Yuki seorang anak yang berusia 8 tahun menjalani kehidupan yang cukup baik di sekolahnya maupun bersama keluarga kebahagian yang selalu terpancar di wajahnya polos nan mungil itu ketika di beri hadiah ulang tahun dari ayahnya yang baru saja pulang kerja sebuah sepeda mini dengan roda tiga dibelakangnya ayahnya berkata "Ini hadiah dari ayah karena nilai ulanganmu yang bagus rajin belajar lagi lah nak", Yuki terlihat begitu gembira mendapatkan apa yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya, sang ibu pun tersenyum melihat anaknya tumbuh dengan cepat ketika dia bisa mengayuh kan sepeda pertamanya dengan benar, hari demi hari berlalu senyuman yuki seakan menjadi penyemangat kedua orang tuanya seakan mereka berkata "Kita harus menjaga senyuman malaikat kecil ini" Hingga tiba hari dimana Yuki terbangun dari tempat tidurnya karna kegaduhan yang terjadi di ruang tengah keluarga yang biasa kita ngumpul , ayah dan ibu sedang mengobrol dengan nada pelan yang penuh keseriusan dan sangat emosional. Aku pun menghampirinya seraya berkata "Ayah Ibu kenapa belum tidur ini sudah malam aku takut tidur sendirian" Keesokan harinya Aku tak mendengar sepatah katapun dari kedua orang tuaku diam membisu seakan Aku yang jadi penghalang bagi mereka untuk berbicara Aku diantarnya kesekolah oleh Ayahku sekalian Ia berangkat kerja.
"Kebahagian selalu tiba dalam bentuk apapun"
Besok adalah hari datangnya kebahagianku ya itu hari kenaikan kelasku "Seandainya jika nilaiku besar kira-kira hadiah apa yang akan di berikan Ayah kepadaku ya?!" Berjalan pulang tanda aku sudah dewasa tanpa perlu dijemput lagi, tak ku sengaja mendengar perkataan seoarang Ibu teman saya sambil berbisik kepada Ibu yang disamping nya "Katanya anak itu orangtuanya cerai ya", " Kesian sekali bagaimana nasib anak itu" Aku penasaran apa yang sebenarnya mereka katakan, sepulang aku dari sekolah aku bertanya pada Ibu "Ibu apa itu cerai?" Dengan muka yang masih polos sambil bermain mainan boneka, dalam hati sang ibu bertanya "Dengar dari mana anakku ini tentang hal itu?" Tak kuasa aku menjelaskan pada anakku yang masih kecil dan polos takkan Dia mengerti dan cukup dewasa baginya untuk paham aku hanya bisa mengatakan padanya "cepat lah tumbuh dewasa nanti kamu juga akan tahu belajar yang rajin ya nak"
Yuki pun menjawab "Kalo gitu aku ingin cepat jadi dewasa agar Aku tahu apapun, aku bakal rajin lagi belajar" Sang Ibu merasa penuh bersalah tak bisa menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi, Ayah pun pulang setiap hari pukul 4 sore Aku menyambutnya dengan hangat sambil memberikan kode bahwa besok ada hari yang Aku tunggu-tunggu "Ayah besok aku ada ulangan di sekolah" Dengan wajah yang malu-malu kucing menggoyang goyangkan badannya berharap agar sang Ayah tau apa maksudku itu. Esok hari aku berangkat lebih pagi berjalan ke arah sekolah sendiri mengingat akan kata Ibu "Cepat tumbuh dewasalah" Sampai di sekolah dengat cepat dan duduk siap seakan-akan Aku menghadapi peperangan yang besar ketika lembar ulangan di sebarkan Aku mengambil pistolku dan sudah ku isi peluru ku siap menembak huruf yang tepat dilembar jawabanku. Esok harinya hari pengumumanku "Yuki kemari lah"Ucap guru, Deg-dedan rasanya dipanggil guru setelah perang usai yang kuhadapi Aku berhasil bertahan hingga akhir "Selamat kamu peringkat ke satu dari tiga puluh murid anak-anak contoh Yuki yang rajin belajar dan selalu datang tepat waktu yah.. " Ucap guruku yang sangat menyukaiku, Sangat senang rasanya ku pulang mendapatkan medali tak sabar Aku ingin memperlihatkan dokumenku yang telah ku Terima ini ke Ayah dan Ibuku.
"Kegigihan memudahkan mu
untuk menggapai apapun"
Aku pulang dengan gembira dan segera berlari kepada Ibuku yang sedang memasak didapur ku perlihatkan semua pencapaianku "Aku telah tumbuh dewasa" Dalam hati kataku, Ibu pun tersenyum melihatnya terlihat sangat bangga mempunyai seorang anak seperti Aku ,tak kuasa Aku ingin kuperlihatkan hasil ini kepada Ayahku juga, Ketika Ayahku pulang dan aku mengharapkan sesuatu yang aku inginkan tapi Aku tak melihat Ayahku membawakan sesuatu ataupun hadiah, terbenamnya sang fajar hingga makan malam pun telah disiapkan Aku memberanikan diri berkata "Ayah aku dapat Ranking satu dikelas apa Ayah tak memberiku hadiah?! " "Hebat kamu nak, kamu kan sudah besar kamu ga perlu hadiah lagi" Ujar sang Ayah, yang membuatku sangat sedih hal yang kuharapkan tak akan pernah tiba, kedua orang tua ku bicara kepadaku "Nak ayah bakal jarang pulang kerumah kamu sudah dewasa jaga rumah ini dan ibumu ya" Aku melihat Ibuku seperti sebuah BOM menahan gas dalam tabung yang siap meledak kapan saja Aku tanya "Kenapa Ibu begitu sedih apa karna aku yang kurang baik pada Ibu apa aku kurang rajin?" "Tidak nak kamu emang baik dan rajin" Ucap Ibu, "Tapi mengapa Ibu begitu sedih" Aku bertanya, Ibu menjawab "Ibu tak apa-apa nak Ibu bahagia punya anak sepertimu" Makan malam yang begitu enak masakan Ibuku itu seakan-akan menjadi yang terakhir dalam hidupku dan juga merasa kesal akan Ayahku tak membawakanku hadiah atas apa yang kuraih dengan penuh tumpah darah.
"Tak ada hal yang sia-sia"
Waktu terus berlalu kehidupan terus berjalan tak bisa di pause seperti dalam game yang kusukai di handphone Ibu yang sering ku mainkan setelah selesai sekolah didepan ruang tamu sambil menunggu Ayahku pulang yang tak pernah ada satu sentuhan pun pintu terketuk, Aku bertanya kepada Ibu ku "Kenapa ayah tak pulang-pulang bu", " Ayah sedang bekerja jadi jarang pulang mungkin tak akan pernah"ucap Ibu dengan suara tersedu-sedu dikamarnya yang sangat berantakan, Aku tak pernah bermain dengan siapapun hadiah sepeda mini yang ramping yang terlihat seperti Ibuku itu tak pernah ku sentuh lagi hanya boneka hadiah pertama Ibuku yang ku ajak bicara.
Aku menjadi seorang pengurung, penyendiri, tak banyak bicara setelah ku beranjak menengah pertama ku, ku mengetahui semua yang terjadi dalam kehidupan keluargaku Ayahku tak pernah pulang sesuai dengan janji perkataannya dia lari meninggalkanku tak seperti yang diharapkan menjadi dewasa dan mengetahui apapun itu membuatku sakit ku hanya ingin menjadi gadis polos nan imut saja " Mana mungkin", Ibuku yang selalu dalam kamar manatap tembok yang bahkan tembok pun enggan melihatnya Aku selalu bersama menemani kesendiriannya, tak berarti hidupku ku mulai berpikir "hidup yang seperti apa yang ku inginkan? Tak punya teman bahkan tak punya apa apa, aku bertanya-tanya untuk apa aku hidup ini semuanya tampak abu dan semakin gelap apa cahaya lampu ini sudah mulai sekarat? Ku ingin lagi merasakan kasih sayang orang tuaku ,aku ingin dipeluk ,aku ingin diberi hadiah, aku ingin di cium, aku ingin makan bersama ,aku ingin tidur bersama ,aku ingin menonton bersama ,pergi jalan-jalan bersama selamanya. " Layaknya nasi menjadi bubur walaupun semua itu hanyalah fatamorgana ku habiskan hidupku dalam mimpi dan hayalku yang tak pernah mencurangi diriku sedikit pun, mengalihkan perhatian sebuah kenyataan yang bahkan masih enak buah pare, tak ingin ku habis hidupku untuk belajar mengetahui apapun, tertutup rata alat-alat perangku didalam wadahnya tak tahu apa lagi yang harus ku kutuju seperti ku melangkah yang hanya mencapai jalan buntu tak ada pelampiasan yang pantas kuhabiskan waktu 3 tahunku untuk merenungi mencerna apa yang sebenarnya terjadi ini.
"Jangan mengharapkan suatu kehidupan tanpa masalah "
"Tidak ada hal seperti itu. Sebaliknya, berharap lah pada hidup yang penuh dengan masalah-masalah baik"
Aku adalah gadis dewasa berusia 17 tahun yang kecewa dengan janji yang pernah dikatakan seorang pria yang telah membuat nangis seorang wanita, "Aku tak kenal dengan pria itu" Ucapku, hari demi hari ku berlalu mengubah hidupku 180derajat putarannya ketika ku bertemu dengan teman yang sama seperti diriku yang bahkan takdir tak menyalahkan atau berusaha mencegahku ,diajakku ketempat yang tak pernah ku kunjungi sebelumnya oleh temanku yang cukup populer disekolahnya karna berandalan dan bangsa*t itu, tempat itu cukup menarik kelap-kelip cahaya yang membuatku mabuk kepayang tak henti-henti pula beberapa puan yang menari-nari diatas panggung dan tiangnya
Membuat diriku gelisah tak tertahankan "Aku ingin MELEDAK" Kuteriak yang bahkan seorangpun tak ada yg menoleh karna bisingnya irama gaduh, temanku meneraktirku sebuah minuman yang langsung ku minum tanpa ku sadar ku berjalan seperti layaknya mengapung ku berlari seperti ku terbang tak sadarkan diri, ku telah meracuni hidupku ini ku sadar apa yang kulakukan ini adalah sebuah kesalahan, ku pulang dengan sempoyongan melangkah dengan pelan agar Ibuku tak terbangun dari mimpi indahnya, Esok hari ku lakukan hal yang sama kuhabiskan uangku tiap hari untuk membeli obat dan minuman penyegar dengan tambahan sang penggoda "Siapa gadis seksi ini aku ingin nges*x denganmu"kata pria sialan, " Uangmu menjadi milikku, milikku akan jadi milikmu" Ucapku, diberikan ku segepok uang merah Aku terlena dalam bayangan seperti kereta luncur tak mempunyai rem bahkan kendali untuk dinaiki yang begitu penuh resiko kenikmatan.Lagi dan lagi Setan berandalan yang cukup populer itu terus mengajakku seolah-olah dia minta ditemani dalam neraka.
"Kenikmatan itu membuatmu terjerumus"
Kepulanganku dari tempat itu membuatku pening ditemani bintang yang memutar layaknya mahkota, melangkahnya Aku seperti berjalan di atas awan dengan lembut, tak pernah kusangka tak bergeming berdiam diri tak makan minum dan terjaga di malam hari layaknya seorang tentara Inggris. Bersedih Ibuku melihatku kacau berantakan tak tahu lagi harus kugunakan topeng apa untuk menutupi hal ini "Aku telah membuat Ibu menangis seperti yang dilakukan pria itu" Dalam hati kuucap, "Maafkan Ibu nak semua ini salahku Ibu tak bisa menjadi Ibu yang baik Ibu tak bisa mendidikmu menjadi anak yang baik Ibu kurang memberimu kasih sayang jangan lakukan hal ini lagi Ibu mohon padamu" Sang ibu, menyesal dalam hati "seperti paku yang menancap dalam tembok ketika paku dicabut berbekas begitu dalam mencoba menambalnya tapi tak serupa seperti awalnya", ku ingin akhiri hidup ini ku berpikir cerita hidupku juga akan berakhir tak semudah yang dibayangkan aku tak ingin membuat ibuku menangis lagi walau ku akhiri pelajaranku dan Aku ingin melindungi dua nyawaku ini. .
"Jalani kehidupan dengan kesungguhan,
hadapi kenyataan dengan sabar,
kebahagiaan kan selalu tiba"
Kini ku hidup berdua saling menyesali atas semua yang terjadi kemana ku harus mengadu semua beban yang ku pangku tak tertahankan hanya diam membisu menangis di malam kelabu , ku teguh dan sabar hanya itu yang bisa kita lakukan walau hujatan terus berdatangan tanpa undangan layaknya kotoran yang tak pernah diinginkan dan oleh ditutupi pasir.
Aku harus membawa nyawa dalam lambungku membantu Ibuku yang sudah pasrah berserah kepada yang kuasa seolah memanggil sebuah masalah yang baik tiba, Aku membantu Ibuku berjualan makanan ringan olahan rumah berkeliling penuh peluh tanpa mengeluh, Ibu sambil menatapku" Nak, apa kau cape istirahat saja dulu apalagi sudah 3bulan lamanya pasti sudah berat"
Tersayat hatiku mendengarnya orang paruh baya yang bahkan tak bisa mengurus diri selalu memperhatikan orang lain dahulu.
Selama yang ku bisa tempuh akhirnya terjatuh sudah besar badanku ini takut tak ada yang merawatku sanggup apa aku hidup sendiri sedang Ibu mati- matian mencari biaya pengobatanku Aku tertidur pulas dengan wajah memelas ku bermimpi bertemu seorang pria yang tak ku kenali mengobrol denganku penuh kasih dan hangat menyapaku dan membelaiku, "Apa kau ingin aku bersamamu?" Ucapnya, tanpa kupikir panjang putus asa yang sudah mengakar aku jawab, "kumohon temani aku hingga akhir hayatku dan rawat lah dia" Ku usap perutku dengan lembut dia pun memegang erat tanganku dan juga perutku.., " Apa kamu ingin menikah denganku? "Ucap sang pria yang bahkan aku sudah tak bisa melihat wajahnya silau karna lampu diatas yang tiba-tiba sangat terang penuh dengan warna putih dan begitu sangat tenang dan dingin aku merasa bahagia aku merasa hidup, apa Ibuku merasakan hal seperti ini ketika dilamar seorang pria yang menerimaku apa adanya " Aku ingin menikah denganmu" Kataku yang saat ini malu seperti buah tomat yang segar.
Rasa sesal yang tiba-tiba datang memang menyiksa. Ada kalanya rasa penyesalan itu begitu dalam dan kamu tak mampu untuk tak terus memikirkannya.
Padahal tak baik berkubang dalam penyesalan dan terus meratapinya. Penyesalan ada agar kamu tak melakukan hal yang sama di kemudian hari. Dan kamu pun menjadi lebih bijak dalam menentukan pilihan.
Semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan bahkan jika kau mencari atau pun tidak pasti kan selalu tiba disaat yang tepat maupun tidak ku ingin kau menerima semua kebahagiaan yang ada didunia ini semua yang fana ini semuanya layak mendapatkan kesempatan kedua kalinya atau kesekian kalinya yang layak seperti manusia pada umumnya
Gw sendiri menulis ini sedang mencari arti kehidupan ? Kenapa semua ini terjadi? Semua tindak tanduk manusia membuatnya terjerumus atau bahkan membuat bahagia bukan maksud gw memberi pencerahan tapi "hal kecil apapun akan berdampak besar"