07.52 KST
"Yunseong-ah, ayo cepat." Seorang pemuda bersurai hitam kecoklatan itu melangkahkan kakinya dengan sedikit terburu-buru keluar dari kamar. Bahkan ia hampir saja melupakan ponselnya.
"Astaga ma... Ini masih terlalu pagi." Pemuda yang diketahui bernama Yunseong itu nampak sedikit kesal dengan sang mama. Wajah yang ia buat seolah-olah merajuk itu pun terlihat sangat menggemaskan. Dengan dahi berkerut dan bibir yang sengaja dimajukan, bukankah dia lebih mirip seperti seorang anak yang memberikan aegyo?
Sekarang baru pukul delapan. Sinar matahari juga masih terasa hangat. Tapi seperti rumah milih keluarga Hwang sudah mulai ricuh sekarang. Beruntunglah para penghuni rumah sudah pergi dan tinggal menyisakan dua orang ibu dan anak tersebut.
"Yunseong-ah, cepatlah!" Sepertinya stok kesabaran Nyonya Hwang sudah mulai habis sekarang. Matanya tak luput memandang anak bungsunya itu. Yang ditatap malah tetap berjalan santai mendekati sang mama.
Merasa putranya itu akan lama, Nyonya Hwang berusaha menyibukkan diri. Ia mulai meletakkan beberapa sandwich tuna kedalam kotak makan. Tak lupa teh hangat yang juga ia masukkan kedalam termos kecil.
Grep!
Punggungnya terasa sedikit hangat. Bahkan Nyonya Hwang bisa merasakan hembusan nafas tepat diperpotongan lehernya. Juga, ada dua tangan yang bertengger erat dipinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Yunseong pelakunya.
"Jangan marah gitu dong ma... Masih pagi juga. Mending kita sarapan dulu, ya?" Yunseong melepaskan back hug nya dan berjalan menuju meja makan. Tangannya bergerak menarik sebuah kursi disana. Lalu, ia mengambil sebuah apel merah dan mulai menggigitnya.
"Kamu sih yang kelamaan. Mandi berapa jam sih? Kayak anak perawan aja." Ujar Nyonya Hwang. Memang mamanya itu tidak sepenuhnya bersalah. Yunseonglah yang memang sangat lamban saat mandi.
"CK, Yunseong tuh laki ya ma... Kalo mandinya lama, itu artinya Yunseong nya aja yang kelewat bersih." Balas Yunseong sembari terus melanjutkan acara menggigit apel merah digenggamannya.
"Kan kamu emang laki. Udahlah, buruan habisin apelnya." Nyonya Hwang sudah selesai membuat bekal.
"Iya... Iya... Ini juga mau dihabisin." Ucap Yunseong dengan nada sedikit ketus. Nyonya Hwang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkat putra bungsunya itu. Tak habis fikir diumurnya yang hampir 20 tahun, dia masih begitu kekanak-kanakan.
"Buruan lho ya. Habis ini kita berangkat. Lima menit lagi." Setiap kata yang barusan keluar dari bibir Nyonya Hwang benar-benar penuh penekanan.
Mama selalu benar.
Kalo anaknya salah, kembali ke kalimat pertama.
Yunseong hanya mencibir kesal mendengar perkataan mamanya. Oh ayolah... Yunseong berani taruhan kalau jam segini, jalan raya tidak akan semacet itu. Kenapa mamanya ini sungguh terburu-buru?
"Aku sudah selesai sarapan!" Ujar Yunseong sedikit berteriak agar mamanya dapat mendengar. Padahal jarak antara dia dan Nyonya Hwang hanya selisih 2 meter. Dasar anaknya Tuan Hwang.
"Ya udah cepet ambil barang-barang kamu sekarang."
'Astaga. Ma... Bahkan apel tadi masih belum sampai ke lambungku...' Batin Yunseong sembari mengelus perut ratanya.
"Siap ibu negara!"
"Ya udah buruan jalan, jangan cuma ngomong doang."
Nah kan maungnya keluar juga akhirnya.
🌹🌹🌹
09.27 KST
Kini Nyonya Hwang dan Yunseong sudah sampai di tempat tujuan mereka. Berjalan melewati setiap koridor dengan penuh keyakinan. Tidak, bukan Yunseong yang bersemangat, tapi Nyonya Hwanglah.
Yunseong hanya berjalan santai tepat dibelakang punggung sang mama.
Nyonya Hwang sangat ceria hari ini. Senyuman manis tak pernah luntur dari wajahnya yang mulai berkeriput itu.
Ia benar-benar bersyukur memiliki ibu seperti Nyonya Hwang. Setidaknya dia adalah salah satu orang yang paling memanjakan Yunseong.
Setelah sekitar 10 menit menyusuri koridor, kini sepasang ibu anak itu tengah duduk disalah satu bangku yang disediakan. Setelah menemukan bangku, Yunseong lebih memilih menyibukkan diri dengan bermain game online di smartphone nya. Sementara itu, Nyonya Hwang nampak tengah berbincang bersama seorang wanita muda disebrang. Entahlah. Yunseong tidak peduli.
"Yunseong-ah." Panggil Nyonya Hwang. Yunseong yang tengah fokus dengan gamenya hanya berdehem sebagai jawaban.
Nyonya Hwang berjalan mendekati Yunseong. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya tepat disamping putranya itu. Tangan lembut miliknya tergerak menyentuh pucuk kepala Yunseong. Hatinya terasa seakan-akan hancur saat ia kembali mengingat kondisi putra bungsunya. Ia berusaha mati-matian menahan tangisnya sekarang.
Yunseong yang kelewat peka, segera mempausekan gamenya. Iris hitam kecoklatan miliknya menatap sang mama yang kini tengah menyenderkan kepala dibahunya. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus pelan tangan mamanya. Walaupun Yunseong peka, ia benar-benar bingung harus melakukan apa setelah ini.
"Ini sudah genap dua tahun kita kesini. Tapi... Mama takut Yunseong." Setetes air mata berhasil terjun bebas dari pelupuk matanya. Yunseong juga baru menyadari jika dia sudah bolak-balik ke tempat ini selama 2 tahun terakhir.
"Wah... Mama hebat ya bisa inget. Yunseong aja lupa hahaha." Nyonya Hwang menatap Yunseong dengan tatapan kesal. Oh ayolah, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.
"Dasar bodoh! Mama sedang mode serius dan kamu dengan wajah tanpa rasa bersalah itu malah bercanda?" Genggaman tangan Yunseong ia lepaskan. Apa anaknya ini tidak bisa serius walau hanya satu menit saja? Dasar Hwang!
"Hehehe maafkan aku. Mama sih jangan terlalu serius juga. Sudahlah aku baik-baik saja. Kenapa mama khawatir hm? Aku saja sama sekali tidak merasa takut atau pun khawatir." Ujar Yunseong sembari menyimpangkan kedua tangannya diatas dada.
Nyonya Hwang beruntung memiliki putra seperti Yunseong. Dia adalah anak yang pandai. Pandai menyembunyikan perasaannya agar orang lain tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi nya.
Takut sewaktu-waktu mamanya akan menangis lagi, dengan segera Yunseong merentangkan tangannya. Ia memberikan pelukan hangat untuk mamanya. Setidaknya inilah yang bisa ia lakukan sekarang agar mamanya itu tidak bersedih lagi.
"Saat Tuhan menciptakan penyakit, disaat itu juga Tuhan juga menciptakan obatnya." Ucap Yunseong sembari mengelus punggung mamanya.
"Udah dong ma... Kok malah mama sih yang nangis? Harusnya tuh Yunseong yang nangis." Yunseong menangkap wajah mamanya. Ibu jari Yunseong bergerak menghapus air mata diwajah sang mama.
Nyonya Hwang terkekeh mendengarkan penuturan anaknya. Mulai sekarang ia harus berfikir positif.
"Yunseong-ah."
"Ya?"
"Cepatlah sembuh."
Yunseong tersenyum menanggapi ucapan Nyonya Hwang. Dengan keberanian penuh, Yunseong membuka sebuah pintu kayu dihadapannya.
dr. Kim Jisoo
| Spesial Kanker Otak |
🌹🌹🌹
Jangan lupa dengerin :
🎶 STRAY KIDS - Side Effect 🎶
Pake earphone kalo bisa
🌹🌹🌹
10.15 KST
Bonseong Green Tea Field
Setelah menemui dr. Kim, Nyonya Hwang dan Yunseong memilih untuk berlibur sejenak di Bonseong Green Tea Field. Tempat dimana Korea Selatan menghasilkan teh terbesar dinegaranya. Suara kicauan burung yang terbang melintasi, serasa menambah rasa nyaman bagi siapapun yang mendengarnya.
Yunseong berdiri dihamparan kebun teh itu dengan menggunakan jaket tebal dan syal merah rajutan miliknya. Sementara itu, Nyonya Hwang terus saja menempel disamping putranya.
Hari ini cuaca cukup cerah jika hanya untuk sekedar menikmati hamparan teh disana. Gugusan pohon Pinus juga berjejer rapi disekitar jalanan. Aih... Sudah lama Yunseong tidak kesini. Mungkin, sekitar 8 tahun yang lalu.
"Yunseong-ah."
"Nde?"
"Disini sangat indah. Apa kau menyukainya? Sudah sangat lama kamu tidak pernah bermain disini lagi. Mama jadi ingat saat kamu pertama kali datang kesini. Senyum dan tawa mu selalu tercetak jelas diwajah tampanmu." Ujar Nyonya Hwang. Jika boleh jujur, hatinya benar-benar sangat sakit jika harus mengatakan itu.
"Aku sangat menyukainya ma. Astaga... Aku ingat dulu aku sangat keras kepala dan tetap bermain dilumpur walaupun kau melarangku. Hahahaha."
"HM... Putraku sudah besar ternyata ya sekarang. Yunseong-ah, kenapa kamu tumbuh secepat ini HM? Mama sangat ingin kau tidak pernah jadi sebesar ini. Hahaha." Entahlah, Yunseong merasa darahnya mulai menghangat sekarang.
Flashback On.
"Jadi... Hasil kontrol hari ini bagaimana dokter?"
Sejenak dokter Kim tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir Nyonya Hwang. Matanya masih berfokus pada lembaran kertas digenggamannya. Ada rasa tak enak hati ingin menyampaikan ini. Namun mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi tugasnya.
"...Keadaan Tuan Yunseong... Jauh lebih buruk dari pemeriksaan bulan lalu."
DEG!
Yunseong tidak terkejut mendengar penuturan dokter yang mengobatinya itu. Ia tahu cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi.
"Kanker otak yang bersarang di kepala Tuan Yunseong sudah semakin mengganas. Mungkin ini sudah terlambat untuk melakukannya, tapi satu-satunya jalan adalah dengan melakukan operasi pengangkatan kanker."
'Astaga Yunseongku yang malang...'batin Nyonya Hwang.
Hatinya terasa sangat sakit mendengar kabar putranya. Jika Tuhan berkehendak, ia ingin berganti posisi dengan anaknya. Biarkan dialah yang menanggung rasa sakitnya. Tapi Yunseong. Jangan, dia tidak mau kehilangan putra satu-satunya itu.
"Dokter Kim, kau adalah dokter yang hebat. Kau... Kau pasti bisa menemukan jalan lain selain operas--"
"Aku akan melakukan nya dok." Sela Yunseong.
"Maaf nyonya. Tapi memang tidak ada cara lain selain operasi pengangkatan kanker. Mengingat kanker otak yang diderita Tuan Yunseong adalah kanker otak stadium akhir, kita sudah tidak memiliki cara lain." Jelas dokter Kim.
"Kemoterapi hanya mengurangi rasa sakitnya dan bukannya menghilangkan penyakit itu. Jika yang anda takutkan adalah resiko dari operasi ini, maka kami akan berusaha keras untuk meminimalisir resiko terburuknya."
Tangisan Nyonya Hwang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Kenapa hal ini terjadi pada Yunseong? Jika sejak awal Nyonya Hwang tahu akibatnya akan sefatal ini, maka Nyonya Hwang tidak akan pernah memaksa Yunseong untuk belajar dan belajar, 'Yunseong-ah.'
Yunseong mengusap punggung Nyonya Hwang pelan. Ia berharap mamanya itu berhenti menangis. Sudah cukup mamanya menangisinya selama ini. Sekarang Yunseong merasa jika ia adalah anak durhaka yang selalu membuat ibunya menangis.
"Jangan menangis lagi ma.. Yunseong mohon." Ujar Yunseong. Suara terdengar begitu lirih hingga hanya ia dan nyonya Hwang saja yang dapat mendengarnya.
Nyonya Hwang takut. Takut dan khawatir. Bagaiman jika ia tidak bisa bertemu Yunseong lagi?
Flashback Off.
"Yunseong-ah?"
"Eh? Eum... Kenapa ma?" Tanya Yunseong. Ternyata ia melamun sedari tadi. Ingatan beberapa saat lalu kembali menghantuinya.
"Yunseong-ah. Kamu memikirkan apa HM?" Tanya Nyonya Hwang sembari merengkuh tubuh anaknya itu. Berharap kehangatan ditubuhnya memberikan rasa aman untuk Yunseong.
"Mama..."
"Sttt--- Kenapa kau bergerak? Diamlah sebentar Hwang Yunseong. Mama masih ingin memeluk tubuhmu." Nyonya Hwang semakin kuat memeluk Yunseong. Seakan-akan ia tidak ingin kehilangannya. Yunseong pun hanya terdiam tanpa membalas pelukan mamanya.
"Maafkan mama Yunseong-ah." Nyonya Hwang berusaha mendongakkan kepalanya. Memang Yunseong memiliki tinggi yang lumayan.
"Tak apa ma, ini bukan salahmu."
Kata 'tak apa'. Sejak Yunseong sakit Nyonya Hwang benar-benar membenci kata itu. Apalagi saat ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Yunseong.
"Ma?"
"Iya? Kenapa nak?" Yunseong dan Nyonya Hwang memutuskan untuk mencari bangku disekitar kebun teh itu. Untuk duduk. Dan berbicara.
"Dua puluh delapan hari lagi." Ujar Yunseong yang kedengarannya sedikit ambigu. Kepalanya menunduk, berfokus menghadap ke tanah dan batu.
"Kamu akan berstatus sebagai pria dewasa."
"Hehehe... Mama peka juga ya ternyata. Tepat satu hari sebelum akhir bulan, aku akan berulang tahun!" Yunseong terlihat sangat bahagia ketika mengucapkan kata 'ulang tahun'. Walaupun dia akan tumbuh dewasa, tapi sepertinya ia akan tetap suka berpesta.
"Tentu saja. Mama akan membiarkanmu pesta yang sangat meriah nanti. Sebelumnya, kamu harus sudah sembuh total dulu okey?" Ucap Nyonya Hwang. Namun, Yunseong yang semula bahagia, tiba-tiba mengeluarkan ekspresi sendunya.
"Mama tau? Tadi saat bertemu dokter Kim, aku terlihat sangat percaya diri dengan jalan yang aku pilih. Tapi... Lama kelamaan, aku merasakan efek samping yang membuatku ragu dengan pilihanku." Yunseong menghela nafasnya pelan. Kemudian ia menatap mata mamanya.
"Yun..."
"Nervousness, insomnia, nausea, agitation, anxiety, weakness, sweating, vision problems, psychosis, numbness, dizziness, headaches, weight loss. I've felt it all before." Lagi dan lagi. Setetes air mata berhasil lolos membasahi pipi Nyonya Hwang.
"Yunseong-ah, cukup..."
"Jika aku pergi nanti, aku ingin kalian jangan sampai melupakanku. Teruslah ingat Hwang Yunseong, putra satu-satunya keluarga Hwang." Kini berganti Yunseong lah yang menangis. Ia sudah lelah berpura-pura kuat sedari dulu. Ia juga butuh menangis.
Seolah-olah tengah bersahabat. Matahari mulai meredupkan cahayanya. Memilih bersembunyi dibalik kabut yang cukup tebal. Menambah kesan menyedihkan bagi dua orang ibu anak itu.
"You are mom's favorite child. Stop talking nonsense and start thinking positively. You are not alone, Yun. There are mom, dad and don't forget your two sisters." Nyonya Hwang merentangkan tangannya. Ia kembali merengkuh tubuh putranya itu.
"We are behind you. We will always support you." Lanjut Nyonya Hwang. Ia sedang dilema sekarang.
Ia tidak mau menyerah dan hanya berpasrah. Ia ingin Yunseong sembuh total. Ia ingin Yunseong kecilnya kembali.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan. Maaf ma. Aku pun juga bingung."
"Terima kasih ma..." Akhirnya Yunseong membalas pelukan mamanya.
Siang yang mendung itu, menjadi saksi bisu kisah memilukan kedua ibu dan anak keluarga Hwang.
End.
🌹🌹🌹