Besok bulan penuh dengan rasa takut dan horor akan datang, malam penuh dengan kostum dan juga permen perlahan-lahan datang menghampiri kami.
"Besok harinya !!!". Begitulah teriakku kepada teman teman yang sedang berkumpul membahas tentang rancangan kostum yang akan kami kenakan.
Melihat aku sudah datang, mereka pun menoleh dan tersenyum lebar kepadaku, tapi mereka tersenyum bukan karena melihat kehadiranku, tapi karena melihat kain kain indah yang aku bawakan untuk kostum kami.
"Asik !!, Kamu ternyata tidak berbohong". Begitulah ucap temanku bernama Aldi gembira, dan mulai mendekat kearah ku.
"Ck, iya nih. Udah lunas kan utangku !". Aku berdecak kesal seraya menyerahkan boks besar ketangan Aldi.
"Hehehe, iya iya, jangan ngambek dong".
Ini sebenarnya adalah tradisi kami. Bagi siapa yang kalah undian, ia akan membawa segala peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kostum. Kebetulan akulah orang yang kalah undian itu, sehingga hari ini aku yang bertanggung jawab penuh atas seluruh peralatan kostum kami.
Ohya sekarang ini kami semua sedang berkumpul dirumah Feronika, salah satu teman perempuan ku. Kami memilih rumahnya untuk tempat kerja sama tentu bukan tanpa alasan, hal itu karena hanya dirumah Feronika ada seorang penjahit yang terkenal di desa kami.
Jika kalian bertanya siapa orang itu... Orang itu adalah mama Feronika, kereatifitas mama Feronika memang sudah diakui oleh seluruh orang disekitar desa kami, apalagi pembawaan dirinya yang ramah membuat ia lebih mudah diingat oleh siapapun.
Seperti sekarang saja contohnya, aku begitu merasakan keramahan mama Feronika yang sering dibicarakan oleh orang-orang. Ia begitu sabar dan lembut dalam mengajarkan kami bagaimana cara membuat kostum yang baik dan benar.
Hingga tanpa sadar dua jam pun berlalu, dan kostum kami selesai lebih cepat berkat bantuan dari mamanya Feronika. Kami sangat senang saat itu karena hasil akhirnya sangat tidak terbayangkan oleh kami.
Kami memang sudah selesai sih... Tapi namanya juga anak-anak jadi tidak ada satupun diantara kami yang ingin pulang terlebih dahulu, padahal saat itu sudah jam sembilan malam, namun kami masih ingin bermain dengan Feronika.
"Hei-hei semuanya kita main yuk. Kan kostumnya udah siap nih, gimana kalau kita main yang lagi firal itu". Salah satu temanku yang bernama Rena memunculkan idenya begitu saja yang sempat membuat kami semua kaget seketika.
"Maksudnya permainan Ding-dong itu ?". Aldi membalasnya dengan sedikit terbata-bata.
"Iya, permainan yang itu". Namun berbeda halnya dengan Aldi, Rena begitu antusias untuk memainkan permainan hantu tersebut.
Aku sudah merasakan perasaan tidak enak menghampiri ku, apalagi ada banyak kisah seram yang mengiringi permainan Ding-dong. Tapi firasat tidak enak ku berhasil terkalahkan dari antusiasnya teman-teman yang menyambut baik ide menyeramkan milik Rena itu.
Hingga, akhir dari ide Rena adalah... kami akan memainkan permainan Ding-dong dirumah angker yang sudah tiga bulan tidak ditinggali karena pemiliknya meninggal. Kata Rena sih hal ini cuma untuk mengetes adrenalin, tapi aku malah menganggap permainan Ding-dong lebih dari yang ada dipikiran mereka.
Setelah mendapat kata sepakat, kami berenam pun langsung pergi menuju rumah angker dimana letaknya hanya 4 rumah dari rumah Feronika. Semangkin mendekat ke rumah angker, aku semangkin merasakan sesuatu hawa yang tidak enak.
"Hei...". Aku menahan tangan Ronita yang ada disamping ku.
"Kenapa Lili ??". Dan perilaku dari ku itu berhasil menarik perhatian Ronita, serta teman-teman yang lain.
"Ak-aku merasa perasaan ku sangat tidak enak nih teman teman".
"Alahhh... Lili gak usah takut, ini cuma permainan".
"Iya, lagian kamu kenapa takut banget sih ?".
Semua teman-teman tidak ada satupun yang mendengarkan ucapan ku, mereka tetap pada keinginan mereka untuk memainkan permainan hantu guna menguji adrenalin nya masing-masing.
"Udah Lili ayo kita masuk aja, gak usah takut". Termasuk Ronita ini, ia menarik tanganku untuk berjalan mendekat menghampiri teman-teman yang ada didepan ku.
Aku tidak bisa memberikan perlawanan, pada akhirnya aku hanya bisa mengikuti langkah kaki mereka yang semangkin mendekat kearah rumah angker tersebut.
.
.
.
Sesampainya dirumah angker...
"Kita umbang dulu ya semua". Ajak Aldi kepada kelima temannya.
"Siapa yang putih dia menang".
"Oke".
"Hitungan yang ketiga ya. 1,2,3".
"Umbang !". Kami mengucapkan kalimat itu secara serentak. Hanya membutuhkan waktu 2 kali umbang, kami sudah mendapatkan siapa yang menjadi penjaga permainan Ding-dong. Dan bagaikan hukum alam, yang menjadi penjaga permainan Ding-dong tersebut adalah Rena.
"Rena kamu jaga yang bener ya".
"CK, iya iya".
"Oke ayo mulai Rena".
Rena pun membalikkan tubuhnya kearah tembok rumah, lalu menutupi seluruh bagian wajahnya dengan lengan yang melingkar, sebagai tujuan agar ia tidak dapat melihat sedikitpun karena tertutupi oleh lengannya.
"Aku mulai !!!". Rena berteriak sebagai tanda permainan dimulai, dengan teriakan bagaikan kode itu semua teman-teman ku langsung berpencar mencari tempat persembunyian mereka masing-masing. Sedangkan Rena, ia sekarang memulai nyanyian seramnya.
"Ding-dong kudatang padamu bukalah pintu
Tak mungkin sembunyi dariku
Ding dong kudatang padamu bukalah pintu
Kau tak bisa lari dariku". Begitulah lagu awalnya dimulai.
"Dari balik jendela
Kutatap erat wajahmu
Kau diam membeku
Kudatang mendekatimu". Kemudian terus berlanjut dengan tanpa adanya pertanda buruk.
"Ding dong kudatang padamu siapkah kamu
Lari dan sembunyi dariku
Ding dong menuju arahmu cepatlah lari
Larilah dan cepat sembunyi". Namun pada lirik lagu kemudian hawa tidak enak langsung menghampiri bulu kudukku.
"Kudengar langkahmu
Kudengar desah nafasmu
Dan detak jantungmu
Ku kan temukan dirimu". Kemudian saat lirik lagu dinyanyikan sekali lagi, gelas jatuh membuat kami semua menjadi kaget seketika.
"Pranggg !!!!".
"Apa-apa itu ??". Aku menoleh dengan mata membulat kearah Ronita.
"Udah gak papa itu cuma kucing". Namun sama dengan tadi Ronita masih saja tidak peduli.
Aku dapat melihat bahwa Rena terhenti menyanyikan lagu itu sebentar saat mendengar suara gelas yang jatuh, tapi setelah beberapa detik berselang Rena kembali menyanyikannya lagi.
"Ding-dong kudatang padamu bukalah pintu
Tak mungkin sembunyi dariku
Ding dong kudatang padamu bukalah pintu
Kau tak bisa lari dariku".
"Ding-dong, Ding-dong".
"Dek !". Suara tidak dikenal membuat kami bergidik seketika, suara itu sangat melengking dan menjawab nyanyian Ding-dong dari Rena hingga berkali-kali.
Karena sudah merasa ada hal tidak benar, Rena sepertinya tidak berani melanjutkan permainannya, kemudian ia membalikkan tubuhnya guna melihat siapa yang tengah menjawab nyanyiannya tadi.
Saat Rena sedang ingin membalikkan tubuhnya, ia seperti merasakan ada hawa yang begitu dingin berhembus dibagian tengkuk lehernya yang berhasil membuatnya menjadi merinding seketika.
"Astaga~". Begitulah ucap Rena yang mulai merasa merinding.
Lalu hanya selang beberapa detik setelah ia membalikkan tubuhnya, suara teriakan langsung menggema, hingga memenuhi seluruh ruangan yang ada didalam rumah angker.
Kami kaget tentunya. Dengan perasaan cemas atas kondisi Rena, kami semua langsung berlarian pontang-panting menghampiri rena guna melihat bagaimana kondisinya.
Disaat kami sampai pada tempat tujuan, seketika kami langsung membelalak dan tubuh kami gemetaran karena ketakutan. Bagaimana tidak, kami melihat sesosok menyeramkan dengan mulut yang sudah dipenuhi dengan darah, kalian tidak akan melihat sosok itu dimanapun, ia sangat jelek dan wajahnya dipenuhi oleh bintil dengan nanah yang terus menerus keluar.
Kami terpaku melihat sosok menyeramkan itu, padahal sosok itu tengah menarik badan Rena dan Rena terus-menerus berteriak minta tolong kepada kami.
"Tolonggggg !!!!".
"Tolonggggg !!!!".
"Tolong !, akuuuuu !!".
Tapi kami tidak bisa bergerak dari tempat kami, kami hanya bisa diam mematung menyaksikan Rena perlahan lahan menghilang bersama sosok menyeramkan yang menyeretnya kedalam sebuah portal tidak diketahui asal dan akhirnya.
~Tamat~
Catatan author:
Permainan horor memang sangat menyenangkan karena menguji adrenalin, tapi sebaiknya sebelum memainkan sebuah permainan horor, hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu apa frekuensi yang akan kita tanggung.
Jangan sampai seperti tokoh Rena yang menerima frekuensi akibat menjalankan permainan yang belum ia ketahui dengan baik.
.
.
.
Semoga semuanya suka ya ☺️