Sinar mentari menemaniku senja ini. Indahnya sunset menjadi penyegar mata untukku. Sejenak aku melupakan semua masalah dalam hidupku. Melupakan segala tugas kuliah, juga semua hal yang memberatkan pikiranku.
Aku berdiri di tepian pantai. Membiarkan air laut membasahi kakiku. Dan semilir angin kubiarkan menerpa wajahku. Sangat menyejukkan. Tatapanku tak jemu untuk senantiasa memandang indahnya ombak laut yang datang menerjang batu karang.
Sampai sebuah suara berhasil mengusikku. Suara seseorang yang sangat aku kenal.
"Hera.."
Sejenak aku diam. Kuputuskan untuk memutar tubuhku. Menatap laki-laki yang kini berdiri tegak di hadapanku.
"Bisa bicara sebentar..?"
"Bicaralah.." Aku pun duduk di atas pasir, kembali membelakanginya.
Dia pun juga duduk di sebelahku. Meskipun terbentang jarak di antara aku dan dia.
"Maaf.. Maafkan aku.. Maaf karena telah mengecewakanmu. Dan sekarang aku baru sadar,, bahwa aku masih mencintaimu.. " tuturnya menatap diriku.
"Jadi..?" Tatapanku masih senantiasa menatap indahnya pantai.
"Jadi,, bisakah kamu memberikan satu kesempatan lagi untukku? Aku berjanji, aku akan membahagiakanmu dan tidak akan lagi mengecewakanmu..".
Tatapanku beralih menatap wajah laki-laki yang saat ini tengah memohon padaku. Tampak kesungguhan diwajahnya. Kedua matanya menampilkan ketulusan dari perasaannya kepadaku.
Aku kembali teringat masa itu. Masa dimana hubungan kami yang semula begitu harmonis seketika hancur, saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa ternyata ada rasa di antara 'mereka' berdua. Ya.. 'mereka'.. Kekasihku dengan sahabatku.
Tiga tahun lamanya hubungan kami, tanpa ku ketahui sedikitpun bahwa ada cinta lain yang hadir di hati kekasihku. Tanpa kuketahui, mereka sering bertemu di belakangku.
"Haahhh.." Aku membuang napasku kasar. "Jika aku kembali bersamamu, lalu bagaimana dengan Reina? Dia adalah sahabatku."
"Bukankah kamu juga masih memiliki perasaan untukku? Lupakanlah dia.. Percayalah,, tidak ada apapun lagi diantara kami.."
"Bagaimana aku bisa melupakannya?? Dia adalah sahabat baikku, meskipun kamu dan dia pernah menyakitiku,, namun dia tetaplah sahabatku..!" tanpa kusadari, aku kehilangan ketenanganku.
"Kita saling mencintai, aku yakin kita pasti akan bahagia selamanya jika bersama.. Asalkan kamu masih mencintaiku, aku yakin kita akan bahagia.."
"Kamu tahu? Aku memang mencintaimu.. Tapi itu dulu.. Coba kamu pikirkan lagi, apakah kamu benar-benar masih mencintaiku? Dari hatimu yang paling dalam,, coba tanyakanlah itu.. Mungkin perasaanmu kepadaku yang sekarang bukanlah cinta, melainkan hanya sebuah pelarianmu. Aku tahu, Reina mengalami kecelakaan bukan? Wajahnya rusak parah. Maka dari itu, kamu ingin kembali bersamaku. Tapi kamu juga harus tahu,, bahwa Reina benar-benar tulus mencintaimu. Janganlah egois dengan perasaanmu..! Bukalah matamu dan lihat, siapa yang benar-benar menunggumu. Cobalah hargai dia yang senantiasa ada di sisimu. Jangan pernah mengecewakannya, apalagi menyakitinya. Terimalah dia apa adanya, karena dia juga menerimamu apa adanya.." Aku langsung beranjak berdiri.
"Karena aku juga tahu, betapa sakitnya ketika ditinggalkan orang yang kita sayang.." Aku pun melangkahkan kakiku, meninggalkan dia yang masih mematung menatapku.
'Asalkan kamu tahu.. Bahwa hatiku juga masih untukmu. Tapi aku sadar, aku tidak boleh egois! Aku melepasmu untuk bersama dia,, karena saat ini, dia lebih membutuhkanmu..'
.
.
**The End**