Tiada malam tanpa mendengar suara keributan. Hati anak mana yang tak sakit jika terus-terusan mendengar suara teriakan dan tangisan dari ayah dan ibunya. Alana bersandar dibalik pintu kamarnya, membekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara isak tangis. Namun, sekuat apapun Alana menahannya, air matanya tetap menetes dan isak tangis lolos begitu saja.
Malam ini adalah malam kesekian kalinya dimana ayahnya selalu membentak ibunya, entah apa alasannya. Yang Alana tau, ayahnya membentak ibunya dan berakhir ibunya akan menangis di kamar tamu. Alana tak pernah ingin mencari tau tentang masalah orang tuanya, walaupun seharusnya Alana berhak mengetahuinya. Alana hanya tak ingin menyakiti dirinya dengan fakta yang akan diterimanya. Healing terbaik menurut perempuan adalah menangis dan setelahnya adalah tertidur.
Alana Liora Gantari. Alana merupakan anak tunggal dari Danu dan Andin. Alana berusia 13 tahun. Alana merupakan salah satu manusia di bumi yang sangat sulit untuk bersosialisasi.
Di rumah Alana, kebohongan dimulai ketika ia membuka pintu kamarnya di pagi hari. Perbincangan hangat yang sebenarnya hanyalah kebohongan yang diciptakan kedua orang tuanya untuk membuat semuanya terlihat baik-baik saja.
"Pagi....." sapa Andin
"Pagi juga mah, pah..." jawab Alana sambil tersenyum.
Ucapan selamat pagi dan senyum dari kedua orang tuanya membuat Alana juga ikut berperan dalam kebohongan ini. Berpura-pura bahwa semuanya memang baik-baik saja, seolah Alana tak mengetahui pertengkaran kedua orang tuanya. Makan tanpa berbicara memanglah sudah menjadi peraturan. Dan itu berlaku di keluarga ini pula.
Setelah makan dan membantu Andin membereskan rumah, Alana kembali masuk ke dalam kamarnya.
Berhubung pandemi covid belum berakhir, maka sekolah dipindahkan di rumah atau sekolah online. Alana masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Sejenak ia bersandar, menghela napas panjang dan tersenyum. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menenangkan diri adalah menarik napas dan menghembuskannya kemudian tersenyum.
Duduk di meja belajarnya, mengerjakan tugas yang sudah guru kirimkan. Namanya sekolah online, mengerjakan tugas pun perlu pakai otak online yaitu google. Setelah mengerjakan tugasnya, Alana mengeluarkan kotak jam tangan berwarna hitam dari laci meja belajarnya. Walaupun kotak itu adalah kotak jam tangan tetapi isinya bukanlah jam, melainkan beberapa buah silet, jarum pentul dan ada satu pecahan cermin yang memiliki ujung tajam.
Memandanginya cukup lama, Alana mengambil satu buah silet yang masih bersih atau bisa dibilang masih baru.
Mengarahkan silet tersebut ke lengannya, mengiris permukaan kulitnya dengan pelan, menikmati tiap rasa sakit hingga beberapa saat darah mulai keluar. Alana melakukannya di beberapa area tangannya, tapi tidak di bagian nadi. Tidak sekarang, mungkin di lain hari.
Membiarkan darahnya mengerikan, Alana mengambil kertas HVS dan mencoret-coretnya sehingga terbentuk gambar abstrak. Mendengar suara mobil, Alana sudah tau kalo ayahnya akan pergi. Entah pergi bekerja atau ke tempat lain, Alana tak ingin tau.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan, Alana berdiri dan berjalan untuk membuka pintu.
Orang yang mengetuk pintu adalah ibunya, Andin.
"Mama mau pergi dulu, mungkin pulangnya sore. Kamu mau apa?" Ucap Andin, penampilannya memang sudah rapi.
Alana menggeleng.
"Baiklah, mama pergi dulu" Alana mengangguk.
Setelah ayahnya pergi, mamanya juga ikut pergi. Alana tak merasakan kesepian apalagi takut, karena dirinya sudah sering berada di rumah sendirian. Bahkan sesekali baik ibu dan ayahnya tak pulang, alhasil sehari semalam Alana hanya sendirian. Bagi Alana ia sudah berteman dengan sepi jadi bukan masalah baginya.
Membaringkan tubuhnya di atas kasur, Alana mengangkat lengannya melihat darah yang sudah mengering. Rasanya kalo hanya beberapa goresan tak cukup. Alana bangkit mengambil silet dan kembali menggores kulitnya.
Jika Anda berpikir menggores kulit adalah kebodohan maka jawabannya adalah IYA. Alana bodoh karena selalu menggores kulitnya, Alana bodoh karena selalu menarik rambutnya hingga kepalanya sakit, Alana bodoh karena selalu mengkonsumsi obat Paracetamol dan obat tidur untuk bisa tidur, dan masih banyak lagi kebodohan yang menyakiti diri selalu Alana lakukan.
Setiap orang punya alasan tersendiri untuk melakukan berbagai kebodohan, begitu pun dengan Alana. Semua kebodohan yang Alana lakukan bermula dari ia membaca novel di salah satu aplikasi. Dan Alana membaca satu paragraf bahwa melukai diri sendiri ketika berada dalam masalah dapat membuatmu merasa lega dan tenang. Dan Alana mulai melakukannya, memang benar. Melihat darah yang perlahan keluar dari permukaan kulit dan merasakan sensasi perih dari luka itu, membuat Alana tenang juga lega. Dan hingga kini melukai diri sendiri itu seolah candu bagi Alana.
Setelah menambahkan beberapa goresan, Alana kembali mencoret coret kertas. Mungkin jika seorang psikolog yang melihat gambar Alana, ia akan mengerti jika anak perempuan ini memiliki penyakit mental. Bagaimana tidak, gambar Alana hampir mirip dengan gambar yang biasa digambar oleh pasien rumah sakit jiwa. Hanya berupa coretan namun memiliki arti dalam dan menyedihkan.
Setelah selesai Alana memilih berbaring, tidur dibawah pukul 11 siang memang tidak baik tapi Alana suka. Berbaring sambil mendengarkan musik sedih adalah kebiasaan Alana. Membiarkan beberapa lirik lagu mewakilkan semua yang tak pernah ia katakan. Dan beberapa menit kemudian matanya telah terpejam dan napasnya mulai teratur pertanda Alana sudah memasuki alam bawah sadarnya.
12.32
Alana membuka matanya, hal yang pertama ia cari adalah ponsel. Setelah melihat jam pada ponselnya, Alana berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Melaksanakan sholat dhuhur dengan khusyu, Alana bersujud lama pada sujud terakhirnya. Setelah selesai salat, Alana mengadahkan tangannya untuk berdoa.
Berdoa adalah pembicaraan rahasia antara pencipta dan ciptaannya. Maka dari itu biarlah hanya Alana dan Tuhan yang tau doa Alana.
Aamiin...
Setelah berdoa, Alana mengusap wajahnya dengan mukenanya. Matanya masih terlihat berair menandakan ia menangis dalam doanya. Walaupun Alana sering melakukan hal yang biasa orang bilang adalah "hal bodoh" tapi tetap saja Alana tak pernah ingin meninggalkan kewajibannya. Alana tak pernah menyatakan dirinya depresi atau punya penyakit mental karena Alana tak merasa. Tapi mungkin memang iya, hanya saja Alana selalu menepisnya.
Di dunia ini, banyak remaja yang mengalami penyakit mental, dari yang yang biasa sampai yang paling parah.
Seperti remaja introvert (tertutup) sampai ke yang paling parah yaitu gila atau stres. Hal ini terjadi karena kurangnya edukasi dan peduli dari orang tua. Orang tua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah dan ibu.
Matahari telah digantikan oleh bulan, langit biru juga digantikan oleh langit hitam, dan siang digantikan malam. Malam sudah larut, namun baik Danu maupun Andin masih belum pulang. Alana duduk di lantai dengan beberapa buku catatan lamanya yang sudah tak terpakai. Air matanya menetes, tangannya merobek kertas-kertas itu dengan kasar. Kakinya terasa tak nyaman dan rambutnya sudah acak-acakan.
Entah apa yang terjadi pada dirinya, Alana selalu merasa perasaannya sangat cepat mengalami perubahan. Terkadang ia sedih dan menangis, terkadang terdiam dan tersenyum, dan terkadang saat ada hal lucu, Alana tertawa namun beberapa detik setelahnya Alana akan menangis.
Kertas yang tadinya membentuk buku kini telah menjadi kepingan kertas yang berhamburan. Alana melihat kedua tangannya yang gemetar. Matanya semakin banyak mengeluarkan air.
Alana berdiri dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, mengambil bantal guling dan menelusupkan wajahnya.
"Aaaargggggghhhhh"
"Aaaaaaaaaaarrrghhhhh"
Alana berteriak. Berteriak di dalam bantal guling, memang salah satu cara yang dapat menenangkan diri. Alasan Alana merobek kertas, tangannya yang gemetar, menangis, dan berteriak....Alana juga tak tau, semua ini memang beberapa kali terjadi ketika ia sendirian dan semua itu diluar kendalinya.
Setelah cukup tenang, Alana keluar untuk makan. Malam ini sepertinya baik ayah dan ibunya tak pulang. Tapi tak apalah. Alana lapar. Mie goreng instan adalah makanan kesukaan Alana. Mudah di dapat, mudah diolah, dan rasanya enak. Alana makan tanpa berbicara, untuk apa juga berbicara jika tak ada lawan bicara.
Setelah makan dan mencuci piringnya, Alana memutuskan untuk pergi ke indoapril yang berada di perempatan.
Hanya berjalan kaki, sekalian olahraga di jam delapan malam seperti ini.
Alana memilih beberapa minuman bersoda, wafer, dan cemilan pedas.
Berhubung ada apotik di sebelah indoapril, Alana ingin membeli beberapa butir obat tidur.
Setelah selesai Alana tentu langsung pulang, saat di perjalanan ia melihat temannya lewat mengendarai sepeda motor. Ingin menyapa namun segan, Alana hanya tersenyum pada teman kelasnya itu dan temannya itupun membalasnya. Saat sampai di rumah, ternyata kedua orangtuanya masih belum pulang. Oke sudah dipastikan mereka tak akan pulang. Alana masuk ke kamarnya membawa belanjaannya. Duduk di lantai dengan laptop yang sudah ada di atas meja yang berada di depannya. Nonton film action di kala sendirian adalah hal yang menyenangkan.
Alana menatap lama laptop tersebut, hingga rasa bosan melanda. Alana memutuskan untuk mematikannya saja.
Lebih baik menonton tok tok di ponsel.
02.17 dini hari sudah, mata Alana masih belum juga terpejam. Bahkan tak ada tanda-tanda ia akan tertidur. Dan beberapa minuman sudah habis. Menatap sekeliling kamar, putih polos. Alana berdiri, mengambil obat tidur yang kemarin ia beli. Meminum dua butir obat. Tak lama matanya perlahan-lahan mulai terpejam.
Mungkin seharusnya Alana hanya minum satu butir, bukan dua. Alhasil sudah pukul sembilan pagi, Alana masih belum bangun.
"SUDAH BERAPA KALI AKU BILANG, AKU GAK SELINGKUH"
"GAK SELINGKUH GIMANA? JELAS-JELAS KAMU SEMALAMAN ADA DI RUMAH PEREMPUAN ITUU"
"..........."
"DIAM KAN KAMU, GAK BISA JAWAB?"
"ANDIN, AKU GAK SE-LI-NG-KUH"
"KALO GAK SELINGKUH NAMANYA APA MAS"
Mendengar suara keributan, mata yang tadinya terpejam kini perlahan-lahan terbuka. Menatap sekeliling kamar yang berantakan. Dikarenakan obat tidur, Alana sampai melewatkan salat subuh.
Alana bangkit dan menuju kamar mandi, setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Alana membuka pintu kamarnya, dan berjalan mendekati kamar orangtuanya.
Pintu yang sedikit terbuka membuat Alana dapat melihat ibu dan ayahnya bertengkar.
"Mah...... pah......." Panggil Alana pelan dari depan pintu
Danu dan Andin menoleh bersamaan ke arah pintu, dimana Alana berdiri.
"Mah...pah...bisa gak kalo ada masalah di omongin baik-baik, gak usah saling teriak. Malu sama tetangga" ucap Alana menatap bergantian ibu dan ayahnya.
"Alana. Sinii" panggil Danu, Alana berjalan mendekat.
"Sekarang kamu pilih, mau tinggal sama papa atau sama mama"
Deg
Jantung Alana berdegup kencang, badannya tak bisa bergerak, matanya mulai berkaca-kaca. Mendengar pilihan yang diberikan ayahnya membuat hatinya sakit. Keadaan yang selalu membuatnya takut, kini benar-benar terjadi. PERCERAIAN.
"Huffttt" Alana menghela napas lega, walaupun jantungnya berdegup kencang.
Mimpi. Ternyata tadi hanyalah mimpi. Lega dan takut. Alana lega karena itu hanyalah mimpi, dan takut hal itu akan menjadi kenyataan. Bagaimana jika kedua orang tuanya bercerai? Rasanya untuk membayangkannya Alana tak sanggup. Memiliki ayah dan ibu namun tak tinggal serumah. Sulit dan sakit. Jika memang itu terjadi, hidup Alana akan sulit. Tak akan ada rumah untuknya kembali pulang, tak akan ada lagi arti rumah dalam hidup Alana. Sungguh menyedihkan. Beruntung ini hanyalah mimpi.
Alana mencari ponselnya dan saat menemukannya, Alana melihat jam yang masih menunjukkan pukul 05.02. Alana bangkit dan menuju kamar mandi.
Setelah dari kamar mandi, Alana melaksanakan salat subuh.
Saat selesai, Alana keluar dan menuju kamar kedua orang tuanya.
Saat Alana membuka pintu kamar kedua orang tuanya, tak terlihat siapapun. Danu dan Andin memang tak pulang.
Menutup kembali pintu kamar dan berjalan menuju pintu masuk rumahnya. Saat membuka pintu, bersamaan dengan itu mobil masuk ke pekarangan rumah. Dan itu adalah Danu.
Danu keluar dari mobil dan tersenyum kepada anak semata wayangnya. Alana membalas senyum ayahnya. Entah senyum ikhlas atau tidak, Alana tak peduli. Selama ayahnya bersikap baik kepadanya, Alana tak akan menghakimi Danu sekalipun Danu bersikap buruk kepada Andin.
"Mama sudah pulang?" tanya Danu, Alana menggeleng. Memang Andin belum pulang.
"Yasudah masuk gih" ucap Danu dan merangkul putrinya yang kini sudah besar bahkan Alana sudah hampir menyaingi tinggi Danu.
"Pah, mama memang kemana?" tanya Alana
"Mama ke....mama sedang ada urusan, katanya ada temannya yang sedang sakit. Kenapa?" ucap Danu, Alana hanya menggeleng.
"Aku masak dulu ya pah" ucap Alana, Danu mengangguk.
Rasanya sudah lama Danu tak merasakan nasi goreng buatan putrinya. Nasi goreng yang pernah membuat wajahnya memerah dikarenakan menahan pedasnya makanan itu. Namun, ada rasa sedih di balik Alana yang mulai pandai memasak. Danu merasa Alana sudah sangat dewasa, putri kecilnya itu sudah bisa memasak dan membereskan rumah. Dan waktu seakan semakin menipis. Kelak seorang ayah harus ikhlas melepas putrinya untuk memulai lembaran baru dihidupnya. Dan Danu tak ikhlas, rasanya begitu sulit.
Alana menyajikan nasi goreng buatannya, ia melangkah menuju kamar untuk memanggil ayahnya. Membuka pintu pelan, ternyata ayahnya sedang bersandar di sandaran tempat tidur dengan laptop yang berada di pangkuannya. Di masa pandemi seperti ini, kondisi ekonomi mengalami penurunan.
"Pah, ayo makan" ajak Alana, Danu mengangguk dan meletakkan laptopnya.
Alana mengisi piring ayahnya tak lupa juga menuangkan air minum ke dalam gelas. Alana memperhatikan ayahnya yang mulai menyendokkan nasi dan memakannya. Danu sadar sedang di perhatikan, ia pun menatap Alana.
"Pah, kali ini biarin kita ngobrol sambil makan" ucap Alana, Danu mengangguk dan tersenyum.
"Iya sesekali" ucap Danu.
Alana pun mulai memakan nasi gorengnya. Sesekali tersenyum menatap ayahnya.
"Pah, baru kali ini kita makan berdua lagi. Selama ini kita cuma makan bareng kalo lagi sarapan aja. Makan siang sama makan malam papa gak dirumah" ucap Alana membuat hati Danu berdenyut. Benar selama ini, Danu terlalu sibuk hingga jarang meluangkan waktu untuk Alana.
"Maafkan papa, papa terlalu sibuk" ucap Danu.
Alana mengangguk mengerti "gak pa-pa, aku tau papa kerja keras itu buat aku sama mama...."
Alana membereskan piring dan langsung mencucinya. Setelah selesai, Alana membuatkannya kopi untuk ayahnya yang kini tengah berada di ruang keluarga. Duduk disamping ayahnya yang sedang berkutat dengan laptop. Alana meletakkan kopi di atas meja.
"Pah......"
"Hmmm"
"Papa berhenti dulu!"
"Iya sebentar lagi ini selesai"
"Papa......"
Danu menyerah, ia meletakkan laptopnya dan beralih menatap Alana.
Permintaan Alana adalah hal yang sulit di tolak oleh Danu. Entahlah, hanya saja berat jika mengabaikan anaknya.
"Kenapa nak?" tanya Danu
"Hari ini papa gak perlu kerja, aku mau kita seharian ini sama-sama, mau kan pah" ucap Alana memohon.
Danu mengangguk "mau kemana memangnya?"
"Di rumah aja, gak perlu kemana-mana"
Setelah membersihkan rumah, Alana menyusul ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga. Danu fokus menatap televisi yang menyiarkan berita covid.
Saat tengah fokus, ponselnya yang berada di atas meja itu berdering menandakan ada panggilan masuk. Belum sempat mengucapkan kalimat, Alana melihat ayahnya yang berdiri dan perlahan menjauh hanya untuk menjawab telepon.
Selang beberapa menit, Danu kembali.
"Alana, maafkan papa ya nak. Hari ini papa harus keluar, ada urusan mendadak" ucap Danu, Alana mengangguk lesu dan berusaha untuk tetap tersenyum.
Melihat punggung ayahnya yang mulai hilang dari pandangannya, Alana pun memilih masuk ke kamarnya. Hari ini seharusnya Alana bahagia dikarenakan akan menghabiskan waktu bersama ayahnya. Namun, apalah daya jika bagi Danu pekerjaan lebih penting daripada keluarga. Mungkin seharusnya juga Alana tak berharap banyak untuk bisa menghabiskan waktu bersama ayahnya, mengingat betapa sibuknya Danu.
Saat tengah membaringkan tubuhnya, ponselnya berdering. Alana melihat si penelepon yang ternyata adalah ibunya.
Antara mau dan tidak. Alana memilih mengabaikan panggilan telepon ibunya. Karena suara deringan ponsel yang tak berhenti, Alana akhirnya menjawabnya saja.
"Kalo mama gak mau pulang gak pa-pa, aku udah biasa sendirian" ucap Alana dan mengakhiri panggilan telepon.
Belum sempat Andin mengucapkan kalimat, Alana sudah mengakhiri panggilan telponnya.
Di seberang sana, Andin menghela napas. Sepertinya Alana sudah sangat hapal dengan apa yang ingin dikatakannya hingga Alana langsung mengakhirinya. Memang tadi Andin ingin mengatakan hari ini ia tak pulang.
Kembali kepada Alana. Alana masuk ke dalam kamar mandi. Walaupun sudah mandi, tetapi Alana lagi-lagi membiarkan tubuhnya basah. Beberapa menit berlalu, tapi Alana masih saja betah di dalam kamar mandi. Menatap pada tangannya yang pucat dan gemetar. Alana benci hal ini.
Alana menatap sekeliling kamar mandi, air matanya tiba-tiba saja menetes diiringi Isak tangis dari bibirnya.
Menutup matanya sejenak, dan....
Duk
Duk
Duk
Duk
Duk
Alana membenturkan kepalanya ke dinding kamar mandi. Tangannya bergerak untuk mencubit kakinya. Alana benci jika harus mengalami hal ini. Segala tubuhnya menjadi tak nyaman, kakinya serasa mati rasa namun bukan keram, keinginan mengigit bibirnya sendiri semakin menjadi, rambutnya sudah acak-acakan karena ditarik, walaupun kepalanya baru saja dibenturkan beberapa kali tapi Alana belum merasakan apa-apa. Entah ini gejala apa.
11.21
Alana baru keluar dari kamar mandi setelah 4 jam berada di kamar mandi. Tubuh yang dingin, bibir yang pucat, dan tangan yang keriput. Setelah berganti pakaian, Alana mengeluarkan kotak jam tangannya yang berisi benda-benda yang bisa dibilang adalah benda kesukaannya. Tentu saja silet.
Melukai diri sendiri adalah candu bagi Alana. Namun, walaupun sering melakukannya, dan hal ini bisa merugikan diri sendiri tetapi segila-gilanya Alana ia tak pernah ingin berhubungan dengan yang namanya "obat terlarang" padahal pernah ada seseorang yang menawarkannya setelah mendengar cerita tentang Alana. Orang itu pernah menolong Alana saat hampir dilecehkan oleh gerombolan preman. Semalaman Alana menangis dan menceritakan tentang keluarganya yang penuh kebohongan. Alana sebenernya ingin, tapi bukankah harga obat terlarang itu mahal.
Menggores lengan kiri dan betis kanan kirinya, Alana tersenyum menatap darah yang perlahan keluar dari luka yang baru saja ia buat. Tubuhnya yang dingin sehingga ia tak merasakan perih seperti biasanya dan hal itu membuat Alana suka karena bisa membuat banyak luka.
Alana membaringkan tubuhnya di kasur, membiarkan betisnya yang mengeluarkan darah. Walaupun tak banyak, tapi tetap saja darah itu masih keluar dari lukanya. Dan perlahan matanya mulai terpejam dan meresapi lirik lagu yang ia dengerkan. Dan lirik paling membekas dihatinya adalah....
Wajar bila saat ini
Ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana
Indah dalam rumah.
Hal yang selalu aku bandingkan
Dengan hidup ku yang kelam.
Lagu "diary depresi ku" milik last child itu adalah salah satu lagu kesukaan Alana. Karena ada lirik yang seolah mengerti keadaannya walaupun tak semua.
Mata yang semula terpejam kini perlahan-lahan terbuka. Alana bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya yang sembab. Memakai hijabnya, memakai masker dan mengambil uang.
Alana berjalan pelan menuju indoapril, walaupun dilingkungan nya banyak yang mengenalnya. Namun, banyak yang ragu untuk menyapanya. Bukan tanpa alasan, Alana ini termasuk salah satu anak perempuan yang jarang keluar rumah tanpa alasan yang penting. Padahal di dekat rumahnya ada lapangan, dimana di sore hari banyak anak-anak, remaja seumuran Alana, dan ibu-ibu kang gosip. Namun hanya Alana lah yang tak berbaur dengan orang-orang disekitarnya. Fyi Alana tak suka keramaian.
Memilih mie instan Korea yang super pedas, cabai bubuk dengan lever tinggi, minuman kaleng bersoda, minuman instan bersoda, kopi instan, dan beberapa cemilan pedas.
Segala yang berlebihan itu tak baik, tapi segala yang berlebihan dan tak baik itu rasanya enak, awalnya. Walaupun pasti ada efek sampingnya, seperti sakit perut dan kerusakan organ dalam tubuh jika di konsumsi terus-menerus.
Saat membuka pintu rumah, Alana mendengar suara keributan dari kamar kedua orangtuanya.
"KAU SELALU MENGATAKAN AKU SELINGKUH, SEDANGKAN DIRI MU APA? HAH"
"MAS MEMANG SELINGKUH, DAN AKU? APA YANG KU LAKUKAN. APA MAS PERNAH MELIHAT KU BERSAMA PRIA LAIN? TIDAK BUKAN"
"TERUS APA YANG KAU LAKUKAN DI LUAR SANA SEHINGGA LUPA JALAN PULANG?"
"AKU KERJA MAS, KERJA."
"KERJA? KERJA ATAU JUAL DIRI"
PLAKKKKKK
Alana terdiam di depan pintu kamar kedua orang tuanya. Tadinya ia ingin masuk, namun diurungkan saat mendengar suara tamparan yang begitu nyaring. Siapa yang ditampar?-pikir Alana.
"Kau menampar ku?" Suara Danu terdengar kembali, mendengar perkataan ayahnya. Alana tau, ayahnya lah yang di tampar.
"Hiks...hiks..." isak tangis Andin membuat Alana makin penasaran, ia melangkah mendekati pintu mencoba mendengar dengan jelas apa yang dikatakan ibunya.
"Hiks...hiks... aku mulai lelah mas" ucap Andin pelan.
Mendadak pintu terbuka dan menampilkan wajah penuh amarah Danu. Alana semula menatap ayahnya, namun melihat tatapan Danu membuat Alana menunduk. Danu mendekati Alana tapi sebelum itu Alana sudah lebih dulu berlari menuju kamarnya dengan tergesa-gesa sambil membawa makanan belanjaannya.
Alana menutup pintu dan menguncinya. Bersandar dibalik pintu kamarnya, perlahan tubuh Alana merosok ke lantai bersamaan dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Alana memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Mendengar adzan yang berkumandang, Alana menarik napas dan kemudian menghembuskannya. Melakukannya beberapa kali hingga dada yang tadinya sesak kembali normal. Alana berdiri dan menuju ke kamar mandi.
Melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Alana melaksanakan salat dengan khusyuk. Setelah selesai salat, Alana mengadahkan tangannya. Menceritakan segala sesuatu yang dirasakannya walaupun sebenarnya Tuhan lebih tau apa yang lebih baik untuk kita. Tapi tetap saja, dari pada memendamnya lebih baik menceritakannya. Alana berdoa cukup lama, matanya pun mulai sipit karena menangis. Mungkin inilah yang orang maksud "titik terendah seseorang adalah ketika ia bercerita sambil menangis kepada Tuhannya"
Setelah selesai, Alana memilih untuk tidur. Membiarkan otaknya berhenti memikirkan masalah orang tuanya, mengistirahatkan tubuhnya, dan agar tidak melukai dirinya. Kali ini Alana tidur tanpa obat.
Setelah ini pasti suasana akan canggung. Apa yang selama ini Danu dan Andin sembunyikan perlahan-lahan mulai terkuak kebenarannya. Seharusnya tadi Alana mengabaikan saja suara keributan itu, bukan malah mendekat dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Alhasil ia menyakiti batinnya sendiri.
Duduk di rumput sambil memeluk kedua lututnya, Alana mendongak saat merasakan ada tetesan air yang jatuh ke tangannya. Hujan, malam ini bumi seakan tau kondisi hatinya yang sedang tak baik-baik saja. Saat terbangun tadi, Alana tak menemukan kedua orang tuanya. Sakit? Tentu saja. Pertanyaan sempat terlintas dalam benak Alana.
"Apa papa mama tak peduli kepada ku? Apa aku tak penting dalam kehidupan mereka?"
Alana tak tau harus bagaimana, bersikap seperti biasa? Rasanya tak mungkin.
Alana membiarkan tubuhnya basah kuyup karena hujan, menatap sekeliling lapangan yang biasanya ramai kini hanya dirinya sendirilah. Hujan semakin deras, Alana memilih untuk pulang. Berjalan pelan dengan tatapan yang kosong, Alana memainkan kukunya hingga tak sadar jarinya terluka.
Sampai pekarangan rumah, ternyata Danu dan Andin berada di teras dengan raut wajah yang khawatir. Alana terus melangkahkan kakinya dan mengabaikan kedua orang tuanya.
Andin menghampiri putrinya, memegang kedua bahu yang telah dingin itu. "Kamu dari mana nak sampai basah kuyup seperti ini?"
Alana diam...
Danu pun ikut mendekati Alana "Alana, dari mana?" Tanya Danu dengan nada dingin.
Alana diam...
"Apa kau bisu Alana?" Bentak Danu dan tanpa sadar ia mencengkram erat lengan Alana.
Alana tak ingin menangis. Namun, matanya tak bisa diajak kerja sama.
Mata yang telah sipit itu kini kembali berkaca-kaca. Bahu yang masih di pegang oleh Andin, kini terasa naik turun seiring dengan isak tangis Alana.
Alana memberanikan diri menatap kedua orang tuanya bergantian, perlahan ia menurunkan tangan Andin yang ada pada bahunya. Juga melepaskan tangan Danu yang mencengkram erat lengannya.
Alana tak peduli lagi akan sopan santun. Mengusap pipinya yang basah. Dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan yang dingin, Alana melangkahkan kakinya meninggalkan Danu dan Andin yang masih terdiam di teras. Walaupun tak sopan, Alana tak peduli. Untuk kali ini ia hanya ingin sendiri.
Danu ingin mengejar putrinya namun Andin dengan cepat meraih lengan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu. Andin menggeleng, matanya nampak berkaca-kaca. Andin mengerti keadaan Alana karena dulu ia pernah merasakannya saat umurnya masih 17 tahun. Tapi Alana? Alana masih 13 tahun tapi harus berada di posisi ini. Disaat anak 13 tahun sibuk belajar, bermimpi, dan bermain, Alana malah sibuk memikirkan apa yang akan terjadi pada nasib keluarganya.
Alana membanting pintu kamarnya dengan keras tak lupa untuk menguncinya. Alana berjalan menuju tempat tidur, sebelum sampai tubuhnya lebih dulu terduduk dilantai. Nyatanya Alana sudah tak sanggup. Semenjak berumur 8 tahun Alana mengalami ini semua, dan kini usianya menginjak 13 tahun dan sebentar lagi ia akan bertambah usia. Tahun demi tahun sudah Alana lewati dan sudah cukup. Alana sudah tak sanggup. Jika dulu kedua orang tuanya bertengkar di tengah malam, kini tidak lagi. Pertengkaran itu tak lagi sembunyikan.
"Hiks hiks kenapa harus aku? Kenapa?"
"Apa dosa ku hingga harus mengalami takdir seperti ini? Hiks"
"Aku lelah...."
Saat Alana menunduk, ia melihat ada silet di lantai dekat kasurnya. Alana menatap benda itu cukup lama hingga tangannya bergerak untuk mengambil silet tersebut. Mengarahkan silet itu ke lengannya, lebih tepatnya ke bagian nadi. Silet sudah menyentuh kulit Alana. Namun, dengan cepat Alana menggeleng.
"Jika aku bunuh diri, bukan lagi dunia kejam ini yang aku hadapi. Tapi akhirat" batin Alana.
Alana membuka hijabnya yang masih basah, menarik rambutnya dengan keras. Silet yang tadinya berada di tangan Alana terjatuh ke lantai. Setelah beberapa saat, dengan tenaga yang masih tersisa Alana bangkit dan mengambil obat tidur yang berada di laci meja belajarnya. Memasukkan 3 butir obat tidur kedalam mulutnya tanpa meminum air. Alana membaringkan tubuhnya tanpa mengganti pakaiannya yang basah.
Malam telah di gantikan oleh pagi. Di bawah selimut yang tebal Alana meringkuk kedinginan. Matanya perlahan terbuka, namun beberapa detik kemudian mata itu kembali tertutup.
Alana bahkan melewati salat subuh. Tubuh yang dingin, bibir yang pucat, dan mata yang sipit. Alana menyibakkan selimutnya, terduduk dan menatap lurus kedepan dengan tatapan yang kosong. Setelah beberapa saat, Alana bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Baju yang semalam basah kini telah kering. Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Alana berdiri didepan pintunya. Menarik napas, menghembuskannya, dan melakukannya beberapa kali. Alana perlu menyiapkan diri untuk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Membuka pintu dan berjalan menuju meja makan, dan apa ini? Tak ada orang. Tak ada yang makan, tak ada Danu maupun Andin. Alana berjalan ke arah kamar orang tuanya, terlihat pintu kamar terbuka. Alana masuk ke kamar orang tuanya, dan tak ada orang di kamar ini.
Sesak, rasanya untuk bernapas pun sulit. Apa yang semalam terjadi, dan apa yang pagi ini Alana saksikan sudah cukup menjadi jawaban atas semua pertanyaan yang sempat terlintas di pikirannya. Alana mengusap pipinya dan berjalan meninggalkan kamar orang tuanya.
Semua ini tak pernah terlintas dipikirannya, Alana pikir setelah kejadian semalam baik Danu maupun Andin akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apa? Bahkan saat ia bangun tak ada seorang pun di rumah ini. Apa Danu dan Andin berpikir Alana tak cukup dewasa untuk tau permasalahan rumah tangga? Jangan lupakan Alana sudah cukup di dewasa-kan oleh keadaan, hidup dalam kepura-puraan yang entah kapan akan berakhir.
Mengganti pakaiannya dan memakai hijab, Alana memilih untuk berjalan-jalan. Saat melewati lapangan banyak yang memandanginya, Alana hanya membalasnya dengan senyum.
Alana melanjutkan langkahnya tak tau arah mana yang akan di tuju.
Taman, langkahnya membawanya hingga ke taman. Alana menatap sekeliling taman yang cukup sepi. Namun, pandangannya tertuju pada seseorang yang dikenalnya sedang duduk di rerumputan bawah pohon.
Alana melangkahkan kakinya mendekati seorang remaja perempuan seumurannya.
"Kara....."
Perempuan bernama Kara itu menoleh melihat Alana yang telah duduk disampingnya. Tadi ia terlalu sibuk melamun hingga tak menyadari telah ada seseorang yang duduk disampingnya.
"Alana..." Ekspresi kaget yang Kara tunjukkan membuat Alana bingung, pandangnya tertuju pada luka memar di pelipis Kara dan Alana menatap lengan Kara. Walaupun baju Kara berlengan panjang, Alana tau. Kara juga melakukan apa yang sering ia lakukan. Self harm.
"Gak usah kaget" ucap Alana, tangannya bergerak untuk meraih lengan Kara. Mengusap luka goresan yang ada pada lengan Kara. Kara menarik lengannya, menutupi lukanya dengan baju lengan panjang yang ia kenakan.
"Gak usah di tutupin,,,,,,,kalo butuh teman cerita, cerita aja. Terkadang kita perlu mengungkapkan apa yang kita rasakan kepada orang terdekat kita. Bukan untuk dikasihani tapi setidaknya ada yang mencoba mengerti apa yang kita alami. Dan aku rasa persahabatan kita belum berakhir" ucap Alana menatap Kara.
Mata Kara berkaca-kaca mendengar penuturan Alana "Alana... makasih. Tapi biarin aku pendam semuanya sendirian. Masalah kamu udah cukup buat kamu pikirin, aku gak pengen nambah pikirkan kamu kalo aku cerita yang apa yang terjadi" ucap Kara menatap Alana dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Perkara keluarga dan persahabatan adalah hal sensitif bagi Alana. Alana memegang bahu kanan Kara. Mengusapnya pelan.
"Hidup kita seru ya, banyak hal yang udah bikin kita sesak. Ha-ha-ha kita beruntung Kara, gak semua orang bisa rasain apa yang kita rasa" ucap Alana yang terllihat aneh karena ekspresinya yang datar.
"Iya kita terlalu beruntung. Kita salah satu makhluk yang dipilih Tuhan dan di percayakan untuk merasakan kehidupan menyedihkan ini ha-ha-haha"
Mereka berdua terlihat sangat aneh, membicarakan hal yang menyedihkan sambil tertawa. Pandangan yang hanya menatap lurus kedepan.
"Aku lupa, hidup Kara lebih hancur daripada hidup aku. Perceraian orang tuanya dan kekerasan yang di alami Kara sudah sangat menghancurkan hidupnya. Sedangkan aku? Orang tua ku terus bertengkar dan mungkin sebentar lagi mereka akan berpisah. Apa setelah ini hidup aku bakal kaya Kara?" batin Alana.
"Kita jalan yuk" ajak Kara yang telah berdiri.
"Kemana?" tanya Alana, namun ia tetap ikut berdiri.
Mereka melangkah meninggalkan taman. Sambil berjalan mereka berbincang membahas hal yang lucu bagi mereka namun menyedihkan bagi orang lain.
Tiap takdir orang itu berbeda-beda, kita tak bisa menentukan hidup siapa yang paling indah dan hidup siapa yang paling kelam. Tiap orang berbeda dalam menghadapi masalahnya, dan tiap orang memiliki porsi kekuatan yang berbeda untuk menjalani harinya yang menyedihkan.
Banyak yang mengatakan jika "orang yang humoris mungkin saja adalah orang yang memiliki banyak luka batin. Namun cara menutupinya adalah dengan tertawaan atau tersenyum". Tak semua orang seperti itu, hanya beberapa saja.
Alana dan Kara sudah berjalan cukup jauh, dan mereka memutuskan untuk berhenti di jembatan. Beruntung pagi menjelang siang ini mendung dan mungkin akan ada hujan yang turun.
Alana dan Kara berdiri, mereka berdua menatap aliran air yang cukup deras.
"Aku pernah baca kalimat dari salah satu tokoh fiksi yang ada di novel yang pernah aku baca. Dia bilang "kalau gue gak dikasi bahagia, itu artinya Tuhan maunya gue yang bahagiain orang-orang. Itu adilkan?" dari semua tokoh fiksi yang aku kenal, mungkin dia yang paling baik" ucap Alana
"Kamu masih suka baca novel?" Tanya Kara. Maklum saja mereka sudah hampir setahun tak bertemu dan tak saling menegur walau lewat media sosial.
Alana mengangguk "hmm baca novel itu udah kaya pelarian buat aku"
Rintik hujan mulai turun, Kara menatap Alana yang tengah mendongak dan menutup matanya. Membiarkan rintik hujan membasahi wajahnya.
"Ayo pulang" ajak Kara menarik lengannya Alana. Alana hanya mengikut saja.
Namun tiba-tiba Alana berhenti, Kara pun ikut berhenti dan menatap Alana penuh tanya.
"Gimana kalo kita lompat?" Tanya Alana yang membuat Kara tak habis pikir. Kara menggeleng.
"Walaupun kita gak baik-baik aja tapi aku gak mau mati dengan cara seperti itu. Aku mau mati jika memang itu sudah waktunya, bukan bunuh diri" ucap Kara, Alana mengangguk. Entah mengapa pertanyaan tadi terlontar begitu saja dari Alana.
"Kamu gak mau mati dengan cara bunuh diri. Tapi tanpa kamu sadari, kamu adalah pembunuh Kara"
Kara mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang dimaksud oleh Alana.
"Kamu, Aku, kita adalah pembunuh Kara. Kita perlahan-lahan membunuh diri kita dengan hal-hal yang menyakitkan, kini hal itu seakan candu" ucap Alana. Kali ini Kara mengerti.
Kara mengangguk "umur gak ada yang tau. Kita gak perlu lompat dari jembatan untuk mati, biarkan malaikat menjalankan tugasnya. Kita cukup diam dan menunggunya" ucap Kara.
Tubuh mereka sudah basah kuyup dan hujan pun sudah semakin deras. Alana dan Kara kembali melangkah kakinya. Tak ada pembicaraan lagi. Mereka hanya diam. Beberapa pengguna jalan memandangi Alana dan Kara. Bagaimana tidak, disaat hujan deras begini mereka berjalan dengan santainya.
Sebuah mobil berhenti di samping keduanya, seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil tanpa menggunakan payung. Kara membulatkan matanya melihat ayahnya berjalan kearahnya dengan ekspresi penuh amarah.
"Pulang" ucap ayahnya Kara, menarik lengan putrinya. Alana menarik lengan Kara.
"Om kalo mau pukul Kara, pikir-pikir lagi. Jangan sampai nanti om menyesal" ucap Alana.
Ayahnya Kara menatap Alana "kamu tidak usah ikut campur"
Kara di tarik paksa untuk masuk ke mobil, Kara menoleh menatap Alana. Memaksakan senyum walaupun sebentar lagi dirinya akan menangis.
Alana pun membalas senyum Kara. Alana ingin membela Kara mati-matian, tapi dulu Kara pernah memperingatkan dirinya untuk tidak melakukan itu. Dan Alana menurutinya demi bisa bersahabat dengan Kara. Karena Kara satu-satunya sahabatnya.
Dari kejauhan Danu dan Andin melihat Alana berdiri di pinggir jalan dan hendak menyebrang. Andin menyuruh Danu melajukan mobil ke arah Alana. Melihat Alana yang menyebrang jalan, Danu menghentikan mobilnya dan membuka jendelanya.
Dari kejauhan sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi. Melihat seorang gadis yang tengah menyebrang jalan, pengendara itu mencoba mengerem. Namun, karena kecepatan tinggi dan jalanan yang licin motor sulit di hentikan. Dan
"ALANAAA AWAS" teriak Danu
Alana mencari arah sumber suara ayahnya, namun pandangannya tertuju pada sepeda motor yang melaju kencang ke arahnya.
BRAAKK
Waktu seakan berhenti, tubuh menjadi sulit digerakkan, jantung berdetak kencang, napas naik turun, baik Danu dan Andin merasakannya. Melihat dan menyaksikan putri mereka terpental hingga darah segar keluar dari hidung, telinga, dan kepala bagian belakang.
Danu menggeleng, membuka pintu mobil dan berlari menuju tempat dimana Alana terbaring dan darah segar mengalir bercampur dengan air hujan. Andin pun ikut keluar, air matanya sudah tak bisa di bendung.
Danu membawa Alana ke dalam pelukan, saat memegang kepala bagian belakang Alana yang masih di balut hijab. Tangan Danu langsung di penuhi darah.
"Alana tolong bertahan nak" ucap Danu saat melihat mata Alana akan tertutup.
"Alana, sayang jangan tutup mata nak" ucap Andin pelan.
Beberapa orang berkumpul mengelilingi Alana. Si penabrak tadi ingin membelokkan motornya namun terlambat. Dan si penabrak juga terluka cukup parah.
"Kita ke rumah sakit nak, tolong bertahan" ucap Danu
Dua laki-laki remaja mendekat, ingin membantu Danu mengangkat Alana. Namun, Danu menghentikannya.
"Terimakasih tapi tidak usah, putri saya tak suka di sentuh laki-laki lain" ucap Danu, remaja tadi mengangguk.
"P-ah...."
Semua kenangan bersama ayah ibunya, sahabatnya, berputar seperti film di kepalanya. Alana tersenyum walau napasnya tersengal-sengal.
"P-ah...ma-afin Alana"
Danu menggeleng "kita ke rumah sakit sekarang" saat Danu ingin mengangkat Alana, Alana menghentikannya.
"G-ak perlu pah. Per-cuma"
Seolah tau apa yang akan terjadi pada dirinya, Alana menoleh ke arah ibunya yang tengah menangis.
"Mah....maafin Alana"
"Tuntun aku pah...." Pinta Alana.
"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH"
"ASYHA..DU AN LAA...ILAA..HA ILLALLAH".
"WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH".
"WAA..SYHADU..ANNA MUHAMMAR RASULULLAH"
Danu tak bisa menghentikan air matanya.
Uhuk
Setelah mengucapkan kalimat syahadat, Alana batuk. Darah kental keluar dari mulut Alana. Wajahnya dipenuhi darah, hijabnya berwarna hitam sehingga darah tak begitu terlihat. Tapi aspal sudah berwarna merah di tambah hujan yang masih belum reda.
Tangan yang kiri yang semula membalas pelukan Danu kini terlepas secara perlahan. Napas yang tadinya tersengal-sengal kini tidak lagi. Andin mendekat dan memeluk Alana. Danu meraih tangan putrinya.
"Alana bangun nak. Mama mohon bangun Alana. Jangan tinggalin mama" beberapa orang menjauh karena tak sanggup melihat darah.
"Alana, maafkan papa nak"
Inikah yang dinamakan takdir, inikah yang dinamakan kematian tak ada yang tau, inikah penyesalan. Baru tadi Alana mengajak Kara bunuh diri, tapi sekarang dirinya telah menghembuskan napas terakhirnya.
Penyesalan selamanya akan terus menghantui Danu dan Andin. Andai saja mereka tak pergi, andai saja mereka tetap di rumah menunggu Alana bangun dan menjelaskan semua masalahnya, mungkin Alana tak akan seperti ini.
Setelah ini Alana tak akan merasa perih dan sesak lagi. Tak ada sakit lagi. Umur tak ada yang tau, walaupun usia masih muda tapi jika sudah waktunya maka tak ada yang bisa menghentikannya.
Ini adalah akhir baik dari yang terbaik untuk Alana. Daripada hidup tapi menyiksa diri lebih baik pergi dan tak kembali lagi. Namun, dibalik kepergian Alana ada orang tuanya yang tak siap dengan kematian Alana. Selama ini mereka terlalu sibuk hingga kadang mereka jarang berkumpul. Andai saja mereka tau waktu Alana hanya 13 tahun lebih mungkin mereka akan memberikan kenangan indah. Tapi siapa yang bisa menebak umur.
Jika orangnya masih ada. Sebaiknya jaga, hargai, sayangi, dan berikanlah kebahagiaan yang bisa kau berikan. Agar kelak penyesalan tak begitu menghantui.
Jika hidup mu tak baik-baik saja, jika keluarga mu berantakan, maka kelak jangan biarkan anak mu merasakan apa yang kau rasakan.
"Banyak cara mencintai diri sendiri, salah satunya dengan melukainya"~Alana Liora Gantari