Suatu hari, tepat di desa yang asri dan sejuk, seorang anak perempuan dan teman laki-laki nya sedang berlarian disana.
"Hei, hati-hati!" teriak salah seorang ibu penjual di toko kelontong dekat sana.
"Tenang saja Bu," ucap Arra, anak perempuan yang saat itu berumur 4 tahun.
"Iya Bu, tenang aja! Kita dah biasa kok, bener kan, Ra?" imbuh Zein, teman laki-laki Arra.
"Bener banget tuh" sahut Arra tertawa kecil.
"Haduh duhh anak sekarang susah dibilangin" ucap Bu Sainah, pemilik toko kelontong tersebut.
"Hehe.." Arra dan Zein sama-sama tertawa.
Kedua anak itu pergi ke taman, tempat biasa mereka bermain. Di taman juga jarang di datangi anak lain, jadi waktu mereka bermain tidak akan terganggu.
Zein yang kurang bersosialisasi, sering diejek anak-anak di desa tersebut. Hanya Arra lah yang mau berteman dengannya apa adanya.
"Zein, aku bosan tau. Main yang lain yuk" ajak Arra yang saat itu sedang bermain ayunan bersebelahan dengan Zein.
"Hem, kamu maunya main apa?" Tanya Zein.
"Yah apa aja sih" jawab Arra sambil mengangkat bahu.
Zein mengeluarkan secarik kertas di kantongnya.
"Kertas apa tu Zein?" tanya Arra penasaran.
"Aku nemuin kertas ini di kamar bunda, kata bunda, kertas ini gak ke pakai jadi buat aku aja" ujar Zein.
"Terus, kertas itu mau dijadiin apa Zein?" tanya Arra lagi.
"Liat aja dulu" ujar Zein sambil merobek kertas itu menjadi dua.
Setelah itu, Zein membentuk kertas itu hingga menjadi pesawat mainan.
"Wahh keren banget!" kagum Arra.
"Nih satu buat kamu" ucap Zein sedikit tersenyum.
"Hehe, makasih!" Ucap Arra senang.
"Zein, Zein...!!" Panggil seorang wanita dan pria dari belakang.
"Eh Zein, itukan...bunda dan ayahmu?!" imbuh Arra.
"Ha..cepat sekali" Zein menghela nafas dan terlihat sedih.
"Zein, eiyy kenapa kamu?" tanya Arra heran.
Zein memeluk Arra erat, "Arra, aku..aku harus pindah rumah ke kota!" Ujar Zein.
"Hah? Kenapa?" Arra melepas pelukannya dan bola matanya membulat sempurna.
"Zein yuk" ujar sang ibunda dari belakang.
"Zein, ayah gak ada waktu lagi! Jam sepuluh ayah sudah harus ke kantor" ucap ayah Zein.
"Tapi Tan, om.." sela Arra sedih.
Erma, ibunda Zein memeluk Arra dan mengusap kepalanya lembut.
"Makasih ya nak sudah menjadi teman putraku selama ini. Tapi ibu minta maaf, terpaksa hari ini Zein harus pindah rumah dan sekolah" ucap Erma dengan berat hati.
"Tapi, kenapa Tante?" tanya Arra.
"Sayang, pekerjaan om harus ke luar kota, jadi otomatis keluarga om gak bisa ditinggal sendiri disini. Jika ada waktu, Insya Allah kita jenguk kamu kesini ya nak" ucap sang ayah Zein, Iksan.
"Arra, kalau takdir, kita bakal ketemu lagi kok" Zein menyunggingkan senyuman di bibirnya dan pergi bersama kedua orang tuanya.
"Hiks..Zein" tangis Arra pecah melihat kepergian sahabatnya tercinta, begitupun Zein yang sudah menganggap Arra seperti jiwa raga nya sendiri.
16 tahun kemudian...
Drap...drap...drap... Langkah kaki seorang gadis dengan rambutnya yang di kuncir dan memakan lollipop itu sedang terburu-buru ingin berangkat ke sekolahnya.
"Arra, jangan lari-larian atuh nak" ucap sang ibu, Reina.
"Iya buk," jawab gadis bernama Arra dari kamarnya sedikit berteriak.
Setelah beberapa menit silam, Arra berpamitan pada ibunya untuk pergi ke luar kota.
"Buk, Arra pamit ke luar kota ya buk" ucap Arra sopan sambil mengecup punggung tangan ibunya.
"Ya udah, hati-hati di jalan ya nak" ucap si ibu.
Arra memeluk tubuh ibunya erat, "Hiks, buk maafin Arra karena harus ninggalin ibuk" ucap Arra.
"Eh, kok malah nangis?! Ibuk tau nak, kamu kan mau nuntut ilmu kenapa ibuk harus marah? Jadi, kamu ga usah minta maaf gini nak" ucap Reina.
Arra mengelap air matanya, ia kembali berpamitan pada ibunya karena bus untuk pergi ke kuliahnya khusus semua anak yang diberi beasiswa di desa itu sudah datang.
"Dah Bukk, Assalamu'alaikum" ucap Arra tersenyum.
Bu Reina membalas, "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh.. hati-hati nak!" Teriak Bu Reina.
Bus itu pun mengantar Reina dan teman-teman nya ke kampus ternama di luar kota.
Setelah menempuh 2 hari perjalanan, mereka pun sampai di kostan nya masing-masing.
Malam hari, kamar kost Arra.
"Huh..badanku bau banget gak mandi dua hari" ucap Arra yang lalu mandi dan berganti pakaian.
Arra yang belum bisa tidur, karena sepanjang perjalanan ia hanya tidur sebab tidak ada kerjaan.
Ia pun memutuskan untuk membaca beberapa buku pelajaran nya.
"Hoamm, ngantuk" ucap Arra yang kemudian tertidur.
"Arra...Arra.." samar-samar ada seseorang yang memanggilnya.
"Siapa?" tanya Arra.
"Arra, aku mencintaimu..." ucap pria tapi tak nampak jelas wajahnya. Biar begitu, suara itu sangat dikenali Arra.
"Zein...Zein...hiks..hiks" tangis Arra.
"Kenapa kamu menangis di hari bahagia ini?" tanya Zein.
"A..apa?" tanya Arra yang tidak mendengar jelas.
"Kan ari ini kita menikah, Arrasya istriku..." Zein tersenyum.
"HAH?" Arra terkejut.
"ZEIN!!" teriak Arra.
"Euhh, dimana ini?" batin Arra bertanya-tanya.
"Zein, Zein dimana kamu?" tanya Arra yang seperti orang gila itu.
"Huhh, sepertinya tadi aku hanya bermimpi" Arra menghembuskan nafas, ia berdoa dan melanjutkan tidurnya.
Paginya, semua bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
"Eh eh, tau gak? Katanya, ada yang guantengg banget di kampus ini" ucap para wanita disana.
"Ish, gajelas banget si dari tadi pada bicarain cowok mulu" kesal Arra yang terganggu karena sedang belajar.
Krekk..pintu terbuka, pria tampan dengan topi hitam yang ia kenakan membuat jantung para wanita berdebar melihatnya.
"Woi, Lo siapa?" tanya lelaki itu pada Arra.
"Oh hai, aku anak baru" ucap Arra tersenyum.
Pria itu malah tidak menghiraukan Arra dan langsung duduk di sampingnya. Wanita-wanita disana pun menatap Arra dengan tajam.
"Ehh, ini tempatku!" Ucap Arra.
"Lo buta? Kan ada dua kursi," kesal pria itu cuek.
"Kamu kali yang buta! Mana mau aku duduk sama cowok" Arra kesal dan pindah duduk di belakang.
"Cewek anehh" ketus pria itu.
Bel berbunyi, guru datang dan menyambut murid-murid. Saat itu, guru memberikan sebuah kertas laporan dan menyuruh anak-anak mengerjakannya dengan tim kelompok. Tim kelompok juga sudah diatur oleh guru.
Sialnya, pria ketus tadi berkelompok dengan Arra.
Dua jam kemudian, laporan sudah selesai dikerjakan. Arra, pria tadi, serta Aldi dan Selin teman sekelompok Arra.
"Tulis nama lengkap jangan lupa" ucap Selin.
"Selin, nama lengkap kamu siapa?" tanya Arra.
"Selin Anindita Cintiana" ujar Selin.
"Kalau Aldi?"
"Aldi Fahim Arwanto" ujar Aldi.
"Terus, kalau kau?" tanya Arra dengan nada kesal pada pria cuek bernama Zein itu.
"Zeinal Hafyan Oktora"
"Ze- Zein" Arra terbata-bata.
"Kenapa Lo?" tanya Zein.
"Eng..enggak papa" ucap Arra.
"Na..nama panjangnya kenapa persis banget sama Zein? Gak mungkin kan ada dua orang namanya persis banget" heran Arra.
"Zein, istirahat ikut aku bentar ya" ucap Arra.
"Gak" jawab Zein singkat.
"Sebentar doank kok, janji!!" Ucap Arra.
"Hem ya" jawab Zein mengiyakan.
Tugas dikumpulkan, dan bel istirahat berbunyi. Semua murid pergi ke kantin, kecuali Zein dan Arra yang sudah janjian untuk berbicara.
"Lo mau ngomong apa sih?" tanya Zein.
"Zein, Lo kenal..em Arra?" tanya Arra.
Zein sedikit tersentak, tapi ia langsung berfokus pada Arra. "Lo kan Arra" ucap Zein.
"Bukan, maksudku...apa kamu mempunyai teman masa kecil bernama Arra?" tanya Arra.
Zein kembali tersentak, "bagaimana kau tahu?!"
Arra menghembuskan nafas, ternyata benar...pria itu adalah sahabat tercintanya.
Arra mengeluarkan sebuah pesawat mainan kertas yang sudah lecek itu. Ia juga mengeluarkan gelang yang terbuat dari banyak karet yang ia buat bersama Zein.
"Zein, lama gak ketemu!" ucap Arra tersenyum.
Zein kembali terkejut, "Arra!!!" Ucapnya kaget.
Zein memeluk Arra, begitupun sebaliknya.
******
Setelah mengetahui hubungan mereka, Zein dan Arra saling mengungkapkan perasaan nya. Tapi, mereka tidak ingin pacaran karena itu berdosa.
Beberapa tahun kemudian, keduanya lulus dari kuliah begitupun teman-teman nya. Arra juga memiliki sahabat perempuan yang sangat baik padanya, ia juga mendukung hubungan Zein dan Arra tidak seperti wanita lain yang merasa iri dan dengki pada Arra. Dialah Selin, sahabat Arra selama kuliah sampai sekarang.
Zein dan Arra yang tidak ingin terpisahkan, memutuskan untuk menikah. Arra mengunjungi ibunya untuk meminta restu, begitupun pada orang tua Zein.
Ayah Arra sudah meninggal saat ia masih 3 tahun, maka dari itu, yang akan menjadi wali Arra adalah pamannya, adik dari ayahnya sekaligus anak laki-laki kedua di keluarga ayahnya.
Bu Sainah, pemilik toko kelontong di desa Arra dulu juga ikut serta menghadiri pernikahan tersebut. Ia bahkan berbaik hati membantu tenaga kerja yang kesulitan.
Pernikahan berjalan lancar, tampak kebahagian diantara kedua insan serasi dan keluarga mereka masing-masing. Arra menangis tersedu-sedu, ia sangat terharu.
"Zein...Zein...hiks..hiks" tangis bahagia Arra.
"Kenapa kamu menangis di hari bahagia ini?" tanya Zein.
"A..apa?" tanya Arra yang tidak mendengar jelas.
"Kan ari ini kita menikah, Arrasya istriku..." Zein tersenyum.
"Kata-kata ini..." Arra terdiam, ia mengingat mimpi yang pernah ia alami dan sampai sekarang tidak pernah ia lupakan.
"Ya Allah, jika memang engkau takdirkan kami bersama...Hamba berterima kasih pada-Mu Ya Allah. Karena Engkau, hamba bisa bertemu cinta lama hamba" batin Arra menangis.
"Kenapa menangis lagi? Yuk kita makan kue aja" ajak Zein lembut.
Arra mengangguk dan tersenyum. Keduanya pun hidup bahagia sampai ajal menjemput...
THE END...