Untuk beberapa saat aku hanya terdiam menatap rumah di mana aku berdiri saat ini. Entahlah ... sedikit terbesit dalam benak ku apakah aku harus masuk rumah ini atau berbalik pulang.
"Ya Allah apa kabarnya Ta?"
" Ya Ampuuuun,Titaaaaa"
"Dengan siapa kesini Ta?"
"Anak-anak dengan siapa Ta, ngak dibawa mereka Ta?"
Beberapa pertanyaan dari sekian pertanyaan orang-orang yang mengenal ku seperti menyadarkan bahwa aku tak mungkin berbalik .
Setelah menjawab beberapa sapaan dan juga pertanyaan tadi, aku segera melangkah menuju rumah ini. Langkah ku kian dekat beberapa kali ku tarik napas panjang lalu ku hembuskan perlahan berharap bisa mengurai sedikit beban rasa yang saat ini ku hadapi.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam ... Ta" Sesosok lelaki tua dan beberapa orang yang kebetulan sedang berada di sana menoleh ke arahku dan menjawab salam ku. Terlihat keterkejutan dari lelaki tua itu saat melihat kedatangan ku.
"Maaf kan Tita pak ,baru ke sini " ku hampiri lelaki tua itu ku ulurkan tangan untuk menyalaminya.
" Maafkan segala kesalahan nya Iwan ya Ta" lirih lelaki tua itu sembari menerima uluran tangan ku. Ku anggukan kepala dan hanya berkata "iya pak" tanpa sadar air mata ku terus saja berderai selama proses ini tanpa bisa di cegah.
"Ta, maafkan Iwan ya Ta , mohon maafkan segala kesalahannya ya Ta" aku bebalik karena begitu familiar dengan sumber suara yang lain.Ya dia adalah istri lelaki tua yang saat ini masih memegangi kedua tanganku. Segera ku lepaskan lalu ku hampiri wanita itu dan segera ku ulurkan tangan ku, kami saling bersalaman dan berpelukan dan kembali aku hanya berkata "iya ma" air mataku kembali berderai tak tertahan .
"Wina di mana Ma?"
" Di dalam Ta"
Setelah mengetahui keberadaan Wina segera ku hampiri Wina. Ah sungguh tak kuasa melihatnya, dia begitu terpuruk atas kehilangan suaminya. Kupeluk dia.Raung tangisnya kembali pecah "Maafin Mas Iwan ya Mba, maafkan atas segala kesalahan Mas Iwan "ucapnya di sela- sela tangisnya. Aku tak sanggup berkata-kata hanya anggukan kepala dan usapan dipunggung Wina saja semoga bisa membantu menenangkan Wina. Ya hanya itu yang bisa kulakukan saat ini untuk Wina.
"Deri jangan lari-lari hey !,nanti jatuh ".
"Iya tunggu sebentar ya.sstt jangan nangis ... diam ya. Deon mau susu ya ?"
"Suara itu" gumamku.
reflek aku menoleh menuju sumber suara. Tampak seorang lelaki berusia kepala empat sedang berlari mengejar anak laki-laki yang diperkirakan usia nya sekitar lima tahunan, sepertinya anak tersebut berkebutuhan khusus sembari menggendong seorang anak laki-laki lagi usia sekitar satu tahun lebih. Anak laki-laki yang di gendong itu terus saja menangis sepertinya ingin minum susu .
Aku tercekat, melihat keadaan lelaki itu .Tubuhnya kurus, pipi tirus,kulitnya begitu kusam ,pakaiannya terlihat lusuh. Tepat saat aku menatap dia ,saat itu juga dia menatapku. seperti halnya aku, diapun terlihat kaget saat melihatku ada di rumah ini.Mungkin dia tidak menyangka bahwa aku berani untuk menginjakan kaki kembali ke rumah ini.
"Ta ...." terpaku, aku hanya terpaku. Sesaat aku hanya terdiam atas sapaan lelaki itu.
"Mas ." setelah tersadar baru ku jawab sapaannya.
Rasa canggung menguar begitu jelas diantara kami. Ya dia adalah mantan suami ku, dan saat ini aku sedang melayat mantan adik ipar ku yang suaminya baru saja meninggal dunia.
"Kita akhiri pernikahan ini Ta, kita cerai " bak sebuah bom yang menghantam di pagi buta . Meluluh lantakan semua kehidupan ku delapan tahun silam .Raungan tangis ku seolah tak sedikitpun menggoyahkan rasa dalam diri dia."Mas sudah gak cinta lagi " itulah jawaban dia atas pertanyaan-pertanyaan mengapa dia sampai ingin bercerai padahal selama ini rumah tangga kami baik-baik saja.
Dan seolah keluarga dia mendukung keputusan untuk menceraikan ku, terutama mertua ku. Lelaki tua beserta istrinya tadi yang ku temui saat pertama masuk ke rumah ini adalah mertua ku dulu. Ya mertua ku memang dulu kurang begitu setuju saat mantan suamiku menikahi ku .terutama mertua lelaki.
Dalam sekejap hidupku hancur. Aku tak boleh membawa kedua anak ku yang saat itu masih haus kasih sayang dari seorang ibu. Aku di kembalikan kepada keluarga yang hanya diantar pulang oleh mertua wanitaku. Sementara mantan suamiku tak sedikit pun berucap kepada keluarga besarku untuk mengembalikan aku ke keluarga .Sungguh pengecut.
Proses perceraian ku berjalan lancar.Tak lama setelah perceraian itu kudengar dia menikah lagi.
Aku benar-benar terpuruk. Sementara mantan suamiku dia sudah berumah tangga kembali.
Dalam keterpurukan berbagai tanya timbul begitu saja .Bagaimana bisa mantan suami ku begitu pengadilan mengetuk palu perceraian kami hanya beberapa saat dia langsung menikah lagi .Apakah aku sengaja di ceraikan nya karena dia akan menikah lagi. Apakah saat kami masih berumah tangga mereka sudah berpacaran dengan istrinya. Itu artinya mantan suami ku berselingkuh .Oh ya Allah sungguh tega sekali dia. Menangis hanya itulah yang bisa kulakukan saat itu.
Ku lihat beberapa kali dia terus saja mengejar anak lelakinya yang paling besar. Memanggil-manggil anak nya agar tidak berlarian.
Setelah melihat keadaan mantan suamiku, seharusnya aku berbahagia atas keadaannya.Dia lelaki yang telah begitu dalam menorehkan luka dalam diri. Mengambil semua tanpa sisa. Pernikahan ku, rumah tangga ku bahkan anak-anak ku semua tak bersisa, anak-anak ku sempat begitu membenci ku. Terutama si kecil entah dogma apa yang iya katakan tentang ku sampai-sampai di saat aku merindukannya dan hanya ingin mendengar suaranya walau hanya dalam saluran telepon aku mendapatkan penolakan, sakit sungguh sakit.
Nyatanya tak seperti itu. Bagaimanapun dia adalah lelaki yang pernah memberi ku cinta,kasih,serta sayang dalam ikatan pernikahan suci, bahkan dengan cinta dan sayangnya tumbuh lah anak anak yang begitu ku sayangi. Sungguh hatiku berharap tak begini dengan keadaan nya.
Lalu kenapa aku mau kembali datang ke tempat ini? sungguh aku tak mampu mengabaikan. Mantan Adik ipar dan suaminya lah yang ternyata setelah kami berpisah mereka lah yang mengurus anak- anak ku. Sementara mantan suami ku sibuk dengan keluarga barunya. Aku harus berterima kasih kepada mereka akibat dari perceraian kami mereka terbebani dengan anak-anak kami. Maka dengan datang kesini untuk melayat itu sebagai bentuk rasa terima kasih.
Kembali kulihat lagi mantan suamiku. Tak ada lagi lelaki tinggi dan tubuh berisi serta wangi harum dari parfum, wajah yang selalu terawat, rambut yang selalu di potong pendek dan pakaian yang selalu rapih. Mungkin dengan penampilan seperti itu di tambah saat itu pekerjaan nya pun memang sedang jaya menjadikan dia mudah untuk mendapatkan wanita lain. Kini yang ada hanya lelaki kurus berpipi tirus dengan helaian bulu di sekitar dagu dan di atas bibir yang terlihat mulai memanjang. Wajah yang terlihat kuyu dan penuh beban. Tak ada wangi parfum, pakaian pun begitu lusuh mungkin karena terlalu sering nya di cuci.
Sungguh ironi.Sangat ironi.
Aku menarik napas panjang, ku hirup dalam-dalam berharap agar oksigen bisa memenuhi semua rongga dadaku yang terasa sesak .Sesak melihat keadaan mantan suami ku. Aku yakin kedua anak ku dari pernikahan dengan nya pasti tidak akan tega melihat ayah nya seperti ini.
Begitulah.Dulu ku pikir tuhan begitu sangat tidak adil. Karena telah begitu tega mengambil semuanya hingga membuat rasa sakit yang sangat. Namun kini ku menyadari sesungguhnya Tuhan saat itu hanya ingin menguji sebatas mana aku mampu bertahan dan bersabar atas segala uji Nya. Bersyukur aku mampu melewati semua. Kini semua terganti. Seseorang telah memenuhi hari-hari ku saat ini. Seseorang yang sangat bertanggung jawab atas diriku, anak-anak ku, anak-anaknya, anak-anak kami si kembar. Ya dia adalah suami ku saat ini. Aku berbahagia dengan pernikahan ku yang sekarang . Terlebih ke dua anak ku dari mantan suami kini tinggal dengan ku.
Alhamdulillah. Syukur ku. Ku panjatkan pada Nya.
Maaf ini hanya tulisan geje 🙈😁🙏🙏🙏