.....
"Orang tuaku tidak menyukai hubungan kita" Aku tertunduk lesu mengungkapkan pada pacarku bahwa orang tuaku menentang keras hubungan ini.
"...." Diapun menunduk entah apa yang dipikirkan.
"Aku dijodohkan dengan anak temannya ayah" aku meneruskan ceritaku.
Aku melihatnya menghela nafas agak kasar.
"Aku akan mundur" Begitulah tanggapannya.
Entah kenapa air mataku menetes begitu saja. Aku sedang sayang-sayangnya. Aku sedang bucin-bucinnya. Tapi kenyataannya cinta tidaklah mulus jalannya.
"Jangan menangis, dia baik untukmu."
Segampang itukah dia mengungkapkan kalimat itu. Air mata ini tak kunjung berhenti menetes.
"....."
Isakku dalam diam. Dia menggenggam tanganku erat. Aku tidak tahu apa artinya ini. Apa dia merelakan aku dengan yang lainnya? Padahal aku ingin berjuang. Aku bahkan sudah menentang perjodohanku. Saat ini hubunganku dengan orang tuaku tidak begitu baik. Aku bekerja di luar kota. Dulu, sebelum aku dijodohkan, hampir setiap pekan aku pulang. Sekarang, aku menghabiskan akhir pekanku di kos.
Aku dan dia hanya menghabiskan waktu duduk berdua di sebuah kafe dengan diam. Bahkan makanan ringan dan minuman yang aku pesan tidak tersentuh sama sekali. Sesekali bertatapan, sendu dan sedih.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Jam malamku, waktunya kembali ke kos, yang jaraknya hanya memakan waktu 5 menit untuk berjalan kaki dari kafe.
"Yang, aku balik dulu." Aku masih sangat menyayanginya.
"Iya, hati-hati. Maaf, aku masih ingin duduk di sini. Aku tidak mengantarmu."
"Tidak mengapa" akupun berlalu.
Aku berjalan dengan tetesan air mata yang tak malu untuk jatuh sesekali. Menunduk jika ingin diusapi. Aku sedih. Apakah setelah ini, hubunganku dengan dia selesai?
Saat akan membuka gerbang kos, seseorang memegang tanganku. Iya, dia pacarku. Entah sejak kapan ada di dekatku. Dia menarikku hingga jatuh ke pelukannya.
"Aku akan berjuang jika itu yang kamu inginkan, aku tidak ingin kamu mengeluarkan banyak air mata hanya untukku, aku tidak seberharga itu untuk kamu tangisi, Dinda."
Kalimat panjangnya, membuat tangisku semakin menjadi. Aku tak menjawab. Aku bingung apa yang harus aku lakukan.
"Orang tuamu tahu aku. Aku hanya seorang pegawai biasa. Mereka ingin melihatmu bahagia dengan berkecukupan. Jika denganku? Apa yang akan kau dapatkan? Itu realistis, Din."
"Aku tidak tahu itu, aku hanya tahu sekarang aku sangat mencintaimu, Dewa. Bahkan kita baru pacaran sebulan lalu." Tanpa malu-malu aku mengucapkan itu.
Aku memang dibutakan oleh cinta. Semua hanya tentang Dewa. Aku tak memandang materi yang dia punya. Jika memang aku suka, aku akan menjalaninya. Dimana letak otakku saat ini? Aku benar-benar tidak bisa berfikir. Mana yang benar, mana yang terbaik untukku, mana yang harus aku pilih, mana? Aku egois.
"Masuklah Dinda, aku akan merindukanmu."
Apa ini artinya dia akan pergi?
Aku tak bisa berkata-kata.
"Iya, terima kasih untuk pelukan hangatmu, Wa."
Aku masuk ke dalam kos. Dewa mengamatiku dari gerbang sepertinya. Setelah aku masuk kamar, dia berlalu entah kemana.
Biasanya setiap malam kita habiskan untuk teleponan. Entahlah apa yang kita bicarakan, ada saja hal yang membuat kita betah berlama-lama bicara. Tapi malam ini? Sepertinya tidak. Sepertinya hubungan ini telah berakhir. Sepertinya aku harus melupakan Dewa. Sepertinya itu yang terbaik. Tapi aku tidak bisa, aku lemah, aku tidak bisa menghilangkannya dari hatiku, aku bahkan sudah terlanjur sangat mencintanya. Malam ini terasa sangat panjang tanpa dia. Baru saja bertemu, aku sudah sangat merindukannya.
Aku bertemu dengan dia, saat mengurus surat domisili di kota ini. Tempatku bekerja mempersyaratkan surat tersebut untuk kepentingan data pegawainya. Dewa adalah petugas kelurahan disini. Aku terpesona sejak awal bertemu dengannya. Dia sangat ramah kepada setiap pengunjung. Saat aku menatapnya dia tanpa ragu menatapku juga. Dalam beberapa detik berlalu, aku rasa, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Singkat cerita, Dewa menghampiriku pada saat aku telah selesai mengurus surat domisiliku, dan aku duduk sendiri di depan kantor kelurahan, sekedar memastikan semuanya sudah beres, sambil mengecek dokumen-dokumen yang aku bawa tadi.
"Boleh duduk disini?"
"Boleh"
"Mbak nunggu siapa? Pacar ya?"
"Oh bukan Mas, hanya mengecek ini saja, kali aja ada yang ketinggalan, hatiku misalnya."
Hahaha kata-kata gombal yang lolos begitu saja pada orang yang aku belum mengenalnya.
"Mbak bisa saja, boleh kenalan?"
Dia mengulurkan tangannya ke arahku.
Dengan cepat aku sambut.
"Boleh dong."
"Dewa"
"Dinda"
"Wah, sepertinya kita jodoh ya Mbak, sama-sama 'D' hahaha"
Duhh... Aku kok nyaman ya sama orang ini. Aku tersenyum ke arahnya. Aku harus segera kembali ke kantor waktu itu. Sejak saat itu, Dewa meminta nomor ponselku dan PDKT. Why not? Aku juga merasa tertarik padanya, aku juga nyambung sama orangnya. Hingga akhirnya dia mengajakku berpacaran. Dalam fikiranku tentu saja senang bukan main. Aku akan coba menjalaninya.
Dan ternyata ujian cinta, sedemikian ini hebatnya. Hahaha aku hanya bisa menertawakan kisahku. Tidak berapa lama aku bertemu dengannya malam itu, aku mendapat mandat, bahwa aku akan di mutasi ke cabang perusahaan di pulau seberang, yang sangat membutuhkan pegawai di posisiku. Aku tidak bisa menolak. Dan aku benar- benar berpisah darinya. Malam itu adalah malam pertemuan terakhirku dengannya. Setelahnya, aku tidak pernah mendapati telpon dan juga chat darinya. Nomornya tidak berganti, namun tidak ada lagi perhatian seorang pacar disana. Aku sempat bertanya, namun dia selalu berkilah. Aku juga tidak ingin memaksa. Karena akhirnya pasti dia dan aku pastinya akan terluka. Mungkin ini memang jalannya.
"Jika dia baik bagiku, maka dekatkan. Jika dia bukan untukku, maka jauhkan"
Ternyata mungkin Alloh tidak menakdirkanku bersamanya, hingga aku harus menjauh darinya.
Mungkin ini jawabannya.
Setahun berlalu, hubunganku dengan orang tua mulai membaik meskipun aku menentang perjodohannya. Dan luka hatiku telah mengering karena tak disirami. Aku bertumbuh sendiri. Semoga dia bahagia disana dan aku juga akan menemukan kebahagiaan itu meskipun tidak bersamanya.
END