Namanya Blue, seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Dia adalah seorang mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi negeri yang ada di kota ini. Parasnya cantik dan seorang yang baik hati. Memiliki kekasih di PTN yang sama, juga memiliki beberapa teman dekat.
Namun, kehidupan Blue tidak seindah itu. Sesungguhnya dia mengalami masa-masa sulitnya saat ini.
"Blue! Sini, duduk di sini," panggil Caramel dengan lambaian tangan.
Blue melihat ke arah Caramel dan Violet, lalu dia segera melangkahkan kakinya menuju meja mereka. Saat ini masih jam makan siang, mereka baru saja selesai kelas dan memutuskan makan siang bersama.
"Blue, tadi lo ngobrol sama siapa?" tanya Violet.
"Hm? Oh dia anak kelas sebelah, tadi mau pinjam buku catatan makulnya Pak Yanto," jawab Blue.
"Terus lo pinjami?"
Blue hanya mengangguk dan dia segera meminum es teh yang tadi sudah dipesankan oleh Caramel.
"Kok lo pinjami sih? Memangnya dia nggak nyatet waktu makulnya Pak Yanto? Males banget jadi orang, cuma mau enaknya aja," ucap Caramel.
"Nggak apa-apa, kemarin dia nggak masuk karena sakit katanya. Terus catatan teman-temannya kurang lengkap."
"Ckck, cuma alasan itu pasti."
Blue hanya mengedikkan bahu, kini dia melanjutkan aktivitasnya. Mulai menyantap makan siangnya, begitu juga dengan kedua temannya. Mereka mengobrol, tetapi hanya Caramel dan Violet saja. Blue lebih senang menjadi pendengar, dia memang anak yang pendiam. Namun, tentu saja lama-kelamaan Blue merasa terasing di antara teman-temannya. Blue menggeleng cepat untuk mengenyahkan pemikiran buruk itu.
Selesai makan siang, mereka bertiga kembali ke kelas dan pembelajaran selanjutnya di mulai. Hari ini kelas berakhir pada pukul tiga sore. Wajah lelah nampak terlihat dari para mahasiswa di sini. Pulang kuliah Blue berjanji akan pulang bersama dengan sang kekasih. Dia menunggu di depan kelas sementara Caramel dan Violet sudah pulang terlebih dulu.
"Kok lama, ya? Apa dia belum keluar kelas?" gumam Blue melihat ponselnya yang sepi tanpa notifikasi chat.
"Blue, bisa bantu gue bawa ini ke ruang dosen? Di sini cuma ada lo yang lain udah pada balik," ucap seorang teman sekelas Blue yang sedang membawa beberapa tumpukan kertas.
"Iya gue bantu, sini setengahnya gue yang bawa."
"Nggak perlu setengahnya, ambil aja sampai muka gue kelihatan."
Blue menurut dan mengambil beberapa tumpukan kertas itu. Mereka pun berjalan bersama menuju ruang dosen yang letaknya tidak begitu jauh dari kelas Blue.
Setelah membantu temannya tadi, Blue kembali ke kelasnya. Di sana dia melihat sang kekasih sudah menunggu. Cowok itu sedang memainkan ponselnya dan tidak menyadari kedatangan Blue.
"Maaf, tadi aku bantu temen bawa berkas ke ruang dosen dulu," ucap Blue.
"Cowok itu, ya?" tanya Brown menunjuk seorang anak yang berjalan menuju tempat parkir. Tadi memang Brown sempat melihat Blue berjalan bersama dengan anak itu.
"Iya."
"Lain kali nggak usah bantu kalo yang minta tolong cowok. Ayo pergi," kata Brown dan membawa Blue pergi dari sana.
Sebelum pulang, Brown mengajak Blue untuk nongkrong terlebih dulu di cafe yang dekat dengan kampus. Cowok itu lapar karena siang tadi tidak sempat makan. Mendengar hal itu membuat Blue setuju, dia juga tidak mau jika Brown sampai sakit.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Brown yang sedang membaca menu.
"Ah, aku mau...."
"Aku yang pesenin aja, ya? Yang ini aja gimana? Terus minumnya ini," potong Brown.
"Oke," jawab Blue akhirnya.
Brown mengangguk dan segera memesan untuk mereka. Sembari menunggu pesanan tiba, keduanya mengobrolkan beberapa topik. Namun, Blue sedikit tidak nyaman dengan posisi duduk Brown yang terlalu dekat dengannya.
Memang status cowok itu adalah pacarnya dan mungkin hal seperti ini wajar bagi pasangan kekasih, tetapi Brown memperlakukannya sangat berbeda. Cowok itu sangat menjaganya dan terkesan sangat posesif.
Hubungan mereka sudah cukup lama, semenjak duduk di bangku SMA. Selama itu pula, Brown sangat menjaga Blue. Kemana pun Blue pergi pasti di sana ada Brown. Namun, ketika kuliah ini pertemuan mereka tidak bisa sesering dulu. Mungkin ini penyebab Brown sangat lengket pada Blue, begitu pemikiran gadis itu.
Namun, semakin lama Blue merasa makin tidak nyaman. Brown semakin mengaturnya dan banyak larangan yang cowok itu berikan padanya. Tidak hanya Brown saja masalah yang timbul, kedua teman Blue juga terasa semakin menjauh. Mereka memang masih sering berkumpul bersama dan nongkrong.
Namun, kini antara Blue dan kedua temannya sering mengalami perbedaan pendapat. Blue tipe anak yang tidak bisa menolak permintaan orang lain, sementara Caramel dan Violet sangat menentang hal itu. Bahkan jika ada anak yang mengajak Blue mengobrol atau meminta bantuan, mereka berdua yang akan menolak.
Kedua hal itu sangat berimbas pada hidup Blue. Hubungannya bersama dengan Brown semakin membuatnya tidak bisa bergerak leluasa, sementara pertemanannya dengan Caramel dan Violet malah membuat Blue di jauhi oleh teman yang lain.
"Kalo lo nggak mau temenan sama kita lagi ya udah, kita juga nggak keberatan. Cuma gue mau bilang sesuatu, sebenernya masalah itu ada pada diri lo sendiri. Kenapa lo jadi orang mau aja disuruh ini itu tanpa bisa nolak? Lo yang sekarang nggak asik, nggak kayak dulu," kata Caramel.
"Blue! Kemarin kenapa nggak chat atau telpon aku? Kamu nggak selingkuh, kan?" tanya Brown dengan tatapan menuduh.
Sungguh, Blue ingin terlepas dari hubungan seperti ini. Namun, dia tidak tahu bagaimana caranya. Blue merasa sendirian, tidak ada yang menolongnya keluar dari masalah ini dan makin lama masalah ini makin mengganggunya. Ingin mengakhiri hubungan dengan Brown juga dia takut. Apalagi dengan kedua temannya, Blue masih berusaha memperbaiki hubungan mereka.
"Blue! Jam berapa sekarang? Dari mana saja kamu, hah? Lain kali nggak usah pulang sekalian!" bentak sang Mama melihat Blue yang pulang larut malam.
Ada satu hal terpenting yang Blue lupakan selama ini. Semenjak berhubungan dengan mereka, Blue menjadi melupakan keluarganya. Dia terlalu asyik dengan mereka. Hingga melupakan hal paling penting itu, membuat Blue lupa untuk pulang. Kini satu-satunya harapan Blue adalah keluarganya.
Blue memberanikan diri untuk bercerita pada orang tuanya. Dengan pandangan menunduk, Blue menunggu dengan cemas bagaimana respon kedua orang tuanya setelah mendengar kisahnya yang selama ini hanya dia pendam sendiri.
Namun, Blue tidak pernah menduganya. Sang Mama memeluknya erat dengan linangan air mata. Tidak menyangka jika putrinya mengalami hal seperti ini.
"Maaf, Mama tidak tau kamu mengalami masa sulit seperti ini. Maafkan Mama," ucap sang Mama.
Melihat respon kedua orang tuanya, ada sedikit rasa lega di dalam hati. Seperti ada satu beban yang terlepas dari tubuhnya. Blue membalas pelukan hangat sang Mama dan terisak di dalamnya.
🍂🍂🍂