Bukan salah cinta yang tak pandai memilih tuan. Pun bukan salah hati mencintai orang yang salah. Semua sudah berjalan sesuai garis takdir. Bahkan Tuhan sebenarnya ingin kita belajar dari semua kesalahan yang terjadi.
"Mantan adalah sebuah kesalahan. Dan aku tidak akan terjerumus ke dalam lubang yang sama," sarkas Misha.
Dibalik tatapannya yang terus bermain ke segala penjuru kampus, ingatannya hanya tertuju pada satu orang. Orang yang tak disangka juga memasuki universitas yang sama dengannya, Moreo.
"Kesalahan juga berhak mendapat maaf, Sha," sanggah Ayana, teman Misha. Ia mengetahui cerita lama antara Misha dan Moreo. Bahkan Ayana seperti seolah membantu Moreo untuk mendapatkan maaf dari Misha.
Ayana lantas pergi menuju sekumpulan temannya dari fakultas yang sama. Meninggalkan Misha yang berjalan sendiri. Berkeliling sembari menikmati suasana pelataran baru.
Bukan dendam, tapi kecewa dan benci yang terlampau membuat Misha memiliki visi demikian. Tekadnya untuk tak pernah kembali menjalin hubungan spesial dengan mantan kekasihnya sudah terealisasikan.
Misha gadis yang keras. Sekali ia bertekad, seterusnya ia akan bertindak sesuai tekad bulatnya.
"Oh, Sorry!" Suara itu membuyarkan konsentrasi Misha. Menghilangkan kata selanjutnya dari kalimat yang sedang ia hafal. Sekaligus menggerakkan jantungnya lebih cepat, karena suara itu yang begitu familiar di telinganya. "Sorry, Sha. Aku gak sengaja. Sini aku bantu bangun," lanjut pria itu mengulurkan tangan pada Misha yang terjatuh di halaman kampus.
"Gak usah, aku bisa sendiri." Misha mengabaikan uluran tangan Moreo. Lalu beranjak bangkit dengan bantuan tangannya sendiri.
Namun, kaki Misha tiba-tiba kram.
"Awas, Sha!"
Misha tak bisa berdiri seimbang karena sakit kakinya yang begitu tiba-tiba. Moreo pun sontak menangkap tubuh limbung Misha. Keduanya terjatuh ke lapangan berumput. Dengan wajah mereka yang hampir bersentuhan.
DEG!
DEG!
DEG!
Mereka saling menatap. Kedua manik mata itu bertemu. Jantung mereka tak bisa menahan untuk tetap diam. Andai bisa terdengar, mungkin telinga keduanya akan penuh dengan suara detak yang bertalu-talu saling mengejar.
"Minggir!" Misha membentak kasar. Membuat fokus Moreo terpecah saat menatap lekat wajah mantan yang dirindunya.
"Ah, ya. Sorry ... sorry!" Moreo bangkit dahulu. Ia menjulurkan tangannya pada Misha yang masih terduduk di lapangan berumput.
Misha tak menepis. Pun tak menerima uluran tangan Moreo. Ia memilih bangkit dan mengambil langkah besar. Sebelum semua ketidak sengajaan yang terjadi kembali berubah menjadi kisah. Misha memilih untuk segera pergi, dan mengakhirinya dengan cepat.
Moreo hanya mematung. Serangkaian kalimat yang telah dipersiapkannya terpaksa ia telan kembali. Hanya bisa menunggu momen yang tepat. Sampai Misha mau memaafkan dan melupakan masa lalu mereka.
•••
Sepucuk surat merah jambu kembali Misha terima lewat Ayana. Moreo yang mengirimnya.
Misha telah menolaknya berulang kali. Namun surat itu kembali datang setiap hari.
Tak ada pilihan lain, Misha terpaksa menerima.
Misha membuka penutup amplop mungil itu dan mengeluarkan selembar surat di dalamnya. Lipatan demi lipatan ia rentangkan. Misha membaca tulisan tangan Moreo yang tak ubahnya seperti dulu. Rapi, bahkan sangat rapi untuk ukuran tulisan tangan seorang pria.
💌Sha, Maafkan aku atas semua yang telah terjadi dulu. Aku ingin mengatakannya langsung. Tapi kau selalu menghindar dan tak mau mendengar. Aku menunggumu di atas jembatan danau, belakang kampus. Datanglah jika kau memaafkanku. Moreo.
Misha menghembus nafas kasar setelah selesai membaca isi surat tersebut. Pandangannya mendarat pada pancaran wajah Ayana yang tersenyum tipis.
Gadis itu terus menunggui Misha membaca surat yang dibawanya. Ia sedikit jengah dengan sahabatnya yang mencoba terus mendekatkankan dengan Moreo.
•••
Seperti rutinitasnya sepekan terakhir, Moreo berdiri di atas jembatan. Memandangi air danau yang tenang dengan hati bergemuruh.
Setiap kali dirinya disini, itu artinya Moreo sedang menunggu Misha. Namun telah sepekan penantian Moreo tak membuahkan hasil. Misha tetap acuh. Ia pun harus kembali ke kelas dengan harapan yang terus berulang setiap harinya.
"Misha, aku harap kali ini kamu mau datang menemuiku." Monolog Moreo. Ia berkata dengan tatapan kosong. Ingatannya jauh menerawang ke masa dua tahun silam, saat Misha memutus kisah mereka.
"Ehhem!"
Moreo tersentak kaget. Ia menatap sumber suara di sampingnya. Mata Moreo membulat tak percaya. Jantungnya bahkan berdetak begitu cepat. Antara gugup, senang, dan terkejut.
"Misha!" Netra Moreo berbinar. Misha pun hanya membalas dengan senyum singkat.
"Seharusnya kamu gak perlu melakukan ini, Moreo."
"Perlu, Sha. Aku mau minta maaf. Dengan kau datang kesini, berarti kau telah memaafkanku kan?"
Misha tersenyum sarkas. "Ya." Kata singkat yang keluar dari bibirnya, hampir terdengar sangat palsu di pendengaran Moreo.
"Sha, aku benar-benar minta maaf."
"Ya, aku kan sudah bilang bahwa aku memaafkanmu. Puas!? Ya sudah aku pergi." Misha langsung berbalik hendak meninggalkan Moreo. Namun tangan Moreo menggenggamnya, mencegah Misha.
"Sha, Plis! Beri aku waktu untuk menjelaskan."
Misha membalikkan badannya. Ia menatap langsung pada kedua manik mata milik Moreo. Misha menemukan pancaran penyesalah pada netra pria itu.
"Penjelasan? Setelah sekian tahun kau baru akan menjelaskannya?"
"Itu karena dulu kau selalu menghindariku, Sha."
"Ya, karena aku ilfeel berdekatan dengan tukang selingkuh. Karena itu aku menjauhimu."
Moreo membelalak kaget. Tak percaya Misha akan mengatakannya dengan terus terang. Karena Misha yang selama ini Moreo tau, adalah gadis yang lebih memilih diam daripada harus beradu argumen seperti saat ini.
"Moreo, menjalin sebuah hubungan bagiku adalah kesetiaan, saling percaya, saling memahami dan menghormati. Dan dua tahun yang lalu kau sudah menodai itu." Tanpa sadar air mata itu mengalir membasahi pipi Misha. "Yah, dua tahun yang lalu. Saat kita belum sepenuhnya dewasa. Tapi aku sudah menuntut kesetiaan padamu. Hah! Aku memang naif! Aku bodoh! Mana mungkin anak kelas dua SMA mengerti arti setia. Bahkan kau tidak bisa membatasi hubunganmu dengan perempuan lain."
"Sha, aku memang salah saat itu. Aku khilaf."
"Khilaf? Khilaf berciuman sampai kalian hampir membuka kancing seragam? Bahkan aku ingat kalian melakukan jeda sebanyak tiga kali. Lalu melanjutkannya kembali."
Moreo tertunduk bersalah.
"Moreo, aku memaafkanmu bukan karena aku telah melupakan segalanya. Tapi karena aku terlalu baik dan tak ingin lagi mendapat teror dari surat-suratmu yang tak penting itu." Misha mengembalikan surat yang diterimanya tadi ke tangan Moreo dengan kasar. "Bagiku kau adalah sebuah kesalahan. Dan aku ... tidak akan jatuh ke dalam kesalahan yang sama."
Sebuah kalimat penuh penekanan yang memberi Moreo arti, bahwa Misha tak akan lagi pernah kembali untuk kedua kalinya. Kalimat-kalimat yang Moreo susun mendadak hilang.
Belum sempat Morea kembali berucap, Misha telah berjalan menjauh. Langkah itu terlihat marah. Namun Moreo tak berani mengejar. Ia termangu dengan sesak dan penyesalan yang datang bersama.
Pun Misha tak ada rasa penyesalan telah melontarkan apa yang dikatakannya barusan. Hatinya lega.
Namun disisi lain ada rasa iba yang menyelimuti. Melihat Moreo tak berdaya, membuatnya teringat akan kebaikan pria itu dimasa lalu. Namun, seketika bayangan penghianatan Moreo kembali terlintas.
Saat bibir Moreo menyatu dengan bibir seorang gadis. Suara deru nafas mereka juga masih Misha dengar. Di toilet sekolah, saat situasi sekolah mulai sepi. Misha melihat Moreo menikmati perselingkuhannya dengan seorang adik kelas yang tidak Misha kenal. Mereka terus beradu tanpa tau ada mata yang nanar mengawasi.
Misha ingat bagaimana dirinya mendorong pintu toilet yang sedikit bercelah itu. Hingga memperlihatkan raut panik Moreo dan gadis selingkuhannya. Bahkan raut wajah Misha tak kalah kacaunya, saat melihat tiga kancing atas seragam gadis itu telah terbuka.
'Dari kisah kita aku belajar, Moreo. Bahwa menjalin hubungan denganmu adalah kesalahan. Aku tidak bodoh sampai harus melakukan kesalahan yang sama duakali. Aku tidak akan pernah kembali lagi padamu!'
Misha terus berjalan menjauhi area danau. Tak sedikitpun ia menoleh ke belakang. Tak ada rasa ingin tahu dan peduli akan apa reaksi Moreo saat ini.
Misha hanya terus melangkah. Dan akan terus melangkah. Tak ingin terjebak pada seseorang yang hanya akan membuatnya mengingat luka lama.
-TAMAT-