--HAPPY READING--
Alena Anastasya gadis cantik yang saat ini menduduki bangku SMA kelas 1. Saat kecil Alena tinggal bersama neneknya, kedua orangtua Alena sudah berpisah saat ia berusia 2 tahun.
2 minggu lagi akan menjadi sweet seventeen bagi Alena ia begitu banyak berharap akan ulang tahunnya yang ke 17tahun ini.
Saat kecil Alena sudah banyak mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, setelah ayah dan ibunya bercerai keduanya tidak ada untuk Alena, Ayahnya pergi merantau ke luar negeri dan ibunya entah pergi kemana, Alena tidak tau itu.
Yang Alena tau yaitu ibunya akan menjemputnya, namun saat Alena sudah berusia 10 tahun ia mendapatkan kabar bahwa ibunya telah meninggal, ternyata saat ia meninggalkan Alena dan pergi keluar kota ibunya telah menikah dan ia meninggal karena keguguran.
Saat itu hati Alena hancur berkeping-keping, terakhir ia melihat ibunya saat berusia 4 tahun. Dan ia sudah menunggu selama beberapa tahun harap-harap ia akan dapat melihat dan memeluk ibunya, namun semua khayalannya hilang sekejap mata saat ia mendengar kabar itu.
Di tambah lagi saat ini ayahnya sudah berkeluarga, dan ada satu hal yang membuat Alena sedikit senang yaitu ia tidak akan memiliki saudara tiri. Bukannya Alena jahat namun saat ini ia hanya sesikit egois apakah itu salah? , Alena hanya tidak ingin kasih sayang ayahnya terbagi.
Apalagi ia juga pernah mengalami sedikit rasa kecewa terhadap ayahnya. Itu terjadi pada saat Alena berusia 7tahun, dan itu untuk pertama kalinya Alena tinggal bersama dengan ayahnya setelah nenek dan kakeknya meninggal. Malam itu kaki Alena membengkak akibat alergi.
"Ayah mana ya? Kok belum pulang." Alena berjalan menuju ruang tamu sambil menahan sakit.
"Ayah kamu belum pulang? " tanya Paman Alena yang juga tinggal di rumah itu.
"Belum Paman, apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama Ayah? " ucap Alena mulai khawatir.
"Jangan berfikiran macam-macam, mungkin saja jalanan macet."
"Oh iya, kaki kamu kan belum di kasih salep. Tunggu disini Paman akan mengambil salep di atas." Paman Alena pun bergegas menaiki tangga menuju kamar Alena.
Tak lama kemudian pintu di ketuk dari luar, Alena berusaha berjalan membuka pintu. Dan muncullah sosok yang telah di tunggu-tunggu Alena, pria paruh baya memasuki rumah dengan agak sedikit sempoyongan akibat mabuk. Alena menutup pintu kembali dan tersenyum kecut.
Selang beberapa menit Paman Alena membawakan salep dan menggunakannya di kaki Alena. Alena berfikir seharusnya yang ada di posisi ini adalah Ayahnya, dialah yang seharusnya memberikan perhatian lebih terhadapnya. Namun, semua itu hanyalah angan-angan saja Ayahnya bahkan tak menanyakan kabarnya Alena, apa yang ia lakukan.
Dan saat itulah Alena berfikir ia tak begitu penting bagi Ayahnya dan kebencian mulai tumbuh di dalam hati Alena.
---------
"Alena siniin uang kamu." Seorang gadis yang juga seumuran dengan Alena datang menghampiri dan merebut uang yang di genggam Alena.
"Kamu apa-apaan sih?! Ini itu uang aku." Bentak Alena kepada Syila yaitu sepupu tirinya yang juga tinggal serumah dengannya. Syila dan keluarganya menumpang di rumah Alena semenjak Ayah Alena yaitu Fathir dan Sofia-ibu tiri Alena menikah.
Alena tidak membiarkan keluarga ibu tirinya itu menindas dan memperlakukan Alena sesukanya, mereka hanyalah sampah yang di bawa oleh Ayahnya dan berlaku semena-mena seakan-akan merekalah yang berkuasa di rumah itu.
Syila mendorong Alena setelah berhasil mengambil uang tersebut. Namun, Alena dengan sigap kembali berdiri dan menarik rambut Syila kemuadian merebut uang tersebut, dan Syila yang kesakitan jatuh tersungkur ke lantai.
Diam-diam ibu tiri Alena yang sedari tadi memperhatikan mereka, merekam perlakuan Alena yang menarik rambut Syila, itu dijadikan untuk memutar balikkan fakta. Setelah berhasil merekam kejadian itu Sofia berjalan dengan angkuhnya dan menarik tangan Alena dan kembali merebut uang itu.
Alena yang mulai marah kemudian membentak dan memukul Sofia, namun kekuatan yang dimiliki Alena tak sekuat dengan Sofia.
Tiba-tiba saja Sofia menjatuhkan dirinya seakan-akan ialah yang menjadi korban, Alena yang menatap Sofia terlihat bingung dan membalikkan badan. Ternyata Ayah Alena datang dan melihat separuh dari kejadian tersebut.
"Alena tante tau kamu tidak bisa menerima tante dan keluarga tante untuk tinggal disini, tapi kamu tidak boleh memperlakukan tante sperti ini, " Ucap Sofia sambil terisak.
"Ada apa ini? " tanya Fathir.
"Ini pah, tadi itu Syila mau minjem duitnya Alena tapi Alena dengan kasarnya menjambak Syila lalu aku membantu Syila dan menjelaskan dengan baik kepada Alena tapi dia malah mendorong aku juga, " ucap Sofia berusaha berdiri di bantu oleh suaminya.
"Alena, kamu itu kenapa sih? Syila itu sepupu kamu seharusnya kamu bisa berbuat baik sama dia. Lagian itu cuman duit, apa selama ini duit yang papa kasih ke kamu kurang? " bentak Fathir pada Alena.
"Pah kenapa sih papa selalu ngebelain wanita nggak tau diri ini? "
Plakk
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Alena. Tentu saja Sofia dan Syila merasa sangat senang.
"See? Papa bahkan berani nampar Alena, cuman gara-gara wanita ini! "
"Alena jaga ucapan kamu dia itu mama kamu! " bentak Fathir.
"Mama? Mamanya Alena cuman mama Karin dan itu pun dia udah meninggal dan gak ada yang pernah jadi mama Alena selain mama kandung Alena. "
Plakk
Lagi dan lagi tampan itu berhasil mendarat membuat pipi Alena sedikit merasakan perih. Namun, apalah daya Alena ia hanya mampu meratapi nasibnya.
"Alena benci papa! " Alena berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya kemudian menguncinya dan menangis sejadi-jadinya.
"Mah, mama bilang mau jemput Alena. Tapi kenapa mama malah pergi ninggalin Alena? " Alena memeluk bingkai foto mamanya.
Ia kembali mengingat janji mamanya.
"Sayang Alena bobok dulu ya, mama mau pergi bentar dulu, " ucap Karin pada Alena kecil.
"Mama mau kemana? " tanya Alena.
"Emm... Mama mau ke rumah eyang dulu soalnya eyang lagi sakit, nanti mama bakalan jemput Alena kita sama-sama ke rumah eyang, Ok? " bujuk Karin.
Alena polos hanya mengangguk,dan menuruti ibunya. Alena terus menunggu selama beberapa tahun namun ibunya tak datang menjemputnya, justru yang datang adalah papanya.
Dan disinilah ia sekarang rumah yang bagaikan neraka baginya.
-------
Ada banyak kejadian yang tak di ketahui oleh Ayahnya, termasuk kisah Alena dan Ryan kakak dari Syila.
Ryan merupakan seorang mahasiswa, dia juga salah satu sampah yang ada di rumah itu. Biaya kuliah Ryan di tanggung oleh ayah Alena, namun Ryan tak pernah bebuat baik terhadap Alena, ia pernah melakukan pelecehan terhadap Alena saat tengah malam.
Saat pulang dari kampus dan membersihkan diri. Diam-diam Ryan memasuki kamar milik Alena, saat itu Alena baru saja selesai membersihkan diri.
"Kok lampunya mati? " ucap Alena berjalan sedikit hari-hati karena keadaan kamar yang gelap.
Tiba-tiba saja Alena merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Itu membuat Alena merasa terkejut dan ketakutan.
Kemudian ia berusaha melepaskan pelukan itu dan mencari tombol untuk menyalakan lampu dan saat lampu menyala ia begitu kaget saat mengetahui siapa yang baru saja memeluknya.
"Kak Ryan? Apa yang kakak lakukan di kamar aku? " tanya Alena sedikit berjaga-jaga.
"Tenang sayang aku hanya merindukan mu seharian ini. Kau tau aku bahkan tidak fokus dalam pelajaran ku siang tadi karena merindukan mu, " ucap Ryan.
Ryan sudah lama menyukai Alena, namun Alena tak pernah menanggapi perasaannya. Bagi Alena semuanya adalah sampah termasuk Ryan.
"Sekarang kak Ryan keluar, " ucap Alena.
"Apakah kamu tidak merindukan ku?. " Ryan mulai berjalan mendekati Alena.
"Stop! Kalau kak Ryan nggak keluar aku bakalan teriak dan memanggil papa! " ancam Alena yang mulai takut.
Namun Ryan terus saja berjalan dan semakin mendekat, keringat dingin mulai bercucuran di kening Alena. Ryan menggenggam pergelangan tangan Alena dan membekap mulutnya, dan malam itulah Ryan menodai Alena.
--------
Alena menangis sejadi-jadinya perlakuan Ryan semalam membuat Alena merasa tak punya harga diri lagi setelah mahkotanya di rebut. Hari itu ia tak pernah keluar dari kamarnya bahkan pembantunya sudah berulang kali memanggilnya untuk makan.
Akkkhhhh
Alena melemparkan semua barang-barangnya, saat ini ia begitu kacau. Ia sudah merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.
"AKU BENCI PAPA, AKU BENCI MAMA, AKU BENCI SEMUANYA!!! " Teriak Alena, saat ini keadaan Alena begitu memprihatinkan.
Rambut yang biasanya tersisir rapi kini begitu kusut, pakaiannya bahkan basah kuyup akibat guyuran shower. Ia begitu jijik pada dirinya sendiri.
Ia sudah memutuskan ia akan mengakhiri hidupnya saat ini juga. Alena sudah lelah berada di rumah ini, ralat ini bukanlah rumah melainkan neraka bagi Alena.
Ia mengambil pisau yang biasa di gunakan untuk buah, kemudian meletakkan tepat pada urat nadinya. Kemudian mengirisnya secara perlahan, darah segar mulai bercucuran.
Penglihatan Alena semakin gelap dan ia pun tak sadarkan diri...
Pembantu yang sedari tadi khawatir karena Alena tak keluar kamar seharian langsung memberi tahukan pada Ayah Alena.
Fathir yang mengetahui itu langsung bergegas menuju kamar putri semata wayangnya, ia berusaha mendobrak pintu kamar Alena.
Akkhhh
Teriak pembantu itu saat pintu berhasil di buka, seluruh tubuh Fathir menjadi lemas ia tak percaya apa yang ia lihat di depannya...
Ya... Alena putri semata wayangnya kini terbaring dengan wajah pujat dan berantakan, darah yang tadinya segar kini menjadi kering sebagian.
Alena Anastasya terbaring tak berdaya ada satu hal yang sedikit mengganjal, yaitu bibir Alena yang saat ini begitu pucat mengukir senyum di wajahnya...
END....