" Aku masih manusia biasa, Dewi! Aku laki-laki yang simple dan fleksibel. Aku bisa meminum teh manis ketika engkau sajikan. Padahal sebenarnya aku dan di dalam hatiku, aku sangat menginginkan kopi hitam itu." kata Rajasa dengan menatap lekat wajah istrinya yang sebentar lagi bukan lagi menjadi istrinya lagi.
Dewi hanya menatap Rajasa dengan pandangan kosong. Di hatinya hanya penuh ketidaksukaan nya terhadap laki-laki itu. Padahal Rajasa sebagai seorang suami sudah memenuhi segala kebutuhan yang diinginkan oleh Dewi. Entah apa yang kurang, Dewi hanya menuntut perceraian itu diantara mereka.
Rajasa paham, apa yang dikehendaki atau yang diinginkan oleh Dewi. Setiap hari Dewi selalu bercerita tentang sahabat nya yang bisa membuatnya tertawa dan bahagia. Rajasa yang mendengar segala cerita Dewi tentang sahabat nya itupun hanya tersenyum karena melihat raut wajahnya Dewi ketika menyampaikan ceritanya wajahnya menjadi cerah dan berbunga.
Rajasa sudah bisa menebak. Sahabat yang diceritakan oleh Dewi adalah berjenis kelamin laki-laki. Tanpa detail Dewi menyebutkan genre sahabat nya itupun, Rajasa sudah bisa menebak nya. Waktu itu, Rajasa hanya mengingat kan kepada Dewi.
" Kamu boleh mengagumi, menyukai dan nyaman dengan sahabat kamu itu. Walaupun dengan chat dan telponan setiap hari. Namun, kamu harus ingat, Dewi. Tanaman akan semakin subur jika kamu setiap hari kamu siram. Demikian juga, dalam hal ini. Kamu akan semakin terbiasa dan kamu akan jatuh cinta. Dia pun, demikian. Lalu? Bagaimana dengan aku sebagai suami kamu? Lambat laun, kasih sayangku bisa luntur seiring perhatian kamu hanya tertuju pada sahabat yang kau cerita kan itu." kata Rajasa.
" Eh? Ta.. ta.. tapi sahabat ku itu seorang wanita, kok mas!" bantah Dewi.
" Oh.." sahut Rajasa yang tidak mempercayai kebohongan yang diucapkan oleh Dewi.
" Mas, maaf! Kok mas Rajasa tahu sahabat ku itu seorang laki-laki." akhirnya Dewi mengakui nya.
" Hehehe, sudahlah! Hati-hati, jangan biarkan daya khayalan mu itu menjadikan mu ingin menjadikan sebagai bentuk kenyataan. Dan kamu akan sulit untuk melepaskan nya. Akhirnya aku akan kehilangan kamu dan kamu akan kehilangan aku." kata Rajasa dengan bijak sambil menyembunyikan segala kesedihan nya karena istrinya sudah mulai memikirkan pria lain itu.
Itu cerita sebelum Dewi menuntut perceraian itu. Setiap hari Dewi merasa jenuh dan bosan jika harus melihat Rajasa, suaminya. Dalam pikiran nya hanya pria itu yang selalu ia chat dan telepon via online.
Kini akhirnya mereka benar-benar berpisah atau bercerai. Rajasa menjabat tangan Dewi sebagai permintaan maaf nya yang merasa gagal telah atau tidak bisa membuat kebahagiaan bagi Dewi. Entah apa yang diinginkan Dewi dari Rajasa. Memang Rajasa tidak bisa membuat puisi atau betnyanyi lagu- lagu romantis. Rajasa hanya seperti sosok pria yang punya tanggung jawab yang tinggi untuk menjadi pemimpin bagi keluarga nya. Mencari nafkah, memberi kan nafkah lahir maupun batin bagi istrinya. Namun ada yang kurang dari Rajasa menurut Dewi adalah Rajasa tidak bisa romantis seperti yang dia inginkan.
" Dewi, semoga kamu bisa bahagia walaupun tanpa aku sekarang." kata Rajasa sambil menjabat tangan Dewi.
" Terimakasih, Mas! Kamu juga yah." sahut Dewi sambil menerima uluran tangan dari mantan suami nya itu.
Setelah sidang perceraian itupun mereka berpisah dan mulai menjalani kehidupan masing-masing. Dewi pun mulai menjalin hubungan lebih serius dengan pria itu. Yah pria yang selalu di ceritakannya pada Rajasa dulu. Memang kenyataan nya hatinya sudah jatuh hati pada pria itu. Pria yang romantis, atletis dan suka memberikan seikat bunga mawar setiap kali membuka pintu rumahnya.
Laki-laki itu bernama Hiro. Yah Hiro, bagi mata Dewi dia adalah pria yang sempurna. Sampai akhir nya mereka pun bertemu di sebuah kota. Dewi menjumpai Hiro di kota besar itu. Yah Hiro adalah pria yang dewi selalu ceritakan setiap harinya sepulang kerja kepada Rajasa. Rajasa dengan senang hati mendengar dan menyimak cerita yang diungkapkan oleh Dewi.
***
" Hiro! Apakah kamu menyukai aku?" tanya Dewi.
" Tentu saja, sayang! Aku bukan tipe pria yang mudah jatuh hati pada semua wanita. Kamu adalah wanita yang spesial untuk ku." jawab Hiro.
Hiro dan Dewi lalu menjalin hubungan yang lebih serius. Dewi pun dengan senang hati dan rela meninggalkan kotanya ke kota Hiro. Dengan menggontrak rumah, Dewi akhirnya tinggal di kota besar itu agar lebih dekat dan setiap hari berjumpa dengan Hiro.
Dewi rela melakukan apa saja yang diinginkan Hiro sampai memberikan segala kepuasan batin kepada Hiro. Tubuhnya sudah tidak ada harganya diserahkan seutuhnya kepada Hiro sebelum mereka benar-benar menjalin ikatan yang halal.
***
Sudah berminggu- minggu dan akhirnya sampai berbulan-bulan, Hiro tidak kunjung datang ke tempat Dewi. Alasan dari Hiro adalah ada kerjaan di luar kota. Hal itu lah yang membuat kejenuhan bagi Dewi. Rasa sepi mulai menghinggapi hati Dewi. Sampai akhir nya, Dewi mencari tahu keberadaan Hiro yang mulai tidak ada kabar.
Suatu ketika, Dewi menemukan keberadaan Hiro yang tinggal di rumah mewah. Di sana lah, akhirnya Dewi berjumpa dengan seorang wanita yang sedang hamil dan memiliki satu anak laki-laki yang sudah berusia tiga tahunan. Di dalam rumah itu, Dewi melihat pas foto ada wanita itu beserta Hiro dengan busana pengantin. Betapa terkejut nya Dewi melihat kenyataan dan kebenaran itu.
Hatinya sakit dan sesak. Akhirnya dengan langkah gontai, Dewi meninggalkan rumah mewah itu. Betapa hancur hati Dewi, dibohongi Hiro. Bahkan dirinya sampai berkorban meninggalkan Rajasa suaminya dulu demi mengejar bayangan indah untuk bersama Hiro. Namun kenyataan pahit itu dialaminya.
Tangis dan penyesalan itu datang dan menghinggapi Dewi. Sesak dan pilu Dewi rasakan. Saat situasi yang menyedihkan itu pun, entah mengapa mantan suaminya menelepon dirinya.
" Dewi, bagaimana kabar kamu?" tanya Rajasa.
" Aku baik- baik saja, Mas! Aku bahagia tinggal di kota besar ini." jawab Dewi.
" Syukur lah! Aku ikut senang mendengar nya." sahut Rajasa.
" Bagaimana, laki-laki yang pernah kau cerita kan padaku dulu. Apakah kalian akhirnya menjalin hubungan?" tanya Rajasa.
" Tentu saja! Aku sangat bahagia bersama nya mas. Setiap hari aku sely mendapat kejutan indah dari nya. Aku seperti tuan putri yang selalu dipuja- puja nya." jawab Dewi dengan menyembunyikan kedukaan nya saat ini.
" Itu bagus Dewi. Selamat yah! Kamu bisa bahagia tanpa aku. Oh iya Dewi. Bulan depan, aku akan menikah dengan seorang wanita,klien aku dulu. Kalau ada waktu, datanglah ke acara pernikahan kami bersama kekasihmu." kata Rajasa.
" Tentu mas! Aku akan datang!" sahut Dewi semakin menggigit bibirnya. Perih hatinya semakin menjadi. Penyesalan nya semakin besar. Sosok Rajasa yang lebih baik dibanding Hiro. Ya Tuhan inikah hukuman untuk ku, batin Dewi.
***
Dewi hanya terdiam terpaku. Meratapi nasib nya. Kehilangan berlian demi emas imitasi yang dia kejarnya. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Dewi tidak bisa berbuat apapun. Ini sudah keputusan nya. Dan ini sudah jalan yang dipilih nya.