Disclaimer: Boss Sombong adalah milik iCiyuan. Cerita ini dibuat semata-mata untuk mengikuti Game membuat cerpen fanfic berdasarkan komik MT yang telah dipilih
🌺🌺🌺
Apa yang akan kamu lakukan jika semua orang terdekat meninggalkanmu?
Dua minggu yang lalu aku memergoki kekasihku sedang bercumbu dengan sahabat baikku.
Satu minggu yang lalu Sepupu yang sangat dekat denganku meninggal ditembak pemberontak saat tengah berpatroli di daerah konflik.
Dan hari ini aku berdiri di depan nisan kedua orang tuaku yang meninggal akibat kecelakaan beruntun di jalan tol.
Kosong, itu yang kurasa. Semua ucapan yang kudengar saat pelayat menyalamiku terasa seperti angin yang berhembus. Lewat begitu saja.
Ku tatap langit yang kelabu. "Mengapa tak sekalian Kau cabut nyawaku?" lirihku diantara sakit yang mendera.
***
Dua minggu berlalu dengan cepat, aku tinggal bersama paman dan bibi. Suasana rumah sangat sepi, tak ada canda tawa atau perdebatan. Bibi sering menangis memeluk foto sepupuku yang memakai seragam hijau loreng kebanggaannya. Paman pun lebih banyak melamun.
Untuk mengurangi sedikit deritaku, aku pergi ke taman tak jauh dari rumah. Kubawa ponselku untuk membaca komik Boss Sombong yang akhir-akhir ini membantuku melupakan masalah.
Saat menyebrang aku tak melihat ke kiri dan ke kanan, karena aku rasa jalanan sedang lengang. Namun ternyata, aku salah. Sedetik kemudian tubuhku terasa ringan melayang di udara. Aku refleks menjerit, detik berikut yang kurasakan kepalaku seperti mau pecah dan keadaan disekitarku menjadi gelap.
Entah berapa lama aku tertidur, saat kubuka mataku ruangan di sekelilingku berwarna putih dengan aroma mawar yang lembut. Aku memegangi dahiku dan berusaha untuk bangun.
"Dora, kau sudah sadar?" suara riang seorang wanita yang tiba-tiba muncul.
Aku mengernyit, merasa tidak mengenali orang itu. Terlebih lagi dia memanggilku Dora, siapa Dora?
"Dora, mengapa kau diam saja?" tanya wanita itu sekali lagi.
"Siapa kau?" terkejut mendengar suaraku sendiri, aku lantas memegangi leherku.
Wanita di hadapanku tak kalah kagetnya. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya kemudian berlari berteriak memanggil dokter.
Sejurus kemudian masuk dokter dan orang yang tak kukenal. Dokter itu bilang aku mengalami amnesia, namun tak permanen. Masih bisa disembuhkan.
"Dora, kami orang tuamu nak." seorang wanita berambut keunguan berbicara sambil menangis. "Apakah kau tak mengingat kami? Bahkan kau tak ingat kekasihmu, Mu Qianchu?"
Napasku tercekat, bukankah Mu Qianchu adalah salah satu karakter dalam komik Boss Sombong?
"Beri aku cermin." pintaku pada mereka. Walaupun semua bingung dengan permintaanku, mereka mengambil sebuah cermin dan memberikannya padaku.
Aku mengarahkan cermin kewajahku secara perlahan. Seketika itu juga aku merasa semuanya berputar. Aku limbung, kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.
***
Keesokan harinya......
Aku termenung di balkon ruang rawat inapku.
"Kenapa bisa seperti ini?" lirihku. "Aku ditabrak sesuatu dan sadar sudah berada di tubuh tokoh antagonis. Hhhhh." dadaku terasa sesak.
Tiba-tiba aku teringat pada jalan cerita komik ini. Pada awal cerita tokoh utama perempuan merasa ditinggalkan oleh keluarga, saudara dan teman-temannya. Persis dengan diriku walau beda penyebabnya.
Kemarin wanita yang mengaku mama mengatakan kekasih, berarti aku berada di masa Dora dan Mu Qianchu belum menikah.
"Kepalaku semakin sakit saja." desisku sambil memegangi kepala.
"Dora." suara lembut seorang gadis terdengar, aku berbalik dan terkejut dengan sosok yang ada di depanku, Shi Xiaonian. "Bagaimana kondisimu?"
Aku menelan salivaku dengan kasar, raut wajahnya terlihat benar-benar khawatir dengan keadaanku. Namun pemilik tubuh ini selalu merundungnya.
Hei, teringat pemilik tubuh yang sebenarnya, kira-kira dimana dia sekarang?
"Dora." sekali lagi ia memanggilku.
"Ak-aku baik Kak. Hanya kepalaku masih sering sakit." aku mengulas senyum canggung karena bingung bagaimana harus bersikap.
Xiaonian terlihat terkejut, mungkin ia menyadari ada yang berbeda dengan tutur kataku.
"Kau, mengenaliku?"
"Eh." benar juga yang ia katakan, aku tak mengenali yang lain tapi aku mengingatnya.
Alasannya mudah saja, karena ia adalah tokoh utama dalam komik yang sering kubaca. Tentu aku mengingatnya. Namun tak mungkin aku mengatakan itu.
"Ah, aku, entahlah...." aku memilih berbalik membelakanginya.
"Baguslah, aku pergi."
"Kak, tunggu." mulutku lebih cepat bereaksi dibanding otakku. "Aku, ingin kau temani."
Xiaonian mengangguk dan menghampiriku berdiri di pagar tepi balkon.
Sebenarnya aku sangat bingung, apa yang harus aku katakan. Ia pun terlihat tak memiliki niat mengajakku bicara.
"Siapa dirimu?"
Kepalaku menoleh dengan cepat, aku tak mengerti arah pembicaraannya. Xiaonian menatap lurus-lurus ke dalam mataku.
"Kau pingsan saat kita sedang berdebat disebuah ruangan saat aku mengantri untuk membuktikan aku tak pernah melahirkan anak dari Gong Ou. Kemudian kau bagun tak mengenali manager dan orang tuamu sendiri, selain aku." jelasnya panjang lebar. "Jadi, siapa kau? Bahasamu, sikapmu, caramu menatap juga sedikit berbeda."
Aku merasa dadaku bergemuruh, rasanya sungguh tidak nyaman.
"Kemarin aku mengalami kecelakaan, saat sedang menyebrang sebuah mobil menabrakku. Ketika membuka mata aku sudah berada di dalam tubuh Dora. Tokoh antagonis yang menyebalkan."
"Tokoh?"
"Ya." aku mulai merasa nyaman berbicara dengan Shi Xiaonian. "Aku berasal dari dunia di luar komik ini."
"Komik?"
"Ya, kau adalah tokoh utama sebuah komik."
Raut wajah Shi Xiaonian berubah dari serius menjadi geli. Sedetik kemudian ia tertawa terpingkal-pingkal.
"Kakak tak percaya padaku?" sebenarnya aku sudah menduganya, namun sedih rasanya ditertawakan seperti itu saat kita berbicara jujur.
"Maaf, Maaf." Xiaonian membekap mulutnya sendiri dan menghentikan tawanya.
Kami terdiam selama beberapa saat.
"Bagaimana kondisimu sebelum kecelakaan." entah bagaimana, Xiaonian memilih percaya ucapanku. Dan sebuah dorongan dalam hati membuatku menceritakan kejadian yang akhir-akhir ini kualami.
Xiaonian merupakan pendengar yang baik, sesekali ia bertanya, ataupun sekedar mengangguk. Rasanya menyenangkan, memiliki teman berbagi rasa sedih.
"Aku lega, ada seseorang yang mau mendengar keluh kesahku."
Xiaonian tersenyum lembut dan mengusap kepalaku. "Aku pun mengalami hal yang sama."
"Ditinggalkan oleh keluarga dan orang terdekat." sambungku.
"Iya, kau benar."
"Tapi kakak adalah gadis yang kuat dan tegar. Lagipula author telah memiliki rancangan yang baik untuk kakak, akhir cerita kak Xiaonian pasti bahagia."
"Benarkah? Begitu menurutmu?"
"Ya, tentu saja." jawabku yakin, ia tertawa pelan.
"Kalau begitu kau juga harus semangat."
"Kenapa jadi aku?"
"Bukankah kau juga ada yang menciptakan?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi, Penciptamu juga pasti memiliki rencana yang baik untuk hidupmu. Lewat segala sesuatu yang kau alami, pasti ada rencana indah di baliknya. Sama sepertiku."
Aku terdiam, mencerna setiap perkataannya. Kemudian mengalihkan pandanganku menatap gedung-gedung bertingkat di depan kami.
"Yahhh, kuharap juga begitu." ucapku pada akhirnya.
"Semangat, dunia belum kiamat hanya karena kekasihmu berkhianat."
Aku terkekeh geli. "Iya, kakak benar."
"Baiklah, aku harus segera pergi. Gong Ou meminta dibuatkan es krim."
"Mm, aku mengerti."
"Sampai jumpa mmm, siapa nama aslimu?"
"Elfere."
"Baiklah, sampai jumpa elfere. Senang berbincang denganmu."
"Aku pun sama. Sampai jumpa kak Shi Xiaonian."
Setelah Xiaonian pergi dari balkon, kepalaku didera sakit yang luar biasa. Dengan tertatih aku kembali ke kamar dan segera berbaring. Dan tak lama kemudian aku terlelap.
***
"Fere, fere, bangun sayang. Katanya mau ke taman."
"Iya bibi, sedikit lagi." gumamku sambil mengubah posisi tidur.
"Bibi?!" aku membuka mata dan segera duduk, di ambang pintu bibi sedang berdiri memegangi dadanya karena terkejut dengan jeritanku.
"Kau ini kenapa?"
Aku mengedarkan pandangan mengamati kamar yang kutempati, kemudian baju yang sedang kupakai. Baju itu adalah baju yang kugunakan sebelum berganti dan keluar menuju taman. Berarti sekarang adalah masa sebelum aku kecelakaan.
"Fere, kok malah melamun?"
"Eh, i-iya bi." aku tersenyum kikuk menatap wanita yang kini merawatku. "Fere di rumah saja, nggak jadi pergi."
"Kenapa?" bibi menatapku dengan alis bertaut.
"Pengen curhat sama bibi." jawabku yakin.
Bibi tersenyum dan masuk ke dalam kamarku. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang.
Itu adalah momen dimana kami saling berbagi rasa sedih, duka, kecewa dan yang lainnya. Momen dimana kami sadar, kami masih memiliki orang yang benar-benar peduli dan mau berbagi beban.
***