Sinta dan Sindi adalah kembar siam, mereka sudah hidup tujuh belas tahun dengan satu badan yang menyatu.
Mereka baik hati dan pekerja keras. walau begitu, karena kekurangan mereka kehidupan mereka selalu di ejek dan di hina.
Namun, mereka tidak menyerah, kareja mereka sudah di tinggalkan Ayah dan Ibu nya ke surga, lalu hidup berdua hanya di bekali sebuah rumah, ladang yang luas dan satu toko bunga. mereka pun berhasil mengembangkan ladang dan juga toko bunga hingga kehidupan mereka pun berubah menjadi lebih baik.
Suatu hari..
"Sinta, kapan ya kita bisa seperti yang lain?, tampil sempurna bahkan dengan gaya yang berbeda?" Tanya Sindi.
"Kita bisa melakukan semua nya berdua, namun jika kamu menginginkan tampil sempurna, maka kita harus memisahkan diri agar kamu bisa hidup normal begitu pula dengan aku" Jawab Sinta yang sedih.
"Maaf Sinta, aku jadi membuat mu sedih. mulai hari ini dan seterus nya, aku berjanji gak akan mengeluh tentang diri kita" ucap Sindi.
Sinta pun langsung tersenyum lagi dan mereka pun berpelukan. lalu hari pun terus berlalu, Sinta dan Sindi mengurus kebun nya dengan baik hingga banyak warga yang dulu nya pengangguran namun kini menjadi pekerja untuk Sinta dan Sindi di ladang.
Hingga suatu hari, mereka bertemu dengan seorang pemuda kaya raya bernama Mario yang tengah melihat ladang mereka untuk membeli hasil panen nya.
Awal nya Mario kaget melihat kondisi Sinta dan Sindi. namun karena sering nya mereka bertemu, Mario diam-diam menyukai Sindi namun siapa sangka kalau Sinta bukan Sindi lah yang menaruh rasa pada Mario.
"Kalian cantik sekali hari ini" Puji Mario.
"Terimakasih Mario" Jawab Sinta dan Sindi bersamaan.
"Oh ya, besok aku harus kembali ke kota. ini ada kenang-kenangan untuk kalian, tolong di terima ya." Ucap Mario sambil memberikan dua kotak pada Sindi dan Sinta.
"Senang bertemu dengan mu Mario, aku juga punya sesuatu buat kamu" ucap Sinta lalu memberikan sebuah kotak kecil untuk Mario.
"Terimakasih, kalau begitu aku permisi dulu yak, jaga diri kalian terutama kamu" Ucap Mario sambil mengecup pipi Sindi lalu pergi.
Sinta yang melihat Mario mengecup Sindi pun merasa cemburu, sedangkan Sindi hanya tersenyum dan pipi nya menjadi merah merona.
Waktu pun terus berlalu, siang kini berubah menjadi malam. Sinta dan Sindi juga sudah sampai di rumah dan membuka kotak dari Mario bersama-sama di kamar.
"Cincin" Ucap Sindi.
"Aku hanya mendapat kalung" Balas Sinta.
"Ehm Sinta, tulisan cincin ini artinya apa ya?" Tanya Sindi.
"Will you mearied me, ehm.." Ucap Sinta sambil menahan amarah nya karena cemburu.
"Apakah kau mau menikah dengan ku?, ehmm apa itu artinya, kalau memang ya berarti selama ini" Ucap Sindi.
Lalu Sinta yang sudah termakan api cemburu pun menoleh pada Sindi dan menjambak rambut nya.
"Apa kamu gak tau kalau selama ini aku suka pada Mario Ndi!" Teriak Sinta.
"Aku tidak tau Sinta, tolong lepaskan ini sakit" Balas Sindi.
"Kita kan kembar, tapi kenapa Mario malah memilih mu yang jelas-jelas ilmu pengetahuan nya saja kurang" Ucap Sinta menghina Sindi.
Sindi yang mendengar semua makian dari mulut Sinta pun hanya menahan tangis, hingga akhir nya Sindi meminta maaf pada Sinta dan Sinta pun sadar kalau yang ia lakukan itu salah.
"Maafkan aku Sindi, maaf aku khilaf" Ucap Sinta.
"Gak apa-apa kok Ta, besok kita oprasi yak agar badan kita bisa berpisah. lalu kamu jadi aku dan aku jadi kamu, agar kamu bisa menikah dengan Mario dan aku akan pergi jauh" Ucap Sindi yang kecewa.
"Gak Sindi, maaf aku cuma khilaf. tolong jangan bicara itu lagi yak" Balas Sinta.
Sindi pun hanya diam, namun karena keputusan nya sudah bulat, Sindi pun memaksa Sinta untuk oprasi hari itu juga dan melakukan semua nya dengan cepat tanpa memikirkan resiko nya.
Hingga mereka tiba di rumah sakit, lalu melakukan oprasi itu sampai tubuh mereka pun terpisah. namun, ketika Sinta terbangun, ternyata ia hanya mendapatkan diri nya yang tengah terbaring sendirian dengan Sindi yang tengah terbaring namun tidak bernyawa.
"Dokter, kenapa Sindi tidak bergerak?" Tanya Sinta sambil mengusik tangan Sindi yang lemas.
"Maaf Nona, kembaran beliau harus menghembuskan nafas terakhir nya ketika ia tau kalau jantung dan ginjal mu bermasalah" Jawab Dokter.
"Maksud anda?" Tanya Sinta yang bingung.
"Beliau memberikan jantung dan ginjal nya untuk mu karena ia ingin kamu menjalankan kehidupan yang lebih baik, dan sebelum beliau meninggal, ia memberikan surat ini untuk anda. kalau begitu saya pamit ya, saya turut berduka cita atas kepergian kembaran anda" Jawab Dokter sambil menceritakan apa yang terjadi.
Sinta pun hanya bisa melihat jenazsh Sindi yang kini tengah di bawa oleh Suster dan Dokter untuk di kremasi. lalu Sindi pun duduk di kursi roda di bantu oleh salah satu warga untuk ke tempat istirahat terakhir Sindi.
Sindi pun hanya bisa menangis sambil membuka isi surat dari Sindi dan membaca nya.
Isi surat
"Sinta, jika kamu sudah membaca urat ini, berarti aku sudah gak ada lagi di samping mu ya. ehm.. sebelum nya aku mau berterimakasih karena kamu mau menjalankan hidup walau harus bersama dengan ku di setiap waktu dan hari mu. tapi maafkan aku ya Sinta, karena aku kamu jadi sedih dan harus sakit hati karena cinta. tapi setelah ini gak akan lagi kok, maafin aku ya sekali lagi. dan sebagai permintaan maafku, aku berikan jantung dan ginjal ku untuk kamu agar kamu dapat menjalankan kehidupan normal seperti yang aku pernah impikan dan kamu juga bisa menikah dengan Mario. kini aku titip Mario yak maafkan aku sudah merebut cinta mu dan aku pamit dulu ya Sinta, jaga diri kamu dan kesehatan kamu. Maaf"
Sinta pun hanya bisa menyesali perbuatan nya seumur hidup nya, karena ia tau kalau Sindi pasti merasa sakit karena makian dan bentakan Sinta tempo hari.
Lalu Sinta pun memutuskan untuk pergi berkelana tanpa menikah dengan Mario maupun melirik ke belakang lagi.
Kisah pun selesai..
Jangan lupa like, koment and share