Dita dan sholekha, dua anak gadis remaja yang baru tumbuh atau memasuki usia 17 tahun. Kedua nya sekolah di sekolah yang sama, tinggal di rumah yang sama, usianya pun sama, bahkan mereka memiliki baju yang kebanyakan sama. Dua gadis remaja itu bergaul dengan rukun, saling berbagi dan jarang bertengkar. Walaupun sebenarnya mereka berbeda kasta. Dita anak sang majikan, sedangkan Sholekha anak sang pembantu di rumah itu.
Pagi itu, sholekha sedang membantu ibunya menata makanan diatas meja, untuk makan pagi bagi sang majikan. Ketika Yulia( istri majikan) menyuruh Solekha untuk mengambilkan sebuah produk kecantikan di outlet merk produk tersebut yang dekat dengan sekolah nanti.
======
Sholekha dan Dita tiba di sekolah pukul setengah tujuh.
" Makasih pak irwan " ucap Lekha setelah turun dari mobil, tersenyum dan berterima kasih kepada sopir pribadi majikannya itu. Pak Irwan segera meninggal- kan mereka, sebab dia juga harus mengantar Sang majikan ke Kantor.
" Dita.. kamu masuk duluan saja, aku mau mengambil pesanan bu Yulia dulu di Outlet depan" ujar Lekha, ketika Dita mengajaknya masuk.
" Mama beli apa?, aku ikut kamu saja ah, lagian juga masih lama bel masuknya berbunyi"
" Boleh " jawab Lekha dengan terseyum senang. Kini keduanya sama- sama berjalan menuju Outlet.
====
Sesampainya di Outlet, Lekha segera mengambil barang pesanan Yulia. Dan Dita segera meraih bungkusan kantong plastik itu dari tangan Lekha. Tetapi Lekha sama sekali tidak marah, sebab dia tau bagaimana watak Dita.
" Mama beli apa lagi sih? " ucap Dita penasaran, sambil membuka kantong plastik tersebut.
" Wah.. ini lipstik limitied edition itu, keren banget warnanya " celoteh Dita ketika melihat barang pesanan Mama nya itu, matanya berkilau senang.
" Lekha , bolah gak aku nyobain dulu. " ujar Dita selanjutnya, sebab Dita suka sekali berdandan dan pergi ke pesta.
" Tidak boleh! " Sambar Lekha, sembari merebut benda kecil itu dari tangan Dita, lalu segera memasukkannya ke dalam tas nya. Dita segera cemberut, dia tidak suka dengan penolakan.
" Lekha, itu punya Mama aku, kenapa aku gak boleh pake? " Ujar Dita dengan nada serat emosi.
"Bukan begitu Dit, aku hanya tidak ingin mengecewakan ibu Yulia, setidaknya biar kan benda ini sampe ke tangan beliau dulu, setelah itu kamu bisa bilang langsung ke Mama kamu. " jelas Solekha panjang lebar.
Kedua nya terlihat bersikukuh dengan pendapat nya masing-masing.
Dita merengut, matanya sedikit memancarkan emosi.
" Ingat ya, kamu hanya anak pembantu bukan anak Mamaku, aku lebih tau Mama gimana, heh" ucap Dita kemudian berbalik dan dengan langkah cepat meninggalkan Lekha yang masih berdiri dan terlihat sedih dan bingung.
***
Jam pulang telah tiba, Lekha menatap Dita yang berjalan keluar bersama 3 orang temannya, mereka nampak happy dan sibuk berbincang. Lekha menghela nafas berat, hatinya merasa gak nyaman, akibat pertengkaran yang terjadi tadi pagi di outlet itu, sikap Dita berubah, dia sengaja menjauhinya.
" Heh.. maafkan aku Dita, semoga kamu gak salah paham. " kata Lekha dalam hati.
Lekha kemudian membereskan buku dan alat tulisnya diatas meja, memasukkan nya ke dalam tas. Gerakannya terhenti saat Lekha akan menutup tasnya tersebut, dirinya diam, seolah sedang mengingat sesuatu.
" Perasaan tadi aku simpan lipstik itu kedalam kantong plastiknya, lalu ku masukkan dalam tas, trus sekarang kemana kantong plastik itu? " guman gadis berkulit sawo matang tapi berwajah manis itu , hatinya kini mulai gusar.
Lekha trus mencari benda amanah itu dalam tasnya, bahkan sampai mengeluarkan semua buku bukunya yang tadi dia benahi.
" Dimana? " gumam dia panik, dahinya mulai mengeluarkan peluh.
" Tadi ada kok, beneran aku simpan dalam tas kok, tapi sekarang kok gak ada? "gumam dia sedikit keras, kepanikan. Sedangkan kelas sudah dalam keadaan kosong, tidak ada yang bisa dia mintai tolong saat ini.
***
Lekha terus mencari, bahkan sampai menyisir ke segala sudut kelas tersebut. Semua isi dalam tasnya sudah dia hamburkan diatas meja, termasuk juga dompetnya, dia mencari kesana kemari benda itu, tapi tak di temukan juga. Wajahnya memerah, dan sebentar lagi anak yang baru saja menginjak usia 17 tahun itu pasti menangis.
Tiba tiba handphone nya berbunyi, dia dalam keadaan panik, pandangannya sudah mulai berkaca -kaca.
"Halo.." suaranya bergetar saat gadis itu menerima panggilan masuk.
" Lekha, kenapa lama sekali, non Dita mana? " tanya pak Irwan yang sudah menunggu di depan sekolahnya dari tadi.
" Dita... Dita... dia bersama temannya tadi, pak. "jawab Lekha masih dengan suara bergetar.
" Lho.. kenapa kamu gak ngabari, wah.. gawat nih, saya harus nyari non Dita... " lanjut par Irwan , orang setengah baya itu pun tampaknya mulai panik.
" Hhh, saya lupa pak... hiks.. hiks" jawab Lekha, dengan bahu terkulai, kini isak tangis sudah menguasai nya.
" Lekha... kenapa kamu menangis? " tanya Pak Irwan selanjutnya, kebingungan nya bertambah dengan penasaran.
" hiks.. hiks... " Lekha tidak menjawab, dia hanya terisak, mulutnya tidak mampu untuk mengucapkan kata.
" halo... lekha.. kamu tidak apa -apa kan, halo... " Irwan semakin kebingungan.
" hiks... hiks.. hiks... hiks... i-i-iya pak, lekha gak apa apa, hiks.. hiks.. " gadis itu menjawab dengan wajah yang penuh air mata.
" ya sudah kalo tidak apa-apa, buruan keluar, kita harus cari nonDita! " suruh pak Irwan dengan nada tergesa-gesa.
" hiks... hhhh.. " lekha mencoba menangkan diri, lalu menarik nafas, berusaha meredam kesedihan nya, kemudian berbicara pada pak Irwan.
" Lekha .. lekha... aku... masih ada kegiatan lagi pak Irwan, bapak cari Dita dulu, nanti aku bisa pulang sendiri naik angkot. " jawab Lekha lirih, dengan nada sedih.
" oh.. gitu.. ya sudah... aku cari non Dita dulu ya" sahut pak Irwan, lalu segera melajukan mobilnya, sambil sibuk menghubungi no handphone Dita.
***
Hari semakin gelap, Lekha masih berada dalam lingkungan sekolah. Gadis remaja itu berkeliling di setiap sudut kelas, masih mencari, barangkali benda kecantikan itu terjatuh dari tasnya tanpa dia ketahui.
"Hu.. huhuhu... huuuu... dimana aku harus mencarinya lagi.. huhu... " gadis itu menangis tersedu sambil terus mencari. Matanya bengkak, sebab dari tadi masih menangis.
***
Di rumah Dita.
Aminah panik menunggu anak satu satunya itu, belum pulang sejak tadi. Padahal hari sudah malam.
" Bu,.. non Dita belum pulang juga? " tanya Aminah pada Yulia.
" Belum bi, ini saya sedang mencoba menghubunginya" jawab Yulia, wanita berwajah ayu itu masih sibuk menelpon dan terlihat panik.
Tak berapa lama kemudian, akhirnya dia memperoleh kabar dari pak Irwan.
" Apa.. Dita pergi ke pesta Ulang tahun temennya, ck.. ck.. kenapa dia gak minta ijin ke saya dulu,.. dasar anak nakal... " Yulia terlihat kesal berbicara dalam telepon.
Aminah masih berdiri di samping nya, rupanya ibu itu juga panik menunggu anaknya.
Yulia segera menyadari saat menoleh ke samping, kalo Aminah juga mendengarkan pembicaraan nya.
" Trus.. Lekha ada bersama Dita kan? " lanjut Yulia, dengan sengaja menanyakan kabar Lekha.
" Apa... lekha gak bersama Dita, trus kemana dia, apa tadi gak bilang sama pak Irwan? " Yulia terkejut,
" Apa... dia masih di sekolah, sedang apa? " lanjut Yulia terkejut lagi dan juga menjadi penasaran.
" Jam segini masih ada kegiatan, masa sih, coba tanyakan pada Dita pak, apa bener begitu? " lanjut Yulia, sambil melirik kesamping, melihat ekspresi Aminah, kemudian menutup telepon nya.
"hhh.. " Yulia menghela nafas kesal, sembari bergumam,
" Ada ada aja kelakuan anak jaman sekarang "
" E.. lekha ada bersama non Dita kan bu? " tanya Aminah memastikan kabar dengan wajah masih terlihat panik. Yulia tidak tega berkata sesungguhnya.
"iya bi, sebentar lagi mereka pasti pulang" balas Yulia, yang membuat hati Aminah tenang, dan kemudian wanita itu kembali ke dapur.
***
" Assalamu'alaikum " Dita masuk ke dalam rumah dengan tampang kesal.
" Waalaikum salam" jawab Yulia yang sedari tadi menunggunya sambil menonton acara televisi.
Yulia segera bangkit dan menghampiri putri nya.
" Lho.. kamu pulang sendiri, mana Lekha? " tanya Yulia saat Dita hanya pulang seorang diri.
"Lekha..?, Tau dech.. Dita gak sama dia tadi" jawab Dita cuek.
" Trus kemana dia, kenapa belum pulang? " sambung Yulia dengan sedikit marah, Yulia khawatir dengan Lekha. Selanjutnya Ibu dan anak itu terlibat dalam dialog yang panas, dan akhirnya dapat menyelesaikan permasalahan dengan baik.
****
Pukul 8 malam, Yulia bersama Dita pergi ke sekolah.
Lekha sedang duduk di lantai di depan kelasnya, sambil bersandar di tembok sedang menangis terisak ,ketika mereka berhasil menemukannya.
" Lekha... " panggil Yulia sembari berjalan ke arah gadis itu.
Lekha menoleh dan segera berjalan menjemput Yulia, lalu segera memeluknya.
" hiks.. hiks... maafkan lekha bu Yulia, hiks.. hiks..lekha sudah menghilang kan lipstik ibu , hu.. hu... lekha udah mencarinya kemana mana, tapi belum ketemu" rintihan Lekha terdengar sangat menyesal.
Yulia membelai puncak kepala Lekha, hatinya tersentuh atas kejujuran dari anak pembantunya itu, tak salah dia menganggapnya sebagai putri nya sendiri.
" Lekha... ibu yang akan meminta maaf sama kamu, karena lipstik itu Dita yang mengambil nya tanpa sepengetahuan kamu" ujar Yulia, hatinya merasa malu atas kelakuan anaknya sendiri.
Lekha terkejut, dia tidak menyangka sama sekali kalau itu adalah ulah Dita. Didalam hatinya tidak ada kebencian terhadap Dita, walaupun sejak kecil sering di jadikan kambing hitam saat Dita berbuat kesalahan.
***
Dita berjalan maju dan bergantian memeluk Lekha, lalu meminta maaf atas kelakuannya yang sudah mencelakai Lekha.
" Maafkan aku ya Lekha,.. aku telah membuat kamu menderita". ucap Dita mengakui dan meminta maaf atas perbuatan nya itu.
*** tamat.