Pernahkah kalian terjebak dalam suatu hubungan? Harus memilih, antara persahabatan atau perasaan?
........................................................................
Namaku Abigail. Aku biasa dipanggil Abby oleh orang-orang terdekatku. Saat ini aku duduk di bangku SMA, tepatnya kelas 11 IPA 1. Dan inilah kisahku...
"Kamu mau nggak jadi pacarku..?" laki-laki itu berlutut di hadapanku. Dengan seikat bunga tergenggam di kedua tangannya.
Jantungku berdetak 3 kali lebih cepat. Selama dua tahun aku memendam perasaan pada sahabat baikku ini. Dan sekarang, dia mengungkapkan perasaanya kepadaku? Apa aku salah dengar?
Aku masih terdiam. Bingung harus menjawab apa. Ku tatap wajah sahabatku ini. Penuh akan harapan.
"Aku.."
Belum sempat aku menjawab, namun kini dia langsung bangkit.
"Gimana, By? Udah bagus belum?"
"Ha? Maksud kamu??" Aku tentu bingung dengan pertanyaannya.
"Terlalu lebay nggak sih?" Lagi-lagi pertanyaannya membuatku semakin bingung. Dia yang melihat wajah bingungku pun menjelaskan maksudnya.
"Gini.. Jadi rencananya, nanti sepulang sekolah aku.. Aku.."
"Aku apa sih!? Yang jelas dong, Ren!" tanpa ku sadari nada suaraku naik satu oktaf. Membuat sahabatku itu, Rendi, sedikit terkejut. Ia pun menarik tanganku, mengajakku duduk di salah satu bangku taman.
"Sebenarnya, aku.. Aku suka sama.."
Lagi-lagi ia menggantung ucapannya, membuat jantungku berdegup kencang. Jangan bilang kalau kamu suka sama aku?
"Suka sama siapa..??" tanyaku lirih, menahan rona di wajahku.
"Suka sama.. Sinta.." ucapnya dengan wajah tertunduk.
Degg!!
Sinta? Jangan bilang Sinta yang dia maksud adalah teman sebangkuku?
Aku masih terdiam, beradu dengan opiniku. Tapi jika kuingat kembali, memang, sikap Rendi terhadap Sinta sangatlah berbeda.
"By.. Abby! Kok kamu malah diam sih?!" tegurnya, berhasil membuyarkan segala opiniku.
"Ah iya! Gimana?" tanyaku canggung.
Rendi pun menceritakan semua mengenai perasaannya. Tentu perasaannya terhadap Sinta, bukan terhadap diriku. Karena baginya, hubungan kami hanya sebatas 'sahabat'. Tidak lebih maupun kurang.
"Jadi, bisakah kamu membantuku, Abby? Tolong bantu aku agar bisa menyatakan cintaku pada Sinta.. Hm??"
Hatiku serasa hancur berkeping-keping. Ingin rasanya menangis saat ini juga. Melihat wajahnya yang penuh akan harapan agar aku mau membantunya. Tapi aku juga punya hati. Bagaimana aku bisa membantunya untuk mendapatkan hati gadis lain, padahal aku sendiri memiliki perasaan terhadapnya.
"Hufftt...!! Baiklah, aku akan membantumu.." hanya karena ucapanku ini, senyuman langsung terukir di wajah tampannya. Sekejap ia memeluk tubuhku, membuat jantungku semakin berdebar kencang.
"Makasihh,, Abby!!" ucapnya masih memeluk tubuh ku erat.
.
.
Kringgg....
Bel pulang sekolah berdering. Aku menghembuskan napasku kuat. Sekilas aku melirik Sinta, yang tengah mengemas bukunya ke dalam ransel miliknya.
"Sin!" panggilku mencegah Sinta yang hendak keluar.
"Ya? Kenapa??"
"Emm.. kamu ada waktu sebentar nggak? Temanku ada yang pengen ketemu sama kamu.." tanya ku gugup.
"Ada kok. Emang siapa yang pengen ketemu?"
"Rahasia lah.. Katanya kamu disuruh datang ke taman belakang.." jawabku.
"Oke, kalo gitu aku ke sana dulu ya..!" Sinta pun berlari meninggalkanku.
Apa Sinta juga suka sama Rendi? Apa dia bakal nerima cinta Rendi?? Lagi-lagi aku beradu dengan opiniku sendiri.
Setelah membulatkan tekad, aku pun memberanikan diriku untuk mengikuti Sinta. Sesampainya di taman belakang, aku melihat Sinta dan Rendi yang tengah berdiri berhadapan. Aku memilih untuk bersembunyi, karena aku tak ingin menganggu waktu mereka.
Lagi-lagi Rendi melakukan hal itu. Hal yang tadi ia lakukan kepadaku.
"Sinta.. Kamu mau nggak jadi pacarku..?" tanya Rendi sembari menyodorkan seikat bunga.
Sinta diam tak bergeming. Membuat aku dan Rendi sama-sama menunggu jawabannya. Dalam hatiku, terbesit suatu harapan agar Sinta menolaknya. Namun seketika harapanku kandas, kala Sinta menerima bunga tersebut.
Dengan hati yang telah hancur, aku melangkahkan kakiku untuk melangkah pergi. Entah mengapa, jalan yang kulewati bagai tak berujung. Lama rasanya aku melangkahkan kakiku, namun tak kunjung sampai ke rumahku.
Hingga tanpa ku tahu, Rendi kini sudah berjalan di belakangku, mengikuti langkahku. "Abby!!"
Seketika langkahku terhenti. Hingga sekejap Rendi telah ada di sampingku. Wajahnya tampak sangat bahagia, mengisyaratkan perasaanya saat ini.
"Kamu tahu??" tanya Rendi girang.
Aku hanya menggeleng. Bohong jika aku tidak tahu. Tentu aku tahu, pasti pengakuannya diterima oleh Sinta, bukan? Siapa yang bisa menolak sosok Rendi, yang baik hati, pandai, periang, juga tampan. Melambangkan idaman semua orang bukan?
"Sinta nerima aku, By! Dia mau jadi pacarku!" seru Rendi sangat bahagia.
Degg!!
Hatiku semakin sakit, melihat kebahagiaannya karena bisa jadian dengan gadis lain. Sebisa mungkin aku tersenyum. Walau itu bukan dari hatiku.
Air mataku serasa tak terbendung. Aku tak mau Rendi melihat itu, hingga aku pun memilih untuk melangkah meninggalkannya.
Namun Rendi tak membiarkanku pergi. Ia langsung menarik tanganku. "Kamu kenapa, By? Kok diam aja sih?" tanya nya menatap lekat wajahku.
"Kamu nangis??" ia kini mengusap air mataku dengan jemarinya.
"Kenapa? Kenapa kamu sangat perhatian terhadapku??" lagi-lagi air mataku mengalir tanpa izin. Tentu Rendi bingung melihat sikapku ini.
"Apa aku salah? Apa aku egois? Apa kamu berpikir aku tidak memiliki hati?" tangisku semakin menjadi.
Melihat tangisanku, dengan sigap Rendi langsung memelukku erat. Namun, perlakuan ini justru semakin menyakitiku.
"Apa maksudmu, Abby? Ceritalah kepadaku jika kamu punya masalah.."
"Kamu.. nggak ba-kal ngerti, Ren.." ucapku terisak.
"Apa maksudmu? Aku tahu semua tentang kamu. Jadi ceritakan masalahmu.."
Aku tak mampu berkata. Bibirku serasa kelu untuk mengatakan perasaanku. Di satu sisi aku ingin mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya kepada Rendi, namun di sisi lain aku tak ingin menghancurkan persahabatan kami hanya karena perasaan sepihakku.
"Nyatanya kamu nggak pernah ngerti perasaanku, Ren.."
.
.
.
**The End**