"Uhk!"
"Jangan di muntahkan! Telan, lalu rasakan efeknya pada tubuhmu."
Mendengar suara berat dan penuh dengan tekanan itu aku langsung menenggak satu botol cairan berwarna hijau dengan menahan rasa sakit yang di rasakan lidahku, aku tidak bisa membantah aku harus melakukannya agar dia tidak marah lagi.
Sesaat setelah cairan hijau itu masuk ke tenggorokan, cairan itu langsung meninggalkan rasa panas disana. Aku memegangi leherku yang sangat panas, tidak bisa berbicara untuk mengeluh tentang apa efek cairan itu. Aku harus menahannya, tahan sekuat tenaga.
Sosok itu melihatku dengan tatapan dingin, tidak ada rasa iba di wajah datarnya. Aku yang melihat itu merasa sakit hati sekali, apa dia tidak merasa kasihan pada Anaknya?
Ah, iya. Aku lupa aku hanya anak untuk dibanggakan, bukan untuk di beri kasih sayang. Laki-laki itu tidak punya sedikit pun simpati padaku, dia hanya butuh aku untuk menjadi sesempurna yang dia inginkan. Aku ini alatnya bukan anaknya.
Cairan itu membuat lambungku terasa perih, tapi tidak lama cairan itu terbawa keluar hingga aku memuntahkan cairan berwarna hitam dari mulutku. Melihatnya, laki-laki itu langsung pergi tanpa sepatah kata apapun. Yang berarti percobaannya berhasil dan aku sudah boleh pergi, jadi segera kuambil tas sekolahku dan pergi dari sana.
Namaku Sein Harrolds, usiaku baru menginjak 15 tahun. Ini tahun terakhirku di Teishin junior high school, dan aku harusnya fokus belajar bukannya malah bermain-main di lapangan basket terus menerus.
Terus terang basket adalah pelarianku dari dunia nyata, aku sangat suka olahraga ini sedari dulu sejak ibuku mengenalkannya. Ah, tiba-tiba aku rindu pada ibuku...
Sudah sembilan tahun ibu tidak bersamaku lagi, dia pergi karena Kematian yang tidak wajar. Aku tidak akan menjelaskan tentang itu pebiu jauh karena hanya akan membuatku sedih lagi, pokoknya karena kematian ibu keluarga bukan lagi tempat ternyaman bagiku.
Ibuku pergi, tersisa aku dan ayahku. Dari dulu juga ayahku tidak pernah di rumah, dia selalu pergi bertahun-tahun dan aku jarang bicara padanya. Aku tidak pernah dekat dengannya, begitu juga saat kematian ibu.
Ayahku itu tipe pemaksa dan pengontrol, apapun yang kulakukan harus di bawah kendalinya. Aku harus belajar sepanjang hari libur agar mendapat nilai yang besar, jika satu saja nilaiku di bawah 100 aku tidak akan di beri makan dua hari penuh. Tidak ada waktu untukku bersantai, memang begini keseharian ku setelah 9 tahun ibu pergi.
Ada disaat ayah tidak ada di rumah, maka aku akan pergi bermain basket seharian di halaman rumah ataupun di lapangan sekolah. Karena hobi ini juga aku memenangi pertandingan basket dengan tim ku hingga ke tingkat nasional, melihat adanya potensi yang besar disini ayah jadi tidak membatasi ku dalam bermain basket.
Ayah menyuruhku mendapatkan nilai tertinggi satu perfektur dalam unjian nasional SMP, jika tidak semua milikku akan di hapuskan. Ya, mudah saja aku ini sudah pintar. Katakan saja aku sombong tapi setelah tes IQ aku lalui IQ ku adalah 150 (IQ Superior).
Lalu selain itu, ayah juga sering menyuruhku meminum racun untuk menjaga kekebalan tubuhku. Aneh bukan? Biasanya anak-anak di beri vitamin tapi aku malah racun.
Ya ini juga tidak berefek besar padaku, karena aku ini iblis jadi setiap mendapat racun akan langsung otomatis di tolak oleh tubuh dan racun di ubah menjadi cairan hitam pekat. Cairan hitam pekat ini adalah racun yang sudah di netralisir, tidak berbahaya dan malah dijadikan obat untuk sesama iblis.
Ayah sengaja menyuruhku karena aku masih muda dan cairan yang di netralisir lebih banyak, dan dia juga senang melihat anaknya tersiksa dengan racun mungkin?
Sudah banyak racun yang aku minum sejak usia belia, racun semematikan apapun yang kuminum akan tetap di netralisir tapi tidak semuanya. Contohnya saja, aku pasti akan pingsan setelah meminum racun dengan kadar yang berlebihan.
Buk! Buk!
Suara bola basket yang ku dribble masih bisa kudengar jelas, tapi pandanganku mulai mengabur. Sepertinya efek racunnya akan datang...
Buk! Bam!
Bola basket jatuh ke tanah, bersamaan dengan tubuhku ke lantai. Aku sudah kehilangan kesadaran sampai aku mendengar suara perempuan yang lembut di dekatku.
"Istirahatlah, kau sudah bekerja keras."