Aku tidak pernah percaya jika hantu itu ada. Karena, bagiku hantu hanyalah sosok tahayul untuk menakuti-nakuti anak-anak, agar anak-anak cepat tidur. Hantu tidak akan pernah menyentuh orang dewasa.
Namun, pandanganku segera berubah. Ketika, aku dan suamiku menempati rumah kontrakan baru. Menurut rumor beredar, jika kamar mandi rumah ini berhantu. Oleh itu, harga rumah kontrakan itu lebih murah daripada rumah lain.
Aku bergindik ketika mengetahui rumor itu. Bukan, karena aku mempercayai hantu itu ada. Namun, karena cerita kematian.
Miris. Ceritanya cukup miris. Konon, hantu itu di sebut bunuh diri karena meneguk Vixal. Alasannya terdengar sederhana, putus asa karena ketahuan berbohong. Kebohongannya hanyalah mengaku sebagai sosok wanita muda dari keluarga jauh di atas rata-rata. Pura-pura kaya.
"Kebohongan itu akan terungkap. Mengaku kaya. Malah ketahuan miskin. Kan malu!" ujarku meledek saat itu. Aku hanya menatap botol Vixal, dan berseloroh, "Vixal bukan sirup! Vixal pembersih daki lantai, daki kloset, bukan daki kehidupan!"
Aku keluar dari toilet rumah kontrakanku. Tanpa menyadari, sosok kepala keluar dari lubang kloset, dengan wajah pucat, dan rambut basah tergerai panjang, dia menatapku dengan tatapan melotot, dengan sinar mata putih menyeramkan.

"Itu cerita orang. Jika, kau tau cerita sesungguhnya. Mungkin, kau akan menyesal. Jangan sebut namaku Vixal, jika kau tidak akan pernah bertemu daki kehidupan untukmu, yang membuatmu ingin menelan cairan Vixal," kutuk sosok halus itu di belakangku.
Aku tidak pernah mendengar kutukan sang hantu Vixal. Aku hanya pergi melanjutkan tidurku dengan tenang, di pelukan dada suamiku yang tercinta.
Pukul 8 pagi.
Aku bangun terlambat. Aku meraba sosok di sampingku. Tidak ada.
"Dia sudah berangkat kerja," ujarku.
Lalu, perutku terasa mual. Aku segera bangun, dan pergi ke toilet. Memuntahkan isi perutku.
"Owekk!" Aku muntah cairan kuning dengan sedikit busa. Akhir-akhir ini perutku memang tidak nyaman.
"Maagku kambuh atau sedang hamil yah?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku membuka kotak bergantung di rak closet. Mengambil satu batang biru. Lalu, melakukan ritual seperti biasanya. Mencelupkan ujung batang biru, dan menunggu hasilnya dalam satu menit.
Aku tidak yakin mampu hamil dengan cepat. Karena, aku sering terlibat percintaan sebelum menikah yang terus melibatkan pil kontrasepsi. Karena, mantan kekasihku sebelum-sebelumnya, anti menggunakan sarung pastik pengaman. Jika ada, aku tetap takut ada lubang kebocoran dalam plastik, yang mampu membuat diriku hamil.
"Semoga hamil!" doaku.
Aku memejamkan mata seraya berdoa. Lalu, aku membuka mataku perlahan. Garis dua. Aku hampir melompat histeris mengetahui kehamilanku. Aku segera berlari ke kamar, mencari ponsel, dan mengirim gambar batang biru kehamilanku pada suamiku.
Beep!
Pesan balasan datang.
'Gue senang, Mayang. Jaga kesehatan yah sayang. Nanti, gue pulang cepat. Buat packing barang aja. Ada kerjaan di luar kota. Gue harus stay di sana dua minggu.'
Aku segera membalas pesan.
'Okay, sayangku.'
Pukul 23.00 wib
Untuk pertama kalinya aku tidur di rumah kontrakan, sendirian. Sepi dan seram untuk pertama kalinya. Namun, aku segera menuju logikaku.
"Hantu itu tidak ada. Hanya ada ketakutan!" yakinku pada diriku sendiri.
Tidak lama, kantong kemihku serasa penuh terkumpul. Aku pergi ke toilet. Baru saja, aku memasuki kamar mandi. Aku melihat cairan Vixal berserak di lantai.
"Apa tutup botol Vixal nggak rapat yah?"
Aku segera mengabaikan. Buang air kecil untuk semenit. Lalu, mulai mengambil sikat dan membersihkan lantai. Menyiramnya kemudian. Kala, aku bangun berdiri setelah membersihkan toilet. Aku bangun berdiri, dan menatap cermin yang membingkai wajah seseorang berbajun merah. Jelas,itu bukan wajahku.
"Suamimu selingkuh!" ujar sosok itu mengejutkanku.
Aku mematung tidak percaya. Bukankah hantu itu tidak ada. Aku segera berlari ke kamar. Melompat ke atas kasur. Mulai berkomat-kamit dan berdoa. Namun, tubuhku tidak berhenti bergetar. Apalagi, dua kata pemberitahuan itu mengejutkanku.
"Suamiku tidak akan selingkuh. Suamiku itu cinta mati!" Aku masuk dalam selimut. Memejamkan mata. Ragaku bergetar. Tanpa menyadari sosok bergaun merah itu mendekatiku, dan berbisik bagai suara yang membawa angin menusuk dingin hingga ke tulangku.
"Ini adalah karma karena mengejekku sebagai daki kehidupan."
Suara itu hilang kemudian. Namun, aku tetap tidak berani keluar dari selimut. Aku terus terjaga hingga menjelang pagi. Karena, pesan terdengar ancaman itu, membuatku menjadi lebih posesif terhadap suamiku. Aku bahkan menghubungi pria pendamping hidupku itu setiap menit hanya untuk membahas.
'Loe ngapain'
'Loe dimana?'
'Loe ama siapa?'
Hingga akhirnya pria di seberang sana bosan membalas pesanku. Mematikan ponselnya seharian. Aku menjadi gelisah. Menuduh suamiku telah selingkuh.
Pukul 23.00 wib
Akhirnya tanda online terlihat dalam status chat milik suamiku. Aku segera menekan dial, dan menghubunginya.
"Mas, kau sedang apa?"
"Sedang tidur."
Dua kata sebagai jawaban itu terdengar sederhana. Namun, halintarnya di atas kepalaku adalah, dua kata itu di ucapkan seorang wanita.
"Loe siapa?"
Tuts! Telepon di matikan. Aku menghubungi kembali dan kembali. Hanya tulalit jawabannya.
Aku bergindik ketakutan. Ternyata yang di ucapkan hantu Vixal itu nyata. Aku menangis sejadi-jadinya. Bangkit, menuju kamar mandi, dan mencari hantu sialan itu.
"Hantu Vixal! Mengapa suamiku berselingkuh?" tanyaku konyol pada ruangan 1.5 X 2 m.
"Dia sudah bosan." Satu jawaban itu membuat seluruh nyaliku surut seketika. Aku bergindik. Beginilah rasanya berdialog dengan hantu? Seluruh bulu romaku berdiri tegang.
Tidak lama sebuah cairan botol Vixal melayang di udara, "Nih, minum dulu Vixalnya."
Aku menghempas marah botol Vixal. Botol Vixal jatuh ke lantai. Lalu, sosok bergaun merah itu muncul dan dia berbisik, "Apa kau pikir daki kehidupan itu berasal dari dirimu sendiri. Terkadang, hidupmu selurus mungkin. Kau tetap saja akan bertemu dengan teman ataupun pasangan yang menjatuhkan kotoran. Di saat itulah kau butuh Vixal. Untuk bekerja keras membersihkan. Atau menjadi lelah dan menelannya."
Aku bergindik takut. Aku tidak berani menengok ke sosok yang berbisik di telingaku.
"Kau tidak boleh menyalahkan setiap keputusasaan, kematian, ataupun mencoba menghakimiku. Karena, kau hanya mendengar cerita dari orang lain. Apakah kau pernah mencoba bertanya denganku? apa yang terjadi denganku? Jika kau tau cerita aslinya, kau akan ikut menangis. Jika, kau tau ceritaku, apakah kau akan berdiri membelaku?"
Botol Vixal terangkat ke udara.
"Jika kau tidak pernah terluka. Jika kau tak pernah mengalami seperti yang aku alami. Apakah kau akan tau rasa sakitnya? Kau hanya tau menimpali. Tanpa tau bagaimana kisah itu terjadi? Kau tidak bertanya padaku! Namun, kau sok tahu."
Cairan Vixal bagai air terjun jatuh ke lubang kloset.
Aku terbelalak takut dan ngeri.
Aku jatuh pingsan setelah satu kalimat terakhir itu. Lalu, keesokannya aku sadar dan bangun telah berada di atas ranjang.
"Hantu Vixal baik juga!"
Setelah kehadiran suamiku di rumah, aku menuntut suamiku untuk segera pindah ke rumah kontrakan lainnya. Perselingkuhan suamiku, aku anggap tidak ada. Walau aku cemberut menganggap alibi pria itu tidak masuk akal.
"Sayang, ponsel gue waktu itu kececer. Di temuin cewek mabuk. Yah gitu deh, asal jawab."
Suamiku menyentuh perutku yang masih terlihat rata, "Pria mana sih yang tega mengkhianati wanita kesayangan yang lagi bunting. Di kutuk nanti hidupnya. Karma itu berjalan lambat, sayang."
Aku menoleh pada suamiku, memeluknya dengan erat, dan berkata, "Jika kau berselingkuh. Aku taruh cairan Vixal bercampur kopi pagimu."
"Vixal kopi! Saingan Sianida!"
Aku terkekeh.
"Siapa sih yang mau naksir gue? Kerjaan gue cuma negedesain kitchen set doank, nata kursi meja doank! Pikiran lu tu yank, di benahin deh. Ngehidupin lu aja, gue harus berjuang lebih banyak. Beli rumah, beli mobil, nabung buat bayi. Gimana gue mikir ngehidupin yang lain sih. Ingat biaya Caesar 50 juta Lo sekarang!"
"Iya. Normal aja deh lahirannya."
"Yakin? Nanti Lo merengek, susah keluar. Takut di gunting kebanyakan. Takut mati. Takut pendarahan. Banyak ketakutan!"
"Jangan nakutin deh!"
Suamiku memelukku.
"Gimana lagi? Masa kita minjam duit di bank buat Caesar. Bantuan vakum aja deh."
"Jika darurat yah harus. Atau minta keluarga patungan, he he he!"
Hantu Vixal mengintip dari luar jendela, dia terkekeh dalam senyum ironi, "Jika kau sebut diriku adalah kematian yang datang karena daki kehidupan. Maka, kau adalah daki-daki aib yang terbuka. Get your survival gear, beibeh! Hantu Vixal mencarimu!"
***
Gara2 ni cerita, aku malah takut ke kamar mandi. deg deg aku.... liat lubang kloset, takutnya hantu keluar Lo. mual aku tuh 🤣