Musim gugur 5 tahun yang lalu..
"Maafkan aku, Hana.."
"Why Ryu? bukannya kau bilang sangat menyukai ku?"
....
Ryuuji terdiam tanpa memberikan penjelasan apapun, ia hanya meminta maaf dan setelah itu meninggalkan Hana di bangku taman dalam keadaan menangis tersedu-sedu.
.......
"Argh!" teriak Hana yang terbangun dari tidurnya. Waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi, udara dingin masih menyelimuti kamar kost Hana. Ia terbangun setelah bermimpi kejadian 5 tahun lalu, kejadian yang sangat membekas di hatinya.
Isadora Hanami, seorang wanita berusia 20 tahun yang tengah berkuliah di salah satu universitas bergengsi dengan beasiswa penuh. Hana memang anak yang cerdas sejak duduk di bangku SMP, banyak kejuaaran yang ia ikuti dengan hasil yang membanggakan sekolahnya.
"Kenapa setelah sekian lama gue mimpiin kejadian itu lagi? gue berharap ga akan pernah ketemu Ryu lagi, bahkan sampai detik ini ga ada penjelasan yang dia kasih" tuturnya yang masih kesal sekaligus sedih karena cinta pertamanya yang begitu menyakitkan.
Tok.. tok... suara pintu kamar kost Hana. Hana kaget bukan main mendengar ketukan pintu, siapa pula yang datang jam segini? apa jangan-jangan makhluk halus? Hana perlahan mendekati pintu sambil membawa sapu di tangan kirinya.
Pintu perlahan dibuka...
"Astagaaaa... gue kira hantu eh taunya elo Ben!" Hana menaruh kembali sapu didekat pintu, rupanya yang datang adalah Ben, tetangga kostnya tinggal diseberang kamar Hana. Kost yang Hana sewa terdiri dari enam kamar, empat kamar di lantai bawah dan dua kamar di lantai atas. Di lantai atas ada sisa lahan yang biasa digunakan penghuni kost untuk menjemur atau sekedar menikmati angin segar yang berhembus. Kost tersebut memang bercampur antara laki-laki dan perempuan, pemiliknya seorang wanita paruh baya yang tinggal disebelah bangunan kost.
"Lo berisik, ganggu gue lagi semedi! ngapain sih jam segini teriak-teriak?" omel Ben didepan pintu kamar Hana
"Sssttt, jangan berisik! gue bukan orang gila teriak jam segini, tadi gue mimpi buruk"
"Ah lebay lo, mimpi apaan sampe teriak kenceng gitu?"
"Ah mau tau aja lo Ben! udah sana balik ke kamar lo lagi, gue mau lanjut tidur" Hana pun mengusir Ben dan mendorongnya keluar, saat Hana akan menutup pintu, tangan Ben menahannya.
"Han, punya makanan ga? laper gue, maklum tanggal tua" ucap Ben sambil cengar-cengir
"Ah kan modus aja lo Ben, pake bilang keganggu semedi hahaha bilang aja laper"
Hana pun membuka kulkas, masih ada ayam fillet saus tiram yang ia masak tadi malam. Ia pun menaruh ayam tersebut di piring, kemudian mengambil sebungkus mie instan dari dalam box tempat penyimpanan makanan.
"Ayamnya angetin dulu di dapur, berhubung nasinya udah abis jadi lo bikin mie aja ya" kata Hana sambil menyerahkan makanan tersebut pada Ben
"Thanks Han, kalo gue gajian nanti gue traktir ya"
"Yayaya awas boong! dah sana balik, jangan lupa piring gue balikin dan dicuci sampe bersih"
Keesokan harinya...
Hana berangkat ke kampus seperti biasa dengan berjalan kaki. Hana sengaja memilih kost dekat dengan kampus agar bisa menghemat pengeluaran. Meski biaya kuliahnya ditanggung beasiswa namun kebutuhan sehari-hari tetap harus Hana pikirkan. Untung saja Hana pandai memasak dan berkreasi, sehingga ia sering membuat kudapan atau cemilan yang ia jual kepada teman-teman kampusnya. Uang kiriman orangtuanya ia gunakan sebagai modal dan ia sisihkan sebagai tabungan dana darurat.
Sesampainya dikampus Hana langsung dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya. Ya, mereka semua sudah langganan dengan Hana karena masakan Hana sangat enak. Hari ini Hana membawa aneka gorengan dan juga bihun goreng. Tak sampai satu jam dagangan yang Hana bawa sudah habis.
"Yah lagi-lagi gue keabisan" ucap Merlin yang merupakan sahabat baik Hana
"Makanya kalo dateng ke kampus jangan mepet Mer hahahaha"
"Lo kenapa ga chat gue sih, jadi kan gue bisa minta disisain" gerutu Merlin
"Uuuuhhh kesian banget Mermer, tenang aja jatah lo udah ada di tempat makan. Nanti siang kita makan bareng ya" balas Hana sambil menunjukkan tempat makan yang ada di tasnya
"Ah Hana baik banget sih, jadi makin sayang"
"Makanya jangan ngambek dulu hahahahaha"
"Eh iya Han, lo udah dapet tempat magang belum?"
"Astaga, mampus Mer gue belum nyari! gimana dong?"
"Hmm kalem aja Han, nanti coba browsing di platform atau aplikasi lowongan kerja aja. Siapa tahu ada perusahaan yang lagi buka program magang. Kalo mentok ya minta rekomendasi dari dosen aja, kayaknya kalo lo yang minta sih langsung banyak yang ngasih"
"Ok deh nanti gue coba browsing dulu, thanks Mer udah ngingetin"
.......
Sepulang kuliah Hana langsung duduk di teras atas dan sibuk browsing didepan laptopnya. Tanpa terasa hari sudah mulai sore namun Hana belum menemukan perusahaan yang sesuai dengan jurusannya. Ben yang baru saja pulang kerja langsung memberikan kejutan padanya.
"Sibuk amat"
"Astaga!!! Ih Ben ngagetin aja lo!"
"Lagian lo serius banget, lagi ngapain sih? ga liat apa matahari udah ngumpet, lo masih nongkrong disini"
"Gue lagi nyari tempat magang Ben, gue pengen kejar target kuliah gue biar bisa selesai lebih cepet"
"Sekarang tuh bukan cepet-cepetan selesai kuliah, tapi apa yang udah lo persiapin untuk ngadepin dunia setelah lulus kuliah. Percuma selesai cepet tapi lo ga punya skill atau ilmu, perusahaan sekarang liat nilai tuh cuma formalitas doang"
"Kalo lo perlu tempat magang, kayaknya kantor gue lagi buka. Kalo lo mau coba aja, nanti gue share website kantor gue biar lo bisa cek lebih lanjut"
Hana secara spontan bangun dari tempat duduk dan memeluk Ben, "thanks banget Ben!!!"
"Iya tapi bisa kan ga peluk-peluk begini"
"Bukannya enak Ben dipeluk cewe, ntar nyesel loh kalo Hana punya pacar ga ada yang meluk lagi" suara ibu kost muncul dari arah tangga
Hana yang mendengar pun langsung melepas pelukan dan diam seribu bahasa. Ia sangat malu karena ibu kost melihatnya, "Ibu bikin kaget aja" katanya
"Hahahaha kalian berdua itu kok ya mirip pasangan kekasih ya" sambung ibu kost
"Amit-amit bu punya pacar kaya Hana, bisa pusing kepala saya tiap hari" ejek Ben
Mendengar ucapan Ben, Hana pun langsung menginjak kaki Ben, "gue juga ogah punya pacar kaya elo"
"Ibu ga bisa bayangin kalo kalian jadi suami istri kaya gimana ya hahahahaha"
"Ibuuuuu!!" ucap mereka berdua dengan kompak
"Hahahaha udah kalian pada mandi sana, oh iya nanti kalo mau makan ambil nasi kotak dibawah ya, tadi dirumah abis ada acara arisan dan masih ada lebih jadi buat kalian aja"
"Siap bu, makasih banyak ya" ucap Hana dan Ben, lagi-lagi mereka kompak
Malam harinya Hana dan Ben makan bersama sambil membahas soal pekerjaan magang Hana. Ben bekerja di perusahaan start up yang cukup ternama, banyak anak muda yang berlomba masuk perusahaan tersebut karena fasilitas dan gaji yang lumayan. Hanya saja perusahaan tersebut memiliki seleksi cukup ketat, termasuk untuk para calon mahasiswa magang.
"Gue yakin lo bisa Han, lo kan berprestasi"
"Semoga aja deh Ben, gue pengen cepet lulus trus kerja"
"Lo ngebet banget pengen kerja, gue aja pengennya malah resign trus buka usaha"
"Gue pengen mandiri Ben"
"Baru ini gue nemu model kaya lo Han, temen-temen cewe yang gue kenal cuma tau shopping sama hangout doang"
"Ya circle lo aja lebih tinggi dari gue Ben, jelas aja ketemu orangnya beda level sama gue"
"Gaya lo Han ngomong circle hahahaha tapi ga peduli juga sih gue, mau lo kaya atau engga, gaul atau engga ya selama lo baik sama gue, gue pun akan baik"
Mereka berdua pun berbincang sampai larut malam. Persiapan pengajuan magang sudah Hana siapkan berkat bantuan Ben. Ia sudah tidak sabar ingin segera memulai magangnya.
Keesokan harinya Hana dan Ben berangkat bersama, ibu kost yang berada di depan rumah terus menggoda mereka. Hana dan Ben hanya tertawa menanggapi sikap ibu kostnya itu sambil berpamitan kepadanya.
"Ben ga pake ngebut ya, jangan sampe dandanan Hana berantakan"
"Hana kalo perlu pegang pinggang Ben yang kuat, kalo ngebut langsung cubit aja"
Hana dan Ben mengangguk bersamaan. Setelahnya mereka segera pergi ke kantor Ben.
Sesampainya dikantor, Ben segera menuju lantai 7 dan Hana ke lantai 10. Lift penuh sesak dengan karyawan lain, Hana pun terdorong ke bagian belakang lift.
Ting! akhirnya Hana sampai di lantai 10. Untung saja penampilannya masih oke, segera Hana merapikan rambutnya dan mengikat setengah rambutnya. Ia mendatangi meja resepsionis di lantai itu.
"Permisi mba, saya mau ketemu dengan Bapak Dion"
"Ada perlu apa ya mba kalau boleh tau?"
"Saya ingin mengajukan magang di perusahaan ini, sebelumnya saya sudah kirim email ke beliau"
"Oh untuk magang ya, silahkan ikut dengan saya" resepsionis tersebut mengantar Hana ke ruangan Pak Dion
"Mba tunggu disini sebentar" resepsionis tersebut meminta Hana untuk menunggu didepan pintu, kemudian sang resepsionis masuk ke dalam ruangan untuk memberitahukan kedatangan Hana
"Mba silahkan masuk" ucap sang resepsionis yang keluar dari ruangan
Saat Hana masuk ke dalam ruangan...
Deg!
Hana kaget dan tidak percaya dengan yang ada di depan matanya. itukan... Ryuuji? mantan pacarnya saat SMA dulu.
"Mba Hana, kok malah diam disitu?" suara Pak Dion menyadarkan Hana, dengan cepat ia menghampiri Pak Dion dan menginformasikan maksud kedatangannya. Hana juga menyerahkan dokumen yang sudah ia siapkan semalam.
"Wah keren kamu Hana, beasiswa full ya. Saya terima kamu magang disini, kebetulan saya dan tim sedang membutuhkan orang untuk mengerjakan project baru" ucap Pak Dion
"Te... terimakasih banyak Pak" kata Hana yang masih gugup
"Hahahaha Hana kenapa tegang begitu, tenang... tenang... saya bukan tipe bos galak. Kalo ga percaya bisa tanya dia, bukan begitu Ryu?"
"Iya Pak" jawab Ryuuji singkat
"Minggu depan kamu sudah bisa magang disini, untuk pakaian casual tapi tetap rapi ya"
"Baik pak"
"Oh iya Hana satu lagi, nanti kamu akan saya masukan ke grup chat tim saya. Nanti kamu bisa perkenalan singkat ya biar teman-teman lain tau"
Setelah selesai berbincang dengan Pak Dion, Hana pun pamit. Ia juga berpamitan dengan Ryuuji dan mendapat balasan anggukan darinya. Hana pun mengirim pesan pada Ben dan meminta untuk bertemu. Ben pun membalas pesan dan meminta Hana menunggu di coffee shop yang ada di lantai dasar.
....
"Ben, ini benar-benar gila"
"Apanya yang gila Han? program magangnya ga sesuai ekspetasi lo?
"Bukan, bukan itu"
"Terus?"
"Gue... gue bakal magang sama mantan gue"
"Hah? mantan? lo punya mantan? siapa?"
"Ryuuji"
"Ryuuji? maksudnya Ryuuji Takashi?"
"Iya, lo kenal dia Ben?"
"Ga kenal-kenal banget sih, dia belum lama masuk sini dan udah bikin heboh karyawan cewe disini soalnya ganteng, pinter, ditambah bokapnya dia itu yang punya perusahaan ini"
Hana menepuk jidatnya, makin runyam sudah urusan magangnya.
"Kayaknya gue ga bisa magang disini Ben" ucap Hana lirih
"Lah kenapa? jangan bilang karena Ryuuji? ayolah Hana, lo masih aja terjebak masa lalu? lo harus profesional! mantan ya mantan, magang tetep harus jalan"
Hana meresapi kata-kata Ben, ada benarnya juga. Setelah selesai bicara, Ben pamit karena masih harus bekerja sedangkan Hana kembali ke kostnya.
"Hana..."
Suara familiar itu memanggilnya saat sedang menunggu taksi di lobby kantor. Hana ingin pergi namun tangannya ditahan oleh Ryuuji.
"Lepas, aku mau pulang!" Hana terus berusaha melepas tangan Ryuuji
"Pak satpam tolong saya" seru Hana memanggil satpam yang berjaga di lobby, Ryuuji pun terpaksa melepas tangan Hana karena tidak mau membuat keributan
Satpam yang melihat kejadian itu pun berkata, "Waduh Pak Ryu ada apa ya?"
"Bukan apa-apa pak, maaf ya sebelumnya" balas Ryuuji
Hana segera meninggalkan mereka dan langsung masuk ke dalam taksi. Matanya berkaca-kaca, ia kesal dan sedih dengan sikap Ryuuji tadi.
Setibanya di kost, Hana langsung mengunci kamar dan menangis di tempat tidurnya. "Dasar gila, beraninya dia muncul seperti itu huaaaaaa" tangis Hana pecah, luka di hatinya yang sudah sembuh kini tergores kembali.
Malam harinya Ben tiba di kost, ia bingung mengapa kamar Hana gelap padahal sepatunya ada. Khawatir terjadi sesuatu, Ben pun menghubungi ponsel Hana. Terdengar dering ponsel Hana dari dalam kamar namun tidak ada jawaban. Ben pun mendatangi kamar Hana dan mengetuknya.
"Hana.. hana.. hana are you ok?"
1 menit.. 2 menit.. 10 menit tidak ada jawaban..
"Hanaaaaa!" teriak Ben sambil menggedor pintu kamar Hana
ceklek! pintu kamar terbuka..
Ben terkejut melihat penampilan Hana, make up berantakan, mata sembab dan rambut acak-acakan. Tanpa sadar Ben memeluk Hana, "Hana ada apa? cerita sama gue" ucapnya
Hana kembali menangis di pelukan Ben, "sakit Ben.. sakit huhuhuhu"
Ben pun menuntun Hana masuk kembali ke kamarnya dan menenangkannya, diambil botol minum Hana dari meja dan memberikan padanya.
"You must be strong, mana Hana yang gue kenal! Harusnya lo tunjukin dong ke dia kalo lo udah move on dan hidup lo baik-baik aja tanpa dia"
"Lo sendiri kan yang pengen cepet selesaiin kuliah dan langsung kerja, jadi jangan sia-siain kesempatan yang udah ada"
Tiba-tiba Hana menutup mulut Ben dengan tangannya, "Ben kalo marah kaya ibu-ibu komplek, ga kelar-kelar ngocehnya hihihihi"
Ben tersipu, pasalnya wajah mereka sangat dekat, ingin rasanya Ben mencium bibir Hana. Ia pun berusaha melepas tangan Hana, "karena lo orang penting dan sebagai teman udah seharusnya gue nasehatin lo! udah ya mending lo beres-beres trus tidur, gue balik ke kamar dulu! bye.."
1 minggu, 2 minggu pun berlalu. Hana magang dengan sangat profesional, setiap tugas yang diberikan Pak Dion selalu ia kerjakan dengan cepat bahkan lebih cepat dari waktu deadline. Saat diminta diskusi dengan Ryuuji pun Hana tidak terlihat gugup atau risih, ia bekerja seperti biasa seperti tidak pernah ada kejadian 5 tahun lalu. Berkat kinerja Hana, project yang dikerjakan Pak Dion dengan tim bisa selesai lebih cepat, itu artinya Hana bisa menyelesaikan magangnya sebelum 3 bulan.
"Hana.. Hana.. saya ga ngerti sama kamu, kok bisa ngerjain kerjaan yang belum pernah kamu tangani sebelumnya. Saya salut sama semangat dan kinerja yang kamu kasih ke project ini, saya janji kalo project ini berhasil maka kamu akan saya jadikan rekomendasi ke atasan supaya masuk daftar calon karyawan setelah kamu lulus nanti"
"Hah? Bapak serius? saya cuma ngerjain apa yang saya bisa Pak, terima kasih untuk apresiasinya"
"Saya juga berterima kasih karena kamu banyak membantu project ini" Ryuuji pun tak mau kalah dengan Pak Dion
"Terima kasih, Pak Ryu" jawab Hana singkat
"Ga kerasa sudah dua bulan kamu magang disini dan semuanya selesai lebih cepat. Oleh karena itu besok saya ingin bikin pesta kecil-kecilan untuk mu, surat keterangan magang sudah saya siapkan berikut dengan dokumen yang kamu butuhkan"
"Tapi Pak apa ga merepotkan"
"Hahahaha untuk seorang seperti kamu, saya ga merasa direpotkan. Anggap saja ini hadiah dari saya"
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu"
"Hei Ryu, jangan diam aja dong! anter Hana pulang, kasihan dia selalu pulang sendiri"
Hana langsung berbalik, "Ga apa-apa Pak, saya sudah keburu pesan ojek online"
"Cancel saja, sudah Ryu antar Hana"
Dan akhirnya Ryu mengantar Hana pulang. Sepanjang perjalanan mereka tak saling bicara, Hana mengarahkan pandangannya ke arah jendela mobil.
"Hana" Ryuuji pun membuka pembicaraan lebih dulu
"Maafkan aku, maafkan aku yang meninggalkan mu tanpa memberikan penjelasan apapun. Aku tau kau pasti bingung dengan kejadian waktu itu, tapi aku.."
"Sudahlah Ryu, aku sudah melupakan masa itu"
"Tapi Hana.."
"Walaupun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, aku sudah tidak mau terjebak lagi di masa lalu. Sekarang aku hanya ingin fokus pada kuliah dan masa depan ku"
Ryuuji menghentikan mobilnya, ia membalikan badan Hana agar bisa berhadapan dengannya. Perlahan tangannya memegang kedua pipi Hana dan Ryu pun mencium bibirnya. Hana kaget, ia berusaha melepaskan ciuman itu namun tangan Ryu sangat kuat.
"Kau gila!" ucap Hana kesal, ia hendak menampar Ryu namun tangannya ditahan
"Ya, aku memang gila! aku gila karena dirimu Hana! Kau mungkin bisa melupakan kejadian itu, tapi apakah kau tau kalau aku pun merasa tersiksa dan bersalah karena sudah menyakitimu"
Air mata Hana mulai mengalir, "kalau memang kamu merasa bersalah, kenapa tidak menghubungi ku dan menjelaskan semuanya? kenapa Ryu kenapa!"
"Kamu pergi tiba-tiba dan sekarang kamu bersikap seperti ini padaku, apa sebenarnya yang kamu inginkan?" bentak Hana
Tiba-tiba seseorang mengetuk jendela mobil, rupanya itu Ben. Hana dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar, ia bersembunyi dibelakang Ben.
"Ben ayo kita pulang" ucap Hana
"Lo kenapa?" tanya Ben
Ryuuji pun turun dari mobil, "Hana, tolong dengarkan aku kali ini!"
"Tidak!"
"Aku hanya ingin menjalin hubungan kembali dengan mu. Aku tau aku salah dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi Hana"
Ben berjalan menghampiri Ryuuji dan menarik kerah kemejanya, "jangan ganggu Hana dan jangan harap lo bisa memilikinya lagi! kalau lo membuat Hana menangis lagi, gue pastiin lo bakal berhadapan sama gue!"
Ben kembali ke sepeda motornya kemudian pergi dengan Hana menuju rumah kost. Dalam hatinya penuh dengan amarah, kalau saja Hana tidak disana mungkin Ben sudah menghajar Ryuuji.
Malam itu Ben memikirkan kata-kata yang ia ucapkan pad Ryuuji, "Sial! kenapa gue berkata seperti itu? bagaimana kalau Hana malah benci sama gue? Argh!!"
"Besok gue ajak Hana bicara"
....
Keesokan harinya Ben mengirimkan pesan pada Hana untuk bertemu dan mendapat balasan ya darinya. Ben mulai menyusun kalimat yang akan ia jelaskan nantinya pada Hana, agar Hana mengerti dan tidak salah paham.
Mereka berjanji untuk bertemu di taman dekat kampus Hana, musim gugur kali ini terasa dingin dan menyakitkan bagi mereka bertiga. Ryuuji yang mengharapkan kembalinya cinta Hana, Ben yang ingin mengutarakan perasaannya dan Hana yang berusaha untuk melupakan masa lalunya.
"Sudah lama menunggu?" tegur Hana pada Ben yang sedang duduk di bangku taman
"Baru saja sampai, lo bawa apa?"
"Coklat hangat, ini favorit lo kan hehehe" Hana memberikan segelas coklat hangat pada Ben
"Jadi, ada apa Ben?" tanya Hana
"Soal ucapan gue ke Ryuuji, gue mengatakan hal itu karena gue ga mau dia ganggu lo. Gue memang bukan siapa-siapa lo Han, tapi gue ga suka kalau lo menangis dan disakiti lagi olehnya. Maafin gue ya, gue harap lo ga salah paham"
Hana tersenyum, "bagaimana gue bisa salah paham pada orang yang selalu melindungi gue dan menenangkan gue? justru gue berterima kasih karena lo selalu ada disaat gue terjatuh ataupun senang. Berkat lo perlahan-lahan gue lepas dari masa lalu dan mengejar masa depan. Berkat lo juga gue bisa menghadapi Ryuuji di kantor dan menyelesaikan magang dengan baik"
"Hana.."
"Apa gue... boleh masuk ke hati lo dan mengobati semua lukanya? mungkin ini terdengar gila, tapi gue rasa gue suka sama lo"
Hana terdiam..
Ben pun gelisah..
"Maaf Hana, mungkin gue membicarakan hal ini di waktu yang tidak tepat"
Hana menatap Ben, "aku tidak tau harus mengatakan apa. Kau memang seperti penawar untuk racun di hatiku. Aku menyukaimu Ben, kau pria baik dan juga hebat. Namun saat ini hatiku masih bingung, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab"
"Beri aku waktu seminggu, temui aku disini seminggu kedepan. Jika aku datang dengan coklat hangat, itu artinya aku mengizinkan mu masuk dalam hatiku. Jika syal merah yang aku bawa, artinya kau harus berusaha lebih keras lagi"
Hana pun pergi meninggalkan Ben..
Setelah pertemuan itu, Hana jarang sekali kembali ke kost. Ia beralasan sedang banyak tugas dan harus menginap di rumah temannya, begitulah pesan yang dikirimkan pada ibu kost.
"Sepertinya terjadi sesuatu diantara kalian" selidik ibu kost pada Ben yang sedang menyeduh kopi di dapur
"Tidak ada apa-apa bu"
"Biar begini ibu pernah muda, ah jadi kangen almarhum bapak. Kalau dia masih disini pasti kamu udah diajak ceramah semalam suntuk soal wanita. Hana itu wanita hebat namun hatinya rapuh. Ibu tau persis keadaannya waktu pertama kali ia datang kesini. Jadi kalau kamu memang ingin menjaganya, tolong jaga dengan sepenuh hati dan jangan buat dia kecewa"
"Kalo udah resmi mending buruan diiket, biar ga diambil orang hehehe" ucap ibu kost sambil menepuk pundak Ben
Satu minggu berlalu, tiba-tiba pesan dari Hana masuk ke ponsel Ben. Sebuah pesan lokasi dan waktu pertemuan mereka. Ben segera bersiap, ia sudah menyiapkan hati dan mentalnya kalau pada akhirnya mereka tidak bisa bersama.
Sesampainya di tempat, Ben terkejut karena Ryuuji juga ada disana. Hana tersenyum dan mempersilahkan Ben untuk duduk di sampingnya.
"Ah daun maplenya mulai berjatuhan" ucap Hana yang mengambil selembar daun maple, ia letakan daun itu di pangkuannya
"Terima ini Ben" ia menyerahkan daun maple itu dan juga sebuah paper bag
"Apa ini?"
"Buka saja"
Saat Ben membuka paper bag, ternyata didalamnya ada syal merah dan segela coklat hangat.
"Hana, ini apa maksudnya?" tanya Ben
"Aku mengizinkan mu untuk masuk ke hatiku, namun aku juga ingin melihat seberapa keras usaha mu untuk mengobati hatiku. Maafkan aku kalau ini menyulitkan mu, namun aku tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali"
"Dan untukmu Ryuuji, aku sudah memaafkan mu sejak kamu meninggalkan ku waktu itu. Kamu juga seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan. Namun aku tidak bisa menerima mu kembali masuk ke hatiku, karena kini sudah ada seseorang yang sedang mengobatinya. Aku hanya berharap kamu bisa belajar dari kesalahan mu dan semoga kamu bisa dipertemukan dengan seseorang yang mengerti dirimu"
"Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya? mungkin setelah ini kita akan jarang bertemu, karena aku akan pergi ke London untuk meneruskan perusahaan ayah ku disana" ucap Ryuuji
"Mintalah izin pada Ben, dia yang menjaga ku sekarang" balas Hana
"Bolehkah, Ben?"
"Peluklah Hana seperti kau memeluk seorang teman. Aku harap setelah ini kita bertiga masih bisa berhubungan dengan baik. Hubungi kami kalau kau kembali kesini" ucap Ben
Ryuuji memeluk erat Hana, ada rasa hangat yang menyelimuti perasaannya. Seketika memori masa lalunya muncul, Ryuji tersenyum tipis sekaligus lega. Meski cintanya tidak bisa kembali, setidaknya ia masih bisa berhubungan baik dengan Hana.
"Jaga dirimu disana, makanlah yang baik dan istirahat yang cukup. Jangan lupa temukan cintamu juga dan perkenalkan pada kami" kata Hana
Ryuuji melepaskan pelukannya, "terima kasih kalian masih mau menerima ku. Aku pamit, kalian harus tetap bersama sampai aku kembali"
Ryuuji pergi dengan hati yang lega dan lapang. Tersisa Hana dan Ben yang masih duduk di taman. Tangan Ben mulai bergerak menggenggam tangan Hana.
"Tangan mu dingin, udaranya juga. Ayo kita pergi menghangatkan diri"
"Kau tidak berpikiran macam-macam kan?" goda Hana
"Memangnya aku gila? lagipula, kenapa kau bisa berkata seperti itu? jangan-jangan..."
Hana mencubit pinggang Ben, "jangan cerewet! ayok kita pulang"
Hana dan Ben pun menyusuri taman maple yang daunnya mulai berguguran. Ben berjanji dalam hatinya akan membuat Hana bahagia..