"Radit" sebuah suara yang memanggil namanya pelan..
"Radit" kembali suara itu terdengar ditelinga Radit, pemuda 25 tahun itu terus mempercepat langkah kakinya, untuk segera sampai ditempat kontrakannya.
sudah hampir satu bulan ini Radit selalu mendengar namanya dipanggil saat Radit melewati simpang tiga menuju kontrakannya, awalnya Radith selalu menoleh kebelakang, siapa tahu memang ada yang memanggilnya, namun setelah hari ketujuh dia mendengar namanya disebut, semenjak itu pula Arya tak berani menolehkan kepalanya kebelakang.
Karena suara yang selama ini memanggil namanya, tak pernah nampak orangnya seperti apa, hanya suaranya saja yang terdengar lembut ditelinga, pemuda itu masih berfikir positif mungkin dirinya salah mendengar namanya dipanggil.
Tapi setelah kabar berita yang didengarnya dari para warga setempat membuatnya meremang, dari semenjak itu pula Radit selalu mempercepat langkah kakinya setiap kali dirinya melewati area kejadian.
Tepatnya dua bulan yang lalu sebelum Radit pindah ke kontrakan pak Somad, ada sebuah kejadian naas yang menimpah salah satu penduduk kampung itu, tepatnya pada malam jum'at seorang gadis tengah berjalan menuju simpang tiga itu, 12.00 wib gadis itu berdiri dipinggir jalan simpang tiga, kepalanya menengok kanan - kiri mencari seseorang yang dikenalnya, namun sayangnya setelah 30 menit menunggu dia tak menemukan pemuda yang menyuruhnya menunggu disana.
gadis itu membetulkan tali tas ranselnya yang terlepas dari pundak, sambil sesekali menggoyangkan kakinya mengusir rasa pegalnya, tangan kanannya sibuk mengetikan sesuatu dilayar handphonenya, lantas mengarahkan handphone nya telinganya rupanya gadis itu sedang berusaha menghubungi orang yang ditunggunya.
"Kamu kemana sih, sudah satu jam aku menunggu mu disini" keluh gadis itu manakala nomor yang dituju tidak bisa dihubungi, nyamuk malam sudah banyak menggigiti tubuhnya, walau demikian gadis itu tetap tidak berpindah dari tempatnya karna dia yakin jika orang yang ditunggunya akan datang.
Dretttt....
Dretttt.....
Dretttt...
Wajah gadis itu nampak cerah, senyumnya merekah sempurna orang yang coba dihubunginya sedari tadi akhirnya menghubunginya balik, tak menunggu lama lagi gadis itu mengangkat telpon dari orang yang sedang ditunggunya.
"Hal-"
"Kamu masih dimana? Apa masih lama? Aku sudah disimpang tiga ni!" belum selesai sipenelpon mengatakan hallo, gadis itu sudah menyerbu dengan pertanyaannya.
"Hai - hai, tenanglah gadis ku, ban motorku pecah, aku baru saja menemukan tambal ban, akan ku usahakan cepat sampai sana, kamu disana hati - hati ingat ini sudah malam" peringat sipenelpon disebrang sana yang hanya dijawab iya oleh sang gadis.
"Bisakah kau lebih cepat? aku sudah takut" pinta gadis itu
"Akan ku usahakan, kau tenanglah" balasan dari sebrang sana.
"Baiklah" jawab gadis itu, setelahnya sambungan telpon terputus, gadis itu menghela nafasnya berusaha mengusir rasa takut yang menderanya.
"Ku harap dia segera datang" gumam gadis itu.
Sedang ditempat yang berbeda pemuda berusia kira - kira 25 tahun itu, tengah menunggu motornya yang sedang diganti bannya oleh seorang montir, beruntung dirinya menemukan bengkel 24 jam. "Ku harap gadisku akan baik - baik saja" gumam pemuda itu.
****
15 menit berlalu gadis itu masih terus menunggu orang yang penting untuknya itu, siapa lagi kalau bukan pemuda yang tengah menunggu ban motornya yang sedang diganti itu. Hembusan angin malam membuat bulu kuduknya meremang, rasa dingin merayapi tubuhnya yang memang hanya berselimutkan sweater rajut itu, tak bisa menghalau dingin angin dini hari.
Tidak seberapa lama gadis itu mendengar sedikit keributan, sayangnya bukan suara motor sang kekasih yang dia dengar melainkan suara beberapa orang lelaki, yang menuju kearahnya. Gadis itu mendongakkan wajahnya dari layar ponsel, lantas menengok kesumber suara, alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat beberapa pemuda tengah berjalan kearahnya, rasa takut yang menghinggapinya semakin menguat saja.
Perlahan tapi pasti gadis itu berjalan mengindari para pemuda yang sepertinya sudah mulai hilang kesadaran entah karna apa, tapi gadis itu yakin jika lima orang pria itu bukanlah pria baik - baik, gadis itu berjalan lebih cepat, tapi sayang kelima lelaki itu berhasil menangkapnya.
"Mau apa kalian?" tanya gadis itu bergetar, namun mencoba untuk tetap berani.
"Neng ko sendirian saja?" tanya salah seorang dari pemuda itu sambil mencolek dagu gadis itu, dari mulut pria itu menguat bau alkohol yang sangat menyengat, pantas saja jalan mereka sempoyongan ternyata sedang mabuk, ini tidak bagus untuk gadis itu.
"Memang neng mau kemana?" karna tak mendapatkan jawaban pemuda yang hanya mengenakan kaus oblong itu bertanya.
"Mau pulang" jawab gadis itu.
"Kalau begitu, sebelum pulang kita main sebentar bisa dong" kali ini yang berbicara pemuda yang mengenakan rompi hitam ditubuhnya, badannya terlihat sangat kekar dari yang lainnya, wajahnya begitu terlihat sangar, membuat gadis itu semakin ketakutan.
"Tolong beri saya jalan bang, saya harus pulang" pinta gadis itu.
"Tenang saja akan kami beri jalan setelah, kita bersenang - senang ya ga. hahaha" jawab sipemuda berompi itu yang mendapat anggukan dan gelak tawa dari teman - temannya yang lain.
"Tidak bisa bang.. Saya harus segera pulang" tolak gadis itu.
"Hanya sebentar saja ko dik manis" lelaki yang satu ini malah sudah berani mengelus pipi gadis itu membuat gadis itu menepis tangan laki - laki itu dengan kasar.
"Tolong jangan kurang ajar ya" sentak gadis itu, rasa takutnya berubah menjadi keberanian, karna dirinya tidak ingin sampai dilecehkan oleh kelima pemuda yang tak bermoral didepannya ini.
"Wahhhh. wahhhhhh ... gue suka yang ngelawan kaya gini" gumam pemuda yang berompi itu.
"Udahlah bang sikat aja langsung" ucap salah satu pemuda yang bersebelahan dengan si pria berompi itu.
mendengar hal itu malah menimbulkan rasa takut kembali dalam diri gadis itu, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak gentar karna yang bisa menolongnya saat ini hanya dirinya sendiri tidak ada orang lain yang bisa menolongnya saat ini.
'Radit ku mohon cepatlah datang' batin si gadis.
Dan kejadian tarik - menarik, dorong - mendorong, bahkan kejar - kejaranpun terjadi, gadis itu mempertahankan dirinya sekuat tenaganya agar tidak sampai terjadi sesuatu terhadap dirinya, tapi apa danyanya sekuat apapun dia bertahan dia tak akan mampu melawan seorang pria apa lagi lima sekaligus, walau dengan terus memberontak sampai akhirpun para pemuda itu tak membiarkan gadis malang itu pergi, karna pengaruh dari minuman yang saat itu mereka konsumsi membuat mereka kehilangan akal sehatnya.
Dengan brutalnya mereka menarik paksa pakaian sigadis tanpa menyisakan satu helai benangpun ditubuhnya, perlawanan dari gadis tersebut malah membuat luka ditubuhnya yang mulus itu, warna biru keunguan tercetak manis dibeberapa area tubuhnya serta wajahnya.
Tanpa rasa kemanusiaan kelima pria itu menyetubuhi gadis itu secara bergilir dengan beberapa gaya yang pernah ditonton oleh mereka, erangan kenikmatan dan kesakitan menyatu dimalam yang sunyi itu, sedangkan ditempat berbeda pemuda yang dipanggil sigadis dengan nama Radit itu baru saja selaesai dengan motornya, dan bergegas menuju tujuannya menjemput sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Namun saat berada ditempat yang seharusnya sigadis itu menunggu Radit, gadis itu malah tidak ada ditempatnya, Radit benar - benar bingung sekarang, entah dimana gadisnya itu berada, Radit terus mencari kesana kemari, namun nihil gadis itu tidak ada disana.
"Kamu dimana sayang?" pertanyaan itu yang selalu diucapkan Radit, hingga menjelang pagi pun Radit tak menemukan gadis itu.
Baru setelah dua Minggu pencarian Radit menemukan gadisnya, sayang gadisnya sudah tak bernyawa, dengan tubuh yang benar - benar mengenaskan menurutnya, semua yang dipakai gadis itu pada mala itu sirnah entah kemana yang tersisa hanya tubuh tak bernyawa tanpa sehalai benangpun yang terpasang.
"Gadisku yang malang" lirih pemuda itu.
****
Setelah kejadian tersebut beredar kabar jika simpang tiga kampung itu mulai seram, sebagian orang mengatakan jika simpang tiga itu mulai ada penunggunya, setiap malam saat para warga melewati tempat itu selalu terdengar Isak tangis perempuan, dan juga sering mendengar suara lembut perempuan memanggil nama Radit.
Dan setelah mendengar hal itu Radit sempat tak ingin masuk malam ditempat kerjanya, karna hanya jalan itu lah satu - satunya jalan penghubung kejalan besar dan mau tak mau Radit harus melewatinya.
Dan setiap malam harus mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang tak pernah dikenalnya, "Kenapa namanya harus sama, jadinyakan serem" keluh Radit, saat dirinya berhasil sampai dikontrakannya dengan selamat, lagi - lagi Radit mengusap dadanya merasa lega karna tidak terjadi apapun pada dirinya.
****
Satu malam di malam Jum'at Radit pulang amat sangat terlambat dari biasanya, awalnya Radit tak ingin pulang karna dia pasti akan melewati simpang tiga itu, Radit bukan tipikal orang yang pemberani untuk urusan mistis, jadi dia juga tak akan berani jika harus tidur ditempat kerjanya yang pastinya malah banyak yang menjaga.
Pada akhirnya Radit melangkahkan kakinya juga untuk pulang, baru juga dia melangkahkan kakinya dipersimpangan jalan itu, Radit sudah mendengar Isak tangis seorang wanita, jika biasanya dia hanya mendengar namanya dipanggil, tapi kali ini dia mendengar tangis gadis itu.
Oh sungguh tangisan itu tidak membuat Radit takut melainkan membuatnya terenyuh, hatinya tiba - tiba saja tercubit karna tangisan itu, entah keberanian dari mana Radit memutuskan untuk mencari sumber suara tangisan itu, tidak seperti Radit saja.
Setelah cukup lama dia berjalan akhirnya dia menemukanya, seorang gadis dengan pakaian sebatas lutut berwarna nude tengah menangis sambil menelungkup kan tangannya diwajah, menutup wajahnya dengan tangan karna sedang menangis.
Radit memperhatikan gadis itu yang sepertinya tengah kebingungan mencari sesuatu, setelah tak menemukan yang dicarinya dia kembali berdiri ditempatnya semula, menunggu dengan sabar entah apa yang ditunggu, namun sedetik kemudian tangis itu kembali terdengar menyayat sembilu.
"Ngapain ada perempuan tengah malam disini?" itulah pertanyaan yang terlontar dari mulut Radit, saking penasarannya akan gadis itu Radit akhirnya memutuskan untuk menemui gadis itu.
"Kenapa menangis sendirian?" tanya Radit memberanikan dirinya bertanya, setelah lima belas menit dirinya berada tepat disamping gadis itu, namun si gadis sepertinya tidak menyadari kehadirannya karna ia merunduk kebawah terus.
Gadis itu nampak terkejut mendengar suara lelaki disebelahnya, "Se- sejak kapan kau ada disini?"pertanyaan gadis itu membuat Radit menerbitkan senyumnya, rupanya gadis ini benar - benar terhanyut dalam dunianya fikir Radit.
"Ada apa? mengapa tengah malam ada disini? dan kenapa menangis?" Tanya Radit.
"Aku menunggu seseorang" jawab gadis itu.
"Siapa yang kau tunggu?" tanya Radit.
"Calon suami ku, mas Radit" jawab gadis itu.
jantung Radit hampir saja berlompatan ditempatnya, itu artinya gadis inilah yang setiap saat memanggil namanya, dan gadis ini sepertinya yang tengah santer diperbincangkan oleh para warga setempat.
Radit meneguk salivanya dengan kasar, 'Ternyata dia bukan sekedar perempuan, pantas saja hawanya terasa aneh, kenapa kaki gue ga bisa digerakan' batin Radit kesal.
"Mas Radit lama sekali, padahal aku sudah menunggunya dari sejak dua bulan lalu disini, tapi dia tak datang juga menjemputku, setiap malam aku disini menunggunya" keluh gadis itu bercerita tanpa diminta oleh Radit, mungkin gadis itu ingin meluapkan perasaannya saat ini.
"Me-memangnya kemana Radit mu itu?" bergetar sudah Radit bertanya pada gadis itu, ingin rasanya dia berlari kabur dari tempat itu tapi kakinya tertanam dipijakan setapak itu, mengusir rasa takutnya dia menanyakan hal itu kepada gadis itu.
"Katanya dia sedang mengganti ban motornya yang. pecah, tapi masa selama itu" keluh gadis itu.
Radit menelan ludahnya',Jadi gadis ini hanya mengingat saat dirinya tengah menunggu calon suaminya saja' batin Radit, Radit memang mendengar dengan jelas bagai mana kejadian dua bulan itu terjadi, karena topik itu yang sedang hangat dibicarakan para ibu - ibu kampung ini.
"Ke-kenapa tidak pulang sendiri?" tanya Radit.
"Tidak bisa" keluhnya.
"ke - kenapa?"
"Aku tidak bisa pergi dari sini, sudah kucoba untuk pergi tapi aku akan kembali lagi kesini, itu aneh seperti magis saja" keluh gadis itu
"Apa kau tidak menyadari sensuatu?' tanya Radit, akhirnya Radit bisa sedikit lebih santai berbicara dengan gadis yang sudah menjadi arwah itu, wajahnya yang cantik tertutup kepucatan, seperti setumpuk bedak ditaburi diwajahnya tanpa mengunakan pemerah bibir, membuat siapa saja takut melihat wajah cantik yang pucat bagai tidak dialiri darah itu.
Gadis itu menggeleng menjawab pertanyaan Radit, ',Apa dia tidak sadar kalau dia suadah tiada' batin Radit bertanya.
"Aku harus gimana? pasti mamah dan papaku khawatir, aku juga khawatir dengan mas Radit, takut terjadi sesuatu padanya, karna mas Radit tidak pernah ingkar janji pada ku" keluh gadis itu.
"Kamu tahu alamat rumah calon suami mu?" tanya Radit, yang diangguki oleh si gadis.
"Coba pergi kesana" jawab Radit.
"Tidak bisa, sudah ku katakan jika aku melangkah dari sini aku akan kembali lagi kesini walau hanya lima langkah saja, itu aneh bukan" kesal gadis itu.
"Apa kau mau tahu sesuatu?" tanya Radit hati - hati, sepertinya dia takut jika gadis itu tidak bisa menerima kenyataannya.
"Apa?" tanya gadis itu.
"Tetapi kau jangan kaget" pinta Radit, gadis itu menautkan alisnya, walau bingung gadis itu tetap mengganggu kan kepalanya, karna dia ingin mendapatkan jawabannya.
Radit mengeluarkan cermin kecil yang kebetulan dibawanya didalam tas, tadi dia sempat cukur bulu - bulu halus diarea rahangnya makanya dia membawa kaca itu.
"Bercerminlah" pinta Radit sambil mengarahkan cermin itu kepada gadis itu, dia tidak memberikan cermin itu pada gadis itu ditakutkan gadis itu malah tidak bisa memegang benda itu, ahhhh penakut tapi suka sekali film horor dan difilm - film yang ditonton Radit jika hantu tidak bisa menyentuh benda disekitarnya, entah itu benar atau tidaknya Radit tidak pernah tau.
Masih dengan perasaan heran gadis itu melakukan apa yang diperintah pemuda dihadapannya itu, pemuda yang baru dikenalnya beberapa jam lalu, alangkah terkejutnya gadis itu saat bercermin, pantulan wajah dicermintu tidak menampakan dirinya hanya ada tiang lampu jalan didekatnya yang terambil, sedangkan wajahnya tidak nampak dicermin itu.
"Apa maksudnya itu, mengapa aku tak nampak disana?' tunjuk gadis itu pada cermin yang dipegang Radit.
"Dua bulan lalu ada kejadian disini, tepatnya beberapa meter dari tempat mu berdiri ada sebuah gubuk tua yang sudah kosong, persis disebelah gubuk itu ada jurang curam, dan warga setempat menemukan mayat seorang wanita disana, tersangkut dipepohonan tanpa mengenakan apapun" jelas Radit pada gadis itu yang tampak masih mematung karna syok melihat bayangannya yang tak nampak dicermin.
"Apa maksud mu gadis itu aku?" tanya gadis itu memastikan.
"Sepertinya iya, karna aku memang tidak tahu kejadian hari itu, aku hanya warga baru disini aku datang setelah kejadian itu terjadi" jawab Radit
"Tapi mana mungkin, bukan kah aku saat ini sedang berada disini" keluh gadis itu tak percaya dengan ucapan Radit
"Untuk hal itu aku tidak tahu, maaf" jawab Radit.
"Lalu aku harus bagai mana?" Saat Radit akan menjawab pertanyaan dari gadis itu, gadis itu sudah menghilang entah kemana, dan terdengar Kokok ayam dari arah tenggara menandakan pagi sudah tiba, mentari dari arah barat dengan malu - malunya memancarkan cahayanya.
Radit menolehkan kepalanya kesana kemari untuk mencari gadis yang sedari tadi mengobrol dengannya tapi Radit tak menemukan gadis itu disana.
Setelah melihat dengan jelas jika pemuda yang berada disampingnya itu tidak bisa melihatnya gadis itu baru sadar apa yang dibilang pemuda disampingnya katakan itu mungkin saja benar adanya.
"Mas Radit" lirirh gadis itu.
selepas kejadian itu jalan simpang tiga itu benar - benar sunyi mencekam setiap malamnya karna suara tangisan dan nama Radit yang terus dipanggil gadis itu, dan Radit semenjak kejadian itu tak lagi bisa melihat wanita itu, selain suaranya hingga akhirnya Radit memilih pindah dari kontrakan pak Somad karna tidak kuat setiap kali berjalan disimpang tiga itu, bukan hanya karna takut saja tapi juga dia merasa kasiahan dengan tangis wanita itu.