Sungguh aku begitu kaget melihat isi kamar Yona. Berantakan sekali. Seprai kasur berwana hijau cerah kusut sekali. Baju dan buku-buku yang berserakan. Baju kotor bertumpuk di ranjang pakaian kotor ada pula digantungan belakang pintu.
Buku-buku bukan hanya berserakan dilantai tapi juga dimeja komputernya. sobekan-sobekan kertas ikut melengkapi pemandangan yang sangat mengusik mataku. Aku memungut selembar kertas. Ternyata lembaran diary yang disobek.
Aku membacanya.
Jakarta, 08 Mei 2015
Kini aku tinggal jasad. Ruh ku terbang bersamamu, laki-laki yang menaburkan cinta dihatiku.
Hanya tiga kalimat. Tapi aku langsung bisa memahaminya. Aku memungut seluruh kertas diary yang disobek itu. Kuurutkan sesuai tanggal.
Jakarta, 11 Mei 2015
Jujur saja aku tidak pernah menulis diary sebelumnya, bagiku orang-orang yang menulis diary adalah orang-orang yang diliputi perasaan sintimental, yang kurang kerjaan, yang hanya menghabiskan waktunya dalam kesendirian dan yang hanya berteman dngaan kesunyian dan kesendirian. Itu adalah pendapatku. Namun itu dulu, sekarang aku berubah pendapat. Ada kekutan lur biasa yang kurasakan dari mulai kumenulis diary, dan semua itu karna dia laki-laki soleh yang bisa membuatku langsung jatuh hati.
“Berani-beraninya lho colek wanita yang berjilbab selebar itu. Apa kamu gak tau makna hijab bagi seorang wanita seperti dia? Kalau kamu sudah berani mencolek yang berjilbab seperti dia, maka lebih lagi yang gak berjilbab seperti dia.” di menunjukku yang hanya memakai dress di atas lutut dengan rambut tergerai . Siang itu diparkiran kampus. Saat itu ada seorang mahasiswi yang berjilbab sedang digoda oleh senior laki-laki. Semua orang langsung berkerumun ke arah suara keras laki-laki yang menegur itu, begitupun aku penonton terdepan dan menyaksikan dengan jelas bagaimana dia membela wanita berjilbab itu.
Setelah itu dia pergi tanpa mempedulikan seniornya yang terlihat geram karna merasa ada yang ikut campur, namun senior itu tidak mengejarnya dan terlihat hanya mengepalkan tangannya saja. Dia berjalan tanpa menenok ke belakang lagi, dia pergi dan meninggalkan kesan bercampur kesal karna dia menunjukku.
Jakarta, 14 Mei 2015
Siang ini aku berpapasan dengannya. Ternyata dia tersenyum kepadaku dan tiba-tiba berbicara kepadaku.
“Eh kamu yang pas itu diparkiran kan?” Tanyanya tiba-tiba aku hanya mengangguk dan mataku tak lepas dari matanya
“Eh sorry soal waktu itu saya tidak bermaksud mennyinggung kamu dengan menunjuk kamu sebagai contoh yang tidak baik, padahal kamu senior saya” lanjutnya.
“Oh iya enggak apa-apa ko” jawabku sedikit gugup.
“Yaudah saya duluan ya, sekali lagi saya minta maaf.” Ucapnya dan pergi meninggalkanku yang masih menatapnya,. Siang itu aku merasa sngat senang. Dan oh kenalkan namanya Repal.
Jakarta, 25 Mei 2015
Ternyata dia sangat baik dan ramah kata-katanya menyenangkan. Sekarang aku lebih sering ngobrol dengannya dia tau namaku. Dan aku semakin jatuh cinta kepadanya, dia tipe laki-laki idaman.
“Nanti malem jalan yuk pal” ajakku siang itu duduk berjauhan dikursi yang ada dikoridor kampus.
“Astagpirullah” ucapnya menatapku.
“Astagpirullah?” Tanyaku meminta penjelasan.
“Kita ini muslim yon, apa kamu gak tau bagaimana islam menggatur huubungan antara pria dan wanita yang bukan muhrimya?” Jelasnya.
Aku jadi malu dengan pertanyaannya. Sunggguh pengalaman yang menarik. Menariku pula untuk selalu jatuh cinta padanya.
Jakarta, 30 Mei 2016
Setelah lumayan lama aku kenal dia. Sekarang aku tau dia adalah santri sebelum masuk kuliah. Pantas saja soleh sekali. Dan aku berfikir tidak mungkin laki-laki sesoleh dia mau dengan wanita sepertiku yang tidak berjilbab, jangankan berjilbab pakaian saja aku hanya memakai dress diatas lutut.
”Pal, emang semua wanita harus berjilbab?” tanyaku kepadanya.
“Jika menuntut pada hukum agama kita, kita sebagai muslim atau muslimah seperti kamu harus menutup aurat yon, apa lagi wanita sepertimu, yang semua bagian tubuhnya adalah aurat yang harus kita tutup, aurat wanita itu semuanya yon kecuali telapak tangan dan muka” Jelasnya.
“Jadi aku wajib berjilbab pal?” Tanyaku.
“Tentu dong yon” jawabnya tersenyum kepadaku. Kau tau? itu senyum termanisnya.
“Tapi pake kerudung gerahnya minta ampun” Lanjutku.
“Kalau udah terbiasa pasti gak gerah ko yon, kalau ada niat mau nyoba yakinkan, yang berjilbab itu cantik lo yon” lanjutnya dan tersenyum lagi menatapku.
Jakarta, 29 Juni 2015
“Kamu mau menikah dengan saya?’ tanyanya kepadaku pagi itu disebuah taman dikampus.
Aku hanya melongo dan tidak menyangka dia akan menanyakan itu kepadaku, kata-kata yang selalu aku idam-idamkan sejak dulu.
“Kamu serius?” Tanyaku. Dia mengangguk pasti “apa kamu tidak merasa ragu denganku? Aku baru berhijab, aku bukan orang yang solehah yang mungkin kamu idamkan, aku baru berhijab saja belum genap satu bulan, apa kamu yakin denganku?” ku tanya dia. Dan dia hanya ttersenyum.
“Saya serius dan sudah yakin, kita belajar bersama untuk menjadi manusia lebih baik lagi” jawabnya tanpa menambahkan kata apapun lagi. Dan dengan senyum bahagia aku mengangguk pasti tanda menerima lamarannya itu.
Jakarata, 08 Agustus 2015
“Yon, Repal tertabrak! Sekarang dia dirumah sakit. Keadaanny keritis.!”
Dari tempat kos ku aku langsug melajukan sedan ku menuju Rumah Sakit. Sesampainya disana Repal sudah tiada. Akupun histeris. Akupun roboh. Repal kekuatanku, aku lemah tanpa dia.
“Yona sadar istighfar..” Sayup-sayup ku dengar suara teman-temanku.
Jakarta, 09 Agustus 2015
Pagi riuh dengan doa dan derai air mata mengikuti proses pemakam Repal. Seorang laki-laki yang hendak membuka jalan baru dihidupku, yang mendekatkan ku pada Allah, kini telah pergi bersamanya.
Kurasakan ruhku ikut tertanam bersamanya. Tak ada lagi gairah hidup yang ada hanya hampa dan kenangan bersamanya.
Jakarta, 12 Agustus 2015
Kadang terbesit kehendak hati untuk mengakhiri hidup ini. Aku tidak mampu menahan badai coban yang begitu dahsyat seperti ini. Aku lemah. Aku tak berdaya. Hidupku hampa tanpa Repal. Dia adalah kekuatanku. Bukankah aku hijrah karnanya? Lalu kenapa dia pergi.
Beenarkah Allah itu maha pengasih dan penyayang? Lalu dimanakah letak pengasih dan penyanyangnya jika seperti ini? Tiada kulihat kasih sayang-Mu. Jika kau maha pengaih dan penyayang kenapa kau ambil dia dariku? Dia yang membuatku berubah dan berada dijalanmu.
Ku tarik nafas dalam-dalam. Aku menggelengkan kepala membaca potongan buku harian Yona. Kemarahan yang sangat besar ada padanya sampai dia berani menghujat dengan lancang tuhannya sendiri.
Jakarta, 18 Agustus 2016
Allah, Apa maksudmu? Dia yang selangkah lagi menjadi suamiku, yang akan membimbingku menjadi manusia yang lebih benar berada dijalanmu kau renggut dengan kejam. apa Engkau tidak ingin aku berubah dan berada dijalanmu? Apa maksudmu tolong katakan. Bukan kah engkau memberi beban tidak lebih dari apa yang bisa dipikul oleh hambanya? Lalu apa ini? Beban ini tak sanggup untuk kupikul, ini terlalu berat. Ini berat.
Ya Allah seharusnya Engkau mengerti aku masih lemah iman. Kenapa kau langsung uji keimananku dengan cobaan seberat ini? Aku tidak terima. Sungguh aku tak bisa menerima! Kau kejam Engkau memang benar-benar kejam!
Jakarta, 23 Agustus 2015
Pada siapa aku harus mengadu? Pada temanku? Sahabatku? Ustadzah yang memberi pencerahan kepadaku? Semuanya hanya berkata untuk sabar kepadaku tanpa memikirkan perasaanku bagaimana hancurnya. Aku hancur! Aku rapuh tanpa Repal. Semuanya menyuruhku ikhlas dan berdoa tapi sungguh aku bukan orang seperti itu. Aku muak dengan semua omong kosong itu. Aku muak!
Hanya minum-minuman dan tripping di diskotik langgananku dulu yang mampu melupakan dukaku. walaupun hanya sementara. Tapi menghabiskan waktu berlama-lama disana mampu melupakan masalahku. Dan mulai sekarang aku sudah tidak butuh diay ini lagi. Diary yang membuat aku ingat semuanya dan membuatku terluka. Aku benci, benciiiiiiiii..!
Aku segera bangkit dan beranjak dari kamar kost-kosan yang mirip seperti apartemen ini. Tak lua aku berpamitan kepada satpam yang menjaga tempat kos-kosan mewah itu.
Ku pacu mobilku pergi ke deskotik yang disebutkan Yona di diarynya. Aku tau dimana tempat itu karna bagaimaapun aku dulu sering kesana setelah akhirnya alhamdulillah aku bisa menjadi orang yang lebih baik sekarang.
Tapi aku memastikan kembali ke hanphonenya. Ketika dia memjawab. Ada musik dance yang bising di belakangnya.
“Yona, ini aku, Alea. Aku sekarang di jakarta. Aku mau kesana. Kau tetap disitu.” Ucapku
Ia terdengar girang dalam suara seraknya mengetahui aku yang akan kesana.
Diperjalanan aku kembali teringat tentang masalaluku dulu bersamanya. Dua sahabat yang hanya mengghabiskan hari-hari nya hanya untuk bersenang-senang dan berpoya-poya menghabiskan uang orang tua masing-masing. Tapi aku bisa berubah dan yang ku tau Yona pun sedikit berubah setelah aku yang kuliah di Jogja karna perintah orang tua ku.
Saat ku masuki diskotik itu. Suara bising musik segera memenuhi rongga telingaku. Aku langsung ke counter. Fauzan melayaniku.
“Hei Lea, lama gak ketemu. Apa kabar?” Ia menyapaku.
“Baik, kau sendiri bagaimana Zan? Gimana kuliahmu?” Tanyaku.
“Aku baik. Kuliahku juga. Mau pesen apa?” Tanyanya.
“Tidak. Aku hanya menjemput Yona, kamu tau dia dimana?” Tanyaku.
“Oh dia dipojok sana, terlihat sangat kacau, kembali seperti dulu masa-masa SMA bareng kamu, dia banyak minum, sepertinya dia sedang banyak masalah” Jawabnya.
“Yasudah aku kesana dulu yah” Kataku. Fauzan mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
Aku menghampiri yona yang sedang duduk dimeja pojok. Dia tampak girang melihatku dan berdiri untuk memelukku namun dia terjatuh karna pengaruh minuman yang dia minum. Aku segera memapahnya untuk segera keluar dari ruangan yang bising itu.
Bau alkohol sangat menyengat hidungku saat dia sudah berada dalam mobilku, sedikit-sedikit dia sudah mulai sadar dan perlahan menatapku.
“Are you oke?” Ku tanya dia saat dia menatapku dan dia mengangguk. “kamu kenapa?” Kutanya dia kembali saat aku menyadari kalau dia sudah mulai merespond walaupun masih sedikit memejamkan matanya.
“Cinta melumpuhkankku Lea” Ucapnya lirih dan kulihat air matanya mengalir disudut matanya.
“Aku mengerti.” Ucapku dan dia hanya menangis dengan wajah yang dia tutup oleh kedua tangannya.Yona yang ku kenal. Cinta telah membutakannya. Tak lagi kulihat jiwa tegar dalam dirinya, yang kulihat sekarang hanya jiwa anak kecil yang diambil permennya lalu menangis dan membenci orang yang menngambilnya.
“Ini apa Lea? Ujian? Apakah Allah tidak ingin aku bertaubat? Kenapa Dia kejam sekali kepadaku Lea? Kenapa?" Ucapnya dan memelukku sesaat setelah aku menghentikan mobilku dipinggir jalan dekat sebuah taman kecil.
Aku hanya diam tanpa berkata apapun dan hanya mempererat pelukanku dan mengusap-usap kepalanya pelan. Sampai akhirnya aku berbicara.
Cinta memang begini
Banyak hal terjadi akibatnya
Kau tau? Ini adalah getar cintamu
Getar cinta yang membuatmu roboh seperti getaran gempa sekian richter
Terkapar dirimu karna cinta
Lirih terucap darimu
“Cinta melumpuhkanku”
Mengapabiarkan dirimu dikuasai cinta?
Tidakkah cinta memberimu kekuatan?
Lalu apa indahnya cinta disaat seperti ini?
Cinta memang begini
Mampu menelan seluruh logika
Jangan menangis untuk cinta
Jangan menangis, aku disini untukmu
Dengan semua cinta yang ku punya
Kata-kata ku berakhir. Tangisnya semakin deras dipelukanku.
“Terimakasih sudah kembali untukku” ucapnya lirih. Aku memepererat pelukannku dan tangisnya semakin menjadi-jadi.
END