"Bapak... Orang tua bapak jualan tauge ya...?" tanya Nadia dengan senyuman jahil di bibirnya.
"Kenapa memangnya?!" jawab pria itu dengan begitu dingin, bahkan tidak menatapnya sekalipun.
"Soalnya, setiap lihat muka bapak, saya jadinya pengen punya anak!" Nadia tersenyum lebar pada Yudi.
Namu pria itu sepertinya tidak tertarik sama sekali untuk menanggapi ocehan Nadia. Dia yang duduk di depannya, sambil memeriksa beberapa tumpukan kertas berisi note nada yang ada di hadapannya, bahkan tidak mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang ada di hadapannya saat ini.
"Jahat banget sih! Enggak senyum sama sekali! Dari dulu sampai sekarang terus saja seperti ini." Nadia beranjak dari tempat duduknya, dia tidak ingin lagi berlama-lama di sana, dengan pria dingin yang selalu saja mengacuhkannya.
Yudi Mahendra mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik Nadia yang sepertinya benar-benar marah padanya saat ini. Gadis kuliahan tengil yang selalu mengganggunya setelah pertemuan mereka yang pertama kalinya.
"Aku udah berjuang keras mati-matian menahan malu untuk mendekatimu, tapi sepertinya kamu tidak menginginkanku sama sekali. Ada kalanya aku juga merasa lelah! Aku tidak akan mengganggumu lagi. Tenang saja!" Nadia memberikan senyuman termanisnya pada Yudi sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan itu dan memilih untuk kembali saja ke rumahnya.
Nadia jauh-jauh sengaja menemuinya di rumahnya, tapi dia justru tetap saja acuh padanya.
"Nadia!" panggilan seseorang menghentikan langkahnya.
Nadia mengenal lebih dari siapapun suara yang terdengar memanggilnya tadi.
"Kenapa apa sekarang kamu berubah pikiran dan menyesal karena selama ini mengabaikanku? Sayangnya sudah terlambat, aku sudah lelah dengan aksi kejar-kejaran hanya untuk mendapatkan perhatian dan balasan cintaku darimu!" jawab Nadia dengan dengan berpura-pura acuh.
Dia menyukai Yudi sejak pertama kali melihatnya, dia menjadi guru privat pianonya. Tapi dia selalu saja di acuhkan oleh Yudi, dan bahkan bisa di katakan di abaikan begitu saja.
"Handphone kamu ketinggalan. Aku juga tidak berniat sama sekali untuk melakukan apa yang kamu pikirkan itu. Ini..."
Dengan tatapan yang semakin kesal Nadia melihat ke arah Yudi, namun dia segera memalingkan wajahnya, begitu melihat yudi juga melihat kearahnya.
Yudi memberikan benda pipih itu pada Nadia, tapi Nadia terkejut saat menerima itu.
"Ini bukan milikku!" ucapnya.
"Berarti itu milikku." jawab Yudi.
"Apa maksudnya ini?!" tanya Nadia dengan ketus, dia merasa benar-benar di permainkan oleh Yudi.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menghentikanmu. Tapi aku tidak tahu caranya." Nadia menatap heran ke arah Yudi yang sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku semakin tidak mengerti." ucap Nadia lagi.
"Tapi kini aku justru semakin mengerti. Jika aku sudah menyukaimu." jawab Yudi.
Mendengar itu Nadia mengerjapkan matanya berkali-kali, dia masih tidak percaya pada apa yang dia dengar barusan.
"Aku sudah menyadari perasaan ku padamu Nadia, jika selama ini aku sudah jatuh hati padamu." jelas Yudi.
"Kamu..."
"Mm... Aku menyukaimu." jawab Yudi dengan pasti.
Mendengar itu Nadia tersenyum begitu lebar, dia melompat ke pelukan Yudi dengan begitu bersemangat.
"Terimakasih.... Akhirnya penantian dan usahaku mengejarmu tidak sia-sia." ucapnya sembari memeluk tubuh Yudi dengan erat seakan Yudi akan pergi jauh darinya, begitu dia melepaskan pelukannya.
"Jadi Nadia, apa kamu masih ingin membuat anak saat melihat wajah ku?" tanya Yudi dengan nada menggodanya.
Wajah Nadia memerah, dia benar-benar mau saat ini. Tadi itu dia hanya ingin menggoda Yudi, tapi siapa yang akan mengira jika kini Yudi menggunakan itu untuk menggodanya.
"Boleh... Tapi setelah di bayar tunai dan sah!" jawab Nadia dengan tawa kecilnya.
"Mm... Kalau begitu segera saja aku bayar tunai dan sah. Mau?"
Nadia semakin tersenyum lebar mendengar apa yang Yudi katakan. Dengan cepat dia menganggukkan kepalanya.
"Mau!"