" Gus ali! Hei tunggu ara napah? Susah jalan nih..."
Ali sedari tadi mendengar kan rengekan dari ara yang kesulitan berjalan karna memakai sepatu high heels. Ali berhenti berjalan membuat ara terjeduk punggung ali dan memegang kening nya sakit.
" Gus kalo berhenti bilang napah! Ouch sakit banget lagi,"
" Kak ara.."
" Iya!!"
" Kak ara di pangil umi tuh! Katanya ada hal penting ngak tau apa?" Ujar melan dengan sumbringah ke arah ara yang masih memegang kening nya sakit.
" Makasih yah. Oh yah di mana Sarah?" Tanya ara pada melan kakak senior adiknya.
" Ngak tau..."
Ara berjalan meninggalkan ali pemuda itu masih marah rupanya yah ara meminta ijin ingin pulang ke rumah nya namun ali tak ijinin ara pulang membuat ara emosi memarahi ali dan lihatlah sekarang ali marah balik hais merepotkan saja batin ara mengembung pipinya.
Prov Ali
Ali baru selesai mengajar anak-anak dia di kagetkan dengan kedatangan lia orang yang menyukai ali dari dulu lia adalah lulusan universitas luar negeri yang mengambil jurusan kedokteran.
" Ali apa kabar?" Lia terlihat gugup memegang tangan ali.
" Lepasin bukan muhrim,"
" Ali kok kamu gitu sih aku baru pulang langsung temuin kamu kok kamu malah gitu ke aku," lia sedih saat ali menepis lengan lia. Lia sendiri melihat ali cukup berbeda sekarang lebih tampan dan bersih dari pada dulu.
" Lia laki-laki dan perempuan berduaan yang ketiga nya setan aku harus mengajar anak lagi maaf yah..." Ujar ali dengan ramah sedikit tergangu dengan kedatangan lia.
" Ali kenapa kamu berubah!
Aku masih cinta kamu ali kenapa kita ngak balikan aja seperti dulu," lia memeluk ali dia sudah gelap tak menghiraukan sekitarnya.
Dari arah depan terlihat ara baru saja menemui umi dengan membawa boba kesukaan nya dan di kagetkan dengan lia yang memeluk ali dengan spontan ara langsung berbalik ingin pergi namun terhalang ucapan ali.
" ARA..."
Pangilan ali spontan membuat lia melepaskan pelukannya dan memandang ara mereka bertemu pandang dan langsung ada sedikit kecangugan di antara mereka.
" Lama tak berjumpa Ara!
Aku kira kamu keluar negri setelah kekalahan dalam taruhan kita," ujar lia membuat ara sedikit berjalan mundur dan menabrak Abni kakak tertua ali.
" Ara kamu tak papa kan??"
Abni khawatir melihat ara ketakutan lengan nya bergetar. " Kak abni " ara memegang lengan abni kakak ipar ara Abni yang mengerti membawa ara pergi dari sana.
Ali meninggalkan lia dengan sedikit menegaskan bahwa dia sudah menikah jadi abni jangan mengangu lagi.
Prov Ara
Ara kini berada di ruangan abni bersama istrinya mereka bertanya kenapa ara sangat takut pada lia sedangkan ara mulai menceritakan apa yang terjadi.
Dulu lia dan ara bertaruh untuk mendapatkan juara dalam permodelan namun nihil bahwa ara mendapatkan tekanan karna gurunya mengetahui taruhan itu dan membuat ara berakhir dalam hukuman sang guru, lia yang berhasil ikut lomba mendapatkan juara dan menagih taruhan dengan ara.
" Apa yang kamu taruhkan pada lia ara, ara kenapa kamu gegabah sekali sih," abni memijit pelan kening nya.
" Uang 8 juta!!"
Abni dan husna melongo tak percaya" lalu kamu membayar nya?" Tanya abni.
" Aku memberikan uang itu namun guru tau dan mengambil uang itu dari tangan lia dan dari itu lia selalu mengangu ara lia memasukan aku dalam daftar musuh.." ara terdiam membisu.
Sedangkan dari arah luar ali sedikit kecewa pada lia kenapa setaunya lia adalah gadis baik bahkan dulu mereka sempat ber ta'aruf namun takdir tak menghendaki mereka.
Ali mendengar ara menghentikan obrolan cepat-cepat dia pergi dari sana Sedangkan ara di bergegas pulang ke rumah ali dan mulai membereskan pakaian untuk di bawa ke rumah orang tua nya.
Ali baru saja datang dari pesantren melihat ara sedang dandan memakai kerudung pasmina tak lupa memakai lipstik, ali sendiri hanya diam di sofa melihat kegiatan ara.
Ara mengambil tas Selempang nya " Aku pergi dulu," ara melewati ali begitu saja.
" Istri yang keluar tanpa ijin suami maka neraka yang menunggu nya," ara terdiam akibat ucapan dari ali.
" Ara aku ingin menjelaskan tentang lia
Kemarilah," pangil ali membuat ara mau tak mau duduk di ranjang " sebenarnya lia dan aku pernah ber ta'aruf namun kami tak ber jodoh aku memutuskan lia akuu tidak tau bahwa lia masih menyukai ku aku sudah bicara pada lia tentang kamu dan aku yang sudah menikah lia pun menyerah...!!"
" Sebenarnya kamu tak perlu menjelaskan itu Gus karna jujur aku tak peduli...!!"
" Apa segitu bencinya kamu pada ali ?"
" Apa ini benci? Bukan tapi tak enak hati.. aku ingin kerumah orang tua ku, karna kamu tak mengijinkan aku sendiri apa kamu bisa mengantar aku kesana?"
Ali terdiam tak menjawab " atau kamu mau ikut menginap juga tak apa-apa lagian kamu menantu mereka," ucap ara membuat ali tersenyum dengan ucapan ara Barusan dia mengakui bahwa Ali suami nya dan menantu sah.
" Aku akan membereskan baju ku dulu," ali berjalan ke kamarnya.
" Aku sudah membereskan nya kita tingal pergi saja,' tembal ara.
Ara dan ali berjalan keluar dengan ali mengendong tas pakaian mereka ara terdiam lalu memandang ali dengan tatapan aneh.
" Gus bisa bawa motor ngak?"
" Kenapa ngak naik mobil aja! Takutnya kamu masuk angin!!" Ujar ali memandang ara yang mengeluarkan motor ninja kesayangan nya.
" Ara tanya kamu bisa motor ngak?"
" Bisa tapi cuman motor metik!" Jawab ali membuat ara langsung berjalan dan menaiki motor nya tak lupa memakai helm dan jaket.
" Ayo naik ara yang bawa aja...!" Ali masih was-was dan beberapa kali membujuk ara untuk membawa mobil saja namun nihil gadis itu mengeleng pelan.
Dengan terpaksa ali menaiki motor ara
Dia tak tau kalo gadis itu ternyata suka kebut-kebutan membuat jantung ali hampir copot saja, ali memeluk pinggang ara. Ngak kebalik gus? Ara menatap ke belakang lalu menabah kecepatan nya menjadi lebih tinggi tak butuh waktu lama dengan waktu setengah jam mereka sampai di rumah ara.
" Kamu itu! Cari mati yah??" Ali memegang lengan ara yang mau masuk ke dalam kamarnya setelah berbincang sebentar dengan orang tua ara.
" Mati ngak di cari nanti juga datang sendiri.." ejek ara.
" Aku ngak ijinin kamu bawa motor lagi jika kebut-kebutan kaya tadi," ali menegaskan membuat ara cuek saja dan berjalan ke arah kasur nya dia membaringkan tubuhnya dan memeluk boneka Teddy seukuran tubuhnya.
" Kamar ini ngak berubah yah..."
" Ara... Hei ara..." Pangil ali namun nihil gadis itu sudah pura-pura dalam tidur.
" Ternyata punya istri bar-bar itu buat pusing juga," ali mendudukan dirinya di samping ranjang ara melihat kamat ara dengan dekorasi biru muda banyak asesoris serta boneka-boneka lucu.
Gus, aku mau ke Pangandaran minggu depan!"
" Ngapain?"
" Mau ziaran sekalian mau liburan! Tapi aku mau bawa motor boleh kan?'
Ragu-ragu ara menunggu jawaban Ali yang terdiam membisu " Ngak.. itu bahaya!!" Jawab ali membuat perapatan segitiga ara yang udah emosi mulai marah.
" Hah kenapa ngak boleh? Kamu mau halangi kebebasan aku hah?" Ara memegang kerah baju Ali yang mendelik tajam melihat kelakuan ara yang kasar.
" Aku masih suami kamu.. aku bilang jangan yah jangan"
" Ka-kamu ... Nyebelin banget sih..." Ara melempar bantal yang sukses mengenai punggung ali yang langsung berbalik.
" Ara aku tak suka jika kamu bersikap kasar terbawa emosi begini, kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu..." Ali menasehati ara yang terdiam tak berkutik dia baru sadar lalu mengucap astagfirullah dan langsung terduduk menangis.
Ali masih diam di ranjang ara mendengar kan gadis itu menangis dia sedikit tak tega namun apa daya bahaya jika membawa motor apalagi Pangandaran sangat jauh. Ali mendekat ke arah ara lalu memeluk nya pelan gadis itu terlihat gundah sudah seminggu sejak kedatangan mantan kekasih ara sifat ara jadi aneh menurut Ali.
" Jika kamu ingin mencari mantan kekasih kamu aku akan ijinin! Tapi kalo kamu ingin sendiri maaf aku tak ijinin..."
" Apa maksud kamu..!!"
" Aku menemukan surat yang di kirim mantan pacar kamu, bukanya dia mau bertemu dengan mu di Pangandaran??
Aku tau kamu ingin kepastian tapi ingat status kamu sebagai istrinya ali al Ridwan. aku akan meminta libur untuk menemani mu ke Pangandaran udah jangan nangis lagi" hibur ali membuat ara memegang kuat bahu ali sejak kapan ali mengetahui surat itu.
Banyak hal tersembunyi dalam hidup ara kenapa ali mulai membokar semua itu padahal hanya dia dan guru yabg mengetahui semua nya kenapa ali ada dalam mereka berdua? Why? Ara cuman ingin diam dalam kesunyian menatap terang nya bumi malam dia hanya ingin sendiri belajar-belajar dan mencari tahu kebenaran bukan terikat dalam hubungan seperti ini sungguh ara tak suka sekali ingin sekali bertriak melempar kan gelas ke wajah ali namun apa daya sebagai pengabdian pada sang guru ara harus bisa mempertahankan ali.
Ali memang baik namun kenapa dia tak bisa melupakan sosok itu, ali cukup tampan namun sayang matanya hanya melihat pemuda brengsek itu... Ali berakhlak mulia namun ara bersikap egois mereka bagaikan dua kubu bertentangan semakin dekat semakin bertabrakan
Ara tak ingin jika nanti ali akan terluka atau ara yang terluka karna ali.
Beberapa hari berlalu sejak kepulangan mereka dari rumah ara kini gadis itu memutuskan mengundurkan diri dari dunia fashion dan mulai merilis usaha cafe bersama dengan gurunya. Tadinya ara ingin membuat sebuah restoran namun dia terpikirkan anak muda jaman sekarang lebih suka nongkrong dengan bantuan gurunya ara bisa mendapatkan tempat yang strategis hari kini berganti menjadi sore ara tengah berberes barang pada tas beranjak ingin memangil taksi.
" Udah mau pulang nona, cantik yak ali?"
Ara menghentikan langkahnya, berbalik melihat ali dengan stelan jas Hoodie di sertai topi membuat ara terbayang member BTS. Ara sudah tahu bahwa orang di depan nya adalah dia orang yang selalu membuat nya cangung dan risih siapa lagi jika bukan Ali Al Ridwan suami tampan yang banyak di idolakan kaum hawa namun tidak dengan dirinya yang hanya bisa mengangkat alisnya heran sungguh membuat jengkel saja!
Ara mengabaikan ali dia beranjak meninggalkan ruangan kafe sambil memberikan isarat pada hana salah satu karyawan tetap nya.
" Kok cuek gitu sih sayang!!" Goda ali memegang tangan ara.
Ara menepis tangan ali dari bahunya! Kenapa ni orang datang lebih awal bukanya di pesantren ada acara peskil kok ali pulang awal? Sungguh ara bingung harus apa sekarang.
" Sayang kok kamu diem aja sih!!" Ali memulai pembicaraan di dalam mobil yang hanya di huni kesunyian.
Ara tak peduli dengan ucapan ali dia lebih memilih mendengar kan lagu memakai earphone membuka resso mendengar satu judul lagu yang membuat nya nyaman? Merasa terabaikan ali menarik satu earphone ara membuat nya terlepas dia memasang kan oada telinga nya ara diam saja mood nya sangat hancur.
" Ara! Hei bangun udah sampe nih!!" Ali menggoyang kan bahu ara pelan.
" Oh..." Dengan wajah jutek ara keluar mobil meni galkan ali yang hanya bisa pasrah dia sudah kebal dengan jutekan ara yang hanya di tunjukkan pada dirinya saja. Ali tersenyum tipis mengekori ara samoai gadis itu masuk ke kamar
Ali pun bergegas ke ruang tengah tanpa swgaja matanya melihat salah satu koleksi ikan kesayangan ara mati.
" Mati aku! Ara bakalan ngamuk nih!!" Ali was-was membayangkan gadis itu tahu bahwa coco peliharaan nya mati
Haduh .... Tak terbayangkan bagaimana kemarahan ara.
" Ara ikan kamu mati nih!!" Triakan ali membuat ara seketika langsung ngacil membuka pintu kasar.
" Yang mana??"
Mata ara membulat lebar, dia menatap ali yang mundur siap menerima amukan ara namum berbeda dengan espentasi ara malah menangis lebay.
" Coco hiks.. betapa sakitnya aku kamu mati hiks!!" Ara mengusap ingus dan air matanya.
What?? Ada apa gerangan ali menatap ara kok kaya acara layadan aja ali mengambil cocock ikan koki oranda lalu Hendak membuang nya namun ara malah ssmakin histeris nangis.
Tangisan ara terdegar oleh salah satu santri yang bertugas menjaga kebersihan halaman membuat santri itu melapor pada umi, dan acara heboh pun di MULAI.