"Kumohon, sayang. Kembalilan padaku, kita rujuk ya!" Seorang lelaki mencegat wanita yang berjalan di depannya dan melewatinya begitu saja tadinya dengan suaranya yang kelewat keras di tengah keramaian seperti ini.
Membuat si wanita mau tak mau harus berhenti dan berhadapan dengan dirinya. Menatap si lelaki dengan pandangan terganggu dan terkesan datar.
"Maaf bisakah anda menyingkir dari hadapan saya?" Tanyanya dengan ekspresi dan nada yang datar seolah mereka memang tak saling mengenal.
"Sayaangg, kumohon maafkan aku ya." Bukannya menjawab dan segera menyingkir, lelaki itu malah terus mengganggunya bahkan sampai hendak memegang tangan si wanita. Untung saja si wanita dapat menghindari dengan cepat.
"Anda siapa? Mengapa seenaknya memanggil seorang wanita dengan sebutan sayang? Terlebih anda MASIH MENGHALANGI JALAN SAYA." Si wanita masih berpendirian teguh seakan tak mengenalnya bahkan mengucapkan kalimat yang terakhir dengan tegas.
Harapannya agar lelaki ini bisa segera menyingkir, namun apa daya ternyata memang urat malunya sudah putus, ia tak peduli meski mulai menjadi pusat perhatian di tempat yang masih ramai itu.
"Luciliaku tersayang. Aku mohon maafkan aku. Mari kita rujuk ya sayang?" Kali ini si lelaki masih mengulangi kata-katanya namun ditambah dengan menyebutkan nama si wanita dengan posisi yang berlutut di hadapannya membuat orang-orang mulai mencibir mereka, terutama si wanita sebagai wanita sok yang tak kenal kata maaf bahkan sampai membuat seorang lelaki berlutut meminta maaf padanya.
Mendelikkan matanya, si wanita itu berucap dengan penuh ketegasan dan juga sorot mata yang masih jijik menatap diri si lelaki.
"Tolong dengarkan saya ya Tuan Anggara yang TERHORMAT. Anda yang sudah mencampakkan saya beberapa hari lalu demi seorang JALANG. Jangan anda pikir karena saya mencintai anda maka saya akan diam saja begitu mengetahui anda telah menyelingkuhi saya demi seorang JALANG SIALA* itu! Saya bukan wanita seperti itu. Apalagi saat itu anda jelas mengatai saya, SAYA INI WANITA TAK TAHU DIRI BUKAN? TIDAK MENARIK DAN HANYA BISA MEMENUHI KEBUTUHANMU SECARA FINANSIAL SAJA! TAPI TIDAK DENGAN URUSAN RANJANG! CIH" Wanita itu dengan sengaja mengeraskan suaranya hingga setiap orang yang mencibirnya dapat mendengarnya dan bergantian mencibir si lelaki tak tahu diri ini. Dan memang begitulah yang terjadi.
Dengan seulas senyum sinis di wajahnya, wanita itu melanjutkan, "dan sekarang ANDA MENGEMIS CINTA PADA SAYA? MEMOHON SAYA UNTUK KEMBALI PADA ANDA SETELAH ANDA TAHU BAHWA SAYA BISA MEMBUAT DIRI SAYA MENJADI LEBIH CANTIK DAN MENARIK DARIPADA JALANGMU ITU? Tolong jangan bercanda dengan saya Tuan Anggara yang terhormat."
Dengan tatapan yang meremehkan wanita itu pergi meninggalkan si lelaki yang masih mematung mendengar setiap kata yang terucap dari bibir wanita cantik itu.
Sungguh ia menyesal telah melepas sebongkah berlian demi kerikil di jalanan. Ia menyesal telah menyakiti hati wanita itu sebegitu dalamnya hingga ia memilih untuk menutup hatinya seperti ini dan membalas dirinya sebegininya.
Karena ternyata wanita itu tak sama dengan wanita lainnya yang hanya akan menangis dan mengemis cinta padanya.
Wanita itu adalah seorang wanita mandiri yang tak bisa sembarangan kau usik. Jika kau berani mengusiknya, ia akan menunjukkan taringnya terhadap dirimu dan kau tak akan bisa melepaskan diri darinya hingga kau mati.
FIN~~~
Begitulah kawan, penyesalan memang selalu datang di akhir. Dan seorang wanita juga tidak harus merendahkan dirinya untuk mengemis ke depan kaki lelaki yang sudah jelas mengkhianatinya. Tinggalkan saja, anda juga bisa maju sendiri kok menjadi seorang wanita mandiri. Sehingga tak akan dengan mudahnya ditindas :)