku itu sesuai permintaan Al.
'Ketahuilah kekasih...
Jangan pernah merasa sendiri
Karena aku akan selalu berada di sisi
Menemani mu hingga nanti
Bahwasanya aku akan selalu hadir
Meski hanya sekedar bayang-bayang dalam sepi
Aku tak akan benar-benar pergi
Dan meninggalkan mu sendiri kekasih...
Maafkan aku kekasih...
Atas semua janji yang tak dapat ku tepati
Tentang mimpi-mimpi tak mampu kita raih
Semua terkubur rapih bersama tubuh terbungkus kain putih.
September 2015'