(Momy, Popy = Tante, Om)
___
Aku dan adik bergegas ke arah kamar. Kami masuk ke kamar secara bersamaan. Sedikit bercanda sembari merapihkan ranjang yang berantakan. Menata bantal guling sesuai yang kita ingin kan. Lalu menidur kan diri dengan ayah ku di tengah nya.
"Ayah. Telfon bunda, dong."
Tak lama, ayah menyetujui keinginan adik ku. Membuat diri ku senang dalam hati.
Ini saat nya menanyakan keadaan popy! - batin ku bersemangat.
"Halo?"
Telfon itu tersambung. Dengan surat bunda yang terdengar senang. Dan hal itu membuat hati dan pikiran ku merasa lega. - walau sedikit.
"Bunda dimana?"
Terdengar dorong-an kursi maupun meja. Benda benda mati itu di pindah kan ke suatu tempat yang - entah di bagian mana. Namun, hal itu belum membuat ku merasakan hal yang mengganjal.
"Di rumah momy. Lagi beresin rumah momy."
Aku tersenyum mendengar nya. Aah, mungkin saja, bunda ingin membuat kejutan pada popy karena ia sudah sembuh. - pemikiran polos ku di saat bunda menjawab pertanyaan ku.
"Bunda kapan pulang?"
"Secepatnya. Kakak sama adek bobo duluan aja, ya."
Raut sedih terpampang jelas di wajah imut adik ku. Membuat gemas hingga kedua tangan ku mencubir pipi nya. Membuat nya mendengus sebal. Dan aku tertawa. Sedangkan ayah tersenyum.
Entahlah. Tak sengaja melihat senyum ayah, seperti.. Menyembunyikan sesuatu.
"Bobo sama ayah dulu, ya. Nanti bunda pulang."
"Iya, bunda. Hati hati di jalan, ya."
Telfon itu tertutup sepihak. Dan setelah nya, aku dan adik ku memutuskan untuk memejamkan mata. Melupakan fakta bahwa ayah maupun bunda menyembunyikan sesuatu yang membuat hati ku hancur seketika.
___
Tuhan itu baik. Sangat baik hingga tak ada siapapun yang bisa menggantikan nya.
___
Pukul sebelas malam. Aku terbangun. Tiba-tiba. Membuat bunda dan - tunggu, ada kakak ipar bunda dan anak nya datang ke rumah. Dengan si kecil tertidur di dekat ku.
"Loh? Tante dian?"
"Eh. Kakak kebangun."
"Tidur lagi gih, nak."
Aku tersenyum sejenak. Menduduki diri. Lalu memeluk bunda. Entahlah. Firasat ku mulai buruk. Namun ku coba menggubris.
Tidak.
Tidak mungkin.
"Tumben tante ke sini? Ini 'kan hari sabtu?"
"Iya. Mau numpang bobo di sini."
Aku yang masih polos saat itu hanya mengangguk kan kepala tanpa ingin bertanya hal lebih. Kepala ku pusing karena terbangun tiba-tiba. Hingga bunda yang menyadari nya segera menidurkan ku. Menepuk pelan pantat ku. Dan setelah nya, aku kembali ke dunia mimpi yang sangat indah saat itu, menurut ku.
Mimpi indah itu tertanam di pikiran ku sebelum bertemu ayah di depan pintu kamar.
___
Aku membuka mata. Mendengus sebal karena matahari menusuk-nusuk kulit tubuh yang membuat ku merasa sedikit panas hingga akhir nya, aku mengucek mata.
Aku terduduk. Bunda membuka pintu kamar. Lalu menyapa ku.
Menyuruh ku untuk mandi. Lalu mengganti baju yang bunda taruh di ranjang.
Aku tak memikirkan apapun saat itu. Aku hanya berpikir jika ayah dan bunda akan mengajak ku jalan pagi.
Aah, jalan pagi, ya..
__
Pakaian yang bunda siapkan itu bukan gaun atau kaos hitam. Namun piyama setelan polkadot dengan warna hitam dan putih serta minnie mouse di bagian tengah depan.
Sangat aneh.
Karena selama ini, bunda tak pernah membiarkan ku memakai piyama jika aku akan keluar rumah.
"Bunda, udah siap."
"Bunda..?"
Aku berjalan ke depan pintu. Tak lama, aku menemukan ayah sedang berjalan ke arah ku. Tepat di depan ku, ia menaruh tangan nya di kedua bahu ku. Aku yang saat itu sedang linglung mencari bunda semakin bingung saat ayah berjongkok di depan ku.
"Kakak anak hebat, 'kan?"
Aah. Kata kata itu.
Bad feeling.
"Kakak.. Yang sabar, ya."
Jangan.
Jangan katakan itu.
"Kak.. "
Tidak..
Tolong jangan katakan itu..
".. Popy udah sembuh."
Seketika, aku tersenyum lebar. Namun, entah mengapa, secara tiba-tiba, air mata ku terjatuh secara perlahan.
Pikir ku, aku menangis bahagia sekarang.
Tanpa tau, bahwa sebenarnya, tangisan itu lebih cocok di namakan 'tangisan menderita'.
"Popy udah sembuh. Udah ga sakit lagi."
Aku yang lugu berkata, "popy bisa main sama kakak tanpa istirahat dong, yah..?!"
Ayah hanya tersenyum. Ia mengusap kepala ku dengan lembut. Seolah memberi kekuatan bagi anak sulung nya yang saat itu masih berusia 9 tahun.
"Kak.. Popy udah sembuh. Gak sakit lagi."
"Iya ayah. Kakak tau."
"Tapi bukan berarti, popy bisa main sama kakak."
Jawaban yang aneh.
"Yah..?"
"Popy udah pulang."
"Pulang ke rumah sama momy 'kan, yah?"
"Iya."
"Berarti 'kan -"
"Kak.. Popy udah meninggal."
Seketika, pertahanan ku runtuh.
Gak. Ga mungkin!
__
Kenyataan di depan mata. Dalam keadaan tak bernyawa. Aku menjauhi jasad nya.
Aku trauma.
"Enggak! Popy masih ada, momy!"
"Kakak.. Kakak ga boleh gitu. Ikhlasin ya, cantik?"
Aku menggeleng keras.
Aku membenci hari itu.
Sangat membenci nya!
"Bohong! Bohong!"
__
Teman laki laki yang biasa ku sapa dengan sebutan 'abang' itu datang menemui ku. Memeluk ku. Lalu memberi semangat. Ia mengajak ku ke rumah oma opa nya. Yang bersebelahan dengan rumah momy dan popy.
Aku mengikuti nya. Lalu menemui adik nya yang menangis memeluk nya.
Saat itu, aku hanya memandang segala nya dengan tatapan kosong. Tak ada semangat apapun. Hanya duka yang menyelimuti tanpa senyuman yang berarti.
Mereka menangis. Aku terdiam. Menganggap takdir hanya lelucon belaka. Tanpa memikirkan fakta bahwa takdir tak bercanda saat itu.
Aku tak bisa menangis lagi.
Air mata ku sudah habis.
Semua sudah ku tumpah kan.
Tanpa orang lain melihat sisi lemah ku.
__
Aku di ajak momy untuk men-sholat-kan jasad nya. Di tuntun. Lalu sholat bersama.
Tak lama, aku tertinggal rombongan. Namun aku menemukan kembali. Namun sesaat, aku merasa takut luar biasa.
Hati mu menjadi resah di saat orang yang kau sayang pergi tanpa meninggalkan pesan apapun pada mu. Dan aku merasakan nya saat itu.
__
Proses pemakaman telah usai. Aku memutuskan untuk pergi menjauh. Mencoba untuk mengikuti rombongan manapun. Asal aku dapat pulang kembali.
Saat itu, pikiran ku hanya satu.
Yaitu bunda.
"Bunda.. Peluk aku. Aku takut."
__
Kembali setelah segala nya kembali membaik. - sebentar, apa yang membaik dari pemakaman?
Aku mencari bunda. Tak butuh waktu lama, aku menemukan nya. Lalu memeluk nya. Dengan erat.
Banyak yang memberi ku kata kata penyemangat. Namun tak ku gubris sama sekali.
Saat itu, aku masih terus berpikir bahwa popy akan kembali pulang. Lalu menemui ku dengan membawa jajanan kesukaan ku.
"Yang sabar, ya."
"Ikhlaskan."
"Udah, lupain."
"Gapapa. Popy udah sehat. Lupakan perlahan, ya.. "
Banyak yang berkata seperti itu.
Namun saat itu, aku tak bisa mengatakan "ya, akan ku coba."
Perasaan itu, hanya aku yang merasakan nya.
Luka itu, hanya aku yang tahu seberapa lebar nya.
Kehancuran itu, hanya aku yang mengetahui seberapa dalam retakan nya.
Dan orang lain, hanya memberi ucapan itu. Tanpa ingin tahu seberapa sulit nya aku menahan gejolak kesedihan dan amarah yang menyatu.
Intinya, aku hanya ingin memeluk 'pelangi' ku saat itu.