Hari - hari Nia sungguh berubah drastis, fisiknyapun berubah begitu drastis, badannya gadis manis itu kini sudah tinggal tulang yang terbungkus kulit, pipi cubynya terganti oleh pipi tirus tak berdaging.
Bahkan rambut lebatnya haru ditelakanya, sedikit demi sedikit mulai rontok, hingga ia harus merelakan rambut panjangnya itu untuk dipotong pendek saja, tapi dia tetap tersenyum meyakinkan semua orang jika dirinya baik - baik saja.
Satu bulan yang lalu pada akhirnya papa Heru tak bisa lagi menyembunyikan sakit putrinya itu ke keluarga Antara yang selalu menanyakan tentang sakit Nia.
Bahkan Rijal sendiri merasa sangat terkejut setelah mendengar semuanya dari papa Heru, rasa sedih dan sakit dialami Rijal mana kala Rijal melihat Nia sedang berjuang melawan penyakitnya, tapi tak sekalipun anak itu mengeluhkan rasa sakitnya.
"Jal boleh gue minta sesuatu?" tanya Nia
"Apa?" singkat Rijal
"Gue pengen kepuncak lagi, pengen main kembang api sama - sama lagi kaya tahun lalu" ungkap gadis berpita biru disebelah Rijal.
"Nanti kalau loe sembuh" jawab Rijal
"Tapi gue pengennya sekarang Jal" keluh Nia
"Tapi sekarang kondisi loe ga baik Ni" ya Nia kembali masuk rumah sakit setelah beberapa hari menjalani radiotrapi, kondisinya malah memburuk setelah dirinya memaksa untuk pulang, gadis itu benar - benar tak betah tinggal dirumah sakit, padahal dokter Dika menyarankan selama pengobatan Nia harus berada dirumah sakit.
Tapi gadis itu kekeh tidak mau, dan demi kenyamanan pasiennya dokter Dika akhirnya memperbolehkan Nia untuk pulang dan bolak - balik rumah sakit setiap jadwal kemo atau radiotrapinya.
"Loe aja lemah kaya gini, gimana perginya" cibir Rijal, dia hanya ingin menutupi jika dirinya sedang bersedih, dia tak ingin memperlihatkannya kepada Nia, itu bisa saja membuat Nia malah patah semangat.
kata papa Heru kemungkinan untuk sembuh Nia hanya 15% dari 100% walau demikian papa Heru tak ingin menyerah karena yang kemungkinan sembuh 0% saja bisa sembuh apa lagi putrinya, papa Heru selalu optimis untuk kesembuhan sang putri.
"Gue udah ga apa - apa ko Jal, gue pengennya sekarang gue pengen nikmatin masa - masa terakhir gue hidup" ucap Nia
"Loe ga boleh ngomong gitu" bentak Rijal tanpa sadar, Nia yang kaget dengan bentakan itu langsung menundukkan kepalanya.
"Gue udah pernah bilang ke loe, kalau loe bakal sembuh ya loe bakal sembuh" kesal Rijal setelah berbicara demikian Rijal pergi dari ruang rawat Nia, dia kesal dengan ucapan Nia.
"Engga seharusnya gue ngebentak Nia kaya tadi, tapi ucapan Nia keterlaluan" kesal Rijal..
*****
"Waktu gue ga akan banyak lagi Jal, dan gue hanya ingin menik mati itu" gumam Nia, dia tahu waktunya hanya tinggal sedikit lagi, bisa saja malam ini adalah malam terakhirnya didunia ini.
Nia mendengar semua pembicaraan antara papanya dan dokter Dika Jia kemotrapi dan radiotrapi yang dijalaninya tidak berhasil, kangker itu malah terus menjalar dan bahkan sudah memasuki awal stadium akhir, satu - satunya cara saat ini adalah operasi, tapi kecil kemungkinan operasi itu akan berhasilnya, namu papa Heru, tetap berusaha walau sekecil apapun, tapi tidak dengan Nia.
Nia tak ingin dioperasi, saat papa Heru menjelaskan ini demi kebaikannya, Nia tetap menolak untuk operasi, baginya sudah cukup berusaha kini dirinya hanya ingin menikmati sisa hidupnya dengan tenang dan damai, tanpa obat - obatan itu jika saja bisa.
Itu sebabnya mengapa dirinya menginginkan pergi kepuncak untuk bisa mengukir kenangan indah, untuk orang - orang terdekatnya, termasuk Rijal. Dia tahu dia tak berhak memiliki perasaan ini walau demikian dia ingin memilikinya walau hanya sekejap saja.
'Bolehkah aku berharap Tuhan' pinta batin Nia
'tolong beri aku waktu sedikit lagi saja Tuhan, hanya untuk mengukur kenangan indah bersamanya' pintanya kembali.
****
Pada akhirnya papa Heru mengijinkan putri kecilnya kepuncak dengan satu sarat dirinya akan ikut bersama dengan rombongan anak muda itu, dan pada akhirnya keluarga Rijal pun memutuskan untuk ikut serta dalam perjalanan kali ini.
Ini untuk Nia hanya untuk Nia mereka melakukan hal itu, meluangkan waktu mereka untuk mengabulkan keinginan sederhana Nia, mengukir kenangan indah bersama semua orang yang disayanginya.
Suasana puncak yang sejuk, mampu menyegarkan tubuh Nia, Nia menghirup dalam - dalam udara disekitarnya, "Sumpah ini beneran seger banget, sejuk itu loh, ga kaya dikota" celetuk Nia pada Rifka.
Rifka terkekeh geli mendengar penuturan sahabatnya itu, "Apa loe seneng?" tanya Rifka
"Banget" antusiasnya menjawab, membuat Rifka terkekeh. Hening beberapa saat membuat keduanya tiba - tiba saja merapatkan sweater yang dikenakannya, rasa dingin tiba -, tiba saja menelusup masuk kedalam kulit yang dibungkus oleh baju dan sweater itu.
"Loe ga ingin bilang perasaan loe pada Rijal?" tanya Rifka telak, membuat mata Nia membulat sempurna, entah dari mana sahabatnya itu tahu tentang perasaannya terhadap Rijal.
"Ga perlu heran gue tahu, gue kenal loe berdua udah dari jamannya kita masih ngompol berjamaah" jawab Rifka yang membuat kekehan terdengar dari mulut kering itu.
"Gue ga mau dia tahu" jawab Nia
"Kenapa?" tanya heran Rifka
"Waktu gue ga lama lagi didunia ini Rif" jawab sendu Nia
"Loe ga sah pesimis, gue yaki loe sembuh" ujar Rifka
"Gue udah cukup berjuang buat rasa sakitnya Rif, gue rasa ucapan tadi bukan untuk keputusasaan, tapi lebih ke sebentuk ikhlas yang harus gue jalani" Nia.
"Loe bakal sembuh pokonya"
"Ok lupakan pembahasan itu, jika loe yakin gue sembuh kenapa engga, gue juga yakin kalau gue sembuh" pada akhirnya Nia lebih mengalah dan tak mau menggubris masalah penyakitnya, yang akan membuat orang - orang terdekatnya khawatir.
"Baiklah kita bahas soal Rijal" ucap Rifka
"Apa yang mau dibahas?" tanya Nia acuh.
"Kapa loe mau bilang perasaan loe?" tanya Rifka telak.
"Tak akan pernah" jawab Nia santai
"Why Ni?"
"Loe udah tahu jawabannya bukan, selain itu gue ogah ngakuin duluan kalau gue suka sama dia, mau taruh mana muka gue, jatoh lah harga diri gue, makin aja tu anak gede kepalanya" sungut Nia, membuat Rifka menggeplak keningnya sendiri.
"Jadi karna itu loe ga mau utarain perasaan loe sendiri?" tanya Rifka yang dibalas anggukan oleh Nia.
"Astaga Nia ... Nia" Rifka benar - benar tak habis pikir dengan cara berfikir sahabatnya itu.
****
"Masu Ni udah sore" Rijal menyuruh Nia masuk ke villa, karena hari sudah menjelang sore, Rijal menyelimuti bahu Nia dengan kain tebal yang dibawanya.
"Bentar lagi Jal, masih pengen nikmatin suasananya kapan lagi coba bisa nikmatin suasana seperti ini" ungkap Nia yang mendapat anggukan dari Rijal.
Hening tercipta diantara mereka, karna tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan pembicaraan, keduanya hanya menatap kearah depan.
'Beri aku waktu sedikit lebih lama lagi Tuhan, kumohon, agar aku bisa lebih lama bersamanya' pinta batin Nia.
Rasa sesak tiba - tiba saja menghampirinya, tak terasa air matanya mengalir begitu saja, sejujurnya Rijal melihat aliran air dari kedua pipi tirus sang sahabat, tapi dia lebih memilih diam dan membiarkan Nia meresapinya, dia tahu Nia utuh mengeluarkannya, dan Nia hanya butuh sandaran tanpa saran atau apapun dia hanya ingin meluapkan apa yang menjadi bebannya itu saja.
direngkuhnya pundak Nia, lantas memasukan Nia kedalam pelukannya mengusap punggung gadis mungil yang tengah terisak pelan didadanya, sebulir air mata jatuh menetes di pipinya.
"Loe kuat, loe cewe terkuat yang pernah gue temuin" ungkap Rijal sambil mengelus rambutnya.
"Gue takut" sebuah kata yang selama ini tak pernah dia ucapkan akhirnya diucapkan Mia padanya, Rijal semakin mempererat pelukannya, "Gue takut waktu gue ga lama lagi, gue takut ninggalin papa sendirian" ucap Nia dengan Isak tangisnya
"Gue yakin loe sembuh" hanya itu yang bisa diucapkan Rijal untuk seseorang yang kehilangan kepercayaan dirinya saat ini, hal wajar jika Nia mengalaminya, sakit anak itu cukup serius untuk bisa memahami situasi seperti ini Rijal cukup mengerti jika Nia memiliki rasa pesimis akan kesembuhannya
"Janji sama gue, kalau gue ga ada loe harus sering tengokin papa gue, dan juga makam gue" permintaan itu membuat mulut Rijal tercekat, dia hanya bisa mengangguk tanpa mampu mengucapkan sepatah katapn.
dan lima langkah dari belakang mereka papa Heru mendengar semua ucapan sang putri hanya bisa menangis tertahan, dia tak akan sanggup kehilangan gadis kecilnya.
****
Dan malam itu malam dimana kesunyian seakan mencekam jiwa, kesedihan terasa menggantung di tenggorokan, sedangkan mulut kelu untuk berucap ikhlas sedangkan gadis yang tengah berbaring disana menunggu kata itu terucap dari mulut orang - orang terkasihnya.
"Per-gilah nak papa ikhlas sayang" ucap lirih papa Heru berderai sudah air matanya saat putrinya masih menampakan senyum teduhnya, tak sanggup melihat anaknya yang terlihat sudah ikhlas dengan takdir yang telah Tuhan gariskan untuknya.
'Ya Allah tolong tempatkan putriku diantara orang - orang pilihanmu' pinta batin papa Heru.
Malam itu untuk kali kedua ditanggal yang sama papa Heru kembali kehilangan orang yang paling berharga untuk hidupnya dan juga untuk orang - orang terdekat Nia.
"loe udah ga sakit lagi Ni" bisik Rifka ditelinga Nia.
****
🍁 Beri aku waktu Tuhan, agar aku bisa lebih lama bersama dengan papa 🍁
🍁Tolong beri aku waktu Tuhan agar aku bisa mengukir kenangan yang indah bersama orang - orang terkasih ku🍁
🍁Sebentar saja, sebentar lagi saja tolong beri aku waktu Tuhan, agar aku bisa lebih lama menatap wajahnya🍁
🍁Ku mohon Tuhan beri aku waktu, agar aku bisa mengutarakan perasaan ku padanya 🍁
🍁Beri aku waktu Tuhan, agar rasa ini tersampaikan walau tak ku ungkapkan🍁
semua rangkaian kata yang tertulis dibuku catatan Nia membuat Rijal meneteskan air matanya, entah untuk keberapa kalinya rasa saki itu menyerang hatinya.
"Dia begitu mencintai loe, hingga sampai akhir dia menjaga janjinya ke gue agar tidak mengutarakan perasaannya, walau dia haru merasakan sakit juga", ungkap Rifka.
"Kenapa loe baru bilang kegue?" tanya Rijal lirih
"Gue terikat janji itu sama Nia"
"Gue harus apa Nia, gue nyesel pendam perasaan gue hanya karna gue takut perasaan loe ga sama kaya gue Ni" keluh Rijal, pada akhirnya Rijal menyesal karna tak mengutarakan perasaannya.
kini orang yang ingin dirinya beri perasaan cinta itu telah tiada, terkubur dengan sejuta kenangan dan impiannya